"Bagaimana kabarmu, Gan? Aku harap kamu sehat. Sudah lama kita tidak berjumpa. Mungkin hampir delapan bulan rasanya."
"Aku baru datang dari Inggris kemarin bagaimana dengan anak kita? Apa Ghesa baik-baik saja? Dia sehat tidak, Gan?"
Kedua tangan Gandhi mengepal, setelah dengar untaian kalimat yang diucapkan oleh wanita berstatuskan sebagai istrinya. Walau belum melihat wajah Wina, ia sudah merasakan kemuakan besar. Gandhi memilih tidak menjawab, merapatkan bibirnya. Fokus mencampur beberapa minuman yang diminta oleh pelanggan bar.
"Bagaimana kabar Ghesa, Gan? Apa anak kita sehat? Aku ingin tahu kondisi Ghesa. Sudah lama aku tidak pernah bertem—"
"Dia akan tetap sehat dan baik-baik saja, meski kamu tidak menanyakan keadaannya." Gandhi menjawab dengan nada sinis. Ia juga melayangkan tatapannya sangat tajam, tidaklah bersahabat.
Keseluruhan atensi telah dipusatkan pada sosok Wina yang berada di seberang meja. Perubahan ekspresi wanita itu pun
tampak jelas, semacam raut kekecewaan mendalam. Mata Wina juga turut memancarkan kesedihan yang nyata. Ia bisa tangkap secara nyata.
Gandhi sudah bertekad tidak akan menaruh rasa empati untuk hal apa pun berkaitan dengan Wina. Walau, wanita itu masih resmi menjadi istrinya secara hukum. Perpisahan selama hampir delapan bulan, cukup mampu membuat Gandhi bersikap tak acuh.
"Aku tahu kamu sangat marah, bahkan kecewa berat pada diriku, Gan. Aku salah karena pergi meninggalkanmu dan Ghesa."
Wina tidak mampu mencegah air matanya untuk keluar, namun ia berusaha tahan agar tak tumpah. "Aku minta maaf. Aku sud--"
Brakk!
Keterkejutan langsung menghinggapi diri Wina, tatkala sang suami menggebrak meja dengan gelas kaca yang sedang dipegang, untung tidak sampai pecah. Kemudian, dipusatkan pandangan pada sepasang mata pria itu tengah memancarkan sorot tajam. Membuat Wina seketika menjadi sedikit takut.
"Jangan memancing emosiku, Na. Aku lagi bekerja di sini. Aku tidak mau buat masalah hanya karena disebabkan oleh semua perkataan kamu. Aku muak. Aku tidak ingin dengar. Lebih baik kamu diam saja!"
Gandhi kian lekatkan tatapan tajamnya. "Meminta maaf padaku tidak akan berguna, Na. Aku tidak bisa memaafkan. Aku bukan orang yang berhati malaikat. Paham?"
"Apa kamu bisa menerima semua yang aku katakan ini, Na? Aku rasa kamu pintar."
Wina lekas menggelengkan kepala, meski keterkejutan karena jawaban Gandhi belum bisa dihilangkan. Tentu, ia sama sekali tak disangka. Tetapi, Wina merasa pantas mendapatkannya. Ia bahkan sangat enggan berharap bahwa Gandhi akan mampu untuk memperlakukannya dengan baik ataupun penuh kelembutan, seperti dahulu lagi.
"Aku ingin bisa dimanfaatkan sama kamu, Gan. Aku tahu kamu bukan tipikal yang seperti itu. Dan, aku akan terus memin—"
"Kenapa nggak bisa? Kamu kira aku akan terus berhati lembek? Sehingga kamu dapat juga melakukan apa pun seenak yang kamu mau, Na? Berkacalah dulu. Lebih baik kamu sadar. Kamu sudah melakukan kesalahan yang fatal! Apa itu? Aku nggak perlu harus menjelaskan karena kamu lebih tahu."
Wina tak mampu mencegah matanya untuk berkaca-kaca, ia sungguh terluka akan ucapan Gandhi. Sangat dapat menusuk ke sanubari. Namun, Wina berupaya segera mengikhlaskan apa pun yang pria itu sampaikan padanya. Sepatutnya memang lapang d**a. Jangan sampai merasakan sakit hati. Sikap pria itu wajar demikian.
"Aku minta maaf, Gan. Aku tahu aku salah. Dan, aku juga sadar aku nggak mungkin akan mendapatkan maafmu dengan mu—
Wina seketika hentikan kata yang hendak diucapkannya, selepas Gandhi lemparkan tatapan kian tajam dan juga tangan kanan diremas kuat oleh sang suami. Menandakan emosi pria itu meningkat. Amarah semakin bertambah. Wina memilih untuk diam saja. Jika kembali berucap, maka tak ada jaminan bahwa pertengkaran lebih besar terjadi.
"Jangan pernah meminta maaf padaku lagi, Na! Harus berapa lagi aku bilang ke kamu?"
"Aku tadi sudah bilang bukan aku akan bagaimana? Apa kamu nggak paham? Kamu itu pintar, jangan pura-pura nggak ngerti."
Gandhi mengepalkan tangan kiri yang ia masukkan ke dalam saku celana panjang. Rahang wajah kian mengerat. Ia tak bisa meredamkan amarahnya. Namun, juga tidak ingin sampai harus kehilangan kontrol emosi yang dapat membuatnya melakukan sesuatu hal buruk. Gandhi masih menjaga harga dirinya di tempat kerja, enggan untuk menimbulkan masalah dan akan pengaruhi penilaian terhadapnya nanti, tentu saja.
"Lebih baik kamu pergi sekarang dari sini. Jangan pernah kamu muncul di depanku atau berani menemuiku. Semua ngga—"
"Biarkan aku bertemu Ghesa, Gan. Aku mohon. Berikan tolong aku izin datang ke rumah kamu untuk bertemu anakku."
Kedua tangan Gandhi kian mengepal erat. Permintaan yang baru dilontarkan oleh Wina, sangatlah dapat untuk memancing rasa marah dalam diri Gandhi yang belum berkurang. Sekali lagi, ia berusaha tidak larut akan emosi demi tak menimbulkan keributan di tempat kerjanya. Kurang baik juga dampaknya. Gandhi selalu mengingat hal tersebut di dalam kepalanya.
"Nggak akan. Aku nggak bisa kasih kamu izin bertemu dengan Ghesa. Lagipula, dia nggak dapat mengingat siapa dirimu."
Gandhi pun semakin menajamkan tatapannya. "Bisakah kamu melupakan kami? Jalani hidupmu sendiri, Na. Biar aku yang akan menjaga dan merawat Ghesa, tanpa harus melibatkanmu. Aku bisa menjadi orangtua tunggal untuk Ghesa. Kamu bisa tenang dengan kehidupanmu."
"Aku nggak akan menuntut peranan kamu sebagai Mama Ghesa, Na. Kamu bebas. Aku juga akan segera mengurus perceraian kita supaya nggak menjadi beban untukmu."
Wina menggeleng cepat dengan gerakannya yang kuat. "Nggak, Gan. Jangan, tolong."
"Aku mohon, jangan. Aku nggak mau pisah sama kamu, Gan. Aku nggak akan mampu bercerai dari kamu. Aku mohon, Gan. Aku minta tolong jangan menceraikan aku."
Gandhi belum memindahkan atensi, masih memandang begitu lekatnya ke sosok Wina dengan sorot kian muak. "Kenapa harus memohon, Na? Kita memang sudah pantas bercerai. Bahkan, sejak kamu meninggalkan kami. Tapi, aku menundanya sampai kini."
"Aku nggak akan menggugat. Aku serahkan semua padamu. Mulailah di pengadilan dan aku akan meladeni. Prosesnya pasti akan cepat karena Mamamu mencari pengacara yang bagus, handal, dan juga cakap."
Wina segera menggeleng. "Nggak, Gan. Aku nggak akan mau pisah darimu. Nggak ada perceraian. Aku nggak mau mengajukan di pengadilan. Aku masih mencintaimu."
....................................................................................
Gandhi membelalakan mata, kala sosok sang buah hati dan ibunya masih berada di ruang tamu. Padahal, waktu sendiri sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Biasanya, Ghesa telah tidur dengan nyenyak. Tentu, ia kaget mendapati putri kecilnya yang maish terjaga bersama sang ibu.
"Om Swastyastu, Bu." Gandhi ucapkan salam sopan seraya berjalan menuju ke sofa, di mana sang ibu duduk memangku Ghesa.
"Om Swastyastu, Nak." Ibu Yulia segera menyahut. Beliau pamerkan senyuman hangat, kala tangan disalami oleh putranya.
"Papahpapah...Papahpahpapah."
Mendengar celotehan sang buah hati, Gandhi pun cepat anggukan kepala sembari mengambil sosok kecil Ghesa dari ibunya untuk dipangku. "Kenapa belum bobok, Sayang? Sudah malam."
Diberikan keupan singkat di dahi putrinya. "Ghesa pengin tunggu Papa pulang dari kerja, Sayang? Maaf, Papa pulang larut."
"Kamu kenapa tiba di rumah jam segini, Nak? Paling lambat pasti pukul sebelas Ibu sempat khawatir, ingin menelepon."
"Tamu bar yang datang banyak, Bu. Temanku sedikit jadi kewalahan. Aku disuruh membantu dengan bos tadi. Aku lakukan," jawab Gandhi dengan suara yang mantap agar tak ada curiga.
Tentu, enggan memberitahukan sebenarnya pada sang ibu telah bertemu dengan Wina. Bahkan, mengingat wanita itu saja tak bisa membuatnya terus tenang. Merasakan kegeraman yang cukup besar. Terlebih, ucapan-ucapan Wina masih kerap tergiang.
"Begitu, Nak? Ibu kira ada sesuatu buruk terjadi. Ibu sudah cemas. Ibu tidak henti berdoa agar Hyang Widhi melindungimu."
Gandhi menggeleng. "Tidak terjadi hal yang buruk, Bu."
"Pekerjaanku di bar berjalan lancar," tambah pria itu.
"Hanya saja, aku bertemu dengan Wina tadi." Gandhi pun putuskan untuk menceritakan kepada sang ibu secara jujur.
"Wina siapa yang kamu maksud, Nak? Apa menantu Ibu? Kamu bertemu dengan Wina di bar? Dia sudah datan—"
"Aku tidak ingin bahas dia dulu, Bu. Aku capek dari pagi bekerja. Mungkin besok kita bicarakan lagi tentang Wina," sahut Gandhi dalam suara terdengar sedikit dingin, tak ada senyum.
"Atau tidak usah sekalian bicarakan dia, Bu. Setiap kali, aku membahas semua tentang dia, aku akan muak, Bu." Gandhi pun tak segan untuk mengungkap apa yang dirasakannya.
"Kenap kamu ngomong begitu, Nak? Wina masih jadi istrimu. Kamu harus menghargainya." Ibu Yulia nasihati serius.
"Menghargai dia? Bagaimana aku bisa, Bu? Dia sudah sangat mengecewakanku saat dia memutuskan mementingkan perusahaan ibunya. Dia tega meninggalkan kita, Bu. Terutama Ghesa yang masih tiga bulan waktu itu. Wajar, aku muak."
Kepalan tangan Gandhi menguat. Deru napas pun mulai tidak stabil. Namun, berupaya untuk mengendalikan diri dan emosi. Ia sungguh enggan harus marah lebih besar karena mengingat sosok Wina serta masalah yang sudah diciptakan wanita itu.
"Tidak boleh begitu, Nak. Ibu yakin kamu masih ij—"
"Mempunyai apa, Bu? Belas kasihan? Nggak, Bu. Aku nggak masih memiliki rasa kasihan pada dia. Bahkan, cinta. Aku sudah bilang juga pada dia, kalau aku nggak akan bisa memaafkan."
bu Yulia langsung berikan usapan-usapan halus pada bagian punggung putra sulung beliau, selepas Gandhi selesai dengan semua kata-katanya. Ibu Yulia ingin berikan ketenangan untuk sang putra supaya nantinya tidak akan jadi semakin emosi.
"Sabar, Nak. Apa yang kamu perbuat dan sudah bilang ke Wina. Tidak akan dapat menyelesaikan masalah di antara kalian."
Ibu Yulia memandang serius Gandhi yang juga tengah pusatkan atensi pada beliau. "Kamu dan Wina sudah sama dewasa, Nak. Bukan begini cara kalian menyelesaikan masalah demi semua tidak dirugikan. Jangan kedepankan ego masing-masing."
"Ibu sangat percaya kamu akan mampu mengatasi masalahmu dengan Wina. Carilah solusi yang paling baik menurut kalian berdua paling baik dan tida menyakiti cucu Ibu nanti."
Sedetik selepas sang ibu selesai berkata, maka Gandhi cepat merespons dengan keluarkan gelengan serta decakan bernada sinis. "Nggak akan pernah bisa, Bu. Aku nggak akan bisa."
"Wina sudah melakukan kesalahan yang membuat aku sangat kecewa. Bagaimana aku bisa menyelesaikan semua? Dia bisa mudahnya meminta maaf tadi. Apa aku akan bisa maafkan? Pastinya sangat mustahil."
Gandhi kembali menggeleng. "Nggak, Bu. Aku nggak bisa. Sulit bagiku berdamai. Dia sudah membuat perasaanku sakit."
"Aku bukan orang yang berhati baik dan bisa memaafkan dengan mudah, Bu. Aku keras. Aku nggak suka dibuat kecewa. Aku mungkin bisa memaklumi, kalau hanya aku yang mendapat efek dari keputusan Wina meninggalkan keluarga kami. Tapi, Ghesa juga, Bu. Aku nggak akan bisa menerima."
"Anakku ditinggal waktu masih bayi. Saat dia sangat butuh keberadaan ibunya, Wina malah pergi dan mementingkan urusan bisnis dibandingkan anaknya sendiri. Sekarang dia kembali, ingin menemui Ghesa. Aku nggak akan bisa memberikan izin pada dia sampai kapanpun, walau dia akan terus memohon," ujar Gandhi tegas.
"Lalu, apa yang mau kamu ambil keputusannya, Nak? Apa kalian akan bercerai? Ibu tidak akan pernah setuju kalian berpisah. Cucu Ibu hanya akan tambah sakit karena perceraian kalian."
Gandhi mengangguk cepat. Namun, dalam gerakan pelan. "Iya, Bu. Kami akan segera bercerai. Aku tunggu Wina menggugat."