= Tiga Tahun yang Lalu =
Suara tangisan dua wanita cantik menggema di sebuah kamar rumah sakit, di samping jasad seorang pria. Yang satu berusia paruh baya, sedangkan satunya lagi adalah seorang remaja. Mereka terlihat mengalami kesedihan yang teramat sangat karena ditinggalkan oleh orang yang mereka sayangi.
Seorang perawat menutup wajah seorang laki-laki paruh baya itu dengan kain putih. Terlihat pula seorang laki-laki muda sedang menangis dan memeluk erat pria paruh baya itu. Pundak laki-laki tersebut di usap-usap halus oleh istrinya yang sedang menggendong seorang anak balita.
“Selamat jalan Pa, semoga tenang di alam sana.”
Papa Marisa dinyatakan dokter meninggal di usia 52 tahun karena komplikasi. Sejak saat itu, Marisa yang tadinya manja, berubah menjadi Marisa yang mandiri. Walaupun berusaha tegar, Marisa sangat kehilangan sosok ayah. Ia sangat sensitif jika anak lain menceritakan kedekatannya dengan ayah mereka.
Di rumah, Marisa hanya tinggal berdua dengan mamanya karena kakak laki-lakinya telah menikah dan memiliki anak. Jika suatu rumah tidak memiliki anggota keluarga laki-laki atau kepala keluarga, rasa hormat dari tetangga berkurang. Ibu Marisa sering mendapatkan godaan dari bapak-bapak genit. Ibu-ibu tetangga sekompleks menjadi waspada karena takut suaminya tergoda atau menggoda ibu Marisa.
☆☆☆
“Kamu ikutan duta kampus nggak, Sa?” tanya Nisa.
"Ikut kayaknya, Nis.”
Nisa merutuk dalam hati mendengar jawaban Marisa.
Sial! Saingan berat, nih. Kok dia tahu ada pemilihan duta kampus, sih? Padahal pengumumannya udah gue copot. Kayaknya dia lihat pengumuman di tempat lain.
Nisa menghela napas, lalu berkata, “Aku dengar besok acaranya memakai dress code putih, Sa.”
"Oh iya, ya. Makasih infonya, Nis.” Marisa tersenyum kepada Nisa.
Dosen mereka, dr. Martin, datang dan mengawali perkuliahan pagi itu. Perbincangan kedua mahasiswi itu otomatis terhenti.
☆☆☆
Keesokan harinya, Marisa sudah bersiap mengenakan dress berwarna putih. Ia dijemput oleh Febry.
“Sayang, kamu ada acara apa, kok pake baju putih?” tanya Febry sambil mengecup pipi Marisa.
“Mau ikutan pemilihan duta kampus, Kak. Katanya pake dress code putih dan bawa berkas data diri.”
"Oh, gitu. Good luck, Sayang.”
☆☆☆
Setibanya di ruangan aula, Marisa kaget melihat dress code yang dipakai semua peserta ternyata berwarna hitam.
Kurang ajar! Si sirik Nisa menyesatkan, sengaja banget bikin gue salah kostum. Marisa menggerutu dalam hati sambil menghela napas.
“Maaf, Pak, saya salah memakai dress code-nya.” Marisa terpaksa berbicara pada dosen panitia.
"Ya udah. Nggak pa-pa, Dik. Mana berkas file-nya? Lain kali jangan salah informasi lagi, ya. Belum apa-apa udah nggak disiplin.” Sang dosen memasang ekspresi marah.
Apes gue! Marisa hanya bisa menggerutu dalam hati.
“Silahkan duduk, Dik. Kita akan mulai pengarahan dan seleksi awal.”
“Siap Pak, terima kasih.”
Sementara itu, Nisa tersenyum miring melihat Marisa yang kena marah panitia. Rasain tuh, baru permulaan!
Seorang pria berwajah tampan dengan postur atletis melambaikan tangannya dan menunjuk bangku kosong Marisa. Bangku itu tepat persis di sampingnya.
"Duduk disini, Cantik,” sapa Januar.
“Makasih, Kak. Kok Kakak nggak kasih kabar sih, kalo pake baju item? Aku jadi salah kostum.”
“Maaf, Cantik. Kakak kira kamu udah tahu.”
☆☆☆
Dari pagi hingga sore hari, Marisa dan peserta lain mendapatkan arahan. Tak sedikit Marisa aktif mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul lima sore dan saatnya pulang.
"Cantik, nanti pulangnya sama aku, ya,” ujar Januar.
Marisa teringat perkataan Febry tadi pagi. “Aku ada janji, Kak. Aku nggak bisa pulang sama Kakak. Nggak pa-pa, kan?"
"Ya udah kalo gitu. Nggak pa-pa, Cantik.”
Ponsel Marisa berdering.
Kak Febry is calling …..
Marisa mengecilkan volume agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Januar.
“Sayang, jadi pulang sama aku, kan?"
"Iya, Kak.”
“Aku tunggu kamu di tempat biasa, ya,” ucap Febry, lalu menutup telepon.
☆☆☆
Nisa melihat Marisa dijemput oleh seorang pria. Ia melihatnya dengan tatapan sirik.
“Halo, lihat yang namanya Marisa, nggak?” tanya seorang laki-laki berbadan tinggi kepadanya. Orang itu adalah Farhan.
“Barusan di jemput cowoknya.”
"Lu Nisa, kan?"
"Eh, lo Farhan, kan? Kok beda sih sekarang?"
“Apa kabar sepupu tercinta gue?" tanya Farhan.
“Baik. Lo juga suka sama Marisa emang, kok cari-cariin dia?”
"Yoi, dong.” Farhan mengajak Nisa mengobrol di kafe dekat kampus.
Sementara itu di parkiran, Januar melihat sosok Marisa yang masuk ke dalam mobil Fortuner abu-abu. Ia langsung masuk dan menyalakan mobil, lalu mengikuti mobil tersebut. Melihat Marisa turun dari mobil dan laki-laki yang mengantarkannya memandang dengan penuh cinta, Januar mengepalkan tangan, lalu membenturkannya ke setir.
Januar menunggu cukup lama. Akhirnya ia mengambil benda pipih dari saku. Ia mengetik nomor, kemudian menunggu untuk diangkat.
“Halo, Cantik. Kamu pulang sama siapa tadi?”
“Aku pulang sama sodara aku, Kak,” jawab Marisa, berharap Januar percaya.
“Beneran sodara?” tanya Januar dengan suara tidak yakin.
Keluarlah jurus jitu panggilan dengan rayuan sayang yang dilontarkan Marisa agar Januar percaya. “Beneran Kakak Sayang, aku nggak bohong suer. Aku mau mandi dulu, ya. Besok kan kita mau grand final. Eh maaf, kok aku manggil sayang.”
"Oke, Cantik. Besok aku jemput. Nggak pa-pa panggil sayang aja buat seterusnya, ya, ya?” Januar menutup telepon, dan masih berpikir apakah yang di katakan itu benar sambil kegirangan di panggil sayang.
☆☆☆
Terdengar suara ponsel Marisa berbunyi, pesan masuk dari pacarnya Febry.
Febry_ Sayang, aku nggak bisa anter kamu. Aku ada tugas yang harus selesai pagi ini.
Marisa_ Iya, nggak papa, Kak.
Febry_ Kemungkinan aku juga telat datang ke grand finalnya, ya.
Marisa_ Iya, nggak, Kak. Kuliah Kakak lebih penting.
Semua peserta sedang bersiap di ruang make up. Melihat Marisa sudah rapi dengan dandanannya dan terlihat cantik mengenakan gaun rancangan designer Iwan Rupawan, Nisa mencari cara agar Marisa terlihat buruk. Kebetulan ia mempunyai blush-on serbuk. Ia berjalan menuju Marisa dan pura-pura menabraknya.
“Aduh, maaf, Sa .....” Baju Marisa dibuat kotor. “Acaranya bentar lagi, tapi aku nggak sengaja kotorin baju kamu.” Nisa memasang ekspresi pura-pura menyesal.
Marisa kontan panik. “Astaga, gimana ini? Waktunya udah mepet. Aku ke toilet dulu buat bersihin baju aku.” Marisa berlari menuju toilet.
Marisa mendapati tulisan bahwa toilet sedang dalam masa perbaikan, dan bergegas mencari toilet lain. Ternyata Nisa yang memasang kertas pengumuman palsu tersebut agar Marisa mencari toilet yang lebih jauh. Tentu saja, agar Marisa terlambat atau tidak mengikuti Grand Final acara duta kampus tersebut.
Nisa mengambil benda pipih di sakunya dan menelepon seseorang. “Aksi gue udah lancar, sekarang tinggal bagian lo.” Setelah itu, sambil menyeringai ia menutup teleponnya.
☆☆☆
Marisa kalang kabut mencari toilet. Akhirnya ia mendapati satu yang letaknya lumayan jauh dan terlihat gelap. Ia segera membersihkan gaunnya yang kotor akibat ulah Nisa tadi.
Saat ia keluar dari ruangan tersebut tiba-tiba ada tangan kekar yang menggenggam erat tangan Marisa dengan kasar, membekap mulut Marisa dan membawanya ke lorong gelap.
“Hai, Cantikku. Aku kangen kamu. Aku benci lihat kamu mesra-mesraan dengan Kak Febry. Jadilah wanitaku, Cantik.” Farhan berbicara dengan tatapan tajam, lalu tiba-tiba mencium bibir seksi Marisa.
Marisa berusaha menolak, membela dirinya agar bisa keluar dari dekapan Farhan. Marisa menendang bagian inti Farhan sampai pria itu melepaskan pelukan dan mengerang kesakitan.
"Dasar cowok kurang ajar! Rasain tuh tendangan gue!” Marisa berusaha berlari menjauh.
Langkah kaki Farhan yang lebar dapat menyusul Marisa yang berlari mengenakan high heels. Ia berhasil mencengkram erat lengan Marisa. Marisa berteriak meminta pertolongan, sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Farhan.
Brukkkk!
Seseorang menghajar Farhan.
“Lo apain gadis ini, Bro? Jangan main kasar kalo lo nggak mau gue laporin ke yayasan dan didepak dari kampus ini!”
Sementara itu, Marisa melihat jam tangannya sudah menunjukkan dua menit sebelum acara dimulai. Ia berlari dan lupa untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya.
☆☆☆
= Beberapa jam sebelum kejadian =
“Han, lo mau bantu gue, nggak? Ini keuntungan buat lo dan buat gue juga kalo lo mau.”
"Emang apaan, Nis?”
"Lu mau jadi cowoknya Marisa, kan? Gue kasih lo kesempatan buat deketin dia.”
"Gimana emang?"
“Besok kan acara Grand Final duta kampus. Gue mau Marisa didiskualifikasi dan gue ada ide biar dia didiskualifikasi.”
"Okey, jelasin lagi kayak gimana.”
"Gue besok mau jebak dia dengan kotorin gaunnya. Lo pasang pengumuman di semua terdekat, kalau toilet itu rusak. Maksudnya biar Marisa cari toilet yang jauh. Lo ulurin waktu, biar dia lama-lama di toilet yang jauh itu. Terserah. Mau lo cium kek, mau lo apain kek, gue nggak perduli. Yang penting dia nggak ikut acara Grand Final.”
"Oke sepupuku, Sayang!”
☆☆☆
Seorang MC mengecek ulang peserta. Satu menit lagi acara dimulai dan ada satu orang peserta yang menghilang.
“Marisa Calista Hapsari? Marisa ...?” Panitia memanggil Marisa.
“Ada yang melihat mahasiswi tersebut, nggak? Kalau dalam satu menit dia tidak datang, akan kami diskualifikasi.”
Satu menit berjalan dan waktu akhirnya habis.
“Ayo Kak, jangan tunggu peserta yang belum pasti datang. Kasihan kami yang tepat waktu.” Nisa berusaha agar Marisa didiskualifikasi.
Seseorang datang dengan napas tak beraturan. “Ma-maaf, tadi ada masalah sedikit, Kak,” ujar Marisa sambil merapikan baju dan riasannya.
"Okey, udah lengkap semua, kan? Kita akan memulai acara. Sekarang semua peserta berjalan di panggung bergantian sesuai arahan, ya.”
“Kamu abis dari mana, Sa? Hampir aja kamu didiskualifikasi,” tanya Januar.
"Tadi aku ada masalah, Kak.” Marisa berbicara dengan d**a turun naik.
"Yang tenang, Sa, atur napas kamu,” ujar Januar sambil mengelus pundak Marisa.
Melihat perlakuan Januar ke Marisa, Nisa merasa iri sekaligus emosi karena rencananya gagal.
Suporter Marisa berteriak dengan kencang menyebut nama Marisa. Rosa beserta fans laki-laki Marisa bersorak melihat sang idola berjalan di panggung. Sementara itu, suporter bayaran Nisa juga tak kalah antusias memanggil nama Nisa dengan kencang.
Marisa berjalan dengan anggun dan penuh percaya diri. Melihat Marisa begitu cantik dan anggun, entah mengapa, fans bayaran Nisa beralih kiblat. Mereka justru ikut bersorak kencang memanggil nama Marisa. Melihat kejadian tersebut, emosi Nisa memuncak. Orang-orang itu sudah dibayar untuk menjadi suporternya, mengapa malah terkagum dan mendukung Marisa?
===Bersambung===
Novel Romance komedi terlaris: Perfect Hot Sugar Daddy