BAB 7

1470 Words
Setelah semua peserta berjalan ke seluruh panggung, saatnya sesi tanya jawab. Hanya 10 orang finalis wanita dan 10 orang finalis pria yang mendapatkan pertanyaan spesial dari juri. Marisa mendapatkan pertanyaan spesial dari anak ketua yayasan yang wajahnya begitu familiar untuknya. “Apa definisi keluarga dan kebahagiaan menurut kamu, coba jelaskan,” tanya pria tampan yang memakai setelan jas hitam itu. "Terima kasih atas pertanyaannya. Menurut saya, keluarga adalah sumber kebahagiaan. Tiada arti bahagia ketika kita tidak menghargai atau membahagiakan anggota keluarga. Semua waktu dan kerja keras adalah untuk membahagiakan diri sendiri dan keluarga. Demikian pendapat saya, terima kasih,” tutur Marisa sambil tersenyum kepada dewan juri. Sesudah semua peserta mendapatkan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari juri, saatnya sesi unjuk bakat. Peserta diminta menunjukkan bakat yang dimiliki masing-masing. Nisa bernyanyi lagu berbahasa Inggris di panggung. Peserta yang lain ada yang menari. Ada juga yang memasak. Saat tiba giliran Marisa menunjukkan kemampuannya, ia menampilkan dua bakat sekaligus, yaitu perpaduan menarik antara seni tari tradisional dan seni bela diri silat. Tampilan itu yang sungguh memukau. Apalagi didukung kostum yang ia buat sendiri. Tepuk tangan meriah dari suporter Marisa mengiringi penampilannya. Januar menampilkan aksinya memainkan bola basket di hadapan para juri dengan sangat memukau. Beberapa pasang mata melihat aksinya dengan penuh sorak sorai. Saat menunggu pengumuman juri Marisa merasa gugup. Januar menghampiri dan menggenggam erat tangan Marisa. “Aku berhasil nggak ya, Kak? Aku kan pertemuan pertama salah kostum, sekarang malah ditambah telat hadir.” "Jangan sedih. Kamu harus optimis, Sa. Kamu pasti bisa, kamu pasti berhasil.” Januar memeluk erat tubuh Marisa di backstage. Aksi mereka dilihat peserta lain. "Dasar Marisa, caper aja mulu,” gerutu Nisa. Semua peserta dipanggil semua ke panggung dan berbaris rapi. Juri mulai mengumumkan pemenang dari setiap kategori. Marisa sedih namanya tak kunjung dipanggil dalam kategori yang diumumkan. Mungkinkah ia kalah dalam kompetisi kali ini? Dibangku penonton, Febry dan Rosa melambai dan mengajak Marisa untuk tersenyum. Mereka tak henti menyemangati. Sementara itu, Nisa memenangkan kategori Duta Genre, perwakilan juri memberikan buket bunga dan tropi. Marisa semakin merasa sedih karena namanya juga belum dipanggil. MC berteriak dengan semangat. "Dan yang paling kita tunggu-tunggu, pemenang dari pemilihan Duta Kampus ini adalaaaah ...." "Tunggu, lebih baik kita panggil semua juri untuk menaiki panggung dan bersiap memakaikan mahkota serta selempang.” Para juri pun satu per satu naik ke atas panggung membawa mahkota dan selempang. Jantung Nisa makin berdegup kencang. Kapan namaku dipanggil? Apa aku gagal mendapatkan semua kategori? Nisa berbicara dalam hati. “Kita ucapkan selamat kepadaaaaa … Januar Prasetyo dan Marisa Calista Hapsari sebagai Duta Kampus!” ucap sang MC. Marisa merasakan jantungnya berhenti sekejap, lalu berdegup kencang dengan irama tak beraturan. “Kedua pemenang silahkan maju ke depan.” MC memanggil Marisa dan Januar. “Ketua dewan juri kami persilakan untuk menyematkan selempang Duta Kampus dan memasangkan mahkota kepada Marisa.” Semua peserta mengucapkan selamat dan bersalaman. Prosesi itu diakhiri dengan acara foto bersama seluruh peserta dan pemenang. “Selamat, Cantik, kamu berhasil! Bener kan apa kata Kakak, kamu pasti bisa,” puji Januar. “Selamat juga, Kak. Makasih udah nyemangatin aku,” balas Marisa. “Ngomong-ngomong, kita pasangan yang cocok.” Januar menggenggam tangan Marisa dan membisikkan sesuatu dengan suaranya pelan, "Cantik, kamu mau nggak jadi pacar Kakak? Kita udah jadi pasangan Duta Kampus. Cocok juga buat jadi pasangan kekasih di real life. Gimana mau, nggak?" Marisa balik membisiki telinga Januar. “Aku nggak mau, Kak.” Januar mengerutkan dahi. “Kenapa? Wajib kasih aku alasan yang logis.” “Nggak mau nolak maksudnya.” Marisa tersenyum manis. "Yeeees! Makasih, Cantik!” Januar kegirangan cintanya tidak ditolak Marisa. Semua peserta sudah turun dari panggung. Acara sudah selesai. Suporter menghampiri para idola mereka. Rosa memeluk erat tubuh Marisa. “Selamat ya, Zeyeng. Akhirnya kamu jadi ratu dan mengalahkan Nisa.” “Makasih, Sayang. Nggak ada niatan buat ngalahin anak itu kok, Beib." “Bisik-bisik apaan lo tadi sama Kak Januar? Untung tadi laki lo kaga ngelihat. Coba kalo ngelihat, bisa gawat segawat - gawatnya.” "Dia tadi nembak gue, Ros. Punya pacar dua deh gue jadinya.” Marisa terkekeh. “Alamak gue satu aja kaga punya, Sa. Lo udah dua aja,” keluh Rosa sambil menggaruk puncak kepalanya. Febry mendekat dan memeluk Marisa. Ia juga memberikan serangkaian bunga mawar untuk sang kekasih. “Selamat, Sayang. Kamu berhasil. Mau hadiah apa, Sayang?” Febry mengecup pipi Marisa. Untung Januar tidak melihat kejadian tersebut. “Aku mau ponsel baru. Eh, tapi nggak enak kemahalan. Jangan Kak, jangan. Aku cuma bercanda.” Marisa tanpa basa basi mengungkapkan keinginannya. Ia tahu Febry bucin banget, pasti membelikan tanpa pikir panjang. “Nanti Kakak beliin, Sayang.” "Jangan, Kakak. Aku bercanda, ih.” “Apa sih yang enggak buat kamu? Ini hadiah dari aku karena kamu udah juara, Sayang.” “Beneran? Yeayyyy, makasih Kakak!” Marisa mengecup pipi Febry saat Januar sedang sibuk berbincang dengan sahabatnya. Di sisi lain, Roy memeluk erat sahabatnya. "Woy, lo keren, Bro! Lo jadi winner. Kok bisa kebetulan gitu lo sepasang sama Marisa pujaan hati lo.” "Jodoh nggak bakalan pergi ke mana, Bro.” “Aiihhh mantap, Bro! Bisik-bisik apaan lo tadi ke Marisa?” Roy benar-benar penasaran. "Gue nembak dia, Bro.” "Dan ia jawab apa, Bro? Ditolak, lo?” "Diterima, dong.” "Wiiih mantap, Bro! By the way, itu temennya Marisa, ya? Mayan cantik juga.” "O iya. Eh, tu cewek nanyain lo, Bro. Ajak dia kenalan, gih.” Roy segera menghampiri Rosa yang sedang berbincang dengan Marisa. “Hai, Cantik. Boleh kenalan, nggak?” “Hai, Kak. Hah? Kakak ini Kak Roy, kan?” Rosa kaget dirinya diajak berbincang oleh pemuda bernama Roy itu. “Kok kaget, Cantik? Emangnya aku se-tan, kok udah tahu nama aku? By the way, nama kamu siapa, ya?" ” Ro-Rosa, Kakak.” Rosa menjawab terbata karena gugup. “Kamu lucu. Boleh nggak aku minta nomor kamu?” “Bo-bo-boleh banget, Kak. Ini ponsel aku. Kakak yang catet nomor Kakak, ya. Aku nggak inget nomor aku, Kak.” Roy mengetik nomornya di ponsel Rosa. “Ini ponselnya, Cantik. Udah aku namain 'Roy Ganteng' hehe.” “Makasih Kakak.” Jantung Rosa berdegup kencang. ☆☆☆   Setelah semua beres, Marisa dan Rosa diantar pulang oleh Febry. “Sayang, kita bertiga foto studio dulu, yuk. Ada yang bagus. Namanya Andala Gallery,” ajak Febry. “Ide bagus, Kak,” jawab Rosa. “Hayuk Kak, mumpung masih pake gaun dan make up," sahut Marisa. Mereka melakukan sesi photo di Andala Gallery. Febry juga mengajak Marisa foto berdua. Mereka terlihat serasi dan romantis di depan kamera. "Wawww cuco meong hasil fotonya nih, Sa! Buat kita pajang di kamar dan di sosmed.” Rosa kegirangan. “Iya bagus juga, Ros. Marisa, Sayang, pasang foto kita berdua buat background hape baru kamu nanti, ya,” pinta Febry. “Iya, Kak.” “Ayo aku antar kalian pulang.” Setibanya di depan kos-kosan, Marisa mengucapkan terima kasih. “Makasih udah anter kita pulang, Kak.” “Sama-sama, Sayang.” Febry mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Marisa. Ia melumat bibir seksi dan tipis Marisa. Marisa kaget dan tak mampu untuk bergerak. Lidah Febry menyusuri bibir Marisa, seolah ingin gadis itu membuka mulutnya sehingga ia bisa terus menghisap bibir indah Marisa. Rosa kaget dan tak mampu berkata-kata. Kemesraan di depannya adalah tontonan live. Kontan ia menutup mata dengan kedua tangan. OMG gile! Gue jadi obat nyamuk disini. Mana nonton adegan dewasa, pula. Bolehkah daku menjerit Tuhan? Aku juga mauuu haha, gerutu Rosa dalam hati. Marisa tak membalas ciuman Febry sehingga cowok itu menyudahi ciuman panas dan malah merasa bersalah. “Maaf, Sayang,” ucap Febry. “I-i-iya, Kak.” Marisa masih kaget dengan apa yang dilakukan Febry. “Aku sama Rosa masuk ke kos ya, Kak.” “Iya, Sayangku. Sampai jumpa besok, ya.” Walaupun itu bukan ciuman pertama Marisa, tapi ia kaget atas perlakuan Febry padanya yang secara tiba-tiba dan dilakukan di depan sahabatnya sendiri. "OMG gile, Beeiibbb! Gue ngelihat live tadi syok beud dah jantung gue!” “Maaf, Beib. Gue juga kaget.” "Jadi kepingin tahu rasanya. Sayang gue jomlo. Lo sih bikin gue jadi ngiri.” "Rasa stroberi, Ros.” Marisa tertawa mengejek sahabatnya. “Besok dong sama Kak Roy dipraktikin.” "Gile lo, baru aja kenalan masa udah kissing? Yang bener aja.” "Ya, siapa tahu rezeki lo Ros.” "Eh eh eh, doi kirim WA nih. Jantung gue bisa berhenti kali. Tadi syok ngelihat lo dan Kak Febry, sekarang syok dapat WA dari pujaan hati gue.” "Yang semangat, ya. Semangat PDKT ama Babang Roy. Gue doain kalian jadi.” "Jadi apa?" "Jadi bebenyit eh ... maaf ... jadi kekasih gitu, haha.” Marisa tertawa terbahak-bahak, puas berhasil menggoda sang sahabat. “Aduh pala gue jadi limbung, Sa. Tolooong ….” Badan Rosa seketika oleng.   ---Bersambung---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD