Suara klakson mobil berbunyi kencang di depan indekos khusus perempuan. Dua perempuan cantik keluar dari kos tersebut. Mereka terlihat rapi memakai seragam.
“Hai, Sayang.” Febry membukakan pintu mobil bagi Marisa dan Rosa.
"Pagi, Kak.” Marisa membalas salam tersebut.
Febry memasangkan sabuk pengaman Marisa. Setelah itu ia memberikan sebuah bungkusan. “Sayang, nih hadiah kamu.
“Apa ini, Kak?”
“Sesuai permintaan kamu dong, Sayang.”
“Se-seriusan, Kakak? Handphone, ya?” Marisa antusias ingin melihat isi kado tersebut. “Mmmm bagus banget! Aku suka, Kak.” Marisa memeluk erat tubuh Febry dari samping.
"Di pake ya, Sayang. Jangan lupa pasang foto kita berdua. Hape lama kamu khusus buat bales chat customer aja. Kalo ini khusus buat kontekan sama aku, ya.”
“Makasih Kakak, makasih banget.”
"Cium dong.” Febry menyodorkan pipinya ke Marisa.
Marisa mengecup pipi Febry agak lama.
“Astagaaa! Masih pagi oiii! Apes banget, gue nontonin mulu adegan dewasa, nih. Kapan kalian yang nonton gue pacaran, haha.”
"Yang sabar ya, Jones.” Marisa tertawa menggoda Rosa.
Setibanya di kampus, Januar menghampiri ke kelas Marisa. Ia mengetuk pintu dan menyatakan maksud kedatangannya.
“Maaf, Adik-Adik. Kepada para Duta Kampus saya mohon sedikit waktunya untuk berbicara di luar.”
Marisa, Nisa, dan rekan Duta Kampus yang lain keluar dari kelas.
“Ada apa, Kak?” tanya Marisa.
“Nanti sore kita ada sesi photo shoot di Hotel Cordella, ya. Waktunya jam empat. Baju dan make up udah siap, kita tinggal bawa diri aja. Kita berangkat bareng pakai mobil aku, ya.”
“Siap, Kak.”
☆☆☆
Sore harinya, semua duta kampus yang terpilih berkumpul di parkiran menunggu kedatangan Nisa dan Marisa.
“Karena nggak cukup semua diangkut pakai satu mobil, kalian sebagian duluan aja pake mobil Richard. Sebagian lagi di mobil gue nyusul.”
Tak lama kemudian, Marisa dan Nisa datang. Reyhan yang ingin duduk di depan dihalangi oleh Januar. "Waaaittt! Maaf, Bro. Kursi depan buat si Cantik Marisa.”
“Halah … rese lo, maunya duduk bareng yang cantik dan bening di depan.” Reyhan mengejek Januar.
"Lo sama pasangan lo aja yang sama-sama Duta Genre di belakang ya, Bro.”
“Alesan aja lo!”
Nisa sibuk dengan ponselnya. Gadis itu tengah mengirim pesan kepada seseorang.
Setibanya di hotel, mereka menuju area yang sudah disiapkan untuk pemotretan. Marisa terlihat cantik memakai gaun merah, sedangkan Januar terlihat tampan mengenakan setelan jas hitam. Semua orang bergantian diambil gambar, berpasangan sesuai tema masing-masing. Tak hanya duta kampus, jajaran petinggi yayasan juga ikut berfoto.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat semua sesi pemotretan selesai dilakukan. Semua orang berjalan turun ke lobi, lalu masuk ke mobil. Marisa membuka tasnya dan melihat ponselnya tak berada dalamnya. Seketika ia panik.
“Kalian pulang duluan aja, ya. Ponsel aku ketinggalan. Nanti aku naik taksi aja atau telepon kakak aku buat jemput.”
“Kita tunggu aja cantik,” ujar Januar.
"Jangan, Kak. Kasihan yang lain pada capek, kan. Tuh, pada kepingin cepet pulang dan istirahat,” kilah Marisa, merasa sungkan pada teman-temannya.
“Iya, Kak. Aku udah lelah, udah kepingin pulang, ya kan Kak Rey?"
“Iya, Bro. Kalo Marisa ada yang jemput, kita duluan aja gimana?"
"Ya udah, Sa. Nggak pa-pa kita duluan?" tanya Januar.
“Nggak pa-pa, Kak. Kalian duluan aja.”
"Ya udah. Hati-hati pulangnya ya, Cantik.”
Marisa berlari memasuki lift dan menuju ruangan yang digunakan untuk make up tadi. Ia segera mencari keberadaan ponselnya.
Sementara itu, Nisa memberikan pesan singkat pada seseorang.
Tiba-tiba lampu ruangan itu mati, pintu tertutup.
Marisa kaget, jantungnya berdegup kencang. "Tolong ...! Kenapa lampunya mati?”
Marisa berhasil menemukan ponselnya. Namun sekonyong-konyong seseorang mencengkeram tangan Marisa erat dan mendorongnya ke tembok. Orang yang ternyata pria itu mencium paksa bibir Marisa. Gadis itu kaget dan berusaha untuk melepaskan diri. Saat itulah ia mengenali orang yang menyerangnya.
“Ngapain lo Farhan? Lepasin gue!” pekik Marisa sambil berusaha melepaskan diri.
“Halo, Honey. Gue kangen, jadi gue ikutin lo ke sini.”
"Dasar gila lo!”
"Jangan marah, Sayang. Kan gue sayang sama lo.”
“Apa-apaan lo cium-cium gue, ha?!” Marisa menendang bagian inti Farhan, tapi meleset.
“Kali ini lo nggak akan lepas dari genggaman gue.”
"Tolong ...! Tolong …!” Marisa berusaha sekuat tenaga agar ada yang mendengar teriakannya.
"Nggak akan ada yang denger lo karena semua udah pulang.”
Ya Tuhan, selamatkan aku! Marisa berdoa dalam hati.
“Gue mohon, Han, lepasin gue atau gue laporin lo ke polisi!”
“Lo nggak akan bisa lepas, Marisa!”
"Tolong ...! Tolong …!” Marisa mencoba berteriak kembali. Farhan mendekatkan wajah, lalu melumat bibir Marisa dan menyusuri leher jenjangnya. Ia sengaja meninggalkan kiss mark disana.
Farhan kembali mencium bibir Marisa dengan kasar. Tangan pria itu menggapai ke bawah, membuka risleting celana jeansnya. Ponsel Marisa terjatuh. Tangan kiri Marisa yang terlepas dari cengkeraman Farhan berusaha mendorong Farhan agar menjauh. Namun, usaha itu gagal karena tenaga Marisa tak sebanding dengan fisik Farhan yang kekar.
Marisa kembali berusaha menendang bagian inti pria itu. Kali ini berhasil sehingga Farhan meringis kesakitan. Marisa segera melepaskan diri dari kungkungan Farhan, lalu mencoba membuka pintu dan berteriak meminta tolong. Farhan kembali memburu Marisa dan mencengkeram tangannya. Dengan marah, ia membenturkan tubuh gadis itu ke tembok. Marisa kesakitan dan merasa pening.
Di saat genting itu, seorang pria tiba-tiba berusaha mendobrak pintu. Farhan panik dan Marisa kembali berteriak meminta tolong. Tak lama kemudian, pintu berhasil terbuka.
Bruukk!
Tinju pria itu mendarat di pipi Farhan. Sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah segar. Cengkeramannya pada Marisa mengendur. Kesempatan itu segera digunakan Marisa untuk lari menyelamatkan diri. Ia tak sempat berterima kasih atau sekadar melihat pria yang sudah menolongnya.
“Shittt!” Farhan mengusap darah tersebut dan membalas memukul.
Tinju dari tangan Farhan berhasil di tangkis oleh pria itu. Akibatnya Farhan terjatuh lalu segera ditindih oleh pria tersebut.
Pria itu berbisik di telinga Farhan. "Lo nggak tahu gue anak pemilik yayasan? Gue udah dua kali pergokin lo mau celakain cewek ini. Gue bisa bikin lo dikeluarin dari kampus dan laporin lo ke polisi!”
“Ampun, Bang, ampun! Jangan laporin gue ke polisi dan pihak kampus, Bang.”
"Lo jangan ganggu cewek ini lagi. Ngerti, lo?”
“Iya, Bang, iya.”
"Tapi lo tetep gue skors dan selama seminggu nggak bisa ngampus!”
"Gue nggak akan celakain cewek ini lagi, Bang. Gue janji, Bang. Jangan keluarin gue dari kampus dan jangan laporin ke polisi, Bang. Gue cuma orang suruhan.”
“Kalo lo nggak ganggu cewek ini lagi, gue nggak akan keluarin lo dari kampus dan nggak akan laporin ke polisi. Lo harus minta maaf ke cewek itu dan jangan bocorin identitas gue ke dia.”
Sementara itu, Marisa telah berhasil keluar dari hotel. Ia memberhentikan taksi dan pulang. Ia menangis sesenggukan di dalam taksi. Setibanya di kos-kosan, Marisa membanting keras pintu kamar dan menangis di balik selimut bergambar Teddy Bear miliknya.
"Lo kenapa, Sa?” tanya Rosa panik.
"Gu-gu-gue hampir diperkosa Farhan, Ros.”
"Lo kok bisa? Bukannya lo tadi pemotretan duta kampus, ya?"
"Gue pulang sendiri karena ponsel gue ketinggalan. Tahu-tahu Farhan kurung gue di ruangan itu.”
“Sekarang ponsel kamu mana, Sa, kita hubungi polisi.”
"Percuma Ros, nggak ada bukti. Cu-cu-cuma tadi ada saksi dan orang itu yang selametin gue.”
“Siapa orang itu, Sa?"
"Gue nggak sempat lihat tu cowok, dan gue nggak sempat ngucapin terima kasih sama dia. Kamar itu gelap banget, Ros. Gue panik banget, gue takut!” ujar Marisa sambil menangis di pelukan Rosa.
"Ya ampun … untung lo selamet, Sa.”
"Gue takut sama Farhan, Ros. Ini kedua kalinya dia mau celakain gue.”
“Hah? Kapan sebelumnya dia mau celakain lo, kok lo nggak cerita sama gue?”
"Pas sebelum Grand Final waktu itu, Ros. Udah, please … gue nggak mau inget-inget lagi kenangan buruk ini. Yang penting gue udah selamet.”
“Siapa cowok yang selametin lo, ya? Kok gue yang penasaran. Gue mau ucapin makasih udah selametin sahabat gue.” Rosa menghapus air mata di pipi Marisa.
“Nanti kita cari tahu, Ros. Sekarang gue kepingin istirahat.”
☆☆☆
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Marisa terbangun dari tidurnya. Ia mendapati Rosa tidak terlihat tidur di sampingnya.
"Rosa ke mana, ya, kok udah nggak ada? Siapa di luar? Tunggu sebentar.”
“Saya antar paket, Kak.”
Marisa membuka pintu. "Paket dari siapa ya, Pak?”
“Nggak ada nama pengirimnya, Dik. Saya hanya disuruh mengantar ke sini.”
“Apa ya, isinya? Terima kasih, Pak.”
Marisa membuka isi paket tersebut. Ternyata di dalam dus tersebut terdapat ponsel miliknya. Marisa melihat lagi ke dalam dus. Ada kertas dengan tulisan tangan.
Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih sebelum kamu pergi.
Dari seseorang yang menolongmu.
“Hah, kok ini orang tahu alamat gue? Siapa dia? Apa mungkin dia juga mahasiswa di kampus?” Marisa mengerutkan kening. Ia cukup kaget, pagi-pagi sudah mendapat kejutan sekaligus rasa penasaran.
Tak lama kemudian, Rosa datang ke kamar dengan mengenakan setelan olahraga.
“Nggak salah nih gue lihat lo pagi-pagi gini abis olahraga?" sapa Marisa.
"O iya, dongs! Biar sehat, Cahabatkuuuh!”
"Curiga nih gue, jangan-jangan sambil menyelam minum air.”
"Gue abis olahraga sekalian PDKT, dongs.”
“Asyiiiikkkkk mantaps! Abis olahraga di mana lo?” Marisa kembali ceria karena mendapatkan paket misterius.
“Abis joging muterin taman kota. Kemarin Bebep ngajakin gue.”
“Bebeb lo masih PDKT aja, nggak langsung tembak-tembak?"
"Yey ... mentang-mentang udah jadian sama sahabatnya bebep gue.”
“Sana mandi! Bau keringat, tahu!” ejek Marisa yang langsung dibalas dengan juluran lidah oleh Rosa.
---Bersambung---