Hari sudah larut malam. Marisa sudah tertidur dan sesekali mengigau. Kejadian yang ia alami tadi begitu membuatnya terpukul. Rosa masih belum tidur karena sibuk dengan ponselnya yang penuh dengan chat dari Roy.
Roy_ Rose, besok kita jogging bareng yah biar sehat.
Rosa_ Iya, Kak. Besok aku usahakan bangun pagi biar nggak telat, ya.
Roy_ Marisa udah di rumah kan, Ros? Tadi Januar bilang dia pulang belakangan karena ada yang ketinggalan.
Rosa_ Kok Kak Januar nggak jagain Marisa sih, Kak? Dia tadi kena musibah, lho.
Roy_ Hah? Musibah apa, Ros?
Rosa_ Ada cowok yang hampir perkosa dia. Farhan namanya. Kakak kenal, nggak?
Roy_ Nggak kenal, Ros. Nanti aku bilang Januar biar kita kasih pelajaran tu cowok. Cepet tidur ya, Cantik. Besok kan kita jogging ... aku jemput, ya.
Rosa_ Iya, Kak.
☆☆☆
Beberapa waktu sebelum kejadian usaha perkosaan terhadap Marisa, sepasang pemuda dan pemudi sengaja berbincang di sebuah kafe.
"Lo mau bantu gue, nggak?” tanya wanita itu.
“Apa, Nis?” tanya pria tersebut.
“Sore ini ada acara, dan ini kesempatan buat lo buat dapetin Marisa.”
“Hmm, gimana?”
“Nanti lo datang ke alamat yang gue kirim ke ponsel lo dan gue bakal amanin situasi di sana biar lo bisa leluasa dapetin tu cewek.”
"Ok, besok gue ke sana.”
Nisa punya niat jahat untuk mencelakai Marisa. Ia menyuruh Farhan untuk menyusulnya ke acara photo shoot. Ternyata sebesar itu kebencian dan dengki Nisa terhadap Marisa. Wajah dan prestasi tidak menjamin sikap dan sifat. Meskipun Nisa terlihat imut, memiliki nama yang indah, prestasi yang selalu nomor satu, tapi tak sebanding dengan sifat dan sikapnya yang sangat buruk.
☆☆☆
Suara ponsel Nisa berdering. Terdapat pesan masuk dari Farhan
Farhan_ Nis gue nggak bisa bantu lo lagi.
Nisa_ Kenapa? Lo gagal kemarin?
Farhan_ Iya, gue gagal dan gue kena konsekuensinya.
Farhan_ Siapa yang selametin Marisa?
Farhan_ Gue nggak bisa bilang orangnya. Yang jelas itu orang yang sangat berpengaruh di kampus. Maaf, gue nggak bisa bantu lo lagi, Nis.
Nisa menyalakan shower di toiletnya. Tangannya terkepal. Dengan kesal, ia menghantam dinding. “Sialan, gagal lagi, gagal lagi! Sebel!”
Sementara itu di tempat kediamannya, Farhan tercenung memikirkan kejadian memalukan itu. Beruntung dirinya tidak dilaporkan ke polisi dan tidak dikeluarkan dari kampus. Sang Hero hanya menghukumnya dengan skors selama satu minggu.
☆☆☆
"Rosa, lo lama banget dah, dan-dannya. Mentang-mentang mau dijemput Kak Roy,” goda Marisa.
“Kalau dijemput Bebep kan harus tampil cantik, Zeyenk."
“Inget nggak zaman kita baru kenal pas ospek dulu? Penampilan lo tu cupu dan cerewet.”
“Inget banget. Malu lihat muka gue burik beud dah,” ujar Nisa sambil tertawa.
“Berkat siapa coba sekarang jadi cantik dan modis?”
“Berkat kamuh sahabatkuhh! Kalo nggak kenal kamu aku nggak akan kayak gini. Makasih dulu kamu selametin aku.”
Mereka berdua melamun kejadian masa lalu saat pertama kali berkenalan. Marisa dan Rosa satu kelompok di acara ospek. Pada saat pulang, Marisa melihat Rosa sedang di-bully oleh segerombolan pria.
“Hey cupu cerewet! Lo harus mandi air su-su biar putih, noh. Kalo perlu pake Bayklin,” ucap ketua geng begajulan itu.
"Jangan ganggu aku, Kak! Aku mau pulang.”
"Eits, enak aja lo mau pergi sekarang. Mana sini uang jajan lo!”
"Jangan, Kak. Ini uang jajan aku buat satu minggu.”
"Orang kayak lo jangan kuliah. Mending jaga toko buku aja sonoh.”
Badan Rosa dipegangi oleh dua orang pria. Melihat kejadian itu, Marisa menempelkan benda pipih di Telinganya. “Hallo Pak Polisi, teman saya sedang dikeroyok cowok-cowok gangster.”
Ketua geng tidak terima, lalu meneriaki Marisa. “Heh lo, Cantik, jangan gangguin urusan gue!”
"Eh, lo jangan ganggu temen gue! Bentar lagi polisi datang. Gue udah foto wajah kalian semua tadi. Kalo kalian masih ganggu temen gue, gue bakalan laporin kalian ke pihak kampus!” ancam Marisa dengan memasang wajah sombong.
Satu orang anak buah pria tersebut berusaha menghajar Marisa. Marisa yang saat itu telah bersiap dengan sigap menangkis dan menyerang balik. Dua orang lagi datang, ikut menyerang gadis itu. Beruntung polisi segera datang.
Pertemuan mereka sudah ditakdirkan Tuhan. Sebanyak apapun teman dan kenalan, sahabat hanya bisa dihitung dengan jari. Itu karena sahabat lebih dari teman dan seperti keluarga bagi kita. Seorang sahabat senantiasa ada pada saat kita susah dan senang.
“Kalo aja lo nggak selametin gue pada saat itu, nggak tahu dah gue mungkin udah jadi perkedel, Sa.”
Marisa tertawa terbahak-bahak. “Hikmah dari kejadian itu kan akhirnya gue nemuin sahabat yang setia sampe akhir hayat.”
“Acieee lebay bet dah, Sa.”
"Ya kan tanpa lo nggak ada yang cerewetin gue. Lo tu dah macam emak gue, Ros.”
"Gue juga kalo nggak ada lo, nggak akan ada yang bisa bikin gue cantik. Lo yang ajak gue nyalon dan perawatan di kos. Lo lulurine gue, fasialin gue, nggak ada sahabat langka kaya lo, Sa.”
"Emangnya gue hewan purbakala yang langka, Ros? Ada-ada aja lo.”
“Noh, ada suara mobil berhenti di depan. Kayaknya pujaan hati lo datang buat jemput, deh.” Rosa melihat ke jendela. "Pajero item, Sa. Kayaknya itu pangeran lo, deh. Eh ada dua mobil, deng.”
Ponsel Rosa berbunyi. Itu pesan masuk dari Roy.
Roy_ Ros, Kakak di depan pake mobil HRV abu dan di belakang mobil Kakak mobilnya Januar.
“Marisa, itu mobil yang mau jemput kita berdua. Buruan napa lo dan-dannya.”
"Ya abisnya dari tadi ni kaca kan dipake sama lo lama banget,” kilah Marisa sambil melirik ke arah Rosa. “Sana lo duluan aja. Bawel, ih.” Marisa mengusir sahabatnya.
☆☆☆
Januar membuka pintu mobil agar Marisa bisa masuk. Marisa yang sibuk dengan ponsel pagi itu, tanpa sengaja kepalanya membentur pintu atas mobil.
“Aduh sakit.”
“Hati-hati, Sayang. Kamu sibuk lihatin handphone mulu, sih.”
“Aku lagi balesin chat costumer aku, Kak.”
“Kamu punya online shop, Sa?"
“Iya Kak, lumayan buat tambah-tambah uang kuliah aku.”
“By the way, kata Roy kamu kemarin kena musibah. Musibah apa, Cantik, kok kamu nggak cerita sama Kakak?"
"Rosa bilang ke Kak Roy, ya? Ih, si Ember!”
“Kamu kenapa Marisa? Kakak nanya nggak dijawab.” Ekspresi Januar tiba-tiba terlihat sangat khawatir.
Marisa menceritakan kejadian yang dialami semalam, yaitu saat Farhan berusaha memperkosanya.
"Lalu siapa yang selametin kamu, Sa?" tanya Januar.
“Aku nggak sempat lihat wajah orang itu, Kak.”
“Kakak bakal kasih perhitungan sama orang yang namanya Farhan itu, Sa.”
“Nggak usah, Kak. Nggak ada bukti juga kalo aku laporin dia ke polisi. Kakak jangan berbuat kasar. Yang ada nanti malah Kakak yang masuk penjara gara-gara tindak kekerasan.”
Januar menggenggam erat kemudi mobilnya dan membenturkan tangannya ke setir mobil.
"Jangan emosi, Sayang. Aku baik-baik aja kan sekarang.” Marisa mengecup pipi Januar agar pria itu tenang. Januar balik mencium bibir Marisa singkat.
“Ih, Kakak!” Wajah Marisa seketika memerah.
"Emosi aku langsung redam kalo cium kamu.”
"Eits, jangan m***m, ya! Awasss!”
“Aku bakal jagain kamu, Sweety.” Januar mengelus puncak kepala Marisa.
"O iya. Yang aku inget orang yang nyelametin aku badannya tinggi atletis kaya Kakak. Aku mau ucapin makasih.”
"Udah jangan dipikirin lagi, Sayang. Sebaiknya kamu fokus sama ujian akhir semester kamu. Hasil UTS udah keluar, kan?"
“Iya Kak, tapi aku belum cek.”
“Ini hadiah buat kamu, Sayang. Semoga kamu suka dan jadi semangat buat belajar.” Januar menyiapkan hadiah buket cokelat untuk Marisa.
“Mmmmm, suka banget buket cokelatnya! Makasih Kakak.”
Setibanya di kampus, Rosa menarik lengan Marisa dan membawanya ke depan papan pengumuman. Di sana terpampang nyata hasil UTS seluruh mahasiswi kebidanan. Terpampang nyata pula peringkat mereka dari 1 sampai 140.
Rosa mencari namanya dan nama Marisa. Gadis itu kemudian menemukan nama Rosa di peringkat kedua dan Nisa di peringkat pertama, sementara Marisa di peringkat 20.
“Hah, lihat noh nilai lo dari peringkat 4 ke 20,” unar Rosa sambil menjitak jidat Marisa.
“Hah gila nilai gue anjlok beud dah.” Marisa memasang ekspresi kaget.
“Belajar mulai malam ini, Sa, tutorial sama gue. Gue malu sahabat gue nilainya jauh di bawah gue. Targetnya tu lo dapet peringkat 3.”
"Duhh males banget gue belajarnya.”
“Ini untuk kebaikan lo, Sa. Kalahin Nisa sekali-kali kek.”
“Itu mustahil. Dia kan rajin banget belajarnya.”
“Nggak ada yang mustahil. Lo harus usaha. Tenang, gue bakal bantuin lo dari peringkat 20 melesat ke 3. Yang penting jangan di atas gue, ya.”
"Eh julid haha.”
“Belajar looo! Muka doang yang cantik, otak lo cerdas tapi kagak pinter. Buruan kita masuk kelas.”
Marisa memang cantik dan cerdas. Namun, cerdas dan pintar itu berbeda. Cerdas adalah memiliki otak yang penuh akal ketika kita menghadapi sesuatu. Pintar itu karena kita rajin belajar seperti membaca buku. Sedangkan gadis yang satu ini malas membaca buku. Bagaimana nilainya bisa bertahan sedangkan membaca buku pelajaran saja ia malas? Marisa terlalu sibuk dengan chat costumer dan pacar-pacarnya.
---Bersambung---