Pov dalari
Keesokan paginya aku kembali bekerja seperti biasa, meski pipiku masih ngilu tapi aku tetap paksakan, karena yang sakit kan pipi bukan tangan atau kaki jadi aku masih bisa bekerja.
Aku memulai dengan merapihkan ruangan guru kemudian disapu biar pas dipel gak kotor.
Tok
Tok
Tok
"Asalamualaikum" pintu kantor ada yang mengetuk lalu ada yang mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" jawabku sambil menoleh kearah datangnya suara.
Di luar pintu terlihat ada seorang wanita yang kemarin menamparku, disampinya berdiri seorang bapak bapak berbadan tambun, berkumis besar.
Aku menghampiri mereka, takut ada keperualan mendesak yang tidak bisa ditunda, sehingga mereka datang kesekolah sepagi ini.
"Maaf pak, para guru jam segini belum datang, tapi kalau keperulannya mendesak saya bisa antar kerumah kepala sekolah" ucapku menjelaskan keadan.
"Bapak kesini cuma mau nemuin tukang ngepel, kalau istri saya gak maksa males banget datang kesini" ujar bapak bapak yang berdiri disamping fatimah.
"Disini tukang pel cuma saya, maaf kalau boleh tau ada keperluan apa yah" tanyaku sambil menatap kearahnya
"Kenalin nama saya sukma, biasa dipangil pak sukma, saya datang kesini mau minta maaf mewakili nama putri saya atas kejadian kemarin" ucap pak sukma sambil menatapku.
"Sama sama pak, saya juga minta maaf kalau ada salah sama anak pak sukma" jawabku sambil menunduk.
Pak sukma mengeluarkan amplop putih lalu menyerahkannya padaku
"Ini ada uang sebagai permintaan kami" ujar pak sukma sambil memberikan amploo.
"Maaf mungkin kejadian kemarin tidak disengaja, kita sama sama salah, jadi bapak gak usah repot repot begini, ambil lagi uangnya" ujarku sambil menolak pemberian itu.
Pak sukma cuma bengong, lalu memasukan lagi amplop kesaku kokonya.
"Ya udah saya mohon diri untuk melanjutkan kerja lagi" ucapku sambil meningalkan mereka.
Mereka masih berdiri cuma tempatnya aja yang pindah dari depan pintu kantor kepintu kelas, sehinga ketika ngobrol masih tedengar jelas meski tidak kelihatan.
"Ngapain coba ibumu repot repot ngurusin dia, lagian dianya juga gak kenapa kenapa, bapak heran kok cowok lembek gitu, masa ditampar cewek doang sampai segitunya lemah banget" kata pak sukma yang lagi ngedumel keputrinya.
"Ya gimana gak sakit pak, liat tangan fatim yang menamparnya sampai begini" sanggah fatim.
"Kamu tuh jadi cewek b0doh banget sih, mau aja dibohongin, dia itu pura pura kesakitan supaya bisa deket kamu, biar bisa nikah sama kamu, lalu menguasai harta kita yang banyak itu" ujar pak sukma
Aku yang mendengar cuma nunduk sambil melanjutkan ngepel, gak ngerti tujuan pembicaraan apa, yang jelas beliau lagi ngomongin aku.
"Apaan sih pak, bapak mikirnya kejauhan, mending sekarang bapak pulang katanya mau kesawah" ujar fatim mengusi bapaknya.
"Ya udah bapak pulang badan bapak gatel gatel disini, kamu nunggunya jangan disini digerbang saja sampai teman teman datang jangan gaul sama orang seperti dia" seru pak sukma.
"Emang kenapa" tanya fatim heran.
"Udah kamu nurut aja sama orang tua" paksa pak sukma.
Terdengar langkah kaki meningalkan teras sekolah, aku cuma mengeleng geleng kepala, ada yah orang minta maaf tapi masih ngedumel, lagian buat apa minta maaf kalau gak iklas apa lagi hanya menambah luka.
Padahal meminta maaf itu adalah janji bahwa kita sudah berubah dan tidak mengulanginya lagi, untuk memulai lagi lembaran baru yang putih, lembaran lama harus dihapuskan dengan minta maaf.
Maka bukan meminta maaf, kalau kita mengulanginya lagi dan tidak ada penyeselan.
Selesai mengepel ruangan aku memberesihkan lapangan upacara dari sampah sampah makanan dan daun daun yang terbawa angin.
Ketika lagi merapihkan alat alat untuk disimapan kembali ketempatnya, fatimah menghampiriku.
"Capek ya, nih aku bawa air minum" tanyanya sambil senyum lalu mengasongkan botol minum berbentuk boneka.
Aku hanya senyum melihatnya sambil terus merapihkan alat alat.
"Kenapa gak mau yah, botolnya beresih kok" tanyanya lagi.
Aku tetap diam lalu menuju gudang tanpa memperdulikanya.
"Kamu masih marah yah, padahal aku udah minta maaf, bapak aku juga udah minta maaf ke kamu, padahal bukan kamu doang yang sakit, tangan aku aja bengkak sampai gak bisa pegang bolpoint gak bisa belajar tapi aku gak marah, lagian kalau kamu tidak ngagetin aku gak mungkin nampar kamu" cerocos fatimah dibelakangku yang mengikuti sampai pintu gudang.
"Aku udah maafin kamu kok, aku juga tau ini tidak sepenuhnya salah kamu, aku juga minta maaf udah ngagetin kamu dan membuat tanganmu luka" jawabku sambil menatap gadis mungil berseragam putih biru itu.
"Mana buktinya kalau kamu udah maafin aku" pintanya sambil bergeser memberikan jalan keluar bagiku.
"Mau bukti gimana, lagian kan semuanya udah beres aku udah maafin kamu, begitu juga kamu udah maafin aku" tanyaku sambil menutup pintu gudang lalu menguncinya lagi.
"Kalau kamu dah maafin nih minum dulu biar gak terlalu capek, kenapa kamu menolak takut di racun ya, kalau begitu aku duluan yang minum" ujar nya sambil membuka tutupnya lalu meminum air yang dibawanya, kemudian menyuruhku meminumnya.
Aku hanya geleng geleng kepala melihat tingakah aneh cewek mungil ini, sebenarnya mau apa sih kok maksa banget,
"Kalau udah minum aku boleh pergi yah, soalnya masih ada urusan dipondok" pintaku sambil menatapnya.
Fatimpun menganguk lalu menyerahkan botol minumnya padaku, aku langsung mengambilnya lalu meminumnya beberapa teguk, terasa nikmat ketika tengorokanku yang kering tersiram air.
"Terimakasih" ujarku lalu kemudaian aku mengembalikan lagi botol minumnya.
"Sama sama nah gitu dong coba dari tadi begitu, jadi aku aku gak susah susah memaksamu" ucapnya sambil senyum.
"Ya udah aku harus pergi dulu, kamu cepet sehat ya" ucapku sambil membalikan badan mau pergi meningalkanya.
"Tunggu dulu buru buru amat sih, oh iya kamu itu yang dulu beli kitab ditoko bapak kan" tanyanya menghentikan langkahku.
"Iya" jawabku singkat.
"Kenalin aku fatimah naila yang dulu melayanimu pas beli kitab" ucap fatimah sambil mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.
"Aku dalari seneng bisa berkenalan dengan mu" jawabku sambil mememgang tangannya.
"Awwww" di meringis menahan sakit ketika tangannya kupegang aku segera melepaskan genggaman tangaku.
"Maaf aku gak tau kalau tanganmu masih sakit" ungkapku menyesali.
"Hmmmm gak apa apa lagian aku yang ngajak kamu salaman" ujar fatim sambil terseyum.
"Ya udah yah aku pamit dulu" ujarku meminta ijin.
"Tunggu dulu kemarin bapak kekota kitab yang kamu pesen sudah ada" jelas fatim.
"Oh iya makasih infonya lain waktu kalau sudah ada uangnya aku kesana lagi" jawabku sambil senyum getir.
"Kamu gak usah repot repot kerumahku. kan sekarang ada temanmu ini yang bisa diandalkan biar aku saja yang bawa pesananmu kesini nanti kamu tingal bayar, lagian kan sama saja aku juga pemilik tokonya" ujar patim memberi saran.
Aku hanya garuk garuk kepala yang tidak gatal bingung menghadapinya apalagi disini cuma berdua takut di sangka yang aneh aneh.
"Nail tuh temanmu memangil" ucapku sambil menenjuk kebelakngnya.
Seketika naila pun menoleh kearah yang aku tunjukan, ketika dia berbalik aku berlari meningalkannya.
"Dalari awas kamu" terdegar teriakan fatim memakiku.
Sesampainya dirumah pak chandar aku menghentikan lariku, dan berjalan seperti biasa menuju pintu dapur, lalu menikmati makanan yang sudah tersedia, setelahnya aku merpihkan kembali tempat makan, lalu membawa piring kotor kewastapel diteruskan dengan mencucinya.