28

1107 Words

Dengan sangat perlahan, mata Biru mengerjap lemah. Terbuka sedikit demi sedikit, sampai penglihatannya yang semula kabur, mulai menjadi jelas. “Bagaimana keadaan putra saya, Dok?” tanya Aliya, yang mewakili semua. Dokter Fajar melepas maskernya sejenak. “Syukurlah, operasinya berjalan dengan lancar. Sehingga sesegera mungkin Biru akan sadar.” Lalu saat semua objek benar-benar ia dapati dengan jelas, salah satu di antara semuanya mampu mengembangkan senyum pertama Biru paska operasi. “Kamu di sini...” ucap Biru, pelan, seraya beranjak duduk dan satu-satunya seseorang selain dirinya di sana, membantu meski tanpa diminta. Seseorang itu duduk di sisi ranjang Biru. Hingga tiba-tiba saja, Biru merengkuh tubuhnya begitu erat dengan perasaan sangat tenang. “Makasih, kamu udah selalu ada bua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD