Aku merindukanmu, tapi aku tak bisa mendekatimu. Kenyataan aku harus meninggalkanmu. Kau seseorang yang memberiku cinta yang hangat ke dalam hatiku. Mungkin aku akan menyesal karena telah meninggalkanmu. Tapi semua ini karena aku mencintaimu.
- Because I Love You-
Tiga minggu sudah Kian koma, sedang Kevan masih setia menemani Kian. Setiap hari ia di rumah sakit menunggui Kian.
"Pagi, Ki...." Kevan memasuki kamar rawat Kian. Seperti biasa Kevan akan mengganti bunga yang ada di atas nakas. Mengisi aroma kembali aroma terapi yang ada di ruangan itu.
"Aku bawain kamu bunga lili. Aku yakin kamu bakal bosan kalo tiap hari aku bawain bunga mawar." Kevan tersenyum sembari meletakkan Vas bunga yang baru saja ia ganti. Kevan berjalan mendekati Kian. Wajah Kian terlihat pucat, Kian seperti tertidur dengan damai. Kevan membungkuk mencium pipi Kian seperti biasa.
Cup !
"Morning Kiss..." Kevan kemudian membenarkan sedikit selimut Kian.
Kevan tersenyum, ia berjalan menuju meja kecil di samping kursi. Kevan mengambil kotak kecil untuk air hangat. Ia kemudian mengambil handuk kecil yang akan ia gunakan untuk membersihkan badan Kian.
Kevan mulai membersihkan kulit Kian. Perlahan Kevan mengelap dahi Kian. Kevan menatap lekat wajah Kian. Dulu, wajah Kian selalu nampak serius. Dahinya selalu berkerut, menunjukan pemikirannya yang selalu dalam. Kian adalah seseorang yang mengutamakan pikiran, akal sehatnya, dalam segala hal termasuk cinta. Kian selalu mengambil keputusan dengan perhitungan matang, entah itu tentang cinta atau masalah sosialnya. Kian adalah tipe pemikir.
Berbeda dengan Kevan. Kevan lebih lembut, atau justru Kevan lemah. Kevan selalu mengendalikan perasaanya dalam menghadapi seseorang. Belum lagi jika itu cinta. Kevan akan benar-benar hilang logika. Hanya perasaan dan perasaan yang menjadi inderanya.
Kevan tersenyum, mengelus pipi Kian dengan jemarinya. "Aku kangen kamu," Kevan berbisik. Kevan kemudian duduk di samping Kian. Menggenggam jemari Kian. Seperti biasa, ia akan berceloteh tentang dirinya yang melewati hari tanpa Kian.
"Kapan kamu bangun? Aku kangen buatin sarapan buat kamu."
Kevan tersenyum, tersenyum pahit.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Viery melangkah masuk bersama seorang dokter dan suster.
Kevan menoleh, dan mendapati Viery yang sedang tersenyum menatapnya.
"Van, ini dokter Andreas. Mulai sekarang beliau yang akan menangani Kian. " viery memperkenalkan pada Kevan.
Kevan menjabat tangan sang dokter kemudian mempersilahkan untuk memriksa Kian.
"Ada kemajuan?" Viery mendekat ke arah Kevan.
"Belum."
Viery menatap wajah lesu Kevan. Rasanya setiap hari ekspresi itu dipasang oleh Kevan.
"Semoga ada keajaiban."
Kevan hanya mengangguk dan kembali memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Kian.
* * * *
"Lo gak pulang dulu?"
Kevan menoleh kearah suara datang. "Oh? Vie... Enggak, tadi tante nyuruh gantian tapi gak tahu kenapa aku pingin banget nginep di sini." Kevan kembali membereskan selimut Kian.
Viery berdiri agak jauh dari Kevan. Kevan sudah seperti penghuni tetap rumah sakit, setiap pagi, siang, malam Kevan ada di rumah sakit. Apa yang Kevan lakukan? Hanya duduk menunggui Kian, sesekali ia bercerita tentang hari-harinya, yang ia jalani tanpa Kian.
"Kapan dia bangun, Vie?" Kevan bertanya entah untuk berapa kalinya. Mungkin hampir setiap hari, jika Viery sedang memeriksa Kian.
Dan apa yang dilakukan Viery? Tentu menjawabanya dengan harapan, entah harapan palsu atau bukan.
"Gue harap lo gak pernah putus asa buat berdoa," Viery menghembuskan nafasnya. "Apapun yang terjadi, gue harap lu bisa terima semuanya. Lu pasti mau yang terbaik buat dia kan? Seenggaknya dia bisa lepas dari rasa sakitnya." Viery kemudian berbalik, hendak meninggalkan ruangan Kian. Langkah Viery terhenti tepat saat ia akan memutar kenop pintu.
"Sampai kapan dia bisa bertahan, Vie?" Suara Kevan bergetar.
Viery menggantung lengannya di udara, ia tidak ada niat untuk.menoleh ke arah Kevan. Dia tahu bagaimana ekspresi Kevan saat ini. Dan dia tidak ingin melihatnya. Rasanya ada kesakitan yang mendalam, membuat orang yang menatap matanya saja bisa merasakan sakit itu.
"Sampai kapan dia kayak gini? Tertidur, antara hidup dan mati." Kevan mulai terisak lagi, ia mencoba menahannya tapi percuma. "Sakit, Vie...." Kevan tersedu, "gue enggak bisa ngebayangin apa yang lagi Kian rasain sekarang."
"Bertahan." Viery menjawab dengan penuh keyakinan, meski keraguan masih terbesit di hatinya. "Gue yakin dia bertahan, dia lagi berjuang." Viery memutar kenop pintu, berlalu meninggalkan ruangan Kian.
Kevan terduduk lemas, ia menangis lagi. Apakah dia lelah? Ya, Kevan lelah. Ia lelah melihat Kian seperti ini. Rasanya sakit melihat Kian dalam keadaan seperti ini, mungkin jika ia bisa meminta, ia akan meminta ambil saja Kian, jika itu bisa membuat Kian terbebas dari rasa sakitnya. Malam itu Kevan menangis. Menangisi semuanya, kenapa takdir seeperti ini?
* * * *
Minggu keempat Kian terbaring di rumah sakit, sore itu Kevan duduk menatapi Kian yang masih memejamkan matanya.
Entah kenapa, rasanya sore itu ia merasa putus asa. Ia lelah. Bukan lelah fisik, tapi hati, hati Kevan sudah lelah.
Kenapa ia harus selalu meraskan cinta sendiri, mencintai lalu ditinggalkan. Apa yang salah dengan Kevan? Kevan tidak pernah mengerti tentang semuanya ini.
"Kamu bilang kamu gak akan ninggalin aku, Ki?"
"Kamu dulu yang selalu marah kalo lihat aku nangis karena cinta."
"Kamu dulu yang selalu ngomong, kalo aku bodoh, aku buta, buta karena cinta."
"Sekarang, kamu yang bikin aku nangis Ki, kamu yang ninggalin aku."
"Kamu gak mau bangun lagi ki?"
"Kamu gak mau ngomong sama aku lagi ki?"
"Sekarang bahkan aku ragu Ki, apa kamu bener sayang sama aku? Kalo iya, kenapa kamu lakuin ini sama aku?"
"Kalo kamu cuma mau nyakitin aku, kenapa kamu tahan aku sekuat itu? Kenapa kamu menganggumiku sqmpai seperti itu?"
"Sekarang aku ngerasa sendiri Ki, aku cuma bisa mandang kamu, dan aku gak bisa berhenti Ki dari ini semua."
"Dan sekarang aku sendirian Ki, aku sendiri yang ngerasain sakitnya kesepian. Ini gak adil Ki, aku gak bisa nahan ini semua lebih lagi."
Kevan menangis lagi dan lagi. Rasanya sudah bosan.
"Aku mohon Ki, bangun.... jawab semua omonganku. Kmau denger kan semua suaraku? Aku yakin kamu bisa denger aku."
Kevan menunduk, menyembunyikan wajahnya, menyembunyikan tangisnya. Tangannya menggenggam jemari Kian.
"Aku gak mau kamu pergi Ki."
"Aku takut Ki, aku selalu takut kalau besok yang akan datang adalah hari terakhir kita. Hari terakhir aku lihat kamu."
"Aku takut kehilangan kamu Ki. Kamu bahkan belum pernah sekali pun denger kata cinta dari aku, dan kamu mau pergi gitu aja? Aku gak rela Ki."
"Kenapa aku selalu ngungkapin apa yang aku rasain ke kamu? Kenapa semuanya selalu tertahan? Kenapa aku harus kaya gini? Aku bingung dengan semuanya Ki. Aku bingung..."
"Andai dulu kamu gak pernah ungkapin perasaan kamu ke aku Ki, mungkin semuanya gak bakal kaya gini. Aku yakin Ki."
Hening, semua masih hening hanya ada suara isakan tangis Kevan. Kian masih diam, memejamkan matanya tenang.
Kevan masih menunduk, menangis. Tangannya masih menggenggam erat jemari Kian.
Kevan tiba-tiba mendongak, jemari Kian yang ia genggam bergerak memberikan respon pada Kevan.
"Ki?... Ki..?"
Perlahan jemari itu semakin kuat bergerak, kelopak mata Kian semakin naik terbuka.
Kevan bangun, lalu menatap Kian.
"Ki? Sayang?"
Kevan mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Mulut Kian serasa kering, ia menelan ludah berkali."
"Ki? Aku panggil dokter dulu Ki."
Kevan menekan tombol untuk memanggil perawat.
Tak lama seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar rawat Kian. Kevan menjsuh sebentar, membiarkan dokter memeriksa Kian.
"Bagaimana dok?" Keban bertanya setelah dokter selesai memeriksa Kian.
"Semuanya normal, hanya perlu pemeriksaan keseluruhan agar kita bisa ketahui bagaimana virus di kepalanya."
Kevan hanya mengangguk paham, biarkanlah bagaimana nanti. Sekarang yang terpenting, Kian sudah bangun. Setelah dokter pergi, Kevan menghampiri Kian yang masih tertidur. Kevan tersenyum, akhirnya Kian bangun.
"Udah puas senyumnya?" Itu suara Kian, Kian tidak tidur.
Kevan gelagapan, "kamu gak tidur Ki?"
Kian membuka matanya. Ia tersenyum menatap Kevan.
"Aku udah telfon mamah kamu. Bentar lagi padti nyampe." Kevan salah tingkah.
Kian menarik tangan Kevan. "Maaf...."
Kevan mendongak menatap manik mata Kian. Ia tahu Kian pasti merasa bersalah. Tapi Kevan tidak ingin egois yang terpenting sekarang Kian sudah sadar dan Kevan masih bisa bertemu dengan Kian....
TBC....