Prolog
"Mencintai diam-diam itu mungkin lebih mudah daripada mempunyai status namun tak dianggap ada. Sebentar kamu pandang aku, sebentar kamu lupa."
"Yang kamu anggap pacar itu siapa? Yang kamu pentingkan itu siapa? Apa pantas kamu utamakan dia?" Andai aku bisa berteriak dengan lantang, menumpahkan segalanya di hadapanmu. Meluapkan segala emosiku, karena sikapmu yang acuh.
Kalau memang kamu gak anggap aku, harusnya kamu lepasin aku, harusnya kamu kejar dia yang jadi prioritas kamu.
Anadai aku bisa protes, aku pasti akan mengatakan hal itu. Tapi kenyataannya aku kalah terhadap ego dan perasaanku terhadapmu. Bagiku kamu tetap orang yang sama saat pertama kali mamu nyatakan perasaan cinta kamu buat aku. Sejahat apapun kamu, aku selalu punya beribu maaf buat kamu. Dan pada akhirnya aku yang kembali padamu. Aku yang selalu berharap kamu datang buat temuin aku, meminta maaf dan mngakui segalanya tapi tidak, sekalipun tidak pernah.
Tapi tidak, sedikitpun aku tidak pernah menyesal memilihmu dan bertahan dengan kesetiaanku padamu. Walau pada akhirnya di ujung jalan nanti aku harus melepaskan kamu. Karena nyatanya kamu gak pernah bisa lihat betapa besarnya rasa sayangku buat kamu. Betapa berartinya kamu buat aku.
-Kevan-