1

1172 Words
Jika ingin menyalahkan waktu, maka sekarang bukanlah saat yang tepat. Jika pun Kevan bisa memutar waktu, dia tidak akan pernah bisa mengembalikkan perasaannya seperti dulu saat sebelum bersama dengan Dion. Kevan terlanjur jatuh hati pada Dion, kekasihnya sekaligus temannya di sekolah. Bagi Kevan Dion adalah segalanya. Dion adalah hal terindah yang pernah Kevan dapatkan. Kevan tidak pernah menyangka jika rasa terpendamnya akan terbalas. Semua terasa indah, seperti dongeng yang menjadi nyata. Saling mencintai, saling memiliki satu sama lain. Sampai pada akhirnya semua kenyataan indah itu menjadi buruk ketika Lunar datang. Kalau dia tahu mencintai Dion sesakit ini, mungkin dia akan lebih memilih untuk memendamnya saja sejak dulu. "Besok aku mau pergi cari buku, kamu bisa gak temenin aku?" Kevan berharap kali ini Dion akan menjawab iya, sebab ia sudah lelah dengan segala penolakan dan alasan yang selalu Dion berikan. "Aku ada janji dengan teman-teman basketku. Kamu bisa gak oergi sendiri atau kamu bisa pergi sama Kian, dia pasti mau temenin kamu." Tentu Kevan bisa pergi sendiri, namun bukan itu yang Kevan inginkan. Tidak bisakah Kevan menghabiskan waktu berdua dengan Dion? Ingin Kevan berucap, Tapi saat itu juga Kevan akan selalu memahami, menuruti apa yang Dion katakan. Buta? ya! mungkin hati dan mata Kevan sudah buta dengan segala perasaannya terhadap Dion. Kevan lebih memilih diam dan melupakannya begitu saja. Bersikap seolah tidak ada apa-apa. Sekarang ini menghabiskan waktu berdua bersama Dion adalah hal yang paling sulit Kevan dapatkan. Ada saja yang harus Dion lakukan. Ada saja penghalangnya. Terkadang Kevan ingin memberontak, namun satu kata maaf saja yang keluar dari mulut Dion, mampu membuat Kevan luluh seketika itu juga. * * * "Sendiri lagi? Kenapa gak minta temenin Dion? Dia gak bisa lagi? " Kian tahu kalau temannya itu pasti di tolak lagi oleh pacarnya. Kevan hanya terdiam, tidak ada lagi kata yang bisa dia ucapkan lagi untuk Kian. Dia sudah kehabisan jurus untuk membela Dion di hadapan Kian. "Apalagi sekarang alasannya?" "Dion pergi bareng teman-temannya, kemarin tim basket sekolahkan baru menang tanding!" Kembali Kevan menutupi semua penolakkan kekasih hatinya itu. Mengerti, Kevan akan  slalu mencoba mengerti dan berpikiran positif atas semua alasan yang Dion ungkapkan. "Bener?" Kevan memgangguk mencoba tersenyum meski di dalam hatinya ia merasa dia bukan prioritas lagi bagi Dion. "Van, itu bukan Dion?" Baru saja Kevan tersenyum pahit, kini pahit kenyataan harus dia telan lagi. "Kenapa ada Lunar juga disitu?" Kian menunjuk kearah gerombolan anak-anak remaja ynag ada di sebrang tempat mereka duduk. Kevan mengikuti arah tunjuk Kian, benar! Dion memang bersama teman-temannya tapi di sana juga ada Lunar. Kevan tahu Lunar hanyalah sahabat Dion, namun dimata Kevan, Lunar menganggap Dion lebih dari sekedar teman. Dan kenapa sekarang malah Lunar yang ada di samping Dion? Bukankah akan terlihat wajar jika Kevan yang ada di sana menemani Dion? Tertawa bersama teman-temannya karena Kevanlah kekasih Dion bukan Lunar. Kevan mencoba menghubungi Dion, namun ia melihat Dion hanya melihat layar ponselnya sebentar lalu menaruhnya lagi. Kevan menggigit bibir bawahnya, menahan Sakit hati yang kini Kevan rasakan, perlakuan yang mungkin bukan pertama kali Dion lakukan ketika menolak panggilan dari Kevan. Jika Kevan mau, mungkin saat ini dia akan melangkah maju ke arah Dion dan meminta penjelasan, namun sekali lagi Kevan tidak ingin menghancurkan semua yang sudah ia perjuangkan selama ini. Nyatanya dia lebih memilih untuk berpura-pura untuk tidak melihatnya. Menutup matanya berharap kejadian itu hanyalah sebuah iklan seperti di dalam sebuah sinetron. "Lo bego banget sih, Van! " Kian terkadang kesal melihat sahabatnya yang seakan tidak punya mata dan pikiran yang rasional lagi, memang benar jika cinta sudah menguasai seseorang maka logikanya tidak akan pernah berjalan lagi. Dia akan menjadi b***k cinta tanpa ampun. "Gue cinta sama dia, Ki. Gue yakin dia punya alasan kenapa dia ngajak Lunar." Kevan mencoba membela kekasihnya, menutupi kesalahannya, sambil berharap jika yang dirinya sendiri katakan adalah benar. "Kenapa lo selalu ngalah sama dia? Kenapa lo gak bersikap tegas ke dia?"  Kian ingin menampar Kevan agar dia sadar jika lelaki yang dia cintai bukanlah laki-laki yang baik. ***** Kevan merenung, menatap kosong kearah papan tulis. Semalam ia tidak menjawab semua panggilan Dion, atau pun membalas pesan dari Dion. Ia menghindar, masih memikirkan kejadian di mol kemarin. "Kevan!" Kevan kaget mendengar namanya disebut dan yang membuatnya kembali kaget, ternyata Dion yang memanggilnya. Kevan segera menoleh, melihat kekasihnya diambang pintu kelas. Kevan masih diam, menatap Dion tanpa perasaan bersemangat sedikitpun padahal hal seperti jarang terjadi akhir-akhir ini. Dion memcari Kevan. " bisa kita ngobrol?"  Dion menghampiri Kevan. Kevan berdiri menghadap Dion, menatap matanya. Tangannya saling bertaut satu sama lain. Kevan berharap tidak akan ada lagi pertengkaran di antara mereka. "Ada apa?" "Kenapa kamu cuekin aku?" Kevan tidak berniat bersikap seperti itu, ia hanya ingin Dion tahu kalau Kevan kecewa, kenapa Dikn tidak jujur soal hal kemarin. "Kenapa kamu kemarin ajak Lunar? Kamu bilang itu acara tim basket?" "Aku tanya, kenapa kamu malah balik tanya? Dan kenapa kamu bawa-bawa Lunar? Bukankah wajar dia ikut? Dia itu ketua Cheers, kalau kamu lupa!" Lihat sekarang Dion malah membela Lunar, batin Kevan. Kevan tahu akhir dari ini semua apa, maka untuk apa lagi Kevan mengajak Dion untuk berdebat? Pada akhirnya Kevan yang akan meminta maaf. "Maaf, mungkin aku terlalu cemburu!" Dion gusar, ia meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kamu bisa gak sih gak usah cemburu sama Lunar? Dia itu sahabat aku, aku gak nganggap lebih dari itu, Van!" "Tapi aku tahu, Lunar nganggep kamu lebih dari sahabat Di!" "Kenapa kamu bisa tahu? Apa Lunar ngomong sama kamu?" Kevan menunduk, tanpa Lunar bicara pun Kevan bisa menangakap arti dari setiap tatapan yang Lunar berikan pada Dion. "Maaf!" Kata itu keluar begitu saja dari mulut Kevan. "Aku harap kamu gak kayak gini lagi, kamu bikin aku khawatir, Van!" Kevan mendongak menatap mata Dion, Dion menarik tubuh Kevan dan memeluknya. Kevan tahu, Dion hanya miliknya untuk apa ia khawatir Dion akan pergi darinya. Selama mereka daling percaya, godaan apapun tidak akan pernah memisahkan mereka. "Aku harap kamu ngerti, Lunar itu sahabat aku dari kecil. Kami udah bareng selama bertahun-tahun, aku gak bisa buat ngejauh dari dia cuma karena hubungan kita". Kevan mengangguk dalam pelukan Dion, mungkin ia cukup bersabar dan memahami Dion tapi kalau harus terus seperti ini Kevan tidak akan pernah bisa. Dengan mudahnya Kevan lupa dengan kejadian di mol kemarin, moodnya kembali baik begitu saja karena pelukkan yang Dion berikan dan penjelasan seperti air di padang pasir. * * * "Dion habis drama-an lagi, Van?" Kian tahu benar, jika wajah kevan berseri maka tandanya Dion baru saja membuat drama di depan Kevan. Berpura-pura minta maaf. "Bukan, dia jelasin kenapa Lunar bisa ikut!" Jujur saja, Kevan masih belum puas dengan penjelasan Dion namun Kevan mencoba menerimanya saja. "Pulang bareng Dion?" Kian berharap kali ini Dion tidak membatalkannya lagi, karena ia tidak mau mengantarkan Kevan dalam keadaan menangis atau kesal sepanjang perjalannan pulang. Kevan mengangguk dan melangkah keluar kelas. Belum sempat Kevan keluar, ponselnya bergetar notifikasi pesan masuk. Kevan segera membuka pesan tersebut From: Dion Aku gak bisa anter kamu balik, aku mau anter Lunar buat beli buku. Aku lupa udah janji sama dia. Kevan sungguh benci, apa maunya Dion sekarang? Siapa sebenarnya yang menjadi kekasih Dion?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD