Melbourne, Lima tahun kemudian. Dia duduk menerawang, menatap landscap kota Melbourne dengan segala bangunannya. Kota yang lima tahun terakhir ini selalu ia kunjungi. Lebih tepatnya saat angin musim gugur berhembus di kota Melbourne. Entah mengapa saat itu begitu tepat sekali dengan segala hal yang menimpanya. Mungkin Tuhan memberinya sebuah hadiah, sentuhan untuk menemani kegundahan yang menyelimutinya. Matanya masih menatap dedaunan yang gugur dan berserakan di trotoar jalan. Dari balik kaca apartemen Eureka Tower, dia menerawang membandingkan nasib dirinya seperti pohon yang harus merelakan daunnya gugur diterpa angin. Lelaki itu mengeratkan dekapan di kedua lututnya, penghangat ruangan yang sedari tadi menyala seolah tak berarti apa-apa. Ia masih merasa kedinginin, lebih tepatnya

