Malam Itu ...

1224 Words
Tak ada rotan, maka akar pun jadi. Entah peribahasa ini cocok jika disematkan pada situasi Anna saat ini atau tidak. Yang jelas, ia tidak ingin kecewa lagi malam ini. Lelah menyiapkan makan malam dan berakhir makan sendirian, tentu bukan situasi yang menyenangkan. Lebih baik, berbagi makanan itu pada yang membutuhkan seperti yang ia katakan pada suaminya tadi. "Maaf, apa aku menganggu?" tanya Anna. Ia masih berdiri sembari menenteng rantang makanan yang ia bawa dari rumah. "Tidak. Tidak sama sekali. Kebetulan aku juga akan pergi mencari makan," jawab pria itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Romeo Rayyanza. Ia menatap Anna tanpa putus, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang Anna? Menemuinya? Waw! Anna mengangguk-angguk pelan. "Oh begitu, kebetulan juga, aku ... ada bawa makanan. Apa kamu mau mencobanya?" Anna ragu-ragu. Romeo melihat ke arah rantang Anna, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut pria tampan tersebut. Tatapannya penuh makna, membuat Anna sulit untuk memahami maksudnya. "Hmm ... tapi kalau kamu tidak mau, aku akan membaw—" "Mau ...." Romeo sudah memegang rantang itu dan langsung merebutnya dari tangan Anna. Anna pun tersenyum tipis dengan wajah yang tersipu. "Kau mau kita makan di mana?" tanya Romeo langsung. "Terserah." Anna kembali melepas senyum manis. Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada Romeo bahkan sejak mereka pertama bertemu. "Ya sudah, ayo ...." Romeo mengajak Anna untuk mengikutinya. Pria bertubuh proporsional itu terus melangkah ke arah pintu mini market dan segera menuju ke mobil. Melihat hal itu, Anna pun sedikit bingung. Pasalnya, Romeo akan membawanya ke mana malam-malam begini?@@ Padahal hanya akan makan malam, kenapa harus naik mobil? "Kita mau ke mana?" tanya Anna langsung. "Makan kan?" Romeo sudah membuka kunci mobil mewahnya. "Ya ... tapi kenapa tidak di sini saja?" Anna masih bertanya dan seolah enggan untuk masuk ke dalam mobil pria tampan itu. Romeo pun menghentikan langkahnya dan melihat Anna dari arah sisi pintu mobil lainnya. "Kau tenang saja, aku sudah cukup kenyang dengan nasimu ini, jadi tidak akan memakan mu." Romeo pun segera masuk ke dalam mobil. Anna mendengus kasar, raut wajahnya berkerut seperti orang yang termakan jeruk masam. Dengan terpaksa, ia pun membuka pintu mobil dan masuk. Dalam pikirannya, ia bagaikan manusia yang masuk ke dalam perangkap sendiri. Sudah terlanjur, ya mau bagaimana lagi? "Pakai safe belt-mu, An ...." perintah Romeo. Ia sudah mulai menggerakkan mobilnya dan kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Di tengah malam yang masih belum larut itu, Anna sungguh tidak menduga jika ia akan melakukan hal senekat ini. Jalan berdua dengan laki-laki yang ia tahu sangat menyukai dirinya, sementara ia masih berstatus sebagai istri orang. Apakah ini bisa disebut dengan selingkuh? Ah, tidak ... Anna tidak mau memikirkan itu, pening. Namun, apa kata orang-orang jika melihat apa yang ia lakukan saat ini? Apa kata saudarinya yang berada jauh di negara orang sana? Atau ... atau apa kata Adnan, nanti? Pria arogan itu pasti tidak akan mengampuninya. Ia pasti akan dibentak dan dimaki habis-habisan atau bahkan mungkin akan dipukul tanpa ampun. Mengingat itu, air mata Anna pun menetes sedih. "An ...." lirih Romeo, tapi yang dipanggil tidak menggubris. Romeo tahu, pasti telah terjadi sesuatu kepada Anna. Ia pun mengulang panggilannya. "An ... are you ok?" Anna tersentak."Eh, iya? Kenapa?" Ia melihat Romeo dengan mata yang basah. Raut wajah pilu dengan luka yang begitu dalam tidak dapat ia tutupi. Romeo tahu, perempuan yang ada di sampingnya saat ini, sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu, ia ingin menghiburnya dengan membawanya ke suatu tempat yang menyenangkan. Ya ... tapi ke mana? . . Welcome To Fun Land Tempat di mana semua orang bergembira dan berkumpul dengan orang-orang tercinta mereka. Menghabiskan malam bersama sambil mencoba berbagai permainan dan wahana bermain yang menyenangkan. Anna berdiri mematung seraya melihat kepada kemeriahan yang ada di depan matanya. Suara riuh pengunjung dan musik seakan menyatu di tengah malam yang indah dengan taburan bintang di atas langit sana. "Ayo ...." Romeo kembali mengajak Anna. Perempuan berkerudung hitam itu pun terus mengikuti pria di depannya dengan mata yang berkelintaran melihat ke sekelilingnya. Dalam sekejap, suasana hati Anna pun berubah, yang semula gundah gulana, kini berganti menjadi bahagia. Meski bukan lagi anak kecil yang menyukai tempat wahana permainan seperti ini, tapi nyatanya, Anna cukup terhibur malam ini. "Kita duduk di sini saja ya?" Romeo meletakkan rantang makanan di atas meja milik pedagang coffee truck. Menyusul Anna yang juga duduk menghadap kepadanya. "Ini benar kan, aku boleh makan?" tanya pria itu lagi. "Bo—boleh kok. Makan saja." Anna terlihat sedikit gelagapan. Sikap garangnya yang selama ini kerap ia tunjukkan kepada Romeo mendadak hilang dalam semalam. Apakah Anna mulai menaruh hati kepada Romeo? "Wah, masakanmu enak sekali," puji Romeo seraya terus menyantap makanan itu dengan lahap. "Benarkah?" Anna tertawa pelan. Hampir sebulan menjadi istri seorang Muhammad Adnan, tak pernah sekali pun Anna mendengar pujian atas masakannya dari laki-laki bergelar suami baginya itu. Jangankan memuji, Adnan bahkan sering tidak memakan masakannya. Jika mengingat itu, hati Anna kembali teriris. Sakit. "Eum ... benar. Kau pintar masak juga ternyata ya?" Romeo mengulangi pujiannya. "Ibuku yang mengajarinya. Sejak usia sepuluh tahun, aku dan Mbak Nisa sering membantu ibu di dapur." Anna mulai mengenang masa-masa bersama sang ibu-Maryam, yang sudah meninggal dunia. "Ibumu memang orang yang sangat luar biasa. Waktu pertama aku bertemu dengannya saja, aku sudah bisa melihat jika ia adalah wanita yang hebat. Makanya dia bisa mendidik dua anak perempuannya menjadi hebat juga." Kata-kata Romeo kembali menyentuh relung hati Anna. Tanpa ia sadari, dua bola matanya mulai berkaca-kaca. Dan sebelum cairan bening itu jatuh di wajahnya, dengan cepat ia alihkan pandang melihat kepada bianglala yang tampak berputar di depan mereka. "Kau sudah makan?" tanya Romeo yang mulai menyadari jika sedari tadi ia hanya makan sendiri. Anna kembali menoleh kepadanya dan menggeleng pelan. Senyum lembut kembali mengembang di sudut bibir perempuan dengan kerudung hitam pekat tersebut. "Astaga, kenapa kau tak bilang dari tadi. Sini aku taruh. Kau harus makan, Anna ... makan yang banyak." Romeo meletakkan sekotak nasi beserta lauk di depan Anna. "Terima kasih." Anna langsung menyantap makanan itu dengan lahap dan seolah tak perduli jika ada Romeo di dekatnya. Memang sudah sedari tadi ia menahan lapar, hanya saja ... kekalutan pikirannya membuat ia hilang selera dalam menyantap sesuatu. Sementara Romeo terus menatap Anna dengan senyum simpul penuh ketulusan. Senyum yang sebenarnya menyimpan begitu banyak makna dibalik malam dingin yang saat ini ia dan Anna lewati. Namun meski begitu, Romeo tak ingin Anna melewati malam hanya dengan bersedih dan larut dalam kegamangan hati. Jadi, selesai makan, pria tampan itu mengajak Anna untuk mencoba beberapa permainan yang ada di wahana. Seperti misalnya komedi putar, pukul kepala anjing dan terakhir bianglala. "Kau takut ketinggian?" tanya Romeo saat benda berbentuk kincir angin raksasa itu berhenti tepat saat mereka berada di bagian teratas bianglala. "Tidak. Aku hanya takut jatuh," jawab Anna jujur. Romeo pun tertawa pelan. Dalam hati ingin rasanya ia mencubit dua pipi chubby milik perempuan itu, tapi ia tahu pasti Anna tidak akan menyukainya. "Kau takut jatuh?" tanya Romeo. "Eum ...." Anna mengangguk cepat. Pandangannya masih tertuju ke arah bawah, melihat pemandangan sekitar wahana dari ketinggian yang tampak menakjubkan itu. "Termasuk jatuh cinta?" tanya Romeo tiba-tiba. "Ti—" ucap Anna terputus. Ia pun segera menoleh kepada Romeo, sehingga membuat pandang keduanya bertemu. Romeo menatap Anna lekat-lekat dengan wajah yang semakin lama semakin dekat. Dekat ... dekat ... dan terus dekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD