Malam Pertama Yang Gagal

1368 Words
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha Anna Khairunnisa binti Fahrizal Suhendra bil mahril madzkur haalan ...." "Bagaimana saksi? Apakah sah?" tanya penghulu. "Sah ...!" ucap para saksi dan semua para hadirin yang ada di sana. Dalam satu tarikan napas, selesai sudah ikrar ijab qabul itu. Dunia Anna langsung berubah. Gelar istri dari seorang Muhammad Adnan pun telah resmi ia sandang. Seorang laki-laki sholeh yang digandrungi banyak perempuan di desanya, yang diyakini Anna sebagai calon suami idaman dan pria yang sempurna. Anna tidak pernah menduga jika ia akan menikah dengan Adnan, pria yang selama ini ia kagumi karena kesholehan dan kecerdasannya. Pasalnya, selama kenal atau pun berinteraksi dengan suami barunya itu, Anna tidak pernah melihat tanda-tanda jika Adnan juga menyukainya. Awalnya Anna mengira jika Adnan tidak tertarik padanya dan hanya menganggapnya sebagai teman. Namun setelah itu, barulah Anna tahu, jika ternyata, memang seperti itulah cara laki-laki yang paham agama dalam menyukai seorang wanita, tidak berisik dan hanya memendamnya saja. Akan tetapi, sekalinya membuat gebrakan, langsung dengan melamar dan menikahi. "Mas ....," Anna meminta Adnan untuk mengulurkan tangannya karena akan ia salami. Adnan pun segera mengulurkan tangannya dan Anna mengecupnya dengan takzim, sebagai tanda hormat seorang istri kepada suaminya. Kemudian diikuti dengan Adnan mengecup lembut dahi Anna, membuat semua yang hadir ikut terharu menyaksikan sepasang suami istri baru itu. Sebuah cincin bermata indah Adnan sematkan di jari manis Anna. Sebuah simbol cinta yang ia berikan kepada istri barunya itu. Sekaligus menjadi pertanda, jika wanita yang saat ini ada dihadapannya, sudah sah dan resmi menjadi pendamping hidupnya. Senyum bahagia terus terpancar dari wajah Anna dan Adnan. Ucapan selamat dan doa bahagia pun terus mengalir untuk pasangan itu. Semua berharap pernikahan Anna dan Adnan langgeng dan segera di anugerahi momongan. Tak terkecuali Annisa. Saudari perempuan satu-satunya yang Anna miliki itu, harus rela terbang dari Swiss ke Indonesia, hanya demi hadir di hari bahagianya sang adik. Ia tak sendiri, tapi membawa turut serta bayi kembarnya Aluna dan Arelia, serta sang suami Evan Malino. "Makasih yo, Mbak." Anna memeluk tubuh Annisa dengan erat. "Baik-baik yo dek? Sekarang kamu wes jadi istrinya orang. Sing nurut sama suamimu, karena surganya istri itu, ada pada suaminya," pesan Annisa. "Iyo Mbak. Anna pasti ingat pesan Mbak. Doakan rumah tanggaku diberkahi Allah yo, Mbak? Soale, cuma Mbak Nisa yang Anna punya sekarang." Anna mulai mendung. Annisa melepaskan pelukannya dan mengusap lembut wajah Anna. "Wes ... jangan sedih-sedih. Ini hari bahagia kamu, kamu harus banyak senyum ketimbang nangis. Mbak pasti doakan. Ingat, kalau ada apa-apa, diceritain, ojo dipendam sendirian, yo?" Annisa kembali memberi pesan. "Eum ...." Anna mengangguk cepat seraya tersenyum lebar. Kini giliran kepada Adnan. Annisa mengatupkan kedua tangannya dan tersenyum kepada adik iparnya itu. "Saya titip adik saya ya ustadz. Saya doakan, semoga rumah tangga kalian menjadi rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah." Doa Annisa. Adnan tersenyum tipis. "Amin. Mudah-mudahan. Terima kasih banyak ... Mbak Nisa." ucap Adnan. Annisa mengangguk dan kembali tersenyum. Setelah Evan selesai mengucapkan 'selamat' kepada kedua adik iparnya itu, mereka pun kembali berbaur bersama para tamu undangan lainnya dengan kedua putri mereka. "Tinggal di mana dia sekarang?" tanya Adnan tiba-tiba. "Heuh? Siapa, Mas?" Anna sedikit terkejut. "Oh, maksud Mas, Mbak Nisa? Mbak Nisa dan keluarganya tinggal di Swiss sekarang. Soalnya, Mas Evan baru saja memulai bisnis baru di sana," jelas Anna. "Oh ...." ucap Adnan singkat. Anna terus memperhatikan wajah Adnan yang masih melihat ke arah saudarinya itu. Senyum yang semula begitu lebar mengembang di bibirnya, perlahan mulai sinar dan hanya menyisakan senyum keterpaksaan. Bagaimana tidak, Anna tahu betul seperti apa dulu kisah Adnan dan Annisa. Walau suami dan kakak kandungnya itu tak pernah berpacaran, tapi kabar-kabar yang beredar di desa mereka cukup santer terdengar di telinga Anna. Kata orang-orang, Adnan menyukai Annisa dan Anna juga meyakini itu. Meski setelah sekian lama kabar itu beredar, tak pernah ada satu bukti pun yang membenarkan jika Adnan menyukai Annisa, tapi Anna tetap saja meyakininya. Namun, setelah Annisa menikah dengan Evan, semua hal itu pun seolah hilang di telan waktu dan keadaan. Justru secara mengejutkan, Adnan tiba-tiba saja mendatangi Anna dan mengajak perempuan berkerudung itu untuk menikah. "An ... selamat ya? Semoga bahagia selalu." Ratna-sahabat Annisa, datang memberi selamat dan doa. "Terima kasih Mbak Ratna." Anna tersenyum ramah. "Doakan, semoga aku bisa segera menyusul mu, ya?" Ratna terkekeh di dekat Anna. "Amin, Mbak. Semoga Mbak Ratna segera bertemu dengan pangerannya." "Pangeran opo toh? Pangeran dari Hongkong?" Ratna cemberut. Anna kembali tertawa mendengarnya. Setelah itu, ia pun mempersilahkan Ratna untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah tersedia di bufet. Usai menyantap makanan, lanjut dengan sesi foto bersama. Semua pihak keluarga Anna dan Adnan berkumpul di atas panggung pelaminan untuk pengambilan gambar oleh fotografer. "Satu ... dua ... tiga ...." Cekrek! . . Malam menjelang. Semua para tamu undangan sudah kembali ke rumah masing-masing. Annisa dan Evan beserta dua putri kembar mereka, Aluna dan Arelia, juga sudah kembali ke rumah sang CEO. Sedang Anna dan Adnan, mereka langsung kembali ke rumah yang baru saja dibeli oleh pria bergelar ustadz tersebut sebelum menikah dengan istrinya itu. Di sana, keluarga Adnan masih tampak ramai dan bercengkerama satu sama lain. Mulai dari keluarga belah pihak umi Marwah, ibunya Adnan. Hingga keluarga besar almarhum ayah sang ustadz yang datang dari kampung halaman mereka. Semua berkumpul dalam satu waktu. "Mas, aku ke kamar dulu ya?" ucap Anna yang berniat ingin masuk kamar dan mengganti pakaiannya. "Loh, kok ke kamar? Keluargaku masih di sini loh, An. Ya kamu layani mereka dulu dong." Adnan melarangnya. "Aku capek Mas, mau istirahat. Ini juga sudah mau hampir pukul dua belas malam. Sekalian aku mau mandi dan ganti pakaian." Anna mencoba untuk memberikan suaminya itu pengertian. "Kok kamu belum apa-apa sudah membantah sih, An? Aku bilang kamu tetap di sini ya di sini. Kamu kan istriku sekarang, jadi ya harus nurut sama perintahku." Adnan tetap pada prinsipnya. Anna terperangah setelah mendengar kata-kata Adnan. Tidak ia duga, baru sehari menjadi istri seseorang, sudah dikekang sedemikian rupa. Bagaimana lagi nanti? Namun Anna tidak mau memperpanjang perdebatan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun segera mendekati keluarga besar Adnan dan melempar senyum penuh kepalsuan ke arah mereka. Sedang Adnan, pria dewasa itu segera berlalu naik ke atas. Membersihkan diri serta mengganti pakaiannya. Kemudian, merebahkan tubuh di atas kasur dan tidur tanpa memperdulikan Anna sedikit pun. Di bawah, Anna tampak benar-benar lelah. Ia pun menjatuhkan kepala pada penyangga sofa dan memejamkan mata. Sesaat ia terlelap, terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. "An ... Anna ...." Anna tersentak dan langsung membuka mata. "Umi ...?" "Kenapa tidur di sini? Segera masuk ke kamarmu dan istirahat," ucap umi Marwah-ibunya Adnan. "Maaf Umi, Anna ketiduran." Anna mengucek pelan matanya. "Tidak apa-apa. Sekarang kamu naik ke atas ya? Semua orang sudah tidur." Anna menyapu pandangan ke sekeliling ruang tamu yang cukup luas itu. Benar, sudah tidak tampak satu manusia pun di sana. Hanya tinggal ia dan Umi Marwah saja. Namun yang menjadi pertanyaan di benaknya, kenapa Adnan tidak membangunkan dirinya? Ke mana suaminya itu?" "Baik Umi. Anna naik ke atas dulu ya?" Anna pamit dan segera menuju ke lantai atas kamarnya dan kamar Adnan. Sesampainya di depan pintu kamar tersebut, Anna pun mengetuk dua kali dan memanggil nama suaminya. Namun, lama ia berdiri di sana, tak ia dengar suara sahutan dari dalam. Akhirnya, Anna pun memutuskan untuk membuka langsung pintu tersebut. "Mas ...." lirih Anna saat pintu sudah terbuka. Ia pun langsung masuk dan melihat ke arah ranjang. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Anna mendapati Adnan sudah tertidur lelap di atas tempat tidur. Kesal, Anna hanya mendengus saat melihat sikap suaminya itu. Akan tetapi ia tidak mau ribut. Memilih untuk membuka pakaian dan mandi membersihkan diri. Selesai mandi, Anna langsung membaringkan tubuhnya di samping Adnan. Hanya melihat heran kepada pria yang baru saja menyandang gelar sebagai suaminya itu. Apa mungkin dia terlalu lelah, sampai dia lupa jika malam ini adalah malam pertama kami? Ah, sudahlah. Untuk apa juga aku permasalahan hal itu. Toh, masih ada malam besok dan malam-malam berikutnya. Usai membaca doa, Anna pun menutup mata dan tertidur dengan nyaman. Langsung terlelap hingga tidak lagi menyadari keadaan sekitar. Tak lama dari Anna tertidur, tanpa ia ketahui, pria yang ada di sampingnya membuka mata perlahan dan menatap tajam ke arah dirinya. Permainan baru dimulai Anna, bersiaplah ... (Muhammad Adnan)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD