Pelampiasan Sakit Hati

1167 Words
'Teganya kau, An. Kau tinggalkan aku dengan begitu saja. Apa kau tak tahu, betapa besar rasa cintaku kepadamu selama ini? Bertahun-tahun aku menunggumu dan mengabaikan perempuan-perempuan lain di luar sana. Nyatanya, ini yang aku dapatkan. Sampai hatimu, An. Sampai hati kau hancurkan perasaan ini.' Hati laki-laki itu terasa begitu sakit tatkala mengetahui jika wanita yang sangat ia cintai telah menikah dengan pria lain. Dunianya seketika runtuh bersama harapan yang telah ia bangun selama ini, semuanya hancur dalam satu hari. Romeo Rayyanza, pria tampan, seorang pebisnis yang sukses di bidangnya, menangis tersedu di kamarnya, seraya memandangi foto Anna yang ada di dalam ponselnya. Foto yang ia ambil secara diam-diam saat ia dan Anna masih sering bertemu dan bersama. Mereka bertemu dalam sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Saat Maryam, ibunya Anna membeli sebuah toko yang kebetulan pemiliknya adalah Romeo sendiri. Sejak saat itulah, Romeo dan Anna jadi sering berinteraksi. Pria kaya itu menyukai kepribadian Anna, yang menurutnya sangat berbeda dengan kebanyakan gadis-gadis lainnya. Bukan, bukan ia tak pernah mengungkapkan perasaannya, Romeo bahkan sudah ditolak oleh Anna sebanyak puluhan kali. Entah apa yang kurang dari dirinya, sehingga perempuan berkerudung itu tidak mau menerima cintanya, Romeo tak tahu. Akan tetapi, meski sudah di abaikan ratusan kali, Romeo tetap pada pendiriannya, berharap hati wanita yang ia sukai itu suatu hari luluh dan mau menerimanya. Namun siapa sangka. Apa yang Romeo harapkan justru kandas begtu saja. Kini perempuan yang berprofesi sebagai perawat itu sudah resmi menjadi milik orang lain. Meski tak terima, Romeo tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskannya dengan perasaan yang hancur berantakan. Ia berdiri dengan posisi punggung yang menyangga pada daun pintu kamar itu. Masih dengan air mata yang terus setia mengalir dan jatuh di pipi, ia pun menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan terduduk lesu di lantai. Semua orang berbahagia di hari pernikahan Anna dan Adnan, tapi tidak dengan Romeo Rayyanza. Laki-laki yang selama ini selalu mengejar cinta sang perawat berkerudung itu, begitu nelangsa dan terluka. Andai ada yang bisa ia lakukan untuk membuat pernikahan Anna dan pria lain itu tak pernah terjadi, pasti sudah ia lakukan. Sayangnya, semua begitu cepat berlalu. Tanpa pemberitahuan apapun, tiba-tiba saja Romeo mendengar kabar jika Anna akan menikah dengan Adnan. Amel, sepupu Romeo yang merupakan seorang dokter dan juga satu tempat kerja dengan Anna, mengirimnya pesan yang berisi kabar mengejutkan itu. Dan puncak kekecewaannya adalah malam ini. Malam pernikahan Anna. Malam di mana Anna sudah menjadi istri pria lain. Lama menangis, Romeo pun kemudian bangkit dan berteriak keras hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan kamarnya itu. Tak bisa ia bayangkan jika malam ini, wanita yang sangat ia cintai, tidur dan tubuhnya dijamah oleh laki-laki lain. "Aaaa ...! Kau jahat Anna ... Kau jahat kepadaku ...! Kau itu wanita tak berhati. Apa kurangnya aku, An? Apa kurangnya aku selama ini? Perhatian, kasih sayang, semuanya sudah aku berikan kepadamu. Mengapa kau tak bisa menerima aku, An?" teriak Romeo dalam kesendiriannya. Puas mengatai Anna, Romeo pun menjatuhkan dirinya ke atas ranjang tempat tidurnya. Anehnya, saat ia sudah terbaring di kasur dalam posisi telungkup, tiba-tiba saja ia tertawa geli hingga terbahak, seperti ada sesuatu yang sangat lucu. Namun, tawanya kali ini jelas bukanlah tawa kebahagiaan. Melainkan tawa kepedihan yang begitu dalam, hingga nyaris menghilangkan akal sehatnya. "Bodoh sekali aku, An. Kenapa aku harus menangis? Kenapa aku harus marah? Padahal kau menikah dengan laki-laki yang baik. Yang katamu, laki-laki idaman semua wanita. Tidak seperti aku. Aku ini tidak alim. Aku ini tidak paham agama. Aku juga bukan pria impianmu." Romeo masih tertawa. Tak lama, raut wajahnya kembali mendung. Lagi-lagi ia menangis sedih, hingga air matanya tumpah ruah di atas seprai. Rasa sakit yang ia rasakan, benar-benar telah membuat dirinya tidak dapat mengendalikan diri dan emosi. Namun, selang beberapa menit kemudian, Romeo pun berhenti karena sepertinya sudah mulai lelah. Dia bangun dan mengusap wajah, lalu merentangkan tubuh melihat kepada langit-langit kamar. Membayangkan sejenak wajah sang pujaan hati yang kini sudah tidak mungkin lagi untuk ia miliki. "Aku memang sudah kehilanganmu, Anna, tapi perasaanku padamu tidak akan pernah hilang. Aku akan selalu mencintaimu, meski kau tidak akan pernah mau untuk membalasnya. Selamat atas pernikahanmu, An. Semoga kau bahagia bersama laki-laki pilihanmu ...." . . Malamnya, Romeo mendatangi sebuah kelab malam. Pikirannya kacau dan ia membutuhkan hiburan. Baginya, menghabiskan sebotol whisky mungkin bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang. Meski apa yang ia lakukan salah, Romeo tidak peduli. Untuk saat ini, membuat pikirannya menjadi tenang jauh lebih penting ketimbang ia berakhir gantung diri di depan pintu kamar, pikirnya. "Hei ... sendirian aja Bro?" Seorang pria dewasa dengan kemeja hitam lengan panjang datang menghampiri Romeo. "Jangan kau ganggu aku, aku sedang banyak pikiran," jawab Romeo malas. Pria itu terkekeh. Ia lalu duduk di dekat Romeo dan mengambil minuman lalu menuangkannya lagi ke dalam gelas temannya itu. "Sudahlah ... perempuan di dunia ini ada banyak, man. Banyak. Miliyaran. Kau tinggal cari mau yang seperti apa. Yang putih bersih, putih kecoklatan, atau sawo matang. Yang rambut lurus, atau yang bergelombang. Yang rasa manis atau agak keasaman ...." "Kau pikir jus?" Romeo menyunggingkan senyum. Pria itu terbahak dan kemudian menenggak minumannya. "Heh dengar, aku ini sudah lama kenal denganmu. Kita ini sudah jadi rekan bisnis yang cukup lama. Perempuan mana yang tidak mau dengan seorang Romeo Rayyanza. Come on, Bro, lupakan dia. Dia sudah menjadi istri orang lain. Mungkin saja malam ini dia sedang bermesraan dan ... kikuk-kikuk dengan suaminya. Sementara kau, kau di sini masih saja memikirkan dia." "Kau bisa diam tidak? Atau aku sumpel mulutmu itu dengan botol ini. Kau bukannya menenangkan ku, justru semakin membuat suasana hatiku berantakan. Teman macam apa kau ini?" Romeo terdengar gusar. Pria itu lagi-lagi tertawa. Namun tiba-tiba saja, dengan cepat ia langsung merangkul Romeo. "Heh, kau lihat di sana. Itu namanya Silvi. Barang baru di kelab ini. Kabarnya, dia masih perawan," tunjuk pria itu. "Ah, aku tidak tertarik." Romeo masih enggan. "Hei, coba saja dulu. Belum apa-apa kau sudah menolaknya. Dengar kata-kata ku, kau coba dulu, kalau benar dia masih perawan, maka aku akan membayarnya untukmu," ucap pria itu. "Jika tidak?" tanya Romeo. "Jika tidak? Kau refund saja. Ha-ha-ha ...!" pria itu tergelak keras. "Gila kau. Kau pikir paket COD Cek Dulu?" "Sudah ... ayo bangun." Pria itu menarik paksa tangan Romeo. Romeo pun segera bangkit dan bersiap untuk mendekati p*****r yang ditunjuk oleh temannya itu. Ia pandangi perempuan itu untuk beberapa saat, lalu mulai melangkah perlahan dengan gerakan yang sedikit sempoyongan. "Go go go ...," ucap temannya lagi. Saat sudah berada di dekat p*****r tersebut, Romeo hanya diam dan menatap lekat-lekat perempuan berpakaian seksi tersebut. "Ada apa melihatku seperti itu?" tanya wanita itu. "Oh, tidak ... aku hanya ingin tahu saja ...." "Mau tahu apa?" tanya wanita itu lagi. "Bagaimana jika kita berbicara di private room saja?" ajak Romeo lagi. "Oh ... ok ...." perempuan itu pun segera melangkah menuju ruangan khusus yang ada di belakang kelab. Sedang Romeo, sebelum melangkah mengikuti pelacurnya itu, ia pun melempar pandang sembari mengedipkan satu matanya kepada temannya itu. Setelah itu, segera berlalu ke private room bersama sang wanita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD