Dua minggu kemudian ....
"Anna! Anna!" Adnan berteriak keras. Memanggil istrinya dengan intonasi yang sangat tidak sopan.
Anna yang sedang mencuci piring di dapur pun tersentak dan langsung menoleh ke arah belakang.
"Mana kopiku?" tanya Adnan dengan tatapan menuntut.
"Sebentar, Mas. Ini juga aku sedang mau bikin." Anna tampak ketakutan.
"Kok lama sih, An? Aku sudah mau berangkat kerja ini. Kalau aku terlambat bagaimana?" Adnan berkata dengan nada lembut tapi terkesan menekan.
"Maaf ya Mas. Ini ... kopinya." Anna datang dengan secangkir kopi di tangan dan langsung menyuguhkannya ke hadapan suaminya itu.
"Nah, gitu dong. Ini baru istri yang baik namanya."
Anna tersenyum getir. Dia lalu menarik kursi dan hendak duduk di depan Adnan. Namun, belum juga perempuan berambut panjang itu menuntaskan niatnya, suara suaminya sudah lebih dulu menghentikan gerakannya.
"Sarapanku mana, An?" tanya Adnan.
"Loh, tapi tadi kata Mas di kamar, Mas sarapan di kantor saja."
"Emang aku ada bilang begitu?" Adnan justru bertanya balik.
"Tadi ... di kamar." Anna masih mencoba meyakinkan Adnan.
"Aku bilang begitu, An?" tanya Adnan lagi, tapi dibarengi dengan raut wajah gusar.
Anna terdiam dan menelan ludah berat. "Ya sudah, Mas mau aku bikinin apa?"
"Apa saja, yang cepet," pinta Adnan.
"Baik, tunggu ya Mas."
Tanpa bantahan lagi, Anna pun segera berlalu kembali ke dapur. Dalam suasana hati yang begitu kacau, ia segera membuat sarapan untuk Adnan berupa nasi goreng dan telur ceplok.
Selang beberapa menit saja, sepiring nasi goreng dan telur di atasnya sudah siap tersaji di depan Adnan. "Ini, Mas."
"Ya, terima kasih."
"Aku izin mandi ya Mas. Mau siap-siap juga."
"Hmm ...." Adnan hanya berdehem sekali
Tak berkata apa-apa lagi, Anna langsung menuju ke lantai atas rumah, untuk mandi dan bersiap berangkat kerja.
Hari pertama bekerja pasca menggelar pernikahan bersama Adnan, Anna langsung mendapatkan shif pagi. Sebagai seorang perawat pada salah satu rumah sakit di Ibu Kota, tepat waktu sangat dituntut dalam pekerjaannya. Sebab profesinya menyangkut tentang hidup dan mati seseorang, Anna harus bisa bekerja seprofesional mungkin.
Usai memakai pakaian dinasnya, Anna pun mulai mengenakan kerudung. Gerakannya semula pelan dan sangat santai. Namun mendadak cepat dan terburu saat indera pendengarannya mendengar deru mobil Adnan yang mulai berbunyi.
"Mas Adnan?" Anna langsung mengambil tasnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Mas ... Mas Adnan. Tunggu." Anna mengira jika hari ini mereka bisa pergi berbarengan. Mumpung ia masuk shif pagi dan lokasi kantor suaminya juga searah, tidak ada salahnya untuk jalan bersamaan, pikir Anna. Nyatanya, Adnan sudah lebih dulu meninggal rumah dan melupakan dirinya.
Langkah Anna terhenti saat mendapati mobil Adnan yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah. Napas perempuan itu tersengal, dengan raut wajah bingung sarat akan ketidakmengertian. Entah apa yang ada di pikiran suami barunya itu? Jangankan pergi bersama, bahkan berpamitan pun pria alim itu tidak ada.
Sebenarnya, siapa aku sih, di mata Mas Adnan?
Lelah menuruni anak tangga dengan berlari, Anna pun berjalan ke dapur karena berniat untuk mengambil air minum.
Akan tetapi, baru saja ia membuka pintu kulkas, atensinya sudah lebih dulu beralih ke arah meja makan yang ada di dekat lemari pendingin itu.
Sepiring nasi goreng dan telur ceplok buatannya, masih tampak utuh seperti tak tersentuh. Anna pun menutup kembali pintu kulkas dan berjalan perlahan ke arah meja makan. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Tawa getir tampak menghiasi wajah indahnya yang sudah mulai mendung itu.
Tak tahan, setitik air bening akhirnya jatuh juga di pipi lembut Anna. Namun dengan cepat ia usap karena tidak ingin terus larut dalam kesedihan.
Ia kemudian menuju pantry, lalu mengambil sebuah kotak makanan di sana. Memasukkan nasi goreng beserta telor ceplok itu ke dalamnya dan akan membawanya ke rumah sakit. Dari pada mubazir, lebih baik ia jadikan bekal saja, pikirnya.
Selesai, Anna pun segera berlalu keluar rumah dan mengunci pintu. Menuju ke parkiran motornya dan langsung memakai helm. Menyalakan motor metic-nya, melaju meninggalkan rumah dengan perasaan yang tidak karuan.
Aku kira, pernikahan itu seindah di cerita-cerita romansa yang sering k*****a dan ku lihat. Namun ternyata, semua itu hanyalah kamuflase yang tak berwujud bahkan tak dapat aku rasakan. Entah ... aku sekarang merasa seperti bukan aku yang dulu. Satu Minggu yang sudah berlalu, rasanya seperti setahun disiksa rindu. Apakah itu artinya, aku gagal?
.
.
"Assalamualaikum ... Mas sudah pulang?" tanya Anna begitu ia tiba di rumah. Tampak Adnan tengah duduk di kursi teras seraya melihat kepada layar ponselnya.
"Waalaikumsalam, baru saja," jawab pria yang masih memakai pakaian dinas ASN-nya itu.
"Mas ...." Anna mengulurkan tangannya hendak menyalami suaminya. Akan tetapi, belum sempat tangan Anna menyentuh tangan Adnan, pria itu sudah lebih dulu menyingkirkannya.
"Apa tanganmu bersih?" Tiba-tiba saja Adnan bertanya.
Anna terdiam dan langsung menoleh ke arah wajah Adnan. "E ... aku sudah memberinya cairan hand hygen, Mas."
"Hand Hygen? Itu tidak sepenuhnya bersih Anna. Aku tidak tahu apa saja yang kau sentuh selama bekerja di rumah sakit. Kalau ternyata ada pasien dengan penyakit menular, bagaimana?" Adnan terdengar khawatir yang berlebihan.
"Mas ... setiap aku bekerja, aku selalu memakai sarung tangan pelindung. Tidak pernah menyentuh pasien secara langsung. Jadi Mas tenang saja. Aku tidak mungkin membawa pulang penyakit dan menularkannya kepada Mas." Anna kesal, lalu langsung masuk ke dalam rumah.
"Anna ...! Begitu caramu berbicara dengan suamimu, ha? Anna ...! Anna ...!" Adnan berteriak keras memanggil nama istrinya.
Namun, Anna sudah tidak mau memperdulikannya. Ia terlanjur kesal dengan sikap Adnan yang menurutnya sudah keterlaluan sejak dari tadi pagi. Hanya ingin mencari ridho ditangan suami sendiri saja, sulitnya minta ampun. Bagaimana rumah tangga mereka bisa berkah?
Anna sudah berada di lantai atas rumah itu. Langsung mengganti baju dinasnya dengan terusan polos dan bersiap untuk mandi.
Namun, baru saja perempuan cantik itu bertukar pakaian, pintu kamar sudah di buka begitu saja oleh Adnan. Pria dewasa itu berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.
Anna terkejut setengah mati. Langsung menoleh ke arah pintu dengan posisi tangan menyentuh daada. "Mas ...?" seru Anna.
Adnan maju perlahan, terus mendekati Anna yang sudah dalam posisi takut luar biasa. Tubuh perempuan itu gemetaran. Kakinya selangkah mundur. Tangannya bersangga pada tepi meja rias dengan kepala yang sedikit menunduk. Anna benar-benar terjebak dan hanya bisa pasrah.
"Minta maaf, pada suamimu." ucap Adnan dengan suara pelan tapi sarat pemaksaan.
"Kenapa aku ha—"
"MINTA MAAF KATAKU!" Adnan berteriak ke arah wajah Anna.
Anna terkejut setengah mati dan nyaris tidak percaya. Selama mengenal suaminya itu, tak pernah sekali pun ia melihat Adnan berteriak seperti itu. Namun sore ini, suara pria itu benar-benar membuat jiwa Anna gentar.
Dalam posisi masih menutup mata, Anna bisa merasakan hembusan napas Adnan di wajahnya. Diikuti dengan air mata yang mulai jatuh dan mengalir di pipi lembutnya. Ia benar-benar takut. Takut jika Adnan melakukan lebih daripada meneriaki wajahnya.
"Mas ... a—aku ... aku minta ... ma—maaf," ucap Anna terbata.
"Bagus ... begitulah seorang istri yang sholeha. Kalau salah pada suaminya, ya harus minta maaf." Adnan menepuk pelan wajah Anna.
Anna membuka mata perlahan. Tampak suaminya masih berdiri di dekatnya seraya menatap lekat-lekat ke arahnya. Pandang mereka bertemu untuk beberapa saat.
"Sekarang kau mandi. Bersihkan dirimu. Lalu kau sholat, dan buatkan aku kopi."
"Eum ...." Anna mengangguk cepat.
"Bagus ...." Adnan pun mundur menjarak, lalu berlalu keluar kamar.
Anna menghela napas lega dan langsung duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Melepaskan ikat rambut dan menyibak rambut panjangnya agar lebih tenang.
Demi Tuhan, bukan pernikahan seperti ini yang Anna inginkan. Sangat jauh dari apa yang ia bayangkan dan harapkan. Pria yang selama ini terkenal alim dan begitu taat beribadah, nyatanya tak lebih baik dari berandalan di luar sana, yang suka bersikap arogan dan menyakiti orang lain tanpa sebab.
Ping!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Anna. Ia pun segera membukanya dan melihat kepada layar benda pipih itu.
Tiba-tiba saja jantung Anna berdegup dengan lebih cepat. Tangannya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Tak lama, tangisnya pun pecah.
Tanpa membalas pesan itu, Anna meletakkan kembali ponselnya dan menutup kedua wajahnya dengan tangan. Melepaskan kesedihannya dengan menangis sepuasnya tanpa ada yang tahu. Tidak juga suaminya. Tak juga seseorang yang ada di sana.
"Hai Anna, meski terlambat, aku hanya ingin mengucapkan, selamat atas pernikahanmu. Semoga kau bahagia selalu." -Romeo Rayyanza.