Di ruangan kerja sang CEO, Tuan Xavier tengah merasa kesal, karena wanita yang diinginkannya menolak menemuinya. Bahkan Connie sebagai asistennya merasa takut dengan kemarahan Tuan Xavier.
Bukan hanya penolakan dari Kiara karena ajakan dari Connie tapi juga telepon darinya, Kiara mengabaikannya. Xavier pun bahkan tidak mengerti, mengapa ia sampai rela begitu saja menghubungi Kiara, yang tidak pernah ia lakukan pada wanita lain, dan hasil benar-benar sangat mengesalkan, Kiara menolaknya.
“Aku, seorang Xavier, ditolak oleh wanita?” geram Xavier dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
“Tu … Tuan, bukankah masih banyak wanita cantik diluar sana?” seru Connie mencoba menenangkan sang pria playboy tersebut.
Xavier menatap Connie dengan sengit membuat Connie menunduk takut. Connie tidak pernah melihat Xavier marah seperti itu, hanya karena wanita, namun jika soal pekerjaan, Connie memang sering melihat Xavier marah, jika tidak sesuai keinginannya.
“Apapun yang aku mau tidak pernah aku gagal mendapatkannya, bahkan jika itu wanita, dan dia dengan berani menolakku, memangnya dia siapa, Connie?” geram Xavier.
Connie pun tertunduk takut, melihat Xavier yang benar-benar marah, dalam hatinya, ia pun menyalahkan Kiara.
Benar, siapa dia, hanya wanita kampus tapi sok jual mahal, dia tidak secantik diriku, tidak se sexy aku dan wanita lain, tapi Tuan Xavier sampai mau mendekatinya. Kiara, awas saja jika sampai Xavier membenci diriku!
“Kiara, dia wanita yang menarik, aku akan mencoba mendekatinya!”
“Tuan … Apa Tuan jatuh cinta?” dengan ragu Connie mengatakan tentang cinta pada Xavier.
“Cinta, hahaha … Connie, cinta itu hanya membuang waktuku! Aku hanya ingin memiliki wanita yang aku inginkan, jika cinta hadir aku hanya bisa memiliki satu wanita, dan itu sangatlah bodoh!”
Connie tersenyum,” maafkan aku, Tuan. Aku senang jika Tuan tidak mencintainya, karena jika iya, aku tidak bisa dekat dengan Tuan lagi.”
Connie mendekati Tuan Xavier dan membelai d**a bidang Xavier, dengan sedikit ragu karena pada awalnya Xavier sedang dalam keadaan marah. Namun ternyata, Xavier menerima sentuhan Connie, membiarkannya memanjakannya.
***
Disisi lain, di negara kelahiran Kiara, keadaan Shera kini sangat lah menyedihkan, karena Daren tidak pernah menerimanya bahkan selalu mengungkit Kiara yang selalu ia cintai.
“Mengapa kau tidak bisa menerimaku, Daren?” tanya Shera saat Daren membawa sebuah surat perceraian padanya.
Shera yang tidak pernah berharap Daren akan bisa menerimanya, setelah pernikahan mereka berjalan cukup lama, setahun lebih namun Daren tetap tidak mencintainya. Hanya ada nama Kiara dan kesalahan yang selalu Daren sebut membuat Shera semakin bersedih.
“Apa kau masih bertanya? Cepat tandatangani itu, aku muak hidup denganmu!” Daren melempar kembali kertas perceraian pada Shera yang tidak mau bercerai dengannya.
“Tolong cintai aku, Daren. Jangan ceraikan aku, apa kau tidak kasihan dengan anak kita?” ucap Shera memohon agar mereka tidak berpisah, walau saat itu Shera menjanjikan padanya perceraian saat anak mereka lahir.
Namun tentu, perceraian tidak pernah diinginkan. Apa yang Shera pikirkan jika Daren akan berubah seiring berjalannya waktu, namun ternyata semakin waktu berjalan, Daren justru malah semakin membencinya, bahkan tidak pernah menganggap anaknya sebagai anak kandungnya.
Daren selalu berpikir jika anak yang dilahirkan oleh Shera adalah hasil hubungan Shera dengan pria lain. Selama pernikahan mereka, Daren memang sangat berubah, ia menjadi pria pemabuk yang bahkan sering mendatangi tempat hiburan malam. Shera sangat sedih melihat Daren seperti itu, tidak pernah mau membuka hatinya untuk dirinya.
“Cinta? Cinta aku hanya untuk Kiara, Shera! Kau jangan pernah berharap aku akan mencintaimu, sejak awal kau hanya menjadi jalang untukku!”
Shera mengepalkan kedua tangannya, kata-kata yang memang sering ia dengar jika dia hanyalah jalang dari Daren. Namun tetap Shera tidak pernah mau menerima perkataan Daren. Menurut Shera, hubungan gelap yang mereka lakukan di belakang Kiara, adalah sama-sama suka, dan Daren bahkan selalu memperlakukannya dengan lembut. Namun mengapa saat ia berhasil memiliki Daren sepenuhnya, berubah sikap menjadi kasar padanya?
“Aa .. Aku, bukan jalang, AKU BUKAN JALANG, DAREN! MENGAPA KAU TIDAK PERNAH MAU MENERIMAKU, APA BEDANYA AKU DENGAN KIARA?”
Shera meluapkan semua kekesalan pada Daren. Selama ini ia selalu bersabar jika Daren terus-menerus menghinanya, bahkan tidak peduli padanya, dan juga anaknya, menyiksanya seolah dirinya benar-benar tidak berharga.
Daren mencengkram dagu Shera dengan kuat, dengan tatapan tajam pada Shera namun Shera pun dengan berani membalasnya.
“Kau bertanya padaku, kau masih bertanya, jalang? Kau memang bodoh, Shera, Kiara jelas lebih baik darimu, dia cantik, wanita yang lembut, baik bukan wanita yang licik, dan murahan sepertimu. Dengar, Shera, kalian sangat berbeda, dan mengapa aku tidak pernah menerimamu, sejak awal kau hanyalah pemuasku, dan kau yang rela memberikan. Apa aku pernah berjanji akan mencintaimu, tidak Shera, kau bodoh, kau hanyalah wanita jalang murahan, selamanya aku tidak pernah mau bersama denganmu, hanya Kiara wanita yang aku inginkan, jadi tandatangani itu, aku akan kembali pada Kiara!”
Daren menghempaskan Shera hingga terjatuh dibawah, perlakuan Daren pada Shera yang kasar seolah sudah biasa Shera dapatkan. Apa kesabaran Shera selama ini hanya sia-sia?
Daren tidak pernah mau menerimanya, bahkan anak mereka.
Daren meninggalkan Shera dengan di iringi isak tangis dari bayi laki-laki yang terbangun akibat pertengkaran mereka.
Shera meneteskan air matanya dengan sorot mata yang tajam.
Ia membenci hidupnya, ia juga membenci Kiara, yang selalu menjadi bayang-bayang hidupnya. Menjadi sebuah kesalahan yang tidak pernah termaafkan.
Apa dia sehina itu, sampai Daren yang sudah menghamilinya pun tidak mau bersamanya, tidak mau mencoba mencintainya?
“Aku hanya ingin bahagia bahagia hidup denganmu, Daren, dengan anak kita. Tidak bisakah kau menerima kami?” gumam Shera dengan rasa sakit yang tersayat, ia memegang dadanya dengan telapak tangan hingga tangisnya pun pecah, saat melihat anaknya yang masih sangat kecil terus menangis, dan tidak pernah diakui oleh Daren.
Daren yang selalu saja mengharapkan Kiara dan berpikir jika Kiara pasti mau kembali padanya, jika sudah bercerai dengan Shera.
“Daren, apa kau pikir Kiara mau kembali padamu? Kau sama bodohnya, kau akan menyesal telah memperlakukan ku selama ini, Daren. Kau akan menyesal!”
“Kiara, jangan salahkan aku jika aku membencimu, kau membuat hidupku hancur! Daren tidak pernah menerimaku karena, kau, kau jangan pernah kembali kesini, Kiara. Atau aku akan membuatmu sama-sama menderita sepertiku!”
Shera tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Daren. Shera hanya berharap, jika Daren tidak akan pernah bertemu dengan Kiara. Shera masih sangat yakin, dengan anaknya bisa membuat Daren mencintainya, menerima mereka.
“Aku, aku akan terus bersabar, Daren. Karena aku hanya memilikimu saat ini, kau akan mencintaiku suatu saat ini, aku yakin …”