BAB 4

1120 Words
“Kia, apa kau tidak mau menerima, Jhonny? Dia tampan dan kaya, tapi kau sama sekali tidak tertarik,” seru seorang wanita berbicara pada Kiara yang tengah membaca sebuah buku novel di sebuah taman di kampus. Kiara tampak tidak peduli mendengar perkataan temannya, yang bernama Diana. Ia terus sibuk dengan buku novelnya yang ia baca. “Ck, selalu saja dengan ekspresi dingin menyebalkan itu, kau sangat berbeda dengan wanita lainnya, kau seolah tidak tertarik dengan pria. Hey, kau tidak menyukai sesama jenis bukan?” serunya membuat Kiara menatap tajam Diana. Diana terkekeh dan memperlihatkan dua jari di tangannya hingga membentuk huruf V. Seolah ia meminta maaf pada Kiara. “Kau itu sudah hampir setahun di sini, tapi tidak ada pria yang kau pacari, ch! jangan bilang kau akan fokus kuliah dan belajar, itu membosankan, Kiara!” serunya lagi namun tetap tidak digubris oleh Kiara. Setahun sudah, Kiara meninggalkan negara kelahirannya, namun ia masih belum bisa sepenuhnya melupakan apa yang ia alami, sebuah pengkhianatan dari kedua orang yang ia sayangi. Kiara kini seolah menjadi sosok wanita yang pendiam, dingin yang tidak banyak bicara. Diana, adalah salah satu temannya di kampus, orang yang juga berasal dari negara yang sama. Selalu menemani Kiara walaupun Kiara adalah sosok yang sangat sulit didekati bahkan seolah ia tidak mau berteman dengan siapapun. Tapi, Diana tetap kukuh mendekati Kiara hingga pada akhirnya Kiara pun mau berteman walaupun tetap menjadi pribadi yang tertutup. “Jika Jhonny tidak membuatmu tertarik, lalu pria seperti apa yang akan membuatmu tertarik, oh apa mungkin kau mencari pria yang super kaya, seperti CEO, ya seperti novel yang selalu kamu baca,” seru Diana. Diana jika bersama dengan Kiara, menjadi teman yang banyak bicara walaupun Kiara tidak menjawab atau membalas perkataan, namun Diana tetap senang karena Kiara pastinya mendengarkannya. “Jika ada pria seperti di novel ini, mungkin aku mau!” balas Kiara membuat Diana tersenyum. “Memancing mu bicara memang cukup sulit! Atau mungkin itu semua tergantung dari suasana hatimu?” Kiara memutar bola matanya,” Jhonny, dia bukannya sudah memiliki kekasih. Dia sering aku lihat bersama dengan wanita, aku tidak mau membuang waktuku dengan pria yang tidak bisa menghargai wanita.” “Ini bukan Indonesia, Kia. Pria di sini, memang sulit ditemui yang setia dengan satu wanita, tapi, Kia, kita bisa bersenang-senang saja, mereka tidak pelit soal uang, ayolah …” bujuk Diana yang memang sudah cukup menikmati budaya luar. “Jangan membujukku untuk masuk ke duniamu, Di! Atau kau jangan lagi dekati aku!” “Haish, baiklah. Kau memang paling bisa mengancamku,” kesal Diana yang lalu melihat Kiara bersiap untuk meninggalkan taman kampus. “ Kemana?” Kiara tidak menjawab pertanyaan Diana, ia hanya melambaikan tangannya, dan lalu pergi meninggalkan Diana yang terduduk di taman, yang lalu memilih pergi bergabung dengan teman lainnya. Kiara yang sudah bosan dan memilih untuk pergi ke sebuah cafe, membeli segelas coffee dan menenangkan pikirannya. Hal yang sering ia lakukan, jika ia merasa pusing dan butuh menenangkan dirinya, dengan hanya musik yang menemaninya. Cafe yang cukup damai dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata, tempat yang biasa ia tempati jika berkunjung di cafe itu. Tapi suasana damai itu menjadi riuh ketika seseorang datang ke cafe yang mengusik dirinya dan sedikit ingin tahu, siapa yang sudah membuat cafe dengan suasana damai menjadi riuh. Artis atau presiden? dua hal yang mungkin membuat cafe ini menjadi ramai pikir Kiara. Namun ternyata, itu adalah seorang CEO tampan, yang dikenal dengan memiliki banyak wanita, yang rela dijadikannya kekasih bahkan dengan rela dimanjakan tubuhnya oleh sang CEO. CEO tampan itu duduk tidak jauh dengan Kiara, terlihat menatap Kiara yang tidak peduli dengannya. “Tuan, apa anda ingin minum coffee di sini?” tanya seorang pelayan dengan sedikit menggoda berharap Tuan CEO itu tertarik padanya. Pria tetap diam dan yang memesankan coffee adalah teman wanita yang berada di sampingnya. Selaku asisten pribadi dari sang CEO. “Connie, bawa wanita itu ke sampingku!” serunya pada asisten pribadinya. Sang CEO yang tidak melepas pandangannya pada Kiara. Connie pun menatap Kiara dengan malas dan dengan angkuh ia lekas menghampiri Kiara. “Tuan Xavier memintamu bergabung dengannya!” ujar Connie dengan suara dinginnya. Kiara menatap Connie dan lalu menatap Tuan Xavier yang dimaksud oleh wanita yang menghampiri dirinya “Terimakasih, aku lebih suka sendiri,” tolak halus Kiara membuat Connie menatapnya heran. “Kau menolak ajakan Tuan Xavier?” herannya tak menyangka jika wanita yang diminta Xavier menemaninya menolak ajakan Tuannya, Kiara hanya mengangguk dan menatap Xavier dan lalu memperlihatkan telapak tangan kanannya, seolah hanya menyapa saja. Connie pun menghampiri tuannya lagi dan mengatakan penolakan dari Kiara. Tak disangka, hal itu membuat Xavier tertawa, karena ternyata ada wanita yang berani menolak dirinya. “Tuan, bukankah ada aku yang menemani, dia tidak cukup cantik, atau aku bisa carikan wanita lainnya,” ucap Connie pada Xavier. “Aku bosan denganmu, Connie. Dia, dia sangat unik, wanita yang berani menolakku!” “Apa, Tuan tertarik padanya?” tanya Connie yang merasa tidak senang. Xavier terus menatap Kiara dan mengabaikan Connie, hingga Kiara memutuskan untuk meninggalkan Cafe. Xavier semakin menyeringai, ia tertarik dengan wanita seperti Kiara yang sama sekali tidak tertarik padanya. Wanita mana yang tidak tertarik dengannya, meskipun tidak bisa memiliki Xavier seutuhnya, namun dengan bermalam dengan sang CEO, itu bisa membuatnya memiliki banyak uang. Bahkan mereka para wanita berharap bisa bersama sang CEO, mengantri untuk bisa bersama dengannya, dan jika mendapat undangan dari Xavier itu adalah nilai plus untuk mereka. Namun Kiara, ia menolak undangan tersebut, bahkan sama sekali tidak mau berbicara dengan Xavier. “Aku ingin kau mencari tahu tentangnya, Connie!” ujar Xavier. “Tapi, Tuan. Bukankah dia terlihat biasa, tidak terlihat sexy, seperti wanita lain yang biasa anda inginkan,” ucap Connie tidak terima karena ia selalu ingin Xavier selalu menjadi miliknya, selalu mencoba menjauhkan wanita yang berhasil mendekati Xavier. “Apa aku harus menjelaskannya padamu! Kerjakan saja apa yang aku perintahkan, dan malam ini, aku akan mencari wanitaku sendiri, kau tidak perlu ikut!” sungutnya pada Connie yang kesal karena mencampuri kehendaknya. Connie pun hanya bisa pasrah dan dengan kesal akan menuruti keinginan tuannya. Menjadi asisten pribadi Xavier bahkan terkadang menjadi wanitanya, itu sudah menjadi rencana yang berharap akan menjadi wanita satu-satunya yang dimiliki Xavier. Namun ternyata, Xavier adalah pria yang teliti dan sulit, karena meski ia suka bermalam dengan banyak wanita, tetapi ia selalu menjaganya agar tidak ada wanita yang akan mengandung anaknya. Xavier hanya perlu mereka, untuk melampiaskan nafsunya, dengan uang yang ia miliki, dan menikah dalam kehidupannya merasa itu adalah hal yang tidak diharuskan, karena baginya memiliki banyak wanita itu lebih baik daripada satu wanita dengan sebuah ikatan. “Wanita seperti apa dia? Dia membuatku penasaran … Atau dia hanya jual mahal? Ch, banyak wanita yang seperti itu bukan?” gumam Xavier.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD