BAB 3

1078 Words
Malam yang sepi dengan angin yang bertiup kencang membuat semua orang merasakan rasa dingin yang menusuk. Namun berbeda dengan Kiara yang seolah tidak peduli dengan rasa dingin dari angin yang berhembus ke arahnya. Kiara duduk di atas hamparan pasir, dengan suasana pantai yang sepi. “Aku sendiri …” Kiara bergumam dengan menatap langit yang gelap tampa adanya bintang, bahkan tidak ada seorang pun yang menemaninya, yang akan membuatnya merasa tenang. “Bintang pun enggan menemaniku disini,” serunya dengan helaan nafas yang panjang. Hingga tetes air hujan mulai membasahi wajahnya, Kiara pun menangis hingga terisak-isak, meluapkan segala rasa sakit hatinya yang sejak siang ia tahan. Hujan yang semakin deras membuat Kiara pun semakin terisak dengan tangisnya. Kiara benar-benar merasa bodoh, saat mengingat masa lalu dimana Daren dan Shera sangat dekat. Kiara hanya berpikir jika mereka dekat hanyalah sekedar teman dan kekasih yang menyayangi mereka. Hingga Kiara merasa senang, karena mereka bisa akrab. Tidak tahunya, mereka memiliki hubungan gelap di belakangnya. Kedua orang tua Kiara yang berada di rumah tampak khawatir dengan Kiara yang belum pulang ke rumah, saat hari sudah sangat larut bahkan dengan hujan deras yang mengguyur kota. Mereka berkali-kali menghubungi Kiara namun tidak kunjung diangkat olehnya. “Bagaimana ini, Pah. Kiara belum juga pulang. Mama sangat khawatir terjadi sesuatu dengan anak kita,” ucap Mama Kiara yang sangat khawatir anak semata wayangnya belum juga kembali pulang. Setelah mengalami hari yang paling berat untuknya. “Tenanglah, papah yakin, anak kita adalah anak yang kuat,” seru papah Kiara sambil merangkul istrinya. Papah Kiara yang mencoba untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya ia merasa sangat khawatir seperti istrinya. Tak lama, Kiara kembali dengan mobil yang ia kendarai, dengan keadaan basah kuyup, hal itu membuat Mama Kiara menangis dan lalu memeluk putrinya. Sedangkan papah Kiara lekas mengambil handuk dan menyelimuti putrinya yang tampak kedinginan. Namun, tepat saat Kiara masuk kedalam rumah, Kiara pun pingsan, dan kedua orang tuanya menjadi semakin khawatir, dan lalu membawa Kiara ke rumah sakit setelah mengganti semua pakaian putrinya yang basah. Di rumah sakit Kiara berbaring dan belum sadar diri, ditemani oleh mama dan papanya, yang tidak pergi meninggalkan putrinya. Hingga di pagi hari Kiara sudah bangun dan duduk di atas sofa sambil melihat ke arah jendela luar. Kiara hanya melamun dan mengabaikan sarapan yang sudah disiapkan kedua orang tuanya. “Kia, Sayang, jangan seperti ini, Nak!” seru Mamah Kiara. “Kia tidak apa-apa, Mah. Kia, hanya merasa bodoh, karena tidak menyadari hubungan mereka,” seru Kiara. “Tidak sayang, kamu tidak bodoh tapi mereka jahat padamu, jangan bersedih lagi, bukankah anak mamah kuat?” “Kia mau pergi, Mah. Kiara mau meneruskan kuliah Kia, boleh?” “Pergilah, lanjutkan kuliahmu, papah akan mendukungmu, jika itu membuatmu bahagia,” seru Papah Kia. Mamah Kia pun mengangguk setuju, jika tetap di negara ini Kiara akan selalu merasa sedih, karena melihat dua orang yang mengkhianatinya, maka pergi agar melupakan kenangan buruk Kiara. Kiara pun sudah mantap untuk pergi ke luar negeri, melanjutkan kuliahnya, dan juga untuk melupakan kenangan pahit tentang Daren dan Shera. Kiara berkemas dibantu oleh Mamahnya, setelah dua hari di rawat di rumah sakit. Shera datang menemui Kiara di rumah, namun oleh Papah Kiara tidak diizinkan untuk bertemu dengan Kiara. Akan tetapi Kiara yang mendengar jika Shera datang menemuinya dan lalu membiarkan Shera berbicara dengannya, tanpa ada mama dan papah Kiara. Kiara menatap Shera dengan masker di wajahnya, hingga hanya terlihat kedua mata Shera yang sembab, Kiara tebak jika Shera sudah cukup sering menangis. “Kau akan pergi?” tanya Shera dan Kiara pun mengangguk. “Baguslah,” seru Shera dan hal itu membuat Kiara mengerutkan keningnya. “Baguslah, dengan begitu, Daren tidak akan mengejarmu, kau sudah relakan Daren untukku bukan?” lanjut Shera. Kiara berdecak kesal dan memandang Shera dengan sengit, ”kau tenang saja, aku sudah sangat merelakannya untukmu!” “Karena aku mengandung anaknya, aku tidak mau anakku tidak memiliki seorang ayah, aku berharap cinta Daren akan hanya menjadi milikku setelah kepergianmu, aku, aku hanya harus bersabar,” ucap Shera. Kiara meneteskan air matanya, ia merasa kesal tapi juga merasa sedih, karena Shera seolah tidak memiliki rasa bersalah atas dirinya yang sudah disakiti. Bahkan disini, Kiara seolah yang salah karena berada di antara mereka. “Jika hanya itu kau bisa tenang, aku sama sekali tidak mengharapkannya kembali, jika Daren yang masih mengharapkanku, maka itu urusannya, aku sama sekali tidak peduli, Shera!” Shera tertunduk, kedua tangannya meremas rok yang ia pakai, seolah ia merasa sedih. Jika memang Daren masih menginginkan Kiara, tapi dirinya tidak mau menerima kenyataan tersebut. Shera merasa yakin, jika setelah Kiara pergi dan hubungan pernikahannya dengan Daren semakin lama cintanya akan tumbuh untuknya, dan Shera sangat bersyukur jika Kiara tidak akan ada diantara mereka. “Maafkan aku, tapi ku harap kamu juga mengerti bagaimana jika kamu berada di posisiku,” seru Shera. Kiara pun tersenyum tipis,” lalu apa kamu bisa mengerti, bagaimana berada di posisiku, bahkan perasaanku, yang sudah kalian khianati, menghancurkan pernikahan yang sudah aku siapkan sejak lama dengan perasaan bahagia?!” Shera terdiam, ia hanya bisa tertunduk lemas, membuat Kiara semakin geram dan memilih meninggalkan Shera yang tidak lagi berbicara padanya. Shera seolah tidak mau memikirkan masa lalunya dengan Kiara yang menjadi sahabat dekat. Kini yang Shera pikirkan adalah masa depan dirinya, dengan anaknya bersama Daren. Kiara yang merasa jika dirinya tidak akan bisa menahan amarahnya lagi setelah melihat Shera yang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Kiara pun pergi meninggalkan Shera di ruang tamu pergi ke dalam kamarnya. Apa sahabatnya yang sudah ia kenal sejak kecil memang licik? Apa Shera memang tidak pernah peduli dengan dirinya dan hanya dirinya lah yang selalu peduli dengan Shera? Kiara semakin mengingat-ngingat masa lalunya, saat berteman dengan Shera, jika memang dirinya lah yang selalu mengalah untuknya. Kini, soal pria pun ia harus mengalah dengan terpaksa, karena hubungan gelap mereka hingga Shera harus hamil anak dari Daren, pria yang ia cintai. Jika Daren mengkhianatinya bukan dengan Shera, mungkin ia tidak akan sesakit ini, tapi kenyataannya kedua orang yang ia sayangi lah yang telah mengkhianatinya, maka bisakah ia bersikap normal dalam waktu dekat? Disaat Shera ingin ia bisa memahaminya. Egois! Pikir Kiara, Shera yang sangat egois hingga rasa bersalah Shera seolah tidak tulus pada dirinya bahkan kata maaf yang terucap dari mulut Shera yang mungkin hanya sebuah ucapan tak berarti. Shera pergi dari kediaman Kiara, menggunakan mobilnya, dan Kiara hanya menatap kepergian Shera di dalam kamarnya. “Kau egois, Shera!” geram Kiara dengan tangan yang memegangi dadanya yang terasa sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD