BAB 9

1091 Words
“Kiara, kau dipanggil ke ruangan rektor!” seru seseorang yang tiba-tiba memasuki kelasnya. Kiara dan Diana yang sedang bercengkrama pun sontak terkejut, namun tidak membuat Kiara pun takut tapi sebaliknya dengan Diana yang khawatir jika kuliah Kiara akan sia-sia karena menolak pria berkuasa tersebut. “Kau akan menemuinya?” tanya Diana menatap Kiara dengan khawatir. “Lalu, apa aku bisa kabur dan membuat semua masalah ini selesai?” “Kurasa tidak, baiklah aku akan menemanimu,” seru Diana berjalan di samping Kiara, yang dilihat banyak orang. Mereka yang memiliki pikiran yang sama seperti Diana, jika mungkin Kiara bisa saja dikeluarkan dari kampus bahkan mungkin tidak bisa lagi berkuliah di negara itu. Mereka pun terlihat jengkel melihat Kiara dengan sikap yang tenang, berpikir jika Kiara adalah wanita yang hebat bisa menaklukan Xavier hingga berani menentangnya. “Lihat, dia tidak ada rasa takut, ch apa karena dia bukan berasal dari negara ini?!” “Mungkin saja, atau karena dia memang tidak tertarik pada Tuan Xavier?” “Mana mungkin, jika ada wanita itu memang bodoh, bisa mengabaikan pria tampan dan kaya,” sangkal salah satu dari mereka. Mereka pun lalu tertawa tanpa memperdulikan nasib Kiara yang kini mungkin sudah berakhir, karena berani menolak sang playboy tersebut. Pria yang suka mempermainkan wanita, hanya untuk kesenangannya, namun malah disukai karena menurut sebagian dari wanita, wajar saja jika Tuan Xavier dengan memiliki banyak uang itu bisa memiliki banyak wanita. Kiara sudah sampai di depan ruangan Rektor, dia hanya bisa masuk seorang diri tanpa ditemani lagi dengan Diana. Namun, Diana akan setia menunggunya di depan ruangan, berharap tidak ada hal buruk terjadi pada temannya tersebut. “Aku kira, Tuan Xavier hanya akan bicara ada dekan kampus, tidak tahunya, Rektor. Ku harap kau benar-benar aman, Kia. Jangan sampai kuliahmu menjadi sia-sia, jika itu aku mungkin biarkan saja, toh aku saja tidak fokus untuk belajar sepertimu,” gumam Diana yang sangat mengkhawatirkan Kiara. Kiara masuk ke ruangan Rektor yang langsung disambut dan dipersilahkan duduk, tanpa menolak Kiara pun duduk di seberang Tuan Xavier yang pada awalnya menyangka akan duduk di sampingnya. Hal itu membuat pria tampan itu tersenyum namun juga dengan ekspresi kesalnya menatap Kiara yang menatap dirinya dengan ekspresi datar. Kau benar-benar menarik, Kiara. Kita lihat, sampai mana kau akan bertahan? “Kiara, kamu sudah mengenal Tuan Xavier bukan?” tanya sang Rektor pada Kiara. “Aku, tidak pernah mengenalnya,” jawab Kiara lantang, tanpa rasa takut. Mendengar perkataan Kiara, Rektor pun terkejut, ia takut jika Kiara akan menyinggung Tuan Xavier. Tapi rupanya, Tuan Xavier malah tersenyum bahkan mengulurkan tangannya ke hadapan Kiara. “Itu benar, kami memang belum saling mengenal, bertemu mungkin iya. Kiara, aku Xavier,” ucap Tuan Xavier memperkenalkan diri. Kiara pun mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Tuan Xavier, dan lalu melepasnya, walau pada awalnya Tuan Xavier menahan tangan Kiara, namun melihat tatapan tajam Kiara membuat Xavier pun melepasnya. “Kiara,” jawab Kiara sedikit kesal dengan Tuan. Xavier. Melihat Tuan Xavier bersikap santai pada Kiara, kini sang Rektor paham jika Tuan Xavier tertarik pada Kiara, hal yang sangat jarang terjadi, Tuan Xabier yang tertarik dengan anak kampus. Rektor itu berharap dalam hatinya, agar Tuan Xavier tidak akan mengganggu kuliah Kiara, karena ia mendengar jika Kiara mulai nyusun skripsinya, mungkin sudah hingga beberapa bulan lagi mungkin Kiara akan segera mendapatkan gelar sarjana. “Begini, Kiara. Tuan Xavier ingin kamu bekerja dengannya,” jelas sang Rektor membuat Kiara tersenyum. “Terima kasih atas tawarannya, namun saya menolak, karena saya sedang sibuk menyusun skripsi dan akan segera kembali negeraku, setelah semuanya selesai,” tolak Kiara dan sedikit menjelaskan rencananya ke depan yang berharap jika hidupnya tidak akan diganggu lagi oleh pria yang tidak pernah menghormati wanita. “Kia, apa kamu tidak memikirkannya lebih dulu, bekerja di perusahaan Tuan Xavier adalah hal yang besar,” ucap sang Rektro karena Kiara tanpa berpikir panjang menolak tawaran yang bagus seperti itu. Sedangkan Xavier, ia hanya menatap Kiara, ia sudah memprediksi hal itu, Kiara yang akan menolak ajakannya. Namun tentu Xavier tidak akan menyerah begitu saja. “Berapa gaji yang kamu inginkan, aku akan berikan!?” tanya Tuan Xavier. Kiara menatap Tuan Xavier, “ berapapun itu, aku tetap menolak, Tuan. Aku datang ke negara ini hanya untuk kuliah, bukan untuk bekerja. Setelah kuliahku selesai, aku akan segera kembali ke negaraku, kedua orang tuaku sudah menginginkan aku untuk segera kembali. Jadi, aku harap anda tidak lagi mencariku, entah itu dalam urusan pekerjaan atau yang lain.” Kiara mengatakan hal itu dengan tujuan agar Xavier tidak lagi mencari tahunya atau bahkan menginginkannya. Kiara pun bertindak seolah dia bukan wanita yang mudah dirayu oleh harta. Tuan Xavier pun mendengar penuturan Kiara membuatnya semakin semangat mengejarnya, wanita yang memiliki prinsip, dan terlihat jika Kiara memiliki harga diri yang tidak mudah diruntuhkan dengan semua penawaran darinya. Tuan Xavier berpikir jika Kiara mengambil tawaran darinya, maka Kiara akan sama saja seperti wanita yang lain, maka ketertarikan Tuan Xavier semakin bertambah dengan melihat sendiri bagaimana sikap Kiara. Bukan karena cinta, tapi karena ia ingin bisa menaklukan wanita seperti Kiara, yang sangat sulit didapatkan. Aku tidak mungkin memiliki rasa cinta yang bodoh itu. Kiara, aku pastikan mendapatkanmu, sebagai salah satu wanita spesialku. “Kau sungguh menarik, Nona. Apa kau tidak mau mencari pengalaman di perusahaan besarku?” “Pengalaman, pengalaman apa maksud anda, Tuan? Rencana licikmu, tergambar jelas di wajahmu. Tuan Xavier, aku bukan seperti para wanitamu, yang rela ngangkang hanya demi sedikit hartamu itu, aku lebih baik jatuh miskin atau bahkan mati, daripada diperdaya oleh pria seperti anda!” “Kia .. Kiara ..” Rektor merasa takut dan khawatir karena Kiara sangat berani mengatakan hal tersebut pada Tuan Xavier. Khawatir jika Tuan Xavier mungkin saja akan sangat marah, hingga tanpa berbasa-basi lagi akan langsung mengeluarkan Kiara dari kampus. Sedangkan Xavier, ia menarik sudut bibirnya, menatap Kiara yang semakin menarik, berani menolak bahkan berani menantang dirinya. “Jadi, apa kau wanita terhormat? Maka aku akan jatuh cinta padamu?” “Jangan bercanda, Tuan! Bukankah kau tidak percaya cinta? Bahkan jika itu benar, aku tidak mau memiliki pria atau kekasih yang suka mempermainkan wanita, aku benci pria seperti itu!” “Maka, aku akan membuat rasa bencimu itu menjadi sebuah rasa cinta yang tak terbatas untukku!” Kiara dan Xavier seolah saling menantang jika salah satu dari mereka yang akan memenangkannya. Rektor kampus itu pun menjadi bingung dengan percakapan kedua orang itu, bahkan ia merasa jika dirinya seharusnya tidak ada di sana. Namun jika Xavier benar mencintai Kiara, maka itu akan menjadi sejarah baru, yang menggemparkan para wanita di sekitarnya. Yang mungkin, akan merasa marah akan keberadaan Kiara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD