Sebuah Jarak

1158 Words
Adnan dan Nayla tertawa bersama ketika mengingat kejadian tadi dengan petugas kasir yang sama-sama dinilai mereka genit. Tadi hampir saja terjadi keributan antara kedua wanita itu kalau saja Adnan tidak segera menenangkan Nayla dengan menggenggam tangannya. “Jujur aja gue enggak suka lihat wanita genit sama cowok secara terang-terangan karena sebagai wanita gue ngerasa malu banget,” ucap Nayla ketika mereka sedang mengobrol sambil makan. “Ya jaman sekarang memang begitu Nay, banyak wanita yang dengan terang-terangan berani menggoda pria seperti itu tapi yang kamu lihat tadi baru seperkian dari hal lain yang dianggap ringan.” “Maksud lo?” tanya Nayla yang tidak mengerti ucapan Adnan. “Jadi begini, maaf ya jika ini menyinggung kamu tapi aku sungguh tidak ingin menjatuhkan siapa pun termasuk kamu sebagai kamu hawa,” kata Adnan yang meminta maaf sebelum menjawab pertanyaan Nayla barusan. “Ini hanya sebatas pandanganku saja, Nay.” “Iya enggak apa-apa, santai aja.” “Jadi apa yang kamu lihat tadi itu masih dalam tahap ringan dalam artian hanya melemparkan kata-kata untuk menggoda tapi jika misalnya aku sampai meladeninya maka akan ada hal lain yang akan dia lakukan untuk membuatku takhluk kepadanya seperti mengumbar aurat berlebih dan akan semakin parah mendorong kepada perbuatan zina,” jelas Adnan. “Ooo i See...” “Makanya dalam islam dijelaskan jika seorang wanita diharuskan mengenakan pakaian tertutup agar tidak menimbulkan atau menarik hawa napsu dari kaum adam yang mudah tergoda,” tambah Adnan yang membuat Nayla memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Nayla merasa malu karena dirinya tak seperti wanita lain yang berpakaian tertutup apalagi menggunakan hijab. “Sekali lagi aku minta maaf ya jika sampai menyinggung,” kata Adnan yang sempat memperhatikan Nayla yang sedang memperhatikan dirinya. Pria itu tidak ingin jika sampai kata-katanya malah menyinggung Nayla dan membuat hubungan mereka merenggang. “Enggak apa-apa kok bener deh tapi apa yang lo bilang udah bener kok tapi mungkin gue belum siap sampai ke tahap itu dalam berpakaian,” jawab Nayla sambil tersenyum. “Alhamdulillah tapi dengan kamu menyadarinya dan sampai berniat ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya itu sudah cukup kok dalam artian jika sampai ada berubah akan menjadi nilai plus dari saat ini, bertahap aja enggak apa-apa,” kata Adnan yang seolah terdengar sangat menyejukkan hati Nayla, tidak menghakimi ataupun menuntutnya berubah dalam sekejap. “Tapi Nay, kalau boleh tahu apa selama ini kamu sudah sering tinggal sendiri? Maksud aku ke mana orang tua kamu?” lanjut Adnan yang begitu penasaran karena sejak awal pria itu melangkahkan kaki tidak sekalipun melihat kedua orang tua Nayla. “Nyokap gue udah meninggal lima tahun yang lalu,” jawab Nayla dengn pandangannya yang berfokus pada makanan yang ada di hadapannya. “Maafkan aku ya Nay karena sudah lancang mengorek luka lama kamu dan aku turut berduka cita,” kata Adnan sambil menunjukkan raut wajahnya yang penuh penyesalan. “Sebelumnya makasih tapi enggak apa-apa kok kan lo cuma pengen tahu tentang keluarga gue karena wajar aja saat lo datang ke rumah orang tua gue enggak ada di sana beda sama di rumah lo, Nan,” kata Nayla yang sama sekali tidak keberatan malah ia memaklumi ketidaktahuan Adnan. “Terus Papa kamu ke mana, Nay?” tanya Adnan dengan rasa penasaran yang belum tuntas. “Bokap gue ada kok, beberapa hari yang lalu sempet ketemu tapi memang kita beda rumah karena sekarang dia udah bahagia sama keluarga barunya.” “Maksud kamu, beliau menikah lagi?” Nayla menganggukkan kepalanya dengan raut wajahnya menunjukkan kesedihan. “Terus kamu sendiri apa sudah bahagia dengan kehidupan kamu sekarang, Nay?” tanya Adnan yang seakan mengetahui kalau sebenarnya Nayla ingin menyampaikan sesuatu tapi hanya ia pendam dan disembunyikan saja. Nayla menoleh ke arah Adnan lalu menggedikkan bahunya. “Entahlah gue sendiri bingung, apa masih bisa gue merasakan bahagia setelah semua yang terjadi?” “Pasti kok Nay, lagian bersama datangnya kesedihan selalu ada bahagia karena mereka datang berdampingan,” kata Adnan menyemangati Nayla. Nayla pun tersenyum dan berharap kalau suatu hari ia juga akan merasakan kebahagian yang selama ini dicarinya. Selesai makan malam keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah tapi dipertengahan jalan Adnan mendapatkan telepon dari kantor tempat bekerja untuk pergi ke luar kota malam ini. Ini bukan acara mendadak dan Adnan tahu itu tapi ini hanya acara yang belum dipastikan saja. Nayla sendiri merasa sangat bersalah kepada Adnan karena sudah mengajaknya pergi sore ini. Wanita itu benar-benar tidak tahu mengenai mengenai rencana kepergian Adnan. “Kenapa tadi lo enggak bilang sih kalau lagi nunggu kabar dari kantor? Kan gue jadi enggak harus minta temenin lo belanja bulanan,” tanya Nayla yang berdiri di ambang pintu kamar Adnan. Adnan yang sedang mengecek kembali barang bawaannya tersebut menoleh ke arah Nayla sambil tersenyum. “Aku pikir tadi enggak jadi tapi kamu tenang aja sebelum pergi aku udah siapin semuanya kok.” “Tapi kan tetep aja lo yang harusnya istirahat malah jadi pergi sama gue, kan?” “Sini Nay, masuk dulu,” ajak Adnan yang yang sudah bangkit dan meraih tangan Nayla untuk mengajaknya duduk di tepi ranjang bersama. Nayla hanya bisa menurut mengikuti perintah Adnan. “Sebenarnya aku merasa senang sekali karena bisa pergi sama kamu dan menghabiskan waktu dengan belanja serta makan malam bersama,” seru Adnan yang entah kenapa menimbulkan rona merah di pipinya. “Apaan sih lo?....” Nayla tanpa sadar memukul tubuh Adnan yang seakan menunjukkan tidak adanya lagi tembok tinggi di antara mereka. “Lagian gue bukan public figure yang seharusnya buat lo senang apalagi bangga karena bisa menghabiskan waktu bersama.” “Tapi ucapan aku tadi serius loh. Walau kamu bukan public figure tapi aku benar-benar senang karena akhirnya kita bisa mengobrol banyak hal termasuk mengetahui sedikit tentang kehidupan kamu,” jelas Adnan yang memang merasa sangat senang sekali dan hal itu terpancar jelas di kedua mata Adnan yang berbinar. “Kalau gitu, kita harus sering habiskan waktu berdua biar lo selalu senang ya,” seru Nayla asal karena ia merasa tersentuh dengan ucapan Adnan tadi. Setidaknya ia merasa hidupnya bisa berguna untuk orang lain saat ini. Sejak kepergian mendiang mamanya, Nayla merasa kalau hidupnya tidaklah berguna dan hal itu pun telah terbukti ketika tanpa sengaja papanya mengatakan hal yang selama ini menusuk relung hati terdalamnya. “Kepergian Mama itu terjadi karena kau yang tidak berguna menjaga Mama, Nayla! Seharusnya kau tidak meninggalkan Mama begitu saja di sana, kalau kau lebih berhati-hati pasti sampai saat ini Mama masih bersama kita.” Ucapan Ferdi terdengar sangat menusuk Nayla yang baru saja merasakan kehilangan ditinggal oleh orang yang paling ia sayangi. Nayla sadar kalau kepergian Mamanya bukanlah sebuah kecelakaan melainkan kelalaian dirinya. Nayla semakin merasa kalau dirinya adalah seorang pembunuh ketika berkali-kali mengingat kejadian itu, apalagi setelah diperkuat dengan ucapan papanya. Itulah permulaan awal yang membuat Nayla dan papanya tidak pernah bisa akur seperti dulu. Selain itu masalah lain mulai berdatangan hingga tanpa sadar Nayla membangun tembok yang semakin tinggi dan tebal yang membuat jarak dirinya dan sang papa semakin jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD