Hari selanjutnya.
"Maaf, sudah merepotkan." Mama Anna sangat menyesal dengan semua yang terjadi. Dia tidak tau kalau semuanya akan seperti ini, dan itu adalah salahnya.
Leo menggelengkan kepala. "Tidak masalah, Nyonya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Jawabnya. Dia berkata seolah semua yang terjadi tidak banyak berpengaruh terhadapnya, dia berlaku seolah semua baik-baik saja.
Mama Anna menghela nafas panjang. "Tapi itu sangat keterlaluan." Dia tidak tau lagi harus meminta maaf dengan cara apa. Menahan pria itu dan tidak membiarkan pergi? Shivani benar benar membuatnya malu.
"Bukan masalah besar. Tidak perlu di pikirkan." Leo melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Saat yang tepat untuknya pulang. "Kalau begitu, saya permisi!" Leo melepaskan kaitan kancing di lengannya, kemudian dia melipat lengan kemejanya nyaris siku. Setelahnya dia melangkah pergi dan masuk ke mobilnya.
"Hati-hati." Mama Anna mengantar sampai beranda.
Leo menganggukkan kepala.
Dia duduk di balik kemudi dengan pikiran kacau.
Sesaat dia tidak tau harus bagaimana mengatasinya.
Dia tidak tau kalau semuanya akan serumit ini.
Cinta?
Apa itu cinta?
Kenapa semua orang begitu terobsesi dengan kata "lak-nat" yang bahkan tidak pernah sekalipun hinggap di otaknya?
Menurutnya cinta hanya omong kosong. Sebuah pembodohan yang seringkali membuat orang lupa pada dunia, membuat orang lupa dengan alasan kenapa manusia di ciptakan, membuat orang lupa kalau hidup juga harus di sesuaikan dengan realita yang ada.
Banyak kasus bunuh diri karena putus cinta, bercerai atau melihat pasangannya berkhianat. Itulah alasan terbesarnya menolak sesuatu yang sedari awal memang tidak masuk draft di dalam kepalanya. Dan sebagai gantinya, dia lebih memilih untuk memikirkan rencana lain yang jauh lebih menguntungkan.
"Fiuh." Leo menghela nafas panjang. Dia mengambil sebungkus rokok dari saku celananya, dia mengambil sebatang kemudian menyulutnya.
Dia cukup tertekan setelah semua yang terjadi. Dan membayangkannya membuat dirinya kesal.
Shivani.. bit-ch kecil itu, berani beraninya mempermainkan dirinya seperti ini?
Dia menoleh ke arah dimana kamar tidur Shivani berada, baru setelahnya dia menghidupkan mobil lalu meninggalkan kediaman Shivani secepat yang dia bisa.
--------•
--•
Mentari menyebar sinar dari langit timur. Sinarnya merambat di udara membelai permukaan kulit. Ketika angin bertiup, dedaunan ikut terbawa arusnya.
Leo menghentikan mobilnya begitu tiba di halaman kediaman utama keluarga Pahlevi. Entah karena alasan apa dia tidak kembali ke kediamannya, dia justru datang ke kediaman utama yang dia sendiri juga tidak tau akan melakukan apa di rumah orang tuannya.
Tapi entahlah. Karena sudah terlanjur berada di sini, tidak mungkin dia tidak turun.
Leo membuka pintu mobil dan segera turun. Dia membuang puntung rokok lalu menginjaknya. Gayanya sangat arogan dan sok berkuasa. Seperti tuan muda pada umumnya, dia memang tidak jauh berbeda. Biasanya saat berada di kediaman utama, sifat lamanya muncul kembali. Namun kali ini situasinya sedikit berbeda. Dia tidak searogan biasanya, dia justru seperti kucing kecil yang di telantarkan sang pemilik.
Sangat menyedihkan.
"Kamu datang?" Mama Iriana segera keluar melalui pintu masuk utama kediaman Pahlevi setelah melihat Putra tersayangnya turun dari mobil. Sangat jarang Leo kembali ke rumah utama setelah Leo memiliki rumah sendiri, jadi kedatangan Leo kali ini jelas membuatnya senang.
Leo mengangguk pelan. "Iya." Dia tidak memiliki semangat untuk menyambut hari. Shivani seolah mematahkan semua kepercayaan dirinya. Dia yang sekarang tampak lemah, tidak berdaya dan dia merasa hidupnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Dia merasa sudah menyimpang terlalu banyak dari jalan yang seharusnya dia tempuh. Itu juga yang terasa janggal dari dirinya, itu pula yang terasa aneh dalam hidupnya.
Meski keluarga Pahlevi tidak pernah mengatur hidupnya, tidak melarang dirinya untuk tidak menikah, tidak memintanya untuk menikah, tidak menentang setiap otoritasnya, juga tidak melewati garis tepi yang sudah dia ciptakan di awal, terlepas dari apapun yang terjadi ke depannya, dia sudah bertekad untuk menjalani hari harinya seperti ini.
Tanpa cinta tanpa pernikahan.
Dia juga sudah mengatakan perihal ini kepada Mama, Papa dan Adik perempuannya, mereka tidak melarang, mereka justru mendukung apapun keputusannya. Dan inilah hidup yang dia inginkan sejak dia memutuskan untuk mendirikan dan membesarkan Pahlevi Intinusaflora yang dia anggap seperti anaknya sendiri. Dia membuang jauh-jauh pikiran seperti cinta dan pernikahan karena dia tidak menginginkan kerumitan.
"Apa kamu sedang tidak sehat?" Mama Iriana menyentuh wajah Leo. "Kamu tampak pucat." Imbuhnya dengan nada khawatir. Dia tidak menyangka akan ada hari dimana putranya yang biasanya sempurna tanpa cela menjadi tampak menyedihkan.
"Aku baik." Leo menjawab cepat. "Aku hanya lelah." Sangat lelah. Secara fisik dan psikis. Penyebabnya tidak perlu di tanya lagi. Bit-ch itu.. adalah faktor utama dia menjadi tidak berdaya seperti ini.
"Apa sesuatu terjadi di kantor? Atau kamu membutuhkan sesuatu? Apa perlu aku membantumu?" Seorang Ibu tidak mungkin tidak khawatir saat melihat Putranya yang biasanya hebat terlihat frustasi dengan lingkar hitam di bawah matanya. Menandakan kalau Leo tidak sedang baik-baik saja. Sesuatu pasti terjadi, dan dia akan merasa buruk kalau dia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun untuk membantu.
"Tidak ada. Kamu tidak perlu khawatir." Leo senang di perhatikan. Namun perhatian yang melebihi takaran juga tidak bagus. Dan itu bukan membuat dirinya senang dan tersentuh, itu justru membuat dirinya tidak nyaman dan.. benci.
"Benarkah?" Mama Iriana tidak tau apa yang terjadi. Dan yang bisa dia lakukan hanya menebak, menerka dan sok tau berdasarkan apa yang dia lihat dari ekspresi dan raut wajah Leo. Dia tidak bisa mencari tau karena Leo sangat tertutup dan susah di dekati, membuat dirinya sulit mengetahui isi hati pria itu. "Lantas, apa yang sedang kamu pikirkan?" Semakin menelisik, justru terasa semakin suram tanpa jawaban. Leo seperti sesuatu yang kalau di cari tau kebenarannya, akan semakin rapat menutupinya.
Keputusan aneh untuk tidak menikah, baik dirinya, suaminya atau Dilara tidak ada yang melarang. Mereka mendukungnya tanpa syarat dan membuat semuanya mudah dengan tidak menentangnya. Mereka mendukung apapun keputusan Leo meski dalam hati mereka menyayangkan.
Pria setampan Leo tidak menikah?
Ah.. betapa banyak gadis akan merana dan menjadi korban cinta kalau Leo benar benar tidak bisa menempuh jalur sakral yang sebenarnya adalah yang mereka harapkan sebagai orang tua. Mendapat cucu dari anak perempuan sebenarnya tidak buruk, hanya saja.. tetap terasa kurang kalau mereka tidak mendapatkan cucu dari anak laki-lakinya. Namun, apa boleh di kata?
Anak laki-laki satu-satunya yang menjadi harapan besar untuknya dan suaminya justru tidak memiliki niat untuk menikah walau jelas-jelas Leo adalah normal, bukan seorang gay seperti yang menjadi rumor di luar sana.
Leo menatap lekat Mama Iriana. "Aku hanya lelah. Aku tidak tidur semalaman." Karena Shivani. Gadis itu memaksanya untuk tinggal dan tidak membiarkan dirinya pergi. Dirinya di peluk erat dalam siksaan berat menahan hasrat.
Saat fajar menyingsing, baru Shivani melepaskan dirinya. Dan itupun dia sudah pucat pasi karena b*******h selama berjam-jam tanpa tidak bisa menyalurkannya.
Dan itu adalah siksaan terberat dalam hidupnya. Namun Shivani tidak pernah mengetahui karena gadis itu tetap tidur nyenyak dalam kenyamanan tanpa peduli tentang penderitaannya.
Jangankan memeluk, bahkan saat melihat Shivani diam tidak bergerak saja membuat dirinya menginginkan setengah mati. Apa lagi, tadi malam Shivani sangat menjengkelkan karena terus menghimpit tubuhnya. Sejujurnya dia ingin melakukan sesuatu, tapi dia tidak bisa karena Mama Anna mengawasi di setiap detiknya. Jadi, bisa di bayangkan betapa menyedihkan dan tersiksa dirinya yang tidak bisa melakukan apapun saat dia sedang di landa hasrat yang luar biasa?
Memilukan.
Mengenaskan, miris dan..
Tragis.
"Kenapa kamu tidak tidur? Kamu perlu istirahat yang cukup untuk menjaga wajah tampanmu agar tidak kusam, bukan? Wajahmu adalah aset paling berharga yang harus kamu jaga dengan serius." Mama Iriana tidak tau alasan kenapa putranya tidak tidur. Tapi.. "Tunggu, tunggu, tunggu!" Mama Iriana memasang penciuman super tajam saat merasakan suatu keanehan terselubung seperti sedang di sembunyikan. Menyadari ada bau lain pada kemeja Leo, dia mengerutkan kening. Ini merupakan parfum yang biasanya di kenakan oleh seorang gadis, bukan?
Apa mungkin Leo baru saja menghabiskan malam yang panjang dan menggairahkan bersama seorang gadis sampai Leo tidak tidur karena terus menerus melakukannya?
Bercin-ta sampai puas?
Bercin-ta sampai pagi?
Mama Iriana memutar bola matanya. Benarkah?
"Berhenti mengendus dan menatapku seperti itu! Kamu itu bukan anji-ng!" Leo memelototi Mama Iriana yang tampak menaruh sedikit kecurigaan terhadapnya. Dia hanya berharap semoga Mama tidak tau dan tidak mencurigai dirinya atau dia akan di ejek setengah mati karena ketahuan ada bau lain selain bau parfumnya.
Mama Iriana menyipitkan mata. "Sejak kapan kamu mengganti parfum?" Leo ini benar benar mencurigakan dan itu membuatnya semakin ingin tau. Terlebih, dia tidak mungkin salah mengenali parfum yang sebelumnya pernah dia pakai. Jadi, sudah pasti itu adalah parfum seorang gadis.
"Apa maksudmu?" Leo menjauhkan sedikit badannya dari Mama. "Aku menghadiri pesta yang di adakan oleh temanku di club malam milik Kristian. Ada pria dan wanita, kami berkumpul dan berbaur, jadi sangat wajar kalau ada bau lain di kemejaku." Dia gigih berkilah. Lagi pula, apa urusannya Mama dengan hal ini? Mama hanya akan menghancurkan segalanya kalau Mama benar benar mengetahui kenyataan bahwa ada seseorang yang tampaknya menjadi sangat istimewa di dalam hatinya.
"Tapi kamu tidak mengganti pakaianmu sejak semalam? Atau kamu menginap di suatu tempat dan langsung pulang ke sini?" Mama bersikeras dengan opininya. Lagi pula, insting seorang Ibu tidak akan pernah salah. Leo tidur dengan seorang gadis dan dia yakin akan hal itu.
"Dari club malam aku langsung ke sini. Aku mengantar seorang teman lebih dulu. Puas?" Leo mulai menunjukkan kekesalannya. "Apa kamu masih menginginkan penjelasan lain? Atau kamu sengaja membiarkanku berdiri di sini sampai kakiku kram? Atau kamu tidak senang melihat aku datang? Atau kamu benar benar senang menyiksa orang?" Leo membalikan situasi dalam hitungan detik. Mama bersikeras menyudutkan dirinya? Jangan harap akan berhasil.
"Astaga!" Mama Iriana menepuk dahi. "Maaf, aku lupa. Ayo kita masuk dan sapa Papamu!" Ucapnya sembari menyeret Leo untuk masuk ke dalam rumah. Dalam hati dia mengeluh, putranya ini selalu pandai mengubah topik pembicaraan.
------•
--•
Serambi samping.
"Kamu tampak tidak baik?" Papa Andrew meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Satu untuk dirinya dan satu untuk Leo.
Leo datang begitu pagi dengan wajah kusut. Sebagai seorang Ayah, Papa Andrew tidak mungkin tidak menangkap keanehan yang terjadi. Putranya ini menanggung tanggung jawab yang cukup besar di dalam perusahaan. Dan dia tau semua itu adalah beban berat dan sangat menyulitkan.
Terlebih, ada begitu banyak pegawai yang menggantungkan hidup di perusahaan itu, dan dia merasa kalau Leo sudah sangat terbebani sampai akhirnya Leo tiba pada titik dimana Leo merasa jenuh, tertekan atau mungkin ingin berhenti.
"Aku hanya lelah, kurang tidur. Semalam temanku mengadakan pesta." Jawaban Leo cukup masuk akal. Alasan itu pula yang dia gunakan untuk memanipulasi Mama Iriana.
"Mm? Pesta?" Papa Andrew berpikir sebentar. "Apakah itu bersama Julian?" Dia ingat kalau Julian berkata akan pergi ke Club malam milik Oka sebelum melanjutkan perjalanannya ke Bali untuk bekerja.
-Julian & Oka ada di YOUNG MARRIAGE-
"Eh?" Leo memutar bola matanya. "Julian?" Sekarang Leo menjadi linglung. Kenapa ada nama Julian di sini? Kenapa dia tidak tau apapun?
"Iya, anak itu mampir sebentar ke sini, katanya mau pergi ke club malam milik Oka sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali, mengurus pekerjaan." Papa Andrew menjelaskan sesuai yang Julian katakan kepadanya. "Tapi, bagaimana bisa kamu tidak mengetahui hal itu?" Papa Andrew menyipitkan mata saat melihat gelagat mencurigakan yang Leo tunjukkan.
Leo tidak tau apapun?
Papa Andrew menggelengkan kepala. Mustahil. Tidak mungkin Leo tidak tau, kan? Selain Leo dan Julian adalah saudara, dia juga tau kalau Leo, Julian, Oka dan Kristian adalah teman dekat, partner bisnis atau apapun itu.
"Oh, begitu." Raut terkejut Leo berubah seperti semula dalam hitungan detik. "Aku menghadiri pesta seorang teman yang di adakan di club malam Kristian, bukan di club malam milik Oka." Leo menjelaskan lebih spesifik dari sebelumnya karena dia tidak mau membuat Papa mencurigainya.
"Baiklah, cukup make sense." Papa Andrew meraih cangkir kopinya, lalu dia menyesap sedikit isinya.
Leo menaikkan sebelah alisnya. "Apanya yang make sense?"
"Penjelasan mu." Papa Andrew mengangkat bahu. "Memangnya apa lagi?"
"Aku hanya bertanya." Leo menjawab santai. Kemudian dia mengalihkan pandang ke taman kecil di samping rumah. Taman kecil itu di tata apik sedemikian rupa. Bunga mawar beraneka warna yang di kelompokkan berdasarkan jenisnya juga tumbuh subur dan sedap di pandang mata.
Taman kecil di serambi samping merupakan ide brilian dari Mama. Yang merawat juga bukan tukang kebun, melainkan Mama sendiri. Mulai dari design, pilihan material batu batuan, bunga, lampu taman, dan semuanya adalah Mama yang memikirkan dan Mama pula yang mewujudkan.
Bagaimanapun, banyak hal terjadi di masa lalu.
Adik kandung Mama bunuh diri, Mama depresi, Dilara hamil, Sabina dan Angga juga meninggal dalam jarak yang cukup dekat.
-Kisah Adik kandung Mama Iriana yang bunuh diri, Mama Iriana depresi, Dilara hamil, Sabina dan Angga meninggal, terangkum dalam judul YOUNG MARRIAGE-
Pada saat itu, keluarganya kacau dan sangat berantakan. Dia juga sama tertekannya.
Namun, badai sudah berlalu.
Sekarang keluarganya bisa seperti ini, bisa kembali seperti semula adalah sebuah keajaiban dari Tuhan. Dan dia tidak akan pernah melupakan kebaikan Tuhan yang sudah memperbaiki segalanya.
------•
--•
Pahlevi Intinusaflora.
Siang hari.
"Bagaimana?" Leo bertanya setelah melihat Aksa masuk ke dalam ruang kerjanya dengan membawa sebuah map yang tentunya berisi berkas yang dia minta dari pihak HRD.
"Belum ada yang cocok." Aksa meletakkan map yang di bawanya di atas meja di hadapan Leo. "Cukup sulit mencari seseorang dengan kualifikasi tinggi seperti yang kamu mau. Selain standarmu dalam memilih Sekretaris cukup berat, kami juga perlu mempertimbangkan dengan hati hati." Pihak HRD juga tidak ingin salah memilih karena ini menyangkut tanggung jawab yang besar.
Sekretaris pribadi Presdir Pahlevi Intinusaflora bukanlah pekerjaan mudah seperti yang para pelamar gagal itu bayangkan. Leo memang tampan. Pesona dan auranya juga tidak perlu di pertanyakan lagi. Namun, cara mereka melamar kerja sepertinya cukup berlebihan. Mereka berias dengan make up tebal, menggunakan pakaian ketat dan seksi, juga heels yang tinggi hanya untuk membuat Leo terkesan.
Sayangnya, harapan para gadis itu pupus karena Leo sudah menyerahkan tanggung jawab besar untuk perekrutan Sekretaris kepadanya, selaku manager HRD, sepenuhnya. Jadi, mereka yang berpikir kalau bekerja mengikuti Leo adalah untuk mendapatkan hal lebih seperti uang, cinta dan se-ks, maka mereka salah besar.
Bagaimanapun, berdasarkan fakta yang ada, Leo tidak pernah melihat seseorang dari penampilannya. Asal profesional, terpelajar, bisa mengerjakan tugas sulit, pandai berkomunikasi dengan berbagai pihak, percaya diri, disiplin, bisa menjaga rahasia, pandai berargumen, memiliki pemikiran yang luas, berwawasan, maka orang itu akan lolos terlepas dari bagaimanpun penampilannya, apapun jenis kelaminnya.
Profesionalisme is number one.
Adalah prinsip yang selalu Leo terapkan sejak awal mula berdirinya Pahlevi Intinusaflora sampai detik ini.
Itu adalah yang dia tau tentang Bosnya yang muda dan memiliki pikiran yang luas, merepotkan, banyak maunya, kritis, dan cukup menyebalkan.
"Justru karena standarku tinggi, aku memintamu untuk mengurusnya." Leo meraih map yang tadi Aksa berikan, lalu dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Dan ini akan menjadi saat yang tepat untuk membuktikan kalau kamu memang berbakat. Bukan masuk ke perusahaan ku karena bantuan orang dalam." Leo menekankan kata perkata yang dia lontarkan. Maksud dan tujuannya mengatakan hal itu sudah sangat jelas, yaitu menyindir Aksa yang berhasil masuk ke Pahlevi Intinusaflora karena bantuan seseorang yang bekerja di perusahaan itu juga.
"Kalau aku masuk menggunakan bantuan orang dalam, memangnya itu masalah untukmu?" Aksa menantang balik Leo. Apa pria itu waras? Apa pria itu lupa kalau dulu dirinya di tarik begitu saja dari perusahaan tetangga dengan iming iming gaji tinggi di perusahaan ini? Siapa yang menarik dan mempengaruhinya? Tentu saja si tidak tau malu Leo, teman satu SMA yang meski pada saat itu mereka tidak akrab, namun hubungan mereka cukup baik.
Leo membaca isi mapnya. "Sama sekali tidak ada masalah denganku! Hanya saja aku membutuhkan Sekretaris baru sebelum Sekretaris lamaku resign." Sekretaris lamanya akan pindah untuk mengikuti si suami yang di mutasi ke luar kota. Jadi, dalam waktu dekat dia akan kehilangan Sekretaris berhijabnya yang sopan, santun, arif dan bijaksana.
"Kalau kamu berat dengan kepergian Sekretarismu, kenapa kamu tidak membujuknya saja? Tawarkan gaji yang lebih tinggi? Aku yakin dia pasti akan berubah pikiran." Aksa memberikan alasan masuk akal yang sebaiknya di terapkan dengan baik untuk mencegah karyawan berprestasi meninggalkan perusahaan.
Leo menaikkan sebelah alisnya. "Apa kamu pikir aku tidak mencobanya?"
Aksa terkejut. "Jadi, kamu sudah mencobanya? Dan dia tetap menolak?" Astaga! Dia tidak menyangka kalau ternyata masih ada orang yang tidak sekapitalis dirinya di era globalisasi seperti saat ini. Sejujurnya, itu bagus dan cukup menyinggung hati nuraninya.
"Dia tetap menolak." Leo menutup mapnya kemudian dia meletakkannya kembali di atas meja. "Lagi pula, ini bukan tentang uang dan materi." Leo menjelaskan dengan sedikit improvisasi. "Tapi.. mana kamu tau tentang hal sensitif semacam itu? Selain kamu belum menikah, kamu juga kapitalis sejati. Jadi sekalipun aku menjelaskannya, kamu tetap tidak akan memahami." Leo terkekeh di akhir kalimatnya. Sebenarnya, Aksa tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sama sama kosong dan buta hati, kapitalis dan gi-la kerja.
"Haish." Aksa mendesis. "Bilang saja kalau kamu tidak tau. Tidak perlu menggunakan banyak alasan karena pada akhirnya tetap tidak ada penjelasan apapun." Bukannya memperbaiki, itu justru semakin memperburuk keadaan. Dan dia sangat yakin kalau Leo juga tidak tau apapun tentang hal sensitif seperti hubungan, cinta apa lagi pernikahan.
"Katakan apapun yang kamu mau. Tapi, Sekretarisku berbeda, dia tidak mata duitan seperti dirimu. Sudah! Cukup sampai di sini! Kamu keluarlah dari ruanganku! Aku perlu fokus dengan apa yang akan aku pikirkan. Sedangkan keberadaanmu hanya mengganggu konsentrasiku." Leo mengatakannya dalam satu tarikan nafas. Dia cukup pening dengan semua yang terjadi. Jadi dia perlu menenangkan diri sembari memikirkan solusi yang sekiranya tepat.
Aksa menggelengkan kepala. "Siapa juga yang mau berlama lama denganmu? Kamu ini percaya diri sekali." Ucapnya sembari melangkahkan kaki meninggalkan ruang Presdir dan menutup pintunya kembali.
Melihat kepergian Aksa, Leo berdiri, dia maju tiga langkah ke arah jendela dan berhenti untuk melihat ke luar dengan pandangan sayu.
Sampai detik ini dia masih tidak mengerti.
Kenapa?
Kenapa semua yang menyulitkan terjadi secara bersamaan?