4. Istri Kecil

1291 Words
"Pa, bunda kok belum pulang?" Anggara menyingkir dari Aarav yang sedang menerima telepon dari mahasiswanya, dan begitu ia mendengar aduan Caca, ia langsung melihat kearah jam tangan. "Udah mau jam 10!" gumamnya dengan kening berkerut dalam. "Kaka udah coba telpon?" tanya Anggara menyembunyikan rasa cemas. "Udah pa, tapi telponnya sibuk!" terang gadis remaja dua belas tahun itu. "Gitu ya..." dengan kalimat yang menggantung, sekilas Anggara menoleh pada Aarav, rekannya terlihat makin asik mengobrol sambil cengengesan ditelpon yang masih terhubung. Lalu Anggara memutuskan kembali bicara dengan putrinya. "Oke, kalo gitu papa pulang sekarang, kamu terus hubungi bunda, siapa tahu telponnya udahan!" pesan Anggara yang bergegas mematikan panggilan. Pria itu berpamitan dengan Aarav melalui isyarat, sementara Aarav yang tidak lagi mengaktifkan loudspeaker pun mengacungkan jari jempol sebagai tanda setuju. Meninggalkan Aarav yang sibuk mengobrol, Anggara keluar dari tempat itu sambil mencoba menghubungi sang istri. Dan benar saja, nomer yang dihubungi masih sibuk dengan panggilannya. "Perasaan selalu ada pemberitahuan telpon masuk sekalipun orangnya sibuk, tapi kenapa ni anak gak respon!" kembali Anggara bergumam kesal sendiri, sembari memasuki mobil dan menutup pintunya kasar. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, berharap bisa sampai kerumah segera, mengingat putri semata wayangnya tinggal dirumah sendirian. Drrt Menyela fokus Anggara pada kemudi, notif panggilan suara dari sang istri akhirnya diterima. "Ya Om Ded, ada apa?" sapa Agnia setelah mengucap salam dan disahut Anggara dengan malas. Suara bising ditempat Agnia membuat Anggara harus memelankan laju mobil dan menajamkan pendengaran. "Om Ded, om ded, memangnya saya Deddy Corbuzer!" protes sang direktur. "Ya kan, Om Daddynya Caca!" oceh Agnia "Ini sudah jam berapa, Nia?" tanya Anggara mengabaikan alasan sang istri. "Setengah sepuluh lewat, Om!" sahut Agnia dengan santai seolah tidak melakukan kesalahan. "Kamu gada niat mau pulang?" tanya Anggara lagi dengan sinis. "Ini juga kita mau pulang!" terang Agnia, ia sudah saling melambaikan tangan dengan teman-temannya, cuma Tiara yang tersisa dimeja mereka diujung sana. "Kamu dimana?" "Kafe capung!" "Tungguin saya!" "Tapi Nia udah pesen taksi onlen, Om!" "Pokoknya tungguin saya!" Anggara memutus sambungan setelah meminta Agnia menunggunya tanpa bisa dibantah. "Dasar polisi bombay!" Agnia mengumpati ponselnya dikarenakan sikap Anggara yang tiba-tiba posesif dan menyebalkan. Kemudian gadis itu dengan malas mendekati teman karibnya sebelum berpamitan. "Gue duluan ya, Ra!" mohonnya tidak enak hati seraya mengambil totebag yang berada disandaran kursi. "Iya, gue juga mau pulang deh kayaknya!" karena pesanan ditempat itu sudah dibayarkan, Tiara pun turut meninggalkan meja itu dan menyusul Agnia. "Gak jadi nungguin cowok lo?" Agnia menoleh. "Gausah deh kayaknya, udah malem banget." kesah Tiara yang diangguki setuju oleh Agnia. "Emm, gua boleh numpang gak? lo barusan pesen taksi online, kan?" kata Tiara ragu-ragu. "Kebetulan banget, sebenernya gue juga ada perlu sebentar lagi disini, jadi lu aja deh yang naik taksinya, nah itu dateng!" seru Agnia memanjangkan leher melihat dikejauhan, ia langsung menarik Tiara agar lebih cepat sampai kepelataran cafe. "Emang lu mau ngapain lagi?" Tiara heboh bertanya. "Hehe gak kok, cuma ada telpon aja barusan!" tingkah canggung Agnia memancing rasa penasaran temannya. "Hemm, telpon dari Dokter Aarav lagi ya? secara tadi ngobrolnya asik banget, tibang atur jadwal ketemu doang." goda Tia coba menebak, apalagi ia menyaksikan sendiri obrolan Agnia dan Dokter tersebut yang tak habis-habis. "Hehe, iya ...!" Agnia cengengesan dan tidak mau repot membantahnya. "Mencurigakan, kalian mau obrolin apalagi sih, bukannya besok bakal ketemuan juga?" tuding Tiara, ia tahu ajakan wawancara kelompok mereka telah disambut baik oleh Aarav, dari itu ia tahu betul jadwal pertemuannya. "Dah ah, kepo deh... " Agnia lekas membungkam Tiara, ia mendorong gadis itu masuk kedalam mobil yang baru sampai didepan mereka, sementara dirinya sibuk menyembunyikan ponsel yang berdering heboh karena panggilan dari Anggara. Sepeninggal Tiara, barulah Agnia menerima panggilan tersebut. "Lama banget!" sentak Anggara menggerutu sambil mengedarkan pandangan mencarinya. "Sorry, baru dari toilet Om!" Malas mendengar omelan, Agnia terpaksa berbohong "Dimana?" "Disamping cafe!" "Ngapain kesamping?" Anggara mengerutkan kening. "Hehe, kan baru habis dari toilet." "Aa- " "Dahlah Om, jan banyak tanya deh, wawancara Nia tu besok, mending om cus aja kesini!" Sadar jika pertanyaan Anggara mungkin merembet, Agnia dengan cepat memangkas dan mendesak sang suami. Membuat Anggara harus bergeleng kepala dan mendengkus kasar namun tetap bergerak memutar haluan mobil. Agnia langsung masuk ketika mobil Anggara sudah berhenti didepannya, ia merasa bingung mengapa Anggara tiba-tiba menjemput. Hening sejenak, dalam perjalanan pulang mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. "OM DARI MANA?" "HABIS NGAPAIN SAMPAI JAM SEGINI?" Spontan dua pertanyaan itu terlontar secara bersamaan dari kedua belah pihak, karenanya mereka pun reflek sama-sama saling pandang. "Om duluan!" Menghormati sang suami, Agnia tertunduk dan mendahulukan pria itu. Anggara mengangguk segan lalu mengulang pertanyaan diiringi dengan tatapan tajam mengintimidasi. "Ngerjain tugas kelompok dan besok kita ada wawancara!" terang Agnia sejujurnya. "Harus banget sampai kayak gini?" tegas Anggara. Walaupun Agnia biasa ceplas ceplos dan suka menyela, namun kali ini ia tak membantah, ia mulai tahu mengapa Anggara bersikap seperti itu. "Kamu sadar gak, kamu udah ngasi contoh gak baik buat Caca, masa anak gadis kelayapan sampai larut malam!" lanjut Anggara seperti sedang mengomeli anak perawannya. Agnia tertunduk menerima nasihat dengan lapang d**a, kemudian mencicit pelan sembari meminta maaf. Anggarapun dibuat tidak tega dengan ekpresi rasa bersalah itu sampai membuat Agnia yang ceria kini terdiam menatap keluar jendela. Sisanya, Anggara hanya mendengkus sambil menyetir tenang, hingga sampai ke pekarangan rumah. Setelah mematikan mesin, Anggara melepas setbelt sambil bicara pelan, ia bertanya apakah Agnia bisa melepas tali pengamannya sendiri. Tapi sang istri malah tak kunjung bersuara, segera Anggara mengangkat pandangan dan menemukan Agnia yang tersandar lunglai, ia tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Anggara pun mendengkus lagi, ia mengulurkan tangan ingin membangunkan, namun wajah tenang serta dengkuran kecil sang istri membuatnya tidak tega. Anggara terpaksa keluar dari mobil lalu mengitarinya menuju pintu disisi lain. Dengan hati-hati Anggara mengeluarkan Agnia dari mobil lalu membawanya masuk kedalam rumah dengan menggendong ala bridal style. "Bunda!" seru Caca yang rupanya masih menunggu diruang tamu. "Shuut, bunda kecapekan. Kaka langsung tidur kekamar aja ya!" pinta Anggara dengan lembut penuh cinta meminta pengertian. Cacapun langsung mengangguk patuh mengikuti kata Anggara. "Bi, tolong bukain pintu kamar!" Anggara meminta pada asisten rumah tangganya yang tadi membukakan pintu utama, sebelum menaiki tangga sambil membawa Agnia. "Kamar tuan?" tanya bi Ita kebingungan. Anggara langsung melotot dan memberi isyarat galak. Bi Ita sudah empat tahun bekerja dikediaman Anggara, dari itu iapun langsung mengerti bagaimana keadaan rumah tangga sang majikan. Bi Ita mengangguk lalu bergegas mendahului Anggara menuju kamar Agnia. "Bibi langsung pulang aja ya pak, kebelet." usai membukakan pintu, wanita lima puluh tahunan itu mengeliat seperti cacing kepanasan bergegas pergi kerumahnya yang kebetulan masih disatu komplek dengan Anggara. Sepeninggal bi Ita, tersisa Anggara yang siap meletakkan Agnia ditempat tidurnya. Agnia dengan nyaman merebahkan tubuh dan langsung memeluk guling usai mendarat dengan selamat ditempat tidur. Ia sama sekali tak memedulikan Anggara yang masih berdiri disisi ranjang memperhatikan. Anggara sempat bergeleng kepala, sebab Agnia terlihat sangat ribet dengan pakaiannya. "Nia...!" dengan hati-hati pria itu berusaha membangunkan. "Nia bangun...!" panggil Anggara lagi sedikit menggoyang tubuh sang istri kecil. "Hemmm...!" "Kamu udah sholat isya?" "Enggak, barusan keluar!" suara serak Agnia membuat Anggara mengernyit. "Keluar apa?" "Keluar da rah!" setengah sadar Agnia menyahut. Dua sudut bibir Anggara tertarik kebawah, ia mendadak bergidik, tatapannya reflek tertuju pada perut Agnia yang kembang kempis saat tak sadar berbalik telentang. Dadanya entah kenapa berdetak kencang, tubuhnya terasa panas, bahkan aliran darahnya mendesir tanpa sebab. Daripada pikirannya oleng, akhirnya Anggara membuang muka ingin pergi. Akan tetapi, langkahnya tiba-tiba terhenti, Anggara kembali melihat wajah polos gadis itu hingga luluh, iapun berinisiatif melepaskan sepatu dan kaos kaki sang istri dan ingin menyelimutinya. "Gak mau bersih-bersih?" Sayup-sayup mendengar tanya pelan Anggara, Agnia tiba-tiba bangun dan membuka hijab dengan mata tertutup. Kemudian, gadis itu menegakkan setengah badan, ia duduk bersandar dikepala ranjang dengan lunglai seperti saat dimobil, lalu tanpa diminta kedua tangannya bergerak membuka kancing baju dari yang paling atas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD