"Stttttthh..."
Anggara mengeram kesal diatas tempat tidur sambil memijat pelipis, ia lekas membuang muka dari Jesika yang kemudian melihat wajahnya.
"Hemm, jangan gitu donk om!" rayu Jesika. Ia menyampirkan rambut tergerainya kemudian mencengkeram dagu Anggara sampai pria itu menoleh lagi padanya.
"Om harus semangat, mungkin ini cuma karena Om kelamaan nganggur, jadi agak sedikit kaku dan berkarat." goda Jesika menaik turunkan alis dengan senyum penuh dukungan.
Sementara itu, Anggara masih berusaha menyembunyikan wajah, ia tak bisa membuang rasa malu begitu saja. Atau benar yang dikatakan Jesika, menduda selama lima tahun ditambah memperistri Agnia yang membuat dirinya lebih berkarat selama dua tahun adalah penyebabnya.
"Butuh lebih banyak pelumas dan poreplay kayaknya, nanti kita coba lagi deh Om!" ujarnya lagi.
Tak sedikitpun Jesika meremehkan kemampuan Anggara sebagai laki-laki atas percobaan mereka yang kesekian kali, walau sebenarnya ia cukup dikecewakan karena Anggara tak berhasil memberikan kepuasan atas hasratnya yang tinggi. Hal itulah yang membuat Anggara tak ingin putus dari Jesika hingga hubungan mereka hampir berjalan tiga bulan.
"Om!" rengek Jesika lagi, didalam dekapan Anggara. Ia bergerak lebih agresif meski harus memegangi selimut untuk menutupi dadanya yang tanpa pakaian.
"Hemm!" gumam Anggara menyahut lemah.
"Nanti malam deh, aku pesenin jamu penambah stamina, biar langsung joss!" kata Jesika sambil berkedip nakal.
"Hemm, iya terserah!" Anggara menjawab canggung, sebenarnya ia malas menuruti saran Jesika sebab dengan cara itu ia malah jadi lebih merasa payah dan tidak pantas menjadi lawan seimbang bagi gadis penuh gairah seperti Jesika.
"Jangan malas gitu mukanya Om, ih bete banget liatnya!" Jesika memajukan bibir, ekspresi Anggara malah membuat semangatnya roboh, padahal ia juga sedang mati-matian membangkitkan semangat Anggara yang kini sedang insecure.
"Ehmm, Jes. Om kekantor dulu ya, lupa kalau ada rapat pagi ini!" Tiba-tiba Anggara melepaskan rangkulan mesranya lalu segera bangkit memunguti pakaian hingga mengurung diri dikamar mandi. Tak lebih dari sepuluh menit, Anggara keluar dalam keadaan rapi seperti sedia kala.
"Padahal aku udah pesenin makan loh Om, apa gabisa nunggu bentar lagi, please temenin aku sarapan!!" dengan pose sensual, Jesika mengajak Anggara untuk duduk lagi disisi tempat tidurnya.
Anggara mengangkat sebelah tangan demi melihat arah jarum jam yang melingkar di pergelangan.
"Kayaknya gak sempet deh, lain kali aja ya!" bak putri kecilnya, Anggara mengusap pucuk kepala gadis berambut sebahu itu lalu dikecupnya sebagai permintaan maaf.
"Om transfer lagi deh, supaya kamu bisa traktir teman-teman dan kuliahnya jadi tambah semangat." ucap Anggara sebelum berpamitan.
Dengan senang hati sang direktur memindahtangan hasil kerja kerasnya ke rekening Jesika, toh siapa lagi yang bisa diajak menghabiskan uang selain gadis muda itu, karena istrinya tidak pernah meminta apapun, bahkan sang putri yang telah bergaul dengan Agnia selama tiga tahun terakhir juga ikut-ikutan tidak berminat dengan uangnya.
Pikir Anggara, kini Jesika lah yang membuatnya bersemangat dalam bekerja, maka hari-hari sibuk yang ia korbankan hasilnya akan ia persembahkan pada mainan barunya itu pula.
Anggara melewati hari yang sibuk di kantor hingga sore hari, berbagai pertemuan dan rapat untunglah berjalan lancar dan terkendali walau pikirannya sedang berkecamuk.
Mempertanyakan tentang kualitas kelelakiannya yang mulai menghawatirkan, Anggara pun mencoba menghubungi teman SMA nya dulu yang sekarang sudah menjadi seorang psikolog.
"Setidaknya, gua gak bakal jaim cerita soal ginian sama lu!" ucap Anggara yang baru saja menghubungi Dokter Aarav saat mengemudikan mobilnya lurus ke arah klinik sang teman.
"Haha its oke, kalo sharring kesesama lelaki bikin lu nyaman!" sahut Dokter Aarav yang akhirnya menunda waktu kepulangan padahal jam kerja di tempat prakteknya sudah selesai.
"Nah itu!" Anggara setuju dan memantapkan niatnya berkonsultasi setelah sama-sama mengatur waktu dan memutuskan untuk bertemu sekarang juga.
Tanpa keraguan, Anggara memasuki ruangan khusus milik Aarav, sang dokter telah menunggu di set sofa mewah yang sengaja didatangkan dari luar negeri.
Tak membuang waktu karena hari sudah malam, Anggara memberikan surat hasil tes yang pernah ia lakukan di rumah sakit kepada rekannya itu.
"Hemm ... Menurut hasil pemeriksaan, kondisi lu normal!" kata Aarav membaca ulang hasil lab yang sejatinya sudah diketahui Anggara.
"Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, tapi gua ... " Anggara menggantung kalimatnya.
"Takut!" tebak Aarav.
Anggara mengangkat wajah kemudian menganggukkan kepala.
Aarav terkekeh sebentar lalu beralih tempat, ia bersandar bertumpu pada sandaran kursi Anggara.
"Memangnya apa yang lu takutin?" tanya Aarav masih dengan senyuman kecil.
"Rav, gua kesini buat konsul, bukan buat lu tanya-tanyain apalagi lu ketawain!" protes Anggara.
"Oke oke, sekarang lu bisa ceritain ke gua, apapun yang pengen lu ceritakan." pria beralis tebal itupun memberi kesempatan pada Anggara.
Selama setengah jam, Anggara menceritakan masalahnya, ceritanya cukup bisa dipahami dan Aarav pun bisa dengan mudah mendapatkan kesimpulan.
Mula-mula, Aarav mempertanyakan tentang pola hubungan Anggara dengan sang istri karena Aarav merasa janggal dengan cerita tersebut.
"Sebentar! Bukannya pernikahan kalian udah dua tahun, tapi kok baru percobaan nina ninuya baru tiga bulan belakangan?" tanya Aarav bingung.
Anggara terlihat kikuk, ia berusaha mencari alasan. Tapi, ia dengan cepat menemukan jawaban.
"Ya kan gua nunggu dia siap dulu, usianya juga baru genap 21, daripada gua dibilang ped ofil?" gerutu Anggara mulai misuh, sedangkan Aarav kembali mengangguk diimbangi senyuman konyol sejenak sebelum siap memberi pertanyaan berikutnya.
"Oke next, lu bilang dia masih malu-malu, kekanak kanakan, lugu, polos, dan malah sering memperlakukan lu kayak bapaknya... Tapi kok dia bisa jadi agresif dan menantang pas diranjang? Kayak punya kepribadian ganda gak sih, bro? selidik Aarav menganalisa.
Karena faktanya yang diceritakan Anggara adalah karakter dari dua gadis yang berbeda, hal wajar jika Aarav pun sampai terheran-heran, namun sang dokter berusaha tetap bijak sambil mempelajari karakter manusia yang memang tidak semua sama.
Ketika Aarav bertanya tentang kegiatan yang Anggara lalui diatas ranjang, tentu Anggara akan menggambarkan sosok Jesika.
Tapi, ketika Aarav mempertanyakan tentang bagaimana karakter dan kepribadian sang istri sehari-hari, tanpa sadar Anggara menggambarkan sosok Agnia sebagai sosok yang selalu menemani dan melayani dengan tulus.
"Ya, mana gua tau!" Anggara mulai malas membahas, apalagi ia sudah canggung sendiri karena penjelasannya pun tidak berdasarkan fakta.
"Kalo lu sendiri, cinta gak sama dia?"
Triiing
Seperangkat alat penghubung yang berada diatas meja kerja Aarav menyela percakapan mereka.
Anggara yang masih ragu pada jawabannya sendiri langsung menghela napas lega. Ia memperhatikan gerak Aarav yang memilih menekan tombol pengeras suara pada alat tersebut.
"Assalamualaikum, apa benar ini Dokter Aarav!" Anggara yang sudah berpaling kini menoleh kembali melihat kearah telepon milik Aarav karena sebuah suara melengking dari seorang gadis yang sangat familier.
"Ya saya sendiri!" sahut Aarav sedikit menundukkan kepala mendekati alat itu.
"Maaf sebelumnya pak, hehe jadi tiba-tiba gini... (gadis diseberang terkekekeh kaku sejenak) Emm ... Begini pak, apa boleh saya bertemu dengan bapak secara pribadi untuk wawancara?" tanya gadis itu menyampaikan tujuannya
Sementara Aarav sedang berpikir, coba mengingat-ingat dengan siapa saja ia bicara hari ini., Anggara pun terlihat makin menajamkan pendengaran karena suara itu benar-benar tak asing.
"Kira-kira saya bicara dengan siapa ya!" tanya Aarav ingin memastikan, walau ia sudah mulai mempunyai gambaran visual pemilik suara.
Dalam pikirannya baru saja terlintas wajah seorang gadis berhijab menggemaskan, yang baru ia temui disebuah universitas kesehatan siang tadi.
"Owh maaf banget pak saya lupa ngasi tau," diseberang sana gadis itu cengengesan salah tingkah sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Hal yang membuat Aarav ikut tersenyum mendengarnya.
"Saya mahasiswa di kampus tadi pak, Nama saya Ag--"
Drrrttt
Anggara tiba-tiba menerima panggilan
"Iya sayang, kenapa?"