Alenia tidak tau, bahwa hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, Sean bisa menjadi sangat dekat dengannya. Bahkan malamnya, selepas mereka bermain bersama sepanjang hari, bocah itu tidak mau tidur kalau tidak digendong Alenia.
Jadilah ia disini, berdiri di kamar Sean sambil menimang bayi laki-laki itu agar tertidur. Tapi setelah Sean terlelap, ia kembali bangun saat Alenia menaruhnya di ranjang bayi. Menangis dan mengulurkan tangannya seraya berucap, "Na…"
Maka gadis itu kembali menggendong Sean meski sudah mengantuk.
Ia menyalakan ponselnya dan menyetelkan lullaby song agar Sean bisa tidur dengan nyenyak.
Tapi sama saja. Setiap ia menaruh Sean di ranjang bayinya, bocah itu kembali bangun dan menangis. Ia tidak bisa mengerti kenapa Sean menangis dan tidak mungkin baginya untuk terus menggendong Sean sepanjang malam, kan? Ia juga butuh istirahat. Dan lagi, di buku tentang Sean, tidak ditulis bagaimana menangani bocah itu saat menangis. Jadi mungkin ia harus menanganinya sendiri.
Maka yang terpikir di benaknya adalah, dengan membawa Sean tidur bersamanya. Dengan begitu, ia bisa tidur sambil tetap mendekap bocah itu.
"Apa kau ingin tidur dengan Noona, hmm?" Gadis itu berbisik lembut. Sean bersandar pada dadanya, matanya mengerjap oleh kantuk.
Tidak menunggu sahutan Sean, ia melangkah tenang ke kamarnya yang di sebelah Sean, merebahkan diri perlahan dan membuat Sean tetap dalam dekapannya. Ajaibnya, bocah itu tidak menangis dan malah semakin terlihat mengantuk.
"Begitu rupanya. Kau ini menggemaskan sekali." Alenia mengecup dahi Sean sambil menaruh bantal dan guling di belakang Sean agar bocah itu tidak terguling. "Mimpi indah, Sean."
--
Layar komputer di hadapannya tidak lagi menampilkan seorang gadis muda yang sedang menggendong bayi di kamar bernuansa monokrom itu.
Gadis itu menghilang setelah ia memasuki kamarnya.
Tepatnya, cctv tidak dipasang di kamar gadis itu untuk alasan privasi. Sebagai resiko, ia jadi tidak tau bagaimana anaknya akan tidur malam ini.
Apa pengasuh itu tidur bersama anaknya?
Pasti begitu, benaknya yakin karena setelah setengah jam berlalu, gadis itu sama sekali tidak keluar kamar.
"Tuan, sebaiknya anda istirahat." Seorang lelaki paruh baya menghampirinya dengan tangan memegang telepon. "Nyonya Oh menyuruh anda untuk segera tidur."
Mendengar ibunya disebut, ia mengangguk tanpa ekspresi, mematikan komputernya dan berlalu ke kamarnya yang terletak di lantai atas penthouse.
Pria dingin itu adalah William Andromeda, yang tengah berada di Jepang untuk mengawasi pembangunan cabang restorannya di Hokkaido.
--
"Na… na…"
Berat sekali rasanya membuka mata, tapi tepukan asal di pipinya dan tubuhnya yang terasa berat mau tak mau membuatnya terbangun. Dan Alenia menemukan wajah Sean di depan wajahnya sementara bocah itu tengkurap di dadanya.
"Astaga, Sean!" Alenia memaksakan seulas senyum untuk bocah yang bangun dengan ceria itu. Demi apapun, ia masih mengantuk dan dadanya sesak oleh Sean. "Tidurmu pasti nyenyak makanya kau bangun seceria ini, hmm?"
Sean tersenyum lembut lalu merebahkan kepalanya di dekat wajah Alenia, menguap lebar dan tangannya memeluk leher gadis itu.
"Yaampun, kau seperti bayi burung jika begini." Alenia tertawa parau, membenarkan posisi Sean dan membawa bocah itu ke dekapannya.
"Na… na… thuthu…"
Mata Alenia memicing menatap jam di meja nakas. Astaga, pantas saja Sean kehausan. Mereka bangun terlambat. Dan sepertinya Bibi Yang sudah tiba. Gadis itu segera beranjak dan membawa Sean ke kamar mandi, mengajarkan bocah itu untuk buang air setelah bangun tidur dan membasuh wajahnya.
Selama mereka menuruni undakan anak tangga, Alenia memikirkan sebab akibat saat Sean bukan tidur di kamarnya sendiri. Bagaimana kalau Nyonya Oh tau dan menganggapnya tak becus?
Ia tidak ingin dipecat pada hari keduanya itu.
"Nona Park?"
"Ya?" Gadis itu mengerjap melihat Bibi Yang berada di hadapannya sambil mengulurkan telepon rumah.
"Nyonya Oh menelepon dan ingin bicara denganmu."
Tamatlah riwayatku.
"Terima kasih, Bibi Yang," ujarnya sembari menyerahkan Sean ke Bibi Yang. Ia mendekatkan telepon itu ke ponselnya dan menahan napas. "Halo, Nyonya Oh?"
"Selamat pagi, dear."
"Selamat pagi, Nyonya Oh."
"Bagaimana harimu kemarin?"
Oh sial! "Ba-baik. Baik sekali, Nyonya Oh."
Terdengar sebuah tawa di seberang sana. "Bibi Yang sudah memberi taumu apa yang harus kau lakukan hari ini?"
Dengan takut ia melirik Bibi Yang yang sedang mendudukan Sean di kursi makan bayi.
"Be-lum, Nyonya."
"Suaramu terdengar lemah. Apa kau sakit, dear?"
Tidak, tapi aku takut dipecat. "Tidak, Nyonya Oh. Saya baik."
"Syukurlah, kalau begitu kau siap-siap untuk keluar."
"Apa?"
"Kau siap-siap untuk keluar, Sean juga. Hari ini jadwalnya untuk potong rambut dan pijat." Suara Nyonya Oh mengalun lembut, tapi tegas. "Kau mendengarku, dear?"
"Iya, Nyonya."
"Bagus, kututup teleponnya. Selamat bersenang-senang."
Alenia menatap gamang telepon yang mengeluarkan bunyi tut beberapa kali itu. Dia… tidak dipecat, ‘kan?
--
Setelah menyelesaikan sarapannya, Alenia segera mengemas beberapa barang pribadi Sean seperti yang tercantum di buku.
Jika pergi sehari, bawa 2 pasang pakaian, 5 popok, dan tas bepergian yang terletak di kabinet kamar Sean.
Jangan lupa setoples biskuit bayi dan s**u.
Sembari mengemas pakaian mungil itu, Alenia kadang tidak menyangka bahwa hidup Sean diatur sedetail dan serapi itu. Hal yang wajar jika mengingat bahwa Nyonya Oh adalah neneknya.
Setelah menyiapkan barang-barang Sean, gadis itu segera mengganti pakaian rumahnya dengan gaun santai berwarna biru selutut dan sebuah sandal bertumit rendah.
"Na!" Sean tersenyum begitu lebar sambil menggerakkan mainannya dengan heboh saat melihat Alenia sudah berganti baju dan menghampirinya.
"Kau ceria sekali." Alenia berkomentar pelan sambil mematut diri di depan cermin kamar Sean. Ia lalu kembali menatap bocah itu sambil tersenyum. "Noona cantik, kan?"
Sean tertawa sambil menggerakkan mainannya dengan heboh.
"Astaga, kalau kau seceria itu aku jadi berpikir kalau aku memang secantik itu." Alenia terkekeh sendiri oleh pemikirannya. Ia menghampiri Sean dengan langkah berayun, membuat gaun santainya melambai cantik. "Kau juga sangat tampan, Sean."
Bocah itu mengulurkan tangannya ke arah Alenia, meminta digendong sambil menyunggingkan seulas senyum lebar.
"Aku yakin kau akan tumbuh jadi sosok tampan, ceria, dan hebat." Alenia mencium pipi Sean sebelum membawanya turun karena Tuan Kim, supir yang ditugaskan oleh Nyonya Oh, sudah menunggu mereka di bawah.
--
William kembali tertegun saat menyaksikan bagaimana pengasuh baru yang ia tau bernama Alenia tampak begitu dekat dengan Sean, anaknya.
Gadis itu tidak seperti pengasuh lainnya yang akan bersikap kaku dan formal layaknya pekerja. Ia lebih seperti teman untuk Sean. Atau kakak. Atau ibu.
Yang terakhir membuat William kembali tertegun. Ibu?
Sean memang membutuhkan seorang ibu, kan?
Dulu, ia dijodohkan dengan seorang wanita bernama Lena Jung. Lena memang cantik, tapi sifatnya tidak cukup hangat untuk melelehkan pribadi William yang dingin. Pernikahan mereka yang dingin berjalan 2 tahun sebelum Lena dikabarkan hamil. Waktu itu William tak tau harus senang atau sedih oleh kabar itu. Dan tiba saatnya bagi Lena untuk melahirkan, nyawa wanita itu tidak tertolong sebab pendarahan yang dialaminya begitu parah.
Meninggalkan Sean yang masih berusia 3 hari bersamanya. Awalnya William tampak enggan menerima Sean dalam hidupnya. Tapi suatu hari, saat Sean menangis kencang dan William menggendongnya di tengah malam, tangis Sean mendadak berhenti. Mata bayi itu mengerjap menatap William dengan lugu. Dan detik itu William sadar, terlepas bagaimana kondisi pernikahannya dengan Lena, William menyayangi Sean.
Seorang ayah yang mengasihi darah dagingnya sepenuh hati.
Seorang ayah yang tidak mengerti bagaimana harus mengungkapkan perasaan sayangnya.
Tapi pekerjaan yang semakin menuntut waktunya membuat William tak bisa selalu ada untuk Sean sehingga pengasuhan bayi itu diserahkan pada ibu William, Nyonya Oh.
Hingga setahun berselang dan saat ini tiba, saat ia menyadari bahwa Sean tumbuh dengan baik dan pesat. Ia kehilangan banyak waktunya dengan Sean. Tapi itu sepadan setiap melihat Sean menjadi ceria. Terlebih sejak Alenia menjadi pengasuhnya.
William mengenal banyak tingkah laku pengasuh bayi pada umumnya dan Alenia sama sekali tidak terlihat seperti pengasuh bayi. Sepanjang hari William selalu memantau meski hanya dari kamera pengawas, bahwa Alenia memperlakukan Sean layaknya anak sendiri.
Anehnya, pemikiran itu membuat William merasa hatinya tenang dan menghangat.
Seseorang menjaga anaknya dengan baik seperti malaikat.
--
[]