Alphard hitam yang mereka naiki akhirnya berhenti di depan bangunan 3 lantai dengan papan bertuliskan 'Baby Corners'.
Jika bukan karena Sean, Alenia tak akan melirik tempat ini meski bangunannya begitu ceria dengan warna-warna cerah yang serasi. Gadis itu meraih Sean dari baby toddler lalu mendudukkan bayi ceria itu di atas kereta bayi yang sudah disiapkan Tuan Kim.
"Aku akan menunggu di lobi jika nona membutuhkan saya." Tuan Kim tersenyum sopan seraya menekankan tombol elevator saat mereka sudah tiba di dalam gedung yang bernuansa ceria itu.
"Baik, Tuan Kim. Terima kasih," ujar Alenia seraya mendorong kereta Sean ke dalam elevator. Ia menekan tombol angka 2 karena Sean harus potong rambut dulu di lantai 2 lalu pijat di lantai 3.
Karena sudah terjadwal, jadi Sean dengan cepat sudah duduk di kursi berbentuk mobil dengan kaca besar di hadapannya. Lalu saat seorang wanita dengan apron hitam menghampiri Sean, bocah itu tiba-tiba menangis dan mengulurkan tangannya ke arah Alenia sambil menggelengkan kepalanya dengan heboh untuk menghindari tangan wanita berapron itu.
"Aniyaa!!!" Bocah itu masih menangis meski Alenia berusaha menenangkannya dengan memeluk Sean.
"Tidak apa, Sean. Noona disini," bisiknya lembut.
"Aniya!!!" Sean masih menangis meski wajahnya merapat pada perut pengasuhnya. Tangan mungilnya sebisa mungkin memeluk pinggang Alenia sambil terus menangis.
Wanita berapron dengan tag nama Kwon Yura itu tersenyum maklum. "Tak apa."
Alenia mengangguk canggung. "Apa aku boleh memangkunya selama rambutnya dipotong?"
"Tentu saja boleh, nona."
Lalu seorang asisten memberinya baju pelapis untuk orang dewasa dan menaruh Sean di pangkuannya. Ia memasang baju pelapis untuk Sean meski bocah itu memberontak.
"Ssst, tak apa, noona disini. Sean jangan takut, oke?"
Alenia mengeluarkan Hotweels milik Sean dan memainkannya di depan bocah itu sambil mengeluarkan suara derum mobil. "Apakah ini mobil Sean? Vroom… vroom..."
Sean mulai tertawa saat Alenia menjalankan mobil kecil itu di sepanjang kaki mungilnya.
"Vroom… vroom… mobilnya akan datang untuk Sean…"
Saat Sean akhirnya berhasil meraih mobil kecil itu dan mulai bermain, Alenia memberi kode untuk memulai pada Kwon Yura. Bocah itu awalnya bergerak gelisah, tapi saat Alenia mengeluarkan sebuah mobil lagi dan memainkannya, Sean mulai terbiasa dan sesekali tertawa.
"Bocah pintar," puji Kwon Yura setelah memotong rambut Sean menjadi lebih pendek. Ia telah selesai dan sedang membersihkan Sean dari beberapa helai rambut yang menempel.
"Terima kasih." Alenia tersenyum lalu beranjak menuju lantai 3 tempat Sean akan melakukan pijat bayi.
Untungnya, Sean sama sekali tidak memberontak dan bocah bayi itu akhirnya terlelap dengan cepat setelah 5 menit berlalu sedangkan Alenia menikmati waktu senggangnya untuk melakukan video panggilan dengan Jaehwa.
Di layar itu, ia dapat melihat wajah lelah Jaehwa yang sedang tiduran di sofa studionya. Rambut Jaehwa sedikit lebih panjang dari terakhir ia melihatnya.
"Aku lelah, Sweetheart."
Alenia berdecak begitu panggilan terhubung. "Kau seharusnya istirahat, bukan mengangkat panggilanku."
Jaehwa terkekeh pelan sambil membenarkan posisi bantal sofa di bawah kepalanya. "Tapi aku lebih ingin melihatmu. Rasanya rindu sekali. Bagaimana harimu disana?"
"Baik sekali, bayi yang kuasuh benar-benar bayi penurut dan ceria. Ia dekat sekali denganku." Alenia jadi gemas sendiri saat mengingat bagaimana Sean tertawa. "Namanya Sean. Bagus, kan?"
Jaehwa mengangguk sambil tampak berpikir. "Kau ingin anak laki-laki?"
Alenia nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Apa maksudnya?"
Jaehwa tertawa karena ia mendapati wajah Alenia menjadi merah dan terlihat salah tingkah. "Kalau kita menikah nanti, kau ingin punya anak laki-laki?"
"Aku- aku… akan terima apapun yang Tuhan beri."
Perlahan air muka Jaehwa berubah, menjadi begitu lembut dan teduh saat ia menatap Alenia. "Aku sangat merindukanmu, Sweetheart."
"Aku juga."
"Aku tak sabar agar kita segera menikah." Jaehwa menggembungkan mulutnya dengan alis berkerut. "3 bulan lagi rasanya lama sekali."
Alenia tersenyum. Ia benar-benar ingin mengelus wajah Jaehwa lalu mengelus rambutnya yang lembut. Ia juga sangat merindukan Jaehwa. Tapi sayangnya, ini baru hari keduanya bekerja dari 3 bulan yang sudah disepakati.
"Sweetheart?"
"Ya?"
"Tidak bisakah kau cuti sebentar untuk mengurus pernikahan kita? Dengan begitu, kita bisa langsung menikah setelah kontrakmu selesai."
Mengulum senyum, Alenia menyamankan posisinya dengan bersandar pada sofa tempatnya duduk. "Akan aku pikirkan, tapi tidak sekarang. Ini bahkan baru hari keduaku."
Jaehwa mendesah malas, ia memajukan bibirnya dan merengut, "Mengingatnya saja membuatku ingin menculikmu."
Alenia kembali tertawa. Rindunya sedikit terobati karena lelaki tinggi bertelinga lebar itu terus-terusan membuatnya tertawa.
"Nona-?"
Alenia tersentak pelan, Sean sudah selesai dipijat dan bayi itu masih tertidur, bahkan lebih pulas dari semalam. "Sean sudah selesai dipijat. Kupikir kita akan melanjutkan lagi lain waktu."
"Tentu." Jaehwa tersenyum di seberang sana. "Tapi aku ingin lihat sebentar bagaimana Sean."
Alenia tersenyum, menghampiri kasur tempat Sean berbaring dan mengarahkan kamera ke arahnya. "Lucu, bukan?"
Jaehwa tersenyum lembut menatap bayi yang tertidur pulas dengan posisi telentang itu. "Sangat menggemaskan."
--
Karena Sean masih tertidur, Alenia meminta ijin kepada Tuan Kim untuk mampir sebentar ke toko buku karena ada beberapa buku yang ingin ia beli.
Gadis itu cukup tau diri untuk tidak berlama-lama di toko buku meski ia ingin menikmati suasananya. Ia masih harus mengasuh Sean. Jadi setelah mengantongi sebuah buku studi desain interior terbaru, Alenia segera kembali ke Alphard hitam yang ia naiki sebelumnya.
Dan saat ia baru menutup pintu, Sean sedang menggeliatkan badannya sampai bocah itu bangun dan mendapati Alenia ada di sampingnya.
"Bagaimana tidurmu, sayang?"
Sean tersenyum sambil mengerjap ngantuk. Ia menguap lebar saat Alenia mengelus perut bulatnya dengan gerakan melingkar, membuatnya merasa nyaman sekali. "Na… na…"
"Hmm?"
Belum sempat mengatakan apapun, Sean kembali terlelap, membuat Alenia tersenyum mengamati bayi menggemaskan itu. Ia jadi teringat percakapannya dengan Jaehwa tadi. Ia sebenarnya juga ingin bisa segera menikah dengan Jaehwa, toh ia tak berpikir menikah akan menghambat cita-citanya karena mereka selalu saling mendukung tentang kegiatan masing-masing, Jaehwa yang merupakan seorang musisi dan Alenia yang masih kuliah dan ingin menjadi desainer interior. Mereka saling mencintai dan sudah sepakat untuk menikah segera. Jadi mungkin ia akan mempertimbangkan permintaan Jaehwa soal ijin cutinya agar bisa mengurus persiapan pernikahan mereka.
Dan, ya ampun, mereka bahkan sudah membicarakan soal anak. Alenia jadi malu sendiri jika mengingatnya. Gadis itu masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Jaehwa menjadi begitu lembut saat melihat Sean. Sepertinya laki-laki itu sudah siap menjadi ayah.
"Oh ya ampun," gumam Alenia, sekali lagi tersipu oleh ingatannya soal Jaehwa.
Alenia mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Kim yang sedang menyetir. "Apa kita langsung pulang, Tuan Kim?"
"Tentu. Kecuali nona ingin mampir ke suatu tempat?"
"Ah, tidak. Urusanku sudah selesai."
"Baiklah, kalau begitu kita langsung pulang, nona."
--
[]