Rasanya baru sebentar Alenia merebahkan dirinya di atas kasur lateks dengan lapisan sprei dan selimut lembut nan dingin saat pintu kamarnya diketuk pelan. Gadis itu langsung beranjak membuka pintu dan mendapati seorang pelayan berdiri memegang nampan berisi makanan.
"Selamat pagi, nona," sapanya sopan.
"Ya?"
"Tuan Andromeda meminta saya mengantar sarapan untuk nona."
Alenia ber-oh canggung, tidak mengira William menyadari bahwa ia belum sarapan karena membiarkan lelaki itu memakan sup jamurnya. Terlebih ia masih belum terbiasa diperlakukan seperti kalangan kelas atas seperti ini. Jadi ia mengambil nampan itu dan membungkuk sopan, "Terima kasih, -?"
"Kim Jihyun, nona bisa memanggil saya Jihyun."
"Ah ya, terima kasih, Jihyun." Alenia memperhatikan sekilas penampilan Jihyun. Sepertinya mereka sebaya. "Dan, tolong jangan panggil aku dengan embel-embel nona. Aku hanya pengasuh bayi disini."
Jihyun tersenyum canggung. "Dari dulu peraturannya seperti itu, nona. Kami tak bisa mengubahnya kecuali ada perintah dari Tuan Andromeda."
Dari penuturannya, seolah pengasuh bayi di keluarga ini memang mendapat perlakuan istimewa. Alenia menghela napas. "Baiklah kalau begitu."
"Kalau begitu saya permisi, nona."
Alenia mengamati punggung Jihyun yang menjauh seraya tersenyum tipis, masih merasa aneh. Kemudian ia menutup pintu untuk menikmati sarapannya yang kelewat mewah dibanding sup jamur.
Sup asparagus dengan potongan baguette, telur dadar dengan daging asap dan sosis, sepotong waffle sirup maple dan buah segar serta segelas s**u almond.
Gadis itu beranjak ke jendela kamarnya, yang menghadap ke kolam renang di halaman belakang sembari menahan dirinya untuk tidak mengeluh dengan segala kemewahan yang ia temui di rumah itu. Terasa canggung untuknya.
--
Selepas sarapan, Alenia memutuskan untuk menaruh peralatan bekas sarapannya di dapur dan mencucinya sendiri. Tapi baru saja ia tiba di undakan terakhir anak tangga bawah, gadis itu langsung 'tersesat'.
Rumah ini sangat berbeda dengan rumah yang ia tempati bersama Sean. Ia tidak tau ada dimana dapur, ia bahkan tak yakin bahwa sekarang ia berada di ruang keluarga.
Untunglah salah seorang pelayang lewat dan menyapanya dengan sopan. "Ada yang bisa saya bantu, nona?"
"Kalau aku boleh tau, dimana letak dapur? Aku harus menaruh ini." Ia menunjukan tumpukan wadah dan sebuah gelas kosong di nampan yang ia bawa.
Pelayan tadi tergerak untuk meraih nampan itu. "Biar saya saja yang menaruhnya, nona."
"Tidak usah, tolong, biarkan aku menaruhnya sendiri."
Pelayan itu menatap canggung ke arah Alenia namun akhirnya ia luluh dan melangkah ke dapur.
"Terima kasih." Alenia tersenyum setelah menaruh nampan di dekat bak cuci karena pelayan tadi melarangnya untuk mencuci piring. "Boleh aku tau siapa namamu?"
"Jung Hana, nona."
"Aku Alenia Park, salam kenal, Hana."
Hana mengangguk pelan sambil tersenyum canggung. Ia lalu berkata dengan sopan bahwa masih ada yang harus dikerjakan di sisi lain rumah dan meninggalkan Alenia di dapur.
Alenia sama canggungnya sekarang, bingung antara ingin kembali ke kamarnya atau berkeliling di sekitar rumah itu dengan harapan ia tak akan tersesat. Tapi akhirnya gadis itu justru duduk di salah satu kursi tinggi dekat meja pantri dan menatap ukiran abstrak permukaan meja yang terbuat dari batu pualam.
Pikirannya menimbang, sejauh ini Sean masih bersama William dan tampaknya bocah itu baik-baik saja. Mungkin ke depannya juga akan baik-baik saja dan itu adalah kesempatan bagus karena ia bisa meminta ijin cuti beberapa hari untuk mengurus persiapan pernikahannya. Dan yang paling penting, ia harus pulang ke Thailand untuk meminta restu orang tuanya.
"Na-na…"
Alenia mengerjap, menoleh ke ambang dapur dan mendapati Sean yang dalam gendongan William sedang mengais-ais tangan ke arahnya seolah hendak melepaskan diri dari William.
"Sean selalu mencarimu dari tadi,” ujar William.
William menghampiri Alenia dan menyerahkan Sean ke pangkuan gadis itu. "Kuharap kau menikmati sarapanmu."
"Saya sangat menikmatinya. Terima kasih banyak, Tuan Andromeda."
"Aku lebih suka dipanggil dengan marga Koreaku."
"Tuan Oh?"
William hanya mengangguk lalu menuang air dingin ke gelas tinggi. Ia duduk di sebelah Alenia lalu meneguk air dingin itu dengan tegukan besar, membuat jakunnya bergerak berirama. Alenia segera mengalihkan tatapannya pada Sean saat bocah itu berusaha berdiri di pangkuannya dengan bersangga pada bahu gadis itu.
William sudah selesai minum, melirik Alenia sekilas. "Selama seminggu ke depan, kau tak perlu menurut pada buku tentang Sean karena aku punya agenda sendiri untuknya. Kau hanya perlu ikut."
Alenia menggigit pipi dalamnya, menerka dalam hati apakah setidaknya ia bisa mendapatkan ijin dari William?
"Ada yang mau kau sampaikan?" William menatapnya dengan tajam dan dingin, seperti sebelum-sebelumnya.
Kepalang tanggung, Alenia pikir ia harus menyampaikan maksudnya sekarang atau ia akan jadi roh penasaran. "Saya- saya…"
"Ya?"
"Bisakah… saya mendapat ijin cuti selama beberapa hari?"
William mengerutkan keningnya, membuat alis lurus dan lebatnya nyaris bertaut. "Apa ada masalah disini?"
"Tidak." Alenia menunduk, nyaris tak sanggup membalas tatapan obsidian sedingin malam itu yang menatapnya lekat dengan sedikit menunduk. "Tapi… saya meminta ijin untuk mengurus persiapan pernikahan saya."
"Pernikahan?"
Alenia langsung mendongak saat mendengar nada suara itu seperti ledakan yang tertahan. Dan rahang William yang mengeras seolah membenarkan dugaannya. Alis lurus lelaki itu semakin terlihat menukik tajam sehingga membuat matanya menyipit, menyiratkan kemarahan tertahan.
Dan Alenia tau bahwa ia sudah salah bicara. "Tuan, maaf, saya pikir-"
"Kau pikir kau bisa meninggalkan tanggung jawabmu?" William menatapnya lurus. "Aku tidak memberimu ijin untuk itu."
Alenia mengangguk meminta maaf. "Maafkan kelancangan saya, Tuan Oh."
William berdehem. "Pastikan kau tidak mengulanginya lagi." Lalu lelaki itu hengkang dari dapur meninggalkan Alenia yang menahan napasnya karena takut.
Nyaris.
Nyaris saja ia membuat William murka.
Baiklah kalau tidak boleh, ia bisa mengerti.
Yang jadi masalah adalah, ia merasa bersalah karena telah membuat William marah.
--
"Sudah berapa lama kau kerja disini, Jihyun?" Tanya Alenia sambil memegang tangan Sean untuk membantu bocah itu menyeimbangkan dirinya yang mulai berjalan.
Jihyun ada di sampingnya, berdiri patuh bak pelayan sejati yang membuat Alenia kesal. Alenia tak suka diperlakukan bak ia adalah wanita kelas atas. Tapi wanita dengan seragam pelayan itu tetap saja menatapnya dengan hormat. "2 tahun 3 bulan, nona."
Alenia menghela napas, lebih baik memusatkan perhatiannya pada Sean yang masih belajar berjalan. Sebenarnya, untuk anak seusianya, perkembangan Sean tergolong lambat. Bocah itu seharusnya sudah bisa berjalan dan sedang belajar berlari, juga mengucapkan beberapa kata dengan lebih lengkap. Nyonya Oh sendiri yang membicarakannya dengan Alenia beberapa hari lalu saat ia berkunjung untuk membawakan Alenia oleh-oleh dari Yunani.
"Sebenarnya, aku juga pernah membawanya ke dokter anak untuk membicarakan perkembangan Sean. Tapi dokter hanya mengatakan tentang speech delay dan saraf motoric yang belum berkembang sempurna. Solusinya, tentu saja dengan memberikan stimulasi agar Sean berkembang. Masalahnya adalah, aku dan William terlalu sibuk masing-masing dan sekarang aku mulai menyesal." Nyonya Oh memandang lurus ke halaman depan dengan tatapan kosong. Seolah tersadar, wanita anggun itu lalu menggenggam tangan Alenia dengan lembut. "Tolong bantu kami."
Alenia masih diam dan menatap Nyonya Oh untuk menunggu penjelasan selanjutnya.
"Aku melihat perkembangan Sean dari kamera pengawas, dan aku yakin William juga melakukannya. Maka dari itu aku tau seberapa besar pengaruh yang ada padamu terhadap Sean. Kau bisa membantu perkembangan Sean."
Alenia nyaris tak bisa berkata-kata dan merasa tanggung jawabnya sebagai pengasuh bayi menuntut hal lain yang membuat pundaknya terasa berat. "Nyonya Oh, aku bahkan tidak mempunyai latar belakang mengenai psikologi bayi."
"Sean tidak butuh itu, Sweetheart. Sean hanya perlu merasa nyaman dengan kasih sayang seorang ibu walaupun bukan ibu kandungnya dan percaya pada orang itu." Nyonya Oh masih menggenggam tangannya dengan lembut. "Orang itu adalah kau."
Tapi gadis muda itu masih tertegun.
"Mungkin kau lupa kalau aku pernah menyelidiki sedikit tentang latar belakangmu. Aku tau, saat masih sekolah menengah, kau menjadi sukarelawan untuk mengajar di sebuah sekolah berkebutuhan khusus." Nyonya Oh tersenyum dengan mata berbinar penuh permohonan. "Kau memiliki kualitas yang tidak dimiliki seorang pengasuh bayi pada umumnya. Kau memiliki kualitas seorang guru dan ibu."
Sampai pada titik ini, Alenia merasa malu atas banyak hal yang barusan diungkapkan oleh Nyonya Oh soal dirinya. Sungguh, ia merasa bahwa ia tak sehebat itu. Dulu ia memang pernah mengajar di sekolah berkebutuhan khusus, itu pun hanya sesekali dan ia tidak sendiri.
"Nyonya-"
"Sweetheart, aku tak menuntutmu untuk berhasil. Aku hanya ingin minta tolong dan lakukan yang kau bisa sesuai kemampuanmu saja."
Demi mata Nyonya Oh yang berbinar penuh harap untuk perkembangan cucunya…
Demi Alenia yang ia juga jatuh hati pada bocah bayi periang itu…
Alenia mengangguk.
--
[]