Bagian 10

1020 Words
Cuaca hari ini sangat pas untuk bermain di taman. Maka dari itu William memintanya menyiapkan keperluan pribadi Sean sementara William menggantikan pakaian Sean. Awalnya Alenia berpikir bahwa William akan menuju taman yang masih terletak di kawasan distrik elit Gangnam. Tapi dua jam kemudian, Range Rover yang mereka naiki berhenti di sebuah taman bermain di daerah Gyeonggi-do, Everland. Pada hari aktif seperti ini, Everland tidak akan sepadat biasanya dan Alenia pikir itulah yang dikehendaki William alih-alih mereka pergi saat akhir pekan. Alenia menaruh Sean yang sangat antusias di kereta bayinya dan menuruti William untuk berjalan di sampingnya sementara beberapa pengawal, dengan tampilan yang tidak terlalu mencolok, mengawal mereka dari belakang. Sean sama sekali tidak canggung saat harus berada di lingkungan luar seperti ini. Ia bertepuk tangan sambil tertawa, membuat Alenia berpikir bahwa Sean sepertinya kurang piknik dan tidak mendapat banyak stimulus untuk mengembangkan saraf sensorik dan motoriknya. Gadis itu melirik William yang berjalan tenang dengan kedua tangan di saku. "Tuan Oh?" William menoleh. "Bisakah saya menurunkan Sean dari kereta bayi? Mungkin akan bagus jika ia bisa berlarian disini." William mengangguk pelan. "Tentu." Maka Alenia menurunkan Sean dari kereta bayi dan seperti yang sudah ia duga, Sean langsung menggenggam jemari Alenia seerat mungkin dengan kedua tangan mungilnya dan mencoba berjalan mengelilingi ratusan bunga di Four Seasons Garden. Alenia di belakangnya membimbing Sean berjalan, menyemangati bocah itu agar terus antusias berada di taman bernuansa Eropa yang begitu ceria. Ratusan bunga dengan warna-warna cerah itu membuat mata Sean berbinar, sangat memanjakan matanya yang jarang sekali keluar rumah. Setelah beberapa saat, mereka berhenti di depan ratusan bunga Krisan kuning dengan banyak kupu-kupu beterbangan di atasnya. "Itu kupu-kupu, Sean." Alenia menunjuk sebuah kupu-kupu yang paling dekat dengan mereka agar masih bisa dijangkau jarak pandang bocah bayi itu. Sean mengulurkan tangannya, mencoba menangkap kupu-kupu yang sayangnya lebih cepat dari Sean. Bocah itu nyaris terjungkal ke depan kalau Alenia tak menahannya dan mereka tertawa bersama. Sean mengulurkan tangannya ke atas secara tak beraturan, mencoba peruntungannya sendiri kalau-kalau ada kupu-kupu yang tertangkap tapi hasilnya tetaplah nihil. Akhirnya bocah itu hanya tertawa lebar dan beberapa saat setelah ia menurunkan tangannya, seekor kupu-kupu besar berwarna cerah hinggap di hidungnya, membuat bocah itu menggelengkan kepalanya dengan geli. Lalu Sean kembali menggenggam erat jemari Alenia yang ada di perutnya untuk membantu bocah itu berdiri dan kembali berjalan dengan tertatih. Sampai akhirnya Sean melepas genggamannya pada jari Alenia dan melangkah tanpa pegangan sebanyak enam langkah sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas rumput. Bocah itu menatap Alenia sambil tertawa sementara Alenia membalasnya dengan tepuk tangan heboh. Ia menghampiri Sean yang tampak kelelahan namun bahagia itu. "Sean hebat sekali, sayang." Ia mencium pipi Sean dengan sayang, sama sekali lupa kalau William berdiri selang beberapa meter, menatap mereka dengan bibir membentuk seulas senyum. Lelaki itu merasa… … hangat. -- Puas bermain di antara ratusan bunga berwarna cerah, William mengajak mereka ke Lost Valley, tempat mereka akan melihat banyak hewan dari manca negara menggunakan mobil amfibi. Alenia memilih tempat yang paling dekat dengan jendela agar Sean leluasa melihat keluar. William duduk di sebelahnya sementara para pengawal berada di pintu masuk Lost Valley, tidak ikut masuk karena William ingin menikmati waktunya tanpa pengawal bersama Sean. Dan Alenia. Lelaki itu kini menatap Alenia yang sedang mengarahkan telunjuk Sean ke jendela untuk memberi tau apa saja hewan yang mereka lihat sepanjang perjalanan. Lalu sesekali Sean berceloteh dengan bahasa bayinya yang anehnya bisa dimengerti Alenia dan mampu membuat Sean tertawa saat gadis itu menyahutnya entah dengan menggelitik atau balas berceloteh. Sejak di taman tadi, William selalu memperhatikan mereka, tepatnya ia lebih banyak memperhatikan Alenia. Gadis itu, dengan sikapnya yang lembut, membuat William merasa merindukan sesuatu. Lelaki itu rindu suasana hangat untuk melelehkan hatinya yang dingin. "Papa… hauumm…" Sean tertawa ke arah William sambil menirukan auman singa, membuat William tanpa sadar tergerak untuk menunduk dan mencium pipi Sean sehingga wajahnya menjadi begitu dekat dengan Alenia. Ia bahkan dapat mencium aroma lembut yang feminin. Daisy dari Marc Jacobs, tak salah lagi. William kembali menegakkan posisi duduknya dan kembali menatap Alenia yang kini tampak canggung. Setelah beberapa saat, gadis itu akhirnya kembali memusatkan atensi pada Sean yang sudah heboh menepuk jendela mobil saat melihat jerapah Afrika. Jerapah itu lalu mendekatkan wajahnya pada jendela dan alih-alih takut, Sean justru tampak antusias. Alenia lalu menyentuh tangan Sean dengan lembut dan menempelkannya pada kaca jendela. "Cantik sekali, kan? Ini namanya jerapah, Sean." "Wahh…" William nyaris lupa kapan ia bersyukur sebanyak hari ini saat melihat Sean berkembang dengan pesat. Perasaan bersalah karena sering meninggalkan Sean untuk hari ini seolah memudar dan William bersyukur ada Alenia disini. Selesai di Lost Valley, William mengajak mereka ke Safari World dengan mobil anti peluru yang keamanannya sudah terjamin. Sean bahkan lebih antusias saat melihat sang raja hutan yang sedang melintas di dekat mobil. Bocah itu lalu menempelkan wajahnya pada kaca jendela anti peluru saat melihat seekor beruang memperlihatkan cara makannya yang menggemaskan. Hari sudah sangat siang saat mereka turun dari mobil dan Sean menguap beberapa kali di gendongan William sambil menyandarkan kepalanya pada bahu lebar lelaki itu. "Ada Panda World disana. Karena Sean belum makan, bagaimana kalau membeli Panda Bun dulu untuknya?" William mengangguk dan berjalan di samping Alenia menuju kedai yang menjual roti kukus isi berbentuk panda lucu itu. Antrean cukup panjang sehingga William menyuruh salah seorang pengawal untuk mengantre sedangkan mereka mencari tempat duduk yang teduh. "Na-na…" Sean tau-tau saja mengulurkan tangannya ke arah Alenia yang duduk di sebelah William. Saat Alenia sudah mendekapnya, bocah itu menyandarkan kepalanya pada d**a gadis itu dengan wajah lelah dan mengantuk. Untungnya, tepat sebelum bocah itu tidur, Panda Bun yang mereka pesan sudah tiba. Alenia mencuil potongan kecil dan menyiapkannya pada Sean. Meski mengantuk, bocah itu juga kelaparan. Setelah Sean melahap Panda Bun yang ketiga, ia menghabiskan sebotol s**u almond sebelum akhirnya tertidur dengan pulas di dekapan pengasuhnya. -- Alenia masih menikmati Dak Kkochi-nya saat William kembali dari kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Lelaki itu duduk di tempatnya semula di hadapan Alenia dan kembali menikmati menu ayam Korea kesukaannya dalam hening. Hanya sesekali ia menatap Alenia untuk memastikan gadis itu menikmati makanannya sebelum perhatiannya teralihkan oleh suara berat lain. "Sweetheart?" "Jaehwa oppa!" -- []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD