Jaehwa harap apa yang ia lihat tidak seperti apa yang ia khawatirkan.
Melihat Alenia sedang makan siang dengan seorang laki-laki yang beberapa kali menatapnya, tentu saja membuat insting Jaehwa waspada. Ia yakin Alenia tidak akan macam-macam.
Lalu siapa laki-laki itu?
Jaehwa menarik tangan Park Lena, adiknya, untuk menghampiri gadis yang berstatus tunangannya itu.
"Sweetheart?"
Alenia terkesiap sejenak saat melihatnya. Lalu sedetik kemudian gadis itu tersenyum lebar. "Jaehwa oppa!"
"Eonni!"
"Hai, Lena." Alenia memeluk Lena dengan erat lalu memandang wajah yang sudah lama tak ia jumpai itu. "Kau semakin cantik saja."
"Eonni juga makin cantik." Lena terkekeh pelan.
Tatapan Jaehwa tertuju pada Alenia yang semakin cantik. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Alenia setelah gadis itu terikat kontrak kerja sebagai pengasuh dari bayi yang terlelap di kereta bayi dan Jaehwa duga adalah Sean.
"Jaehwa!" Alenia memeluk Jaehwa erat sekali, membuatnya tersadar bahwa ia sangat merindukan gadis itu. "Aku merindukanmu."
Jaehwa membalasnya tak kalah erat sampai membuat Alenia sedikit terangkat. "Aku juga merindukanmu." Tatapan Jaehwa lalu terarah pada obsidian sedingin malam milik William.
Melihat raut datar William dan alisnya yang sedikit bertaut, Alenia menyadari bahwa situasi bisa membahayakan jika ia mengabaikan lelaki itu. "Jaehwa, perkenalkan-"
"William Andromeda," gumam Jaehwa.
Alenia mengerjap bingung. "Kau mengenalnya?"
"Dia teman kuliahku di London."
William akhirnya berdiri dan menjabat tangan Jaehwa dengan seulas senyum yang baru Alenia lihat. "Park Jaehwa. Akhirnya bertemu lagi."
"Bagaimana kabarmu? Kau menghilang sesaat setelah wisuda, William." Jaehwa menepuk bahu kawan lamanya dengan bersahabat.
"Alangkah baiknya kalau kalian duduk lebih dulu." William mengisyaratkan kursi kosong di meja yang ia tempati lalu menatap Lena yang meliriknya malu-malu. "Kau pasti Lena?"
"Benar sekali."
"Silahkan duduk."
Jaehwa tentu saja duduk di sebelah Alenia dan mengamati wajah gadis itu dari samping. Jaehwa merasa gadis itu jadi semakin cantik hanya dalam beberapa minggu dan itu membuatnya pusing juga bertanya-tanya dalam hati. Kalau ditelisik, riasan yang dikenakan masih sama seperti sebelumnya, foundation, pelembab bibir, dan maskara, tapi rasanya gadis itu semakin menarik untuk dilihat.
Atau mungkin karena sekarang Alenia adalah pengasuh bayi dan tampaknya gadis itu tanpa sadar mengeluarkan aura keibuannya, sehingga membuatnya jadi semenarik ini?
Memikirkan itu membuat Jaehwa senang bukan kepalang. Ia menjadi tidak sabar untuk mengikat gadis itu dalam pernikahan bersamanya dan menghabiskan waktu mereka bersama sampai seterusnya.
"Jaehwa oppa?"
"-ya?" Jaehwa mengerjap saat tatapannya beradu dengan Alenia.
"Apa ada yang salah denganku?" Alenia membenarkan rambutnya, lalu sekitar bibirnya untuk memastikan tidak ada yang belepotan dari saus Dak Kkochi-nya.
"Tidak." Jaehwa menggeleng. "Kau cantik. Sangat cantik."
Gadis itu tampak salah tingkah, wajahnya memerah karena Jaehwa terang-terangan memujinya saat ada orang lain di sekitar mereka. Apalagi William yang sebelumnya sudah Alenia buat marah karena permintaan ijin cutinya itu. Dan mungkin romansa seperti itu akan terasa memuakkan bagi William yang dingin dan Alenia tidak ingin lelaki itu menganggap Jaehwa begitu cheesy dan konyol.
"Jangan begitu, aku malu," tegur Alenia sepelan mungkin.
Jaehwa hanya terkekeh lalu menatap Sean yang terlelap di kereta bayinya. "Bayi menggemaskan ini pasti Sean."
William mengiyakan dengan gumamam pelan, menatap sayang bayinya yang sedang tetridur.
"Dan kau adalah ayahnya?" Tanya Jaehwa retoris. "Jadi gadisku ini bekerja padamu?"
Alenia mencubit paha Jaehwa dari bahwa meja untuk tidak menyebutnya 'gadisku'. Itu membuatnya malu.
Tapi Jaehwa mengabaikannya dan kembali mengajak William bicara. "Kau sudah menikah rupanya. Dimana istrimu?"
William menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi dan menyedekapkan tangan lalu menatap Sean. "Meninggal saat melahirkannya."
Jaehwa terdiam.
Alenia juga terdiam. Dia betulan baru tau soal ini.
Lena bahkan hanya bisa menatap Sean dengan prihatin.
"Maaf, aku tak bermaksud. Aku turut prihatin." Nada suara Jaehwa terdengar sangat menyesal dan merasa tidak enak.
William mengangguk pelan dengan seulas senyum tipis. "Bukan masalah."
Untuk menetralkan suasana yang tampak canggung itu, Jaehwa bertanya, "Bagaimana bisnis keluargamu?"
"Sangat baik, terima kasih." William lalu menatap Jaehwa. "Kudengar kau berhasil meraih mimpimu."
Senyum di wajah Jaehwa mengembang. Ia memang akan selalu ceria setiap seseorang membahas mimpinya. Menjadi musisi, memiliki studio sendiri, dengan sosok seperti Alenia di sisinya. "Melampaui yang pernah kuimpikan dulu."
William ikut tersenyum lalu menatap Lena yang masih terdiam di sampingnya. "Lena, kalau aku tidak salah hitung, usiamu sekarang 17 tahun."
"Benar." Lena mengangguk, tapi wajahnya memerah.
"Di bangku kelas 3 Senior High School?"
"Benar, oppa." Lena entah memiliki keberanian darimana memanggil Sehum dengan embel-embel oppa. Mungkin karena William adalah teman lama kakaknya dan sepertinya sudah tau beberapa hal soal Lena.
"Kau ingin lanjut kemana?" William bertanya lagi.
"London, seperti Jaehwa oppa. Tapi aku ingin mengambil jurusan perfilman."
William mengangguk. "Mimpi yang bagus. Jangan pernah menyerah seperti kakakmu."
Jaehwa tersenyum geli saat melihat Lena yang biasanya banyak bicara dan banyak tingkah tampak menciut di depan William. Tentu saja, sejak dulu wajah dingin William memang selalu mengintimidasi orang-orang di sekitarnya. Ia jadi heran, apa Alenia tidak terintimidasi dengan William? Buktinya ia sudah bekerja selama beberapa minggu dan tak pernah mengeluh.
Mungkin juga karena gadis itu tidak suka mengeluh, salah satu hal yang sangat disukai Jaehwa.
"Eunghhh… na-na…" Sean merengek dan menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Lalu matanya mulai membuka dan Alenia langsung menyapanya dengan senyum.
"Kenapa bangun, Sean sayang?"
Sean masih menggeliat tak nyaman sampai Alenia menggendongnya dan menimangnya sementara Jaehwa menatapnya takjub.
Alenia memang pernah bercerita kalau dulu ia sesekali mengajar di sebuah sekolah berkebutuhan khusus. Saat Jaehwa memujinya, Alenia selalu mengatakan itu biasa saja dan ia bisa melakukannya karena ada banyak bantuan. Gadis itu selalu mengelak jika dipuji dan selalu merasa dirinya biasa saja.
Tapi biasa saja bagaimana?
Di depan matanya sendiri, Jaehwa melihat langsung bagaimana mengagumkannya sifat keibuan gadis itu. Sangat natural dan tidak terlihat kikuk sedikit pun. Jangan salahkan Jaehwa jika lelaki itu mulai merasa cemburu dan takut.
Dengan sikap lembut dan keibuannya seperti itu di usianya yang masih 21 tahun, laki-laki mana yang tidak suka? Alenia tampak sangat menyayangi Sean dan William sendiri mengatakan istrinya meninggal saat melahirkan Sean. Itu artinya, William berpeluang untuk menikah lagi dengan wanita manapun yang ia inginkan. Dalam kasus William, lelaki sepertinya jelas akan memilih wanita yang bisa mengurus anaknya dengan baik.
Dan Alenia adalah wanita itu. Parahnya, Alenia masih harus melewati berminggu-minggu lagi sebagai pengasuh Sean. Bagaimana kalau sesuatu yang ia takutkan terjadi?
Mendadak Jaehwa teringat beberapa saat lalu, saat William sesekali menatap Alenia yang sedang makan. Jaehwa juga laki-laki dan ia telah mengenal William jauh sebelum ini. Ia tau persis tatapan seperti apa yang dilemparkan William pada Alenia. Menginginkan
Jaehwa takut jika suatu hari Alenia meninggalkannya karena William menginginkan gadis itu, Alenia-nya.
"Jaehwa oppa, kau kenapa?" Alenia sudah duduk kembali setelah berhasil menenangkan Sean yang mendadak gelisah. "Wajahmu pucat. Kau sakit?"
Jaehwa menggeleng, berusaha menyunggingkan senyum baik-baik saja. "Aku lapar."
Alenia berdecak. "Seharusnya oppa bilang, biar aku pesankan." Gadis itu lalu menatap Lena. "Kau mau makan apa?"
Lena nyengir. "Dak Kkochi seperti punya eonni tampaknya menggugah selera."
Alenia menoleh pada Jaehwa. "Oppa pasti mau Dak Kkochi dengan mi kacang hitam kan?"
Jaehwa terkekeh sambil mengelus pipi Sean. Saat Alenia hendak beranjak untuk memesan, William sudah berdiri lebih dulu. "Biar aku yang pesan."
Dan Jaehwa langsung menyesal karena seharusnya ia tak memberi William celah untuk memperlakukan Alenia sebaik itu.
--
[]