KESETIAAN ITU PALSU

263 Words
Aku segera berlari masuk kedaam kamar. Kubanting pintu dengan keras. "Tega kamu ngelakuin ini sama aku mas." Gumamku seraya terisak. Kreett.. Tak berselang lama Mas Reno membuka pintu. Ia duduk disamping ranjang, berkali-kali ia meminta maaf tapi aku menggubrisnya. "Aku mau kita cerai Mas!." "Nggak, aku sayang sama kamu. Aku gak mau pisah sama kamu Lun!." Ucapnya memeluk tubuhku. "Kalau kamu sayang dan cinta sama aku. Gak mungkin kamu menikahi wanita itu Mas!" "Aku hanya menginginkan anak darinya. Nanti setelah dia melahirkan aku akan menceraikannya." Ucapnya mencoba meyakinkanku. Aku benci hidupku! Kalo tidak berpikir ada anak didalam kandunganku. Mungkin aku sudah b*nuh diri saja. "Jika aku sudah hamil, apakah kamu akan menceraikan dia untukku Mas?". Kulihat wajah Mas Reno terlihat kebingungan, tapi sesaat senyum mengambang dibibirnya. Dia menggangguk. Segera kubuka laci lemari, dimana aku meletakan tespack yang kupakai sore tadi. Aku menunjukan tespack garis dua kepada Mas Reno. Tapi ia malah memandangku penuh ragu. "Apa kamu hamil?." Ucap Mas Reno sambil memegang bahuku. Aku mengangguk lalu memeluk Mas Reno. "Kamu harus tepatin janji kamu tadi Mas. Aku gak mau dimadu." Mas Reno bergeming. Ia tak menjawab perkataanku. "Mas?." Panggilku seraya mengguncangkan bahunya. "Ehm..Mas tidak bisa Lun." "Bagaimanapun ada anak antara aku dan Reta." Ucapnya seraya menatapku dengan tatapan memelas. "Tapi kamu sudah janji sama aku mau menceraikan Reta Mas!." "Nanti kita omongin ini lagi. Mas mau mengantar Reta dulu" Ucapnya seraya mencium keningku lalu melenggang keluar dari kamar. Tangisku pecah. Lelaki yang kuanggap setia malah tega menikah diam-diam dibelakangku. Aku takkan sanggung menerima semua ini. Aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan Mas Reno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD