#Pmkn-Kafe Seberang Pemakaman

2263 Words
Blok yang berada di tengah-tengah pemakaman, memang seolah terlihat ramai pengunjung jika, sedang musim menengok mendiang. Namun, jikalau kita lihat lebih dekat lagi, semua itu hanya semu. Blok di tengah pemakaman tidak ada tanda keramaian dari mendiang saat menengok rumah perisitirahatan terakhir. Malah blok yang berada di tengah tuh paling sepi, sunyi, dan sedih. Membuat Elanor menghela nafas beratnya berkali-kali. Ia menoleh ke samping kanan, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pohon besar dengan bunga yang bewarna kuning. Bosan. Melihatnya. Ia menoleh lagi ke arah kiri, eh ternyata ada petugas pemakaman yang sedang sibuk menghitung untuk mendata perbaikan batu nisan. Ah basi! Elanor bosan! Akhirnya dia memutuslan untuk meninggaljan singgah sananya dan berjalan-jalan menyusuri pemakaman.. Kali aja dia akan bertemu dengan arwah yang ia kenali atau mungkin Steffi yang sedang berjalan ke arah blok ini. Mugkin saja. Atau jangan-jangan dia akan bertemu dengan beberapa arwah dari orang-orang terdekatnya yang kata orang tuanya dimakamkan di sini juga. Namun, kayaknya kalay itu mustahil. Soalnya, awah mereka sudah puluha tahun meninggalkan dunia, jadi, kemungkinan mereka sudah naik ke atas dan menikmati indahnya alam akhirat. "Lho. Dia mau ngapain? Kok lewat situ?" Gumamnya sambil mengambil langkah untuk mendekat pada kerumunan arwah yang kini sedang dalam mode kesedihan. "Sembah sujud arwah spesial." "Hey! Bangun! Kau kenapa begitu dengan ku?" Elanor mengambil tubuh petugas yang belum ia ketahui dalam bidang apa. Maklum, kan Elanor hitungannya masih arwah baru. Jadi, ya belum hafal dengan semua arwah. Namun, kenapa dia tau identitas Elanor yang merupakan arwah spesial? Se-terkenal itukah dirinya? Elanor menyunggingkan senyum penuh rasa bangga hingga akhirnya ada suara cempreng yang menyelesaikan semuanya. "Elanor? Kau ngapain disini?" "Lo juga ngapain di sini?" Elanor balik bertanya pada Steffi yang terlihat sangat terkejut dan seoleh menyembunyikan sosok arwah di belakang tubuhnya. Elanor tidak penasan arwah siapa itu, dia malah lebih penasaran dengan alasan Steffi dan kawan-kawannya yang berada di sini? Di daerag paling belakang dari pemakaman, dengan perlakukan mengendap-endap layaknya pencuri di area perkomplekan. Mau ngapain mereka? Mau mencuri? Gak mungkin. Mereka adalah arwah tajir melintir yang dimakamkan di sini. Jadi, tidak mungkin. Elanor terus berfikir sampai suatu ketika kepalanya dipegang erat oleh Lira, "Bisa gak si lo, kalo ketemu kita-kita gak usah kebanyakan mikir? Tajya aja langsung. Gua pusing denger spekulasi lo mulu. Berisik tau gak si." Cibir Lira yang hanya dibalas kikihan oleh Elanor. Sementara Steffi masih sibung menyembunyikan Ramanda yang padahal, arwah itu tengah berada di hadapan Elanor, "Lo arwah spesial kan? Gua tegesin sekali lagi ya. Lo jngan milih gua buat jadi, jin. Oke? You got my point?" Ketus Ramanda dengaan jari telunjuk tepat di depan hidung mancung Elanor. "Heh? Siapa juga yang mau milih lo? Lagian, milih buat apaan? Jadi pacar? Kan kaga boleh pacaran. Gimaba si lo!" Elanor menatao Lira, "Gimana sig temen lo." Lira hanya menaikkan bahunya karena, ada Steffi yabg mengambil alih untuk membalas semua ucapan Elanor. "Gak usah sok polos dan sok gak tau deh." "Lah? Emang gua gak tau. Ada apaansi lo? Kenapa sensi banget sama gue." Sentak Elanor yang kali ini kesal pada Steffi. Perkataan maupun ucapan Steffi sudsh keterlaluan, membuat dirinta memaksa menumpahkanbrasa kekesalannya yabg padahal, jarang sekali ditampilkan. Elanor berkata jujur, tidak sok gak tau seperti ucapan Steffi tadi. Namun, kenapa dia disangka pura-pura tau. Memvuat elanor kesal hibgga jari tengahmya ia naikkan ke atas. "Lo mau ngamb Ramanda kan? Iya kan?" "Ngambil? Kaga lah! Emang dia kenapa? Punya salag sama gua?" Steffi maupun Elanor masih veradu argimen dengan aangat sengit. Layaknya dua anggota dewan yang sedang memperebutkmkan takgta tertinggi pada sistem pemerintahan. Sementara Ramanda sendiri yang kini sedang masuk dalam argumen hanya bisa menatap keduanya sambil melanjutkan agenda ngupilnya. Membuat Lira dan Antonio jijik hingga akhitnya Ramanda berteriak. Masih ingat kan teriakan calon arwah penasaran tuh kerasnya gimana. Hmmm, bisa membuat satu pemakaman geger. Namun, demi menyudahi debat yang tak kunjung selesai itu ya hanya ini caranya. Dan, semua itu berhasil. Steffi dan Elanor menghentikan argumennya membuat senyum simpul Ramanda tergamvar jelas dan juga langsung menggandeng Steffi untuk menjauh dari Elanor. "Dia kenapa sih, Ton?" Tanya Elanor pada Antonio. Untung saja Antonio ini adalah arwah yang cakap untuk menjelaskan. Membuat dirinya nyaman dan sangat mengerti pelan-pelan.Namun, ya memang ada terkejutnya sedikit kala mendengar jika, keputusan memilih jin ada di tangan Elanor. Padahal, dirinya sendiri belum sama sekali mengetahui tentang permasalahan jin. Atau apapun itu. Elanor belum mendapatkan perintah apa-apa. Gimana caranya mau netapin arwah jadi jin. Aneh. Kepalanya hanya bisa menggeleng ria diikuti tawa dari Antonio maupun Lira. Dan... Akhirnya, mereka semua sampai di kafe seberang pemakaman. Nama yang cukup panjang untuk sebuah kafe yang mempunyai bangunan serta desain minimalis ini. Namun, mungkin saja itulah daya tariknya. Kafe yang berada di seberang pemakaman. Mempunyai kesan sedikit seram namun, saat sampai di lokasi akan dibuat tercengang dengan betapa indahnya kafe tersebut. Sampai-sampai membuat para arwah ini semua tercengang dan laku merekahkan senyumannya. "Inget! Kita bukan tamasya ke sini." Jelas Lira yang kembali mengingatkan semua temannya. Membuat Steffi yang sudah berada di depan mesin kopi terpaksa kembali lagi, "Kita mau ngapain si ke sini?" Tanya Elanor yang sama sekali belum tau kenapa dia ada di sini. Soalnya kan, dia cuman ngikutin Lira dan Antonio. Tujuan awalnta juga dia cuman mau keliling pemakaman. Eh tau-taunya malah keluar pemakaman. Kan absurd banget. "Sembah sujud arwah spesial." "Ah damn it! Suara itu lagi. Siapa sih kalian kok ngasih hormat mulu. Gua sama kayak kalian derajtnya." Elanor membalikkan tubuhnya dab langsung terkejut. Mendapati banyak arwah yang kini sedang menyembag dirinya. "Kalian... Kenapa di sini? Bukannya seharusnya sudah naik ke atas?" Tanya Elanor. Membuat Steffi memincingkan kedua matanta. Kenapa dia bisa berkata begitu, katanya, dia belum tau mengenai jin dan sebagainya. Tapi, dilihat dari perlakuannya sekarang, Elanor tampah familiar dengan arwah yang kemungkinan adalah jin, "Kami masih harus menuntaskan satu misi lagi sebelum akhirnya bisa pergi ke atas." Sahut salah satu arwah yang kini sudah berdiri di hadapan Elanor. "Ohhh, begitu. Kalau kau kenapa masih menjadi sosok arwah pembawa pesan? Mana pesan perintahku? Agar aku tidak disangka tak tau apa-apa oleh arwah pemakaman biasa." Sentak Elanor yang sedikit menyindir Steffi. Dirinya mengetahui hal itu, makanya kepalan tangannya kini berada di belakang kepala Elanor untuk berjaga-jaga jika, Elanor menyindirnya kembali, Steffi tak segan-segan menjitak kepalanya di hadapan bawahannya ini. Lagipula, Steffi juga belum tau pasti apa perbuatannya tadi salah atau benar. Masalanya perlakuan Elanor kini sangat terlihat mengetahui dengan dunia jin. Jadi, Steffi pantas melakukan ini semua pada Elanor. Sampai akhirnya sekumpulan jin itu pergi dan mereka semua duduk di kursi du sudut ruangan agar tidak menganggu para konsumen yang sedang menikmati suasana di dalan kafe ini, "El." Panggil Ramanda. "Gue gak mau jadi jin ya. Kalo lo mau ambil kekuatan ilang gue silahkan aja. Tapi, jangan tawarin gue jadi jin—gue mau bales dendam, El." Jelas Ramanda dengan mimik wajah penuy harapan serta putus asa. Baru kali ini ia begitu berharap pada orang lain selain dirinya sendiri. Ramanda merasa jika, ya dia harus melakukan ini semua agar posisinya sebagai arwah penasaran aman. Ya... Tapi, tetap saja ada bagian dari dirinya yang harua menjadi korban. Padahal, Ramanda sudah merencanakan balas dendam dengan kekuatan menghilangnya itu. Namun, apa boleh buat.Rasanya Ramanda harus mengamankan posisinya lebuh dulu agar balas dendamnya bisa terwujud, "Ramanda." Panggil El dengan wajah seriusnya. Ramanda menoleh lalu menatap mata El. Sorot matanya begitu serius sampai membuat Steffi, Lira, dan Antonio ikut serius untuk menunggu jawaban dari mulut El. Namun, lagi-lagi ada aja penghalangnya. Kali ini dua arwah yang sudah melalukan sembah sujud pada Elanor langsung mendekat ke arah Lira, "Defan!" "Itu namaku 8 tahun yang lalu. Sekarang namaku Roger." "Sialan! Sok keren banget lo ganti-ganti nama terus." Cibir Lira. Roger malah tertawa dan langsung mengacak ramvut Lira. Steffi yang melihat itu semua hanya bisa dibuat tercengang. Gilaaa nih anak. Bisa-bisanya gak baper digituin sama arwah ganteng begitu. Kalo gue dmyang digituin bisa-bisa bukan rambut gue doang yang berantakan. "Hati lo berantakan juga ya." "Duh! Kok lo bisa denger pikiran juga sih! Gak seru vanget." Cibir Steffi yang sedang membenahi rambut setelah diacak pleh Roger yang kini sedang terbahak. Rupanya masih ada yang terpesona dengan parasnya ya. Membuat hatinta senang hingga senyumnya merekah sempurna. Lira yang bisa mendengar semua rasanya, ingin sekali menjahili Roger. Namun, sudahlah. Berenti dulu. Kasian anak orang lagi kasmaran. Ia malah cekikan sendiri yang tiba-tiba mendapatkan jitakan dari Antonio. "Kasih tau gua, lo pada doang yg bisa denger pikiran orang. Gua yang cuman busa ecek-ecek doang mah bisa apa—jadi, kambing ompong doang." Cibirnya. Dan langsung dinotice oleh Ramanda yang baru saja selesai denga makanannya, "Intinya si Roger seneng ada yany bilang dia ganteng. Gitu doang." Jelasnya oada Antonio yang kini sedang menatao matanya. "Jangan terus-terusan. Nanti lo suka sama gua kan berabe." Sentak Ramanda yang langsung mendapatkan balasan jitak kelala dari Antonio. Jitakan itu terasa, tapi, tidak menyakitkan. Malah membuat Ramanda tertawa terpingkal karena, melihat Antonio yang mendadak hatub dari kursinya setelah menjital Ramanda. "Karma is real, boskuuu." Goda Ramanda yang langsung dibalas jaru tengah Antonio. *** "Lo calon jin, ya? Bisa ngilang kan lo?" "Emang kalo bisa ngilang harus banget jadi jin gitu?" "Ya iyalah! Ada dua syarat wajib daru arwah biasa buat naik ke tingkat jadi jin." "Tapi, sayangnya gua gak butub naik tingkat. Gimana dong." Serobor Ramanda dengan tampang tengilnya. Membut Rogwmer sedikit jengjel dan menyudahi ucapannya. Padahal, selain Ramanda mereka semua penasaran dengan satu syarat yang busa dinaikkan pangkatnya. Jangankan arwah biasa. Si El aja sebagai arwah spesial masih mau denger mengenai apa syartnya. Kali aja itu kan bisa menudahkan pekerjaannya nanti, jika, sudah mendapatkan surat kerja untuk menetapkan arwah yanf akan menjadi jin. Namun, Roger sudah dibuat jengkel oleh Ramanda. Dirinya sama sekali tidak membuka mulutnya dan menggunakan mulutnya itu hanya untuk mengigit es batu sisa dari minumannya. Sssst! "Ah!" "Jorok lo anjing!" Pekik Ramanda tanga tangan yang otomatis menenplak punggung belakang Roger. "Bau banget sialan! Kentut arwah ganteng baunta kaga sedep juga ternyata." Cibit Steffi yang langsung dibalas denfab gelebgan kepala. "Jangankan arwah ganteng. Kentut orang ganteny aja belum tentu sedep—gimanah dah lo." "Oiya! Bener juga lu. Maklum lah, kan gua udah lama gak jadi orang. Jadinya kaga inget ada kata orang." "Yailaaa! Mati belum ada satu taun aja udah kayak mati lama banget. Apa kabar gua." Sentak Lira. Lalu mereka semua malah tertawa. Seperti ada yang lucu aja.Lira dianggap ssbagai pelempar jokes sampai punchlinenya begutu ciamik hingga menghasilkan tawa. Padahal, sesugguhnya dia tidsk sedang melucu. Hanya membalas ucapan seseorang memang harus dijawab olehnya. Aneg banget dah. Tapi, yaa sudahlah. Lira lebih baik menghabiskan makanan yang sudah terhidangang di meja selama lima belas menit tersebut. Untung belum terlalu dingin, kalo sampai dingin dia pasti akan mengomeli Roger yang sedari radi menuntutnya untuk terus berbicara tanpa jeda. Sementara mereka semua makan Elanor malah sibuk menandatangani lembaran kertas yang kini bertumpuk di meja. "Jadi arwah spesial gak kalah hits ya kayak jadi artis." Kata Antonio. Hanya dibalas kikihan oleh El dengan tatapan lurus ke arah Antinio, "Kenapa?" Tanya Antonio saat melihat tangab El bergerak ke arah bawah sampai mulutnya. "Dia mau makan maksutnya. Laper itu." Tegas Steffi yang akhirnya membuat jelas semuanya. Lagian ada-ada aja. Udah tau Antonio tuh arwah paling bofoh untuk meberima kode-kode. Ehhhh malah dikasih kode oleh arwah spesial kita.Kan gak jelas. Membuat Antonio langsung menghampiri El dengan tangab membawa piring. "Aaaaaaaa" Jelasnya sambil membuka mulut. Menyuruh El menganga untuk memasukkan makanan yang sudah ia angkat, "Aaa! Biar aku aja yang nyuapin dia, kalo dia laper." "Tau nih! Udah turunin makannannya." "Minggir kek eh! Ngalangin gua liat muka El aja." "Buset. Gua diserbu." Pekik Antonio. Dia kembali ke tempat semula walaupun El berkata jangan. Bisa gila kalo dia nurutin perintah El. Bisa-bisa dia pulang ke pemakamann jasi dendeng kali. Karena, abia dipukulin trus jadi gepeng. Dihhhh ogah! Mending cari aman aja dah. Antonio bergidik ngeri atas ulah fans fanatik beberapa arwah yang tak sengaja bertemu dengan El. Semua itu membuat Steffi tertawa renyah tanpa menghirauka Antonio yang sedang menatap tajam dirinya. "Kenapa?" Tanta Steffi "Lo kejam." "Emang! Baru tau L." Ia kembali tertawa lagi. Tidak peduli raut wajah Antonio yang semakim asam layaknya belimbing sayur. Sampai akhirnya tak terasa ternyata sudah satu jam lamanya. Mereka semua harus segera kembaku ke pemakaman karena, waktu yang dibeli dari penjaga gerbang belajang sudah habis. Namun, makanan masuh tersiaa banyak di atas meja. Mubazir kalau dibuang. Antonio berdiri dan menatap semuanya. "Kita hompimpa buat balik ke pemakaman dan bayar ke penjaga gerbang lagi." "Deal! Biar adil!" Sahut Lira yang sangat menjunjung tinggu keadilan. Diikuti Lira dan Elanor. Sementara Ramanda yaang masih saja berkutat dengan gadget yang ia pinjam dari Roger, hingga akhirnya disadarkan oleh Lira dengab tamparanya. "Gua ufah ngangguk kok anjir!" Sentak Ramanda yang sambil mengaduh kesakitan. "Lira kejem banget ya. Kayak ibu tiri." Kata Steffi yang langsung membuat tangan Lira kembali naik ke atas, "Bawang putih! Jaga ucapan kau!" "Garing lo ah!" Ketius Steffi yang veralih kembali menatap Antonio yang ternyata ikut terkikih. "Yaudah yaudah, kta hompimpa sekarang." "Dih.Ngapain?" Tanya Roger sangat polos. Semua itu cukuo membuat Antonio kesal dan menghiraukannya. Roger merasa dihiraukan, maka, dirinya langsung berdiri si sebela Antonio dengan menelfon. "Rombongan Lira nambag waktu satu jam di luar area ya, salam Jin Roger. Selamat bekerja." Katanya. "Selesai! Kalian bisa di sini satu jam lagi." Kata Roger yang kembali duduk. Ia memasang tampang temgilnya layaknya orang yang habis berperang demi keadilan. Padahal, setelah semua yang ia lakukan dirinya tidak mendapatkan balasan sesuai dengan ekspektasi yang ada dalam kepalanya. Karena, para arwah yang baru saja mendapatkan perpanjangan waktu malah asyik menyantap makanan di meja dalam waktu singkat. Membuat Roger hampir tidak kebagian jatah padahal, dia semua yang membekinya. Emang nasip sial!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD