#Pmkn-Gideon

1081 Words
Steffi bergulat dengan seorang perempuan berseragam putih s**u yang kini menendahg wajahnya, "Anak Tekondo kok beraninya sama anak rokris. Aneh banget!" Decihnya sambil menyapu darah dari area mulut. Ya. Dia sedang adu jotos. Entah dengan alasan apa. Steffi tidak terlalu mengerti krjelasan semua ini. Tiba-tiba databf segerombolan cewek ke kelasnya. Mereka langsung menarik lengan Steffi hingga sampai ke belakang gedung sekolahnya. Lalu, datang perempuan ini. Tinggi besar, punta otot, dan dadanya tegap. Saling berhadapan lah Steffi. Hingga akhirnya terlihat tampak dua tokoh kartun dari Rusia namun, berbahasa Jerman. Steffi hahya tertegun pasrah. Pikirannya terua merongrong jika, ini adalah hari terakhirnya di dunia.Padahal, tidak semudah itu. Ternyata Steffi masih sanggup membalasnya. Hingga membuat perempuan ini kelabakan. Untung saja dia selalu sedia semprotan cabai di saku celananya. Jadi, aman sentosa sampai akhirmya BUG! "ANJING!" Pekik Steffi yang sudah tersungkur ke tanah. "Lo ada masalah apa sama gue?! Ngomong aja gak usah pake kekerasan. Kayak preman lampu merah lo!" Sambungnya sambil menciba berdiri sekuat tenaga. Namun, lagi-lagi dirimya belum sempat berdiri dan masih sempoyongan itu kembali di hantam dengan tinjuan pada d**a yang seketika membuat nafasnya tersendat, "Lo kalo mau gatel sama cowok yang jomblo aje—jangan cowok orang lo godain! Sampah!" "Anjing! Apa lo bilang?!" Steffu masih sanggup meladeni omong kosong dari cewek yang berlindung di belakang perempuan inu. Membuat Steffi muak dan mengumpulka tenaga agar bisa melihay sosok cewek tersebut. Dan akhirnya, bukan wajah cewek yang ia bisa lihat tapi, wajahnya sendiri yang kini ia lihat. "Ati-ati dong! Kalo gue nyebut ke danau gimana? Tolil banget dah lo kalo nendang orang!" Pekik Steffi lagi yang kini mempunyai wajah berantakan. Memar di banyak area hingga darah yang keluar bebas dari hidungnya, "Gua harap lo tau si kesalahan lo dimana!" Kata si cewek lagi yang semakin membuat darah Steffi mendidih. "Gimana gua mau tau kesalahan gua sendiri kalo lo gak ngasuh tau! Cuman bawa tukang pukul begini! Trus juga!" Steffi memberi jeda untuk bernafas, "Gua gak pernah godain cowok orang! Inget itu!" Semua itu hahya mendapatkan decihan semata, "Kalo gak pernah, kenapa Gideon sampe ngasih emotikon love di room chat kalian—hah?!" Ternyata itu, Steffi berdecih dan terkikih, "Lo pacarmya Gideon?" "Bukan" "Lah! Trus siapa? Kok lo ngomong 'cowok orang' ke gue?" Seru Steffi sambil menahan tawanya. Kini cewek itu perlahan menampakkan diri ke depan Steffi. Dengan tangan yang dilipat pada d**a, serta tatapan sinis yang ia layangkan, "Dia calon pacar gue." Cyyah "Calon pacar lo bilang?" Tanya Steffi yang kini juga menyilangka tangannya, "Baru calon aja udah belagu—gimana udah jadi pacar. Lagian lo gak tau gue siapanya Gideon?" Steffi semakin menyombongkan diri di depan si cewek. Gimana gak sombong.. Ini kesenpatan yang bagus untuk menyombongkan statusnya sebagai wanita yang paling berpengarub pada kehidupan percintaannya Gideon. Semua cewek yang mendapatkan restu darinya sudah dipastikan mempunyai peluang 90 persen untuk menjadi pacar Gideon. Karena, penilaian Steffi sebagai wanita tidak pernah salah dan tidak diragukan lagi keabsahannya. Oleh sebab itulah Gideon menaruh kepercayaan penuh pada Steffi untuk melakukan screning sebelum melanjutkan tahap pendekatannya. Jadi, kemungkinan besar si cewek ini menjadi cewek ke sekian yang masih dalam daftar hitam Steffi dan akan dijauhkan oleh Gideon setelah Gideon menceritakan atau menunjukkan fotonya pada Steffi. Ia membeberkan semua di hadapan si cewek. Tentunya dengan tawa jahat yang diselingi dengan dorongan jari pada dadanya, "Jadi gimana? Masih mau lanjut sama Gideon atau enggaa?!" Seru Steffi tepat di depan wajah si cewek. Membuay mata yang tadinya tegas mendadak menciut dan menatao ke arah lain. Tak berani melakukan kintak mata seperti tadi. Gerakkannya juga melambat dan tidak ber-api api seperti tadi. Membuat senyum Steffi tersungging dsn akhirnya menjauh kembali. "Tenang aja! Gua bukan tipe orang yang main kekerasan juga buat bales dendam—gua orangnya smooth." Jelas Steffi sambil merapihkan pakaiannya. Dan, dia juga menatap ke arah perempuan yang memukulnya tadi, "Lo dibayar berapa sama dia? Kalo sama gue dibayar tiga kali lipat, buat mukulin dia—lo mau?!" Tanya Steffi dengan mengadah sedikit ke atas. Inilah waktunya untuk sombong. Berlagak petantang petenteng layaknya jagoan dalam filn action. Steffi sangat menikmati itu semua hingga hatinya menghamburkan banyak kata bahagia, "Stef." "Ternyata lo tau nama gua, ya?!" Steffi menoleh pada si cewek yang kini membungkuk di hadapannya. "Maaf." "Maaf lo bilanga? Gampang banget lo bilang maaf setelah muka gua ancur begini." Steffi kembalu mendekatkan diri. "Lo tau gak?!" Dagu si cewek diambil agar menatap mata Steffi, "Muka gue tuh aset gue! Lo mau bayarin sampe memarnya ilang gak?" "Mau! Gua bayarin sampe muka lo kaya semula." Si cewek menjawab dengan sangat cepat. Membuat Steffi tertawa renyah dan langsung mendelikkan mata, "Tapi, sayangnya gua gak mau dibayarin lo!" Balas Steffi dengan tawa jahatnya. Dia langsung mengambil langkah menjauhi gerombolan si cewek dan perempuan tukang pukul. Dengan langkah kaki yang cukup besar dan tegas dirinya bisa memberikan pelajaran dari segi mental untuk mereka semua. Untung saja permasalahannya hanya sebatas Gideon. Steffi bisa menyelesaikannya dengan sangat cepat dan sangat tepat. Jika, bukan. Pasti dirimya sudah berada di pemakaman. Pikirnya sambil terkikih untuk menemaninya sampai ruang sekret fakultas. "Weh! Napa lo? Berantem sama siapa lo, Steff?" "Bonyok amat tuh muka kaya mangga yang dilempar adek gua." "Tuh muka apa jalanan kelapa gading? Jelek amat." "Diem ye lu semua!" Sentak Steffi yang kini duduk di salah satu bean bag yang tersedia. Dia mengambil cermin saku untuk meluhat seberapa parah lebam pada wajahnya. Sedang berkaca disambi mengumpat nama Gideon pula. Membuat orangnya panjang umut karena, tiba-tiba langsung datang. "Stef!' "Heh! Iya!' "Kok lo bengong si!" "Masaaa?" Tanya Steffi tak pecaya. Antonio mengangguk sempurna, "Lo masih mikirin temen lo itu?" Tanyanya lagi. Steffi hanya bisa berdehem, dia tidak tau mau membalas apa. Di hanya teringat masa lalunya saat bersama Gideon. Dirinya juga sama menyesalnya dengan Gideon karena, pernah mendenail semua perasaan. Steffi tidak mau hubungan pertemanannya hancur kala mereka bertengkar dan amit-amit putus hubungan as a couple. Steffi takut akan hal itu. Padahal, dirinya belum mencoba sama sekali dan akhirnya malah menjadi arwah. Membuat dirinya semakin putus asa namun, hanya bisa bertopang tangan. Andai waktu bisa diputar. Udah gua puter tuh. Pikir Steffi sambil melamun.. Membuat Antonio semakin kewalahan karena, kini banyak asap mengepul di belakang Steffi. "Lo punya kekuatan apa lagi si, Steff! Kok sampe banyak asep begini." Serunya. Steffi masih belum sadar, hingga tangan Antonio menampar pipi gembilnya. "Apasih, Ton! " Liat belakang lo!" "Anjir! Asep apaan nih!" "Baru sadar kan lo! Cepet udahin galau lo coba! Soalnya nih asep baru muncul pas lo galau-galau gak jelas." Perintak Antonio sambil mengibaskan asap-asap di sekelilingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD