Sesungguhnya apa yanng dicari di dunia sih. Jika, ujung-ujungnya kita akan menjadi debu saat meninggal nanti. Tidak membawa apa-apa dari alam dunia. Hanya berbekal ama baik selama dunia. Namun, kenapa saat di dunia kita lebig mendahulukan masalah uang? Bukannya kelakuan? Membuat bingung semua makhkuk di dunia.
Pontang panti mencari kekayaaan agar menjalankan kehidupan dengan damai dan sentosa. Ujar salah satu tokoh beragama. Membuat Steffi sedikit muak hingga akhirnta ia mencap orang tersebut hanta membual.
Jelas sekali. Kita di dunia sangat membutuhkan uang ketimbang kelakukan baik. Memang bayar sekolah bisa hanya pakai kata-kata manis diikuti kepala menunduk memberi penghormatan? Kan tidak. Big no!
Kita membutuhka uang. Makanya harus dicari hungga pontang-panting. Bukan hanya menunggu dari sang pemberi rezeki yang memang setiap ciptaannya pasti sudah memiliki rezekinya masing-masing. Namun, ya harus tetap dicari.
"Lo kenapa si, Steff? Sinis banget tuh muka." Ujar teman satu kelas Steffi.
Dirimya tidak tau jika, memasang tampang sinisnya sedari tadi. Soalnya dia sibuk bergulat pada fikirannya agar tak membenci tokoh agama tadi yang merupakan adik dari ibunya. Alias, pamannya sendiri.
Padahal, sesungguhnya Steffi ingin sekali membenci sosok dia. Itu adalah cita-citanya sejak 1 jam belakangan.
Andaikan dia bisa mengangkat tangan dan melakukan debat bersama, akan dia lakukan sepenuh hati. Sayangnya, tidak bisa. Di depan dia Steffi harus terlihat setuju dengan semua ucapannta. Walaupun, Steffi melakika kegiatan munafik yang saat di belakang mencemoohnya bersama teman-temannya.
Steffi menghela nafas seraya menggendong tas untuk menuju kantin fakultas kesehatan, "Steff lo gak ke perusahaan hari ini?" Tanya temannya lagi yang sudah janjian untuk makan siang bersamanya itu.
Gideon namanya.
Seorang pria, bertubuh atletis yang membuat dirinya mengangumi otot-otor di peruthya yang hampir menyerupai roti sobek tersebut. Namun, sayangnya lagi-lagi Steffi harus menahan rasa kagum itu semua karena, Gideon mempunyai banyak fans yang menyerupai sebagai kekasihnya itu.
Fans sai Gideon sangat over protektif, seperti halnya sekarang.
Bahu Steffi disenggol agak keras, hingga membuat jari tengahnya mengacung ke atas, "Gak usah kegatelan lo sama pacar gue." Katahya begitu.
Lah siapa, yang kegatelan. Orang Steffi lagi gak alergi. Aneh banget kan tuh orang. Steffi menggeleng ria menatap Gideon yang sedang asyik memakan rotinya.
Bukannya bilang maaf kek karena, punya fans bar-bar. Ini malah ketawa-ketiwi. Aneh banget lo Gideon. Pengen gue jotos kayaknya.
"Ya tuhan, Stef.Lo belum pernah nge jotos gue. Masa udah ninggalin gue duluan. Gua kangen lo tau." Ujar Gideon di depan batu nisan Steffi.
Nisan yang begitu cantik dipadukan dengan satu bucket mawar bewarna merah dan biru kesukaan Steffi. Membuat makam tersebut tambag cantik se-cantik paras orangnya.
Ah sial. Gideon merindukan sosok Steffi sampai-sampai air matanya jatuh sangat indah, "Stef. Jika, lo masih ada. Mungkin gue gak akan kesepian kayak sekarang." Ia menghela nafas.
"Gue gak akan makan siang sendirian, gak akan balik sendirian, dan, mobil gue akan kepake buat anter jemput lo setiap hari. Ya kan, Steff?" Jelasnya yang sudah di ambang batas manusia normal sampai mengajak bicara batu nisan sambil mengelusnya.
Gideon begitu tak kiasa menahan sesak di d**a hingga akhirnya menumpahkan semua bebannya saat ditinggal Steffi. Bebannya yang 80% berisi penyesalan dirinya yang dahulu tidak berai menyatakan perasaan dalam hatinya. Hingga akhirnya, semua itu tumbuh menjadi penyesalan terbesar dalam dirinya.
Memang. sekali lagi... Jika, punya rasa pada seseorang tuh harus diungkapkan. Jangan, menunggu wakti yang pas yang akan membuat suaru moment. Melainkan kita harus membuat moment itu sendiri di waktu manapun. Membuat Gideon frustasi dalam tangisannya
"Kau, siapa?"
"Dia gak dengert suara lo, Steff."
" Astaga! Gideon!" Pekik Steffi hingga Antonio terkejut. Tubuhnya dikibas oleh Steffi agar dia bisa melihat orang pada makamnya dengan sangat jelas. Membuat Antonio mencibir atas perlakuanya, "Dia nangisin lo, Steff—pacar lo ya itu?"
Plak!
"Sembarangan lo kalo ngomong. Dia sahabat gue. Sohib banget gue aama dia."
"Halahhhh" Antonio mencibir, "Cowok sama cewek gak ada yang bisa cuman 'sahabatan' Stef"
"Masa?" Steffi memanyunkan bibirnya, "Tungguin aja. Pasti dia nanti con—"
"Gue sayang sama lo, Steff, more than friend"
"Kan gue bilang ape!" Kata Antonio yang tadi belum selesai atas ucapannya. Namun, orang ini malah langsung mengatakan perasaan pada Steffi membuat senyum bangganya merekah sempurna.
Niat hati ingin pamer pada Steffi karena, bisa membaca isi kelapa temannya itu, namun, Antonio malah mendapati jika, Steffi sedang duduk bersimpuh di dhadapan temannya, "Lo deserve better, Yon!" Kata Steffi pada Gidieon dengan tangan yanh sambil mengelus bahunya.
Membuat Antoio betah menatap lama-lama interaksi dari kedua orang ini yang dia berfikir saling menyayangi.
Baik Steffi maupun temannya yang bernama Gideon. Kelihatannya seperti pria baik-baik yang penuh tanggung jawab, "Sayang."
"Heh"
"Udah?" Tanya wanita yang menyodorkan satu botol air mineral.
Seketika, itu membuat Steffi mengusap air matanya dan bangun mendadak, "Dia siapa, Ton?" Tanyanya pada Antonio yang langsung mendelikkan mata.
"Mana gua tau anjir. Kan temen lo."
"Bukan! Temen gua cuman yang cowoknya."
"Shit." Umpat Steffi tiba-tiba, "Ceweknya make cincin di jari manis, Ton."
"Hah?"
Entah hari ini Antonio sudah dibuat tercengang berapa kali, dia tidak menghitungnya. Namun, kayaknya sudah banyak. Buktinya dia sampai pusing sendiri kali ini.
"Lo udah nikah? Atau tunangan? Atau masih cuman pacaran doang?"
"Dia gak denger lo, Stef!"
"Biarin aja napasi, Ton. Lo mah ah. Kali aja asa keajaiban tiba-tiba dia punya indera ke-7." Sentak Steffi yang kali ini masih berusaha agar bisa mengobrol dan meminta penjelasan pada temannya.
Namun, rasanya, tidak perlu lagi. Wanita yang tadi memanggil Gideon dengan sebutan sayang sedang mengelus perut yang membuncit. Steffi dan Antonio baru menyadari itu.
Maka dari itu, perlahan-lahan Steffi mengambil langkah ke belakang. Membiarkan wanita itu semakin tak berjarak dengan Gideon dan akhirnya mereka berdua saling berangkulan.
"Emang dasar cowok! Baru ngungkapin perasaan, tau-tau udah bawa gacoan lain! Emang kaga bisa dipegang omongan cowok!" Cerocos Steffi sambil berjalan menjauh dari batu nisannya sendiri.
Padahal, niat awalnya dia ingin berisitirahat setelah melakukan kegiatan panjang. Namun, apa boleh buat. Di batu nisannya sekarang ada dua orang yang ingin Steffi hindari karena, sedikit menyinggung hatinya.
Alhasil dia kembali ke ruang pelariannya bersama Antonio yang kini di sampingnya, "Mau beli makan gak, Ton?"
"Gila lo ya, Stef! Baru gek kita makan di kafe. Lo udah mau makan lagi."
"Yeu, biasa aja kali! Kan gua nawarin lo baik-baik."
"Ya gua juga jawab lo baik-baik." Tegas Antonio yang tak mau kalah.
Lagian ada-ada aja tingkahya Steffi kalau hatinya sedang tidak enak. Dia memilih memasukkan makanan ke dalam perutnya ketimbang berdiam diri memikirkan semuanya. Memang bagua kalau begitu, biar gak stress. Tapi, kan ya liat-liat aja. Keadaannya Steffi baru selesai makan dan mau makan lagi. Pasti, makanannya yang akan dipesan nanti akan sisa banyak. Dan jika, tidak dihabiskan akan mubazir.
Antonio tak mau membuang-buang makanan. Masih banyak arwah yang kesulitan mencari makan, masa dua buang-buang makanan. Gak etis dan gaj enak dilihat.
Antonio masih mendelikkan matanya pada Steffi yanf kini sedang menatap layar komputer kerjanya.
"Ton."
"Heh?"
"Kenapa di pemakaman gak boleh pacaran ya? Padahal kan bisa aja."
"Bisa apa?" Tanya Antonio yang masih belum mudeng.
Namun, Steffi sedang malas untuk menjelaskan. Akhirnya dia mebgurungkan perkataannya tadi, dan hanya mengulangi pertanyaannya. Agar cepat dijawab oleh Antonio selaku malaikat maut yang pasti ikut berkecimpung dalam pembuatan aturan tersebut.
Akan tetapi, nyatanya dia tidak tagu. Gimana sih.
"Tapi, gua pernah denger sejarah kenapa tuh peraturan sampe ada?"
"Kenapa? Ceritain cepet!" Steffi mendekatkan diri.
***
Dahulu kala saat tahun 90-an ada dua arwah yang saling jatuh hati. Setiap hari mereka selalu bersama.Mengambil penyetaan bersama-sama dan memutuskan menjadi malaikat maut bersama agar bisa ber-reinkarnasi menjadi manusia.
Akan tetapi, mereka bukan sang pencipta yang bisa memutuskan. Mereka hanya arwah yang bisa merencanakan dan berusaha. Tapi, tidak memutuskan. Sampai akhirnya surat keputusan diberikan pada mereka berdua yang memberitahukan jika, hanya salah satu dari mereka yang bisa reinkarnasi menjadi manusia.
Keputusan yang cukuo membuat mereka berdua terpukul hingga menyebabkan sejarah terukir.
Kedua arwah itu berpisah dan tak lagi bersama-sama. Namun, masih erikat hubungan. Tapi, rasanya sudsh hamvar. Bagai sayur tanpa garam.
Hingga suatu ketika, arwah wanita menghampiti arwah pria ke batu nisannya.
Dia mengatakan jika, dirinya ingin berpisah.
Arwah pria tidak terima dan meminta penjelasan. Namun, arwah wanita tidak mengindahkan semuanya sampau akhirnya dia pergi meninggalkan arwah pria.
Perlakuannya memvuat arwah pria sakit hati hingga mengambil kesimpulan kala emosi menguasai dirinya.
Arwah pria itu menyangka jika, arwah wanita mempunyai pria baru yang akan membuat hari-harinta lebih bahagia ketimbang dirinya dan akhirnya, ia memilih pergi ke batu nisa arwah wanita sambil memvawa ovor dengan api yang berkobar sangat besar.
Tsahhh!
Hanya dalam sekejap batu nisan tersebut hangus teebakar hingga arwah wanita pun langsung menghilang.
Yasssssh dia mati untuk kedua kalinya.
"Serius?!''
" Demi dewa!"
"Gila! Bahaya banget ya salah paham tuh." Jelas Steffi.
"Dan ploy twistnya. Lo tau gak..." Sahit Antonio yang langsung membuat Steffi penasaran.
Setelah insiden kebakaran itu, arwah pria dipanggil ke ruangan malaikat maut paling tinggi untuk diberikan surat pengalihan takdir yang bertanda tangan arwah wanita.
Seketika itu juga, dia langsung menangis tersedu-sedu setelah membaca jika, akhirnya arwah wabita menukar takdir reinkarnasi menjadi mabusia untuk dirinya dengan pesan. Agar, arwah pria bisa menggapai semua cita-citanya sebelum dia meningbal dunia.
"Omaygat!!" Steffi mengatupkan mulut, "Gila banget! Crazy!!!!!!" Pekik ya sambil berdiri.
Beberapa kali ia memegangi kepalanya karena, mendadak pusing atas cerita yang baru ia dengar.
Namun, Antonio malah tertawa renyah dan membiarkan Steffi pusing sendirian. Membuat Steffi kesal dan langsung menganggu Antonio bekerja seperti kelakuan biasanya.