Sejak sekolah menengah atas dirinya sudah mendapatka ejekan dari semua temannya. Mulai dari tingkatan rendah hingga paling tinggi pernah dialami olehnya.
Antonio, itu panggilannya. Laki-laki keturuan Belanda yang lahir di Indonesia mengikuti negara ibunya. Karena, dia tidak mempunyai ayah. Atau, arti yang sesungguhnya, dia tak pernah mengenal ayahnya sendiri. Alasannya, karena, luka yang membekas di masa lalu begitu keji untuk diungkap oleh sang ibu, Antonio hanya bisa berpasrah dengan keadaan.
Mau gimana juga. Dirinya hanya anak, tidak mempunyai hak untuk mengutik utik sejarah hubungan ibu dengan ayahhya. Ya... Walaupun agak mengganjal sih. Tapi, ya mau gimana juga. Antinio masih anak ingusan kata ibunya sendiri. Jadi, belun pantas mengetahui ini semua.
Jadi, ya seperti ini hasilnya. Antonio selalu dijuluki anak broken home yang mempunyao kehidupan tidak layak ataupun mental yang kuat. Padahal, nyatanya tidak. Kehidupan di dalam keluarganya begitu damai dan tentram. Ya, bisa dibilang hening tak punya suara.
Karena, ibunya selalu bekerja dan pulang larut malam demi mencukupi kebutuhan dapur dan Antonio. Belum lagi kebutuhan dirinya sendiri, jadi, ya begitulah. Tak ada waktu untuk bercengkrama atau sekedar menonton tv bersama.
Oleh sebab itulah, Antinio juga menyimpan rapat semua cerita yang dialaminya sewaktu di sekolah. Yang padahal, rasanya dia ingin berbagi. Membagi beban di pundak agar merasakan ringan walaupun hanya sedikit.
Coba saja, dia punya adik. Kan bjsa dibagi ini semua. Antonio hanya tersenyum kecut, "Nio, ibu pulang."
Suara itu membuat dirinta bangkit dan langsung menjatuhkan diri ke ranjang, bukan menyambut sang ibu yang mungkin membutuhkan secangkir teh untuk meredakan rasa lelagnya.
Dia tidak bisa melakukan itu semua... Karena, jika ibunya melihat wajahnya sekarang bisa banyak pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Semua itu pasti menguras tenaga. Antonio tidak mau. Ibu sudah lelah, jangan ditambah lelah. Lebih baik ia menggulung dirinya di dalam selimut dan berpura pura tertidur.
Bug bug bug!
"Bangun lo!"
"Salah gua apa, Kak?!" Lirih Antonio dengan tubuh yang terhuyung lemah.
Mungkin tubuhnya kini hanya dengab satu dorongan bisa terkapar lemah di lantai. Antonio sudah benar benar tak kuat. Rasanya ingin mati saja ketbang terus dipukuli seperti ini. Belum lagi dirinya dinodai dengan semua tindakan tak senonoh dari para senior yanh memgaku sayang padanya. Mereka semua mau mendidik Antonio agar terlihat lebuh maskulin. Tidak lemes layaknya perempuan.
Emang perempuan lemes ya? Engga ah! Mereka kuat. Mereka bisa melakuka semua hal yang mereka inginkam. Mereka tidak bergantung pada orang lain. Kena dibilang lemes? Aneh.
Kepala Antonio sudah berputar semakin dibuat berputar. Merasakan sakit diperut aja belum selesai, ini dibuat merasakan kerasnya berfikir atas omongan laki-laki tak bergina di depannya.
Rasanya, ia ingin menghajar orang itu tepat di d**a. Agar dirinya merasakan sakit yang sama. Sekaligus itu pembalasan untuk ucapannya tadi. Apa apaan bilang perempuan lemes. Dah gila!
Dan, akhirnya waktu yang ditunggu tunggu. Antonio jatuh. Terhempas ke lantai ruangan yang tidak terpakai. Sebenarnya ini gudang. Tapi, berhubung lokasinya jauh dengab ruangan lain jadinya, ruangan ini terlupakan.
Sama seperti Antonio yang dilupakan oleh teman sekelasnya. Buktinya, sudah 30 menit menghilang belun ada yang mencari atau merasa kehilangan. Speaker sekolah pun tak ada suaranya. Membuat dirinya pasrah dan mungkin memah sudah takdirnya.
Hey! Dia mau apa menindih tubuh Antonio? Tangannya juga menjalar ke bawah, Hey! Itu organ masa depannya, jangan diremas! Antonio menjerit kesakitan.
Namun, ketiga orang itu malah ketawa cekikikan. Sungguh perbedaan 180 derajat.
"Yah dia tidur, Ton. Gimana dong nih?!" Kata orang yang memakai topi ke arah samping.
Gayanya alay, sok paling terkenal. Padalah engga. Cuman modal terial teriak aja kalo jam istirahat sama masang wajah sok gahar. Padahal, kalo ketemu guru killer tampangnya kaya ayam sayur.
Memikirkan hal itu, membuat Antonio terkikih dalam hati, namun, lagi lagi organ masa depannya diremas. Kali ini dengan kekuatan penuh hingga dirinya merasa akan pecaj layaknya balon gas saat ditusuk oleh jarum
"Plis stop!" Pinta Antonio dengan awgala kekuatan. Tapi, semua itu tidak terdengar sama sekali.
Mereka sibuk menertawakan organ masa depannya yang semakin lemah tak berdaya. Membuat Antonio semakin merasa keji di hadapan mereka.
Siapa yanh tidak begitu kala tubuh bahian bawahnya tidak tertutup dengan sehelai benang pun. Tidak ada yang tidak malu rasanya. Begitu juga Antonio.
Dirinya tak sanggup untuk berteriak, janganlan berteriak. Merintih saja audah tak bisa karena, mendadak kepalanya dihantam dengan buku paket biologi yang tebalnya minta ampun.
Rasa sesal seketika membekas di d**a, kenapa dia membawa ifu. Kenapa gak ditinggal. Arrrr! Ia berteriak dalam hati dan tau tau bel pulang sudah berdering.
Lantas, semua orangng tadi bermain bersamanya kabur meninggalkan dirinya sendiri. Antonio tidak dobantu atau dipapah untuk kembali ke kelaa.
Jadi, ya terpaksa. Lagi-lagi, dia harus merepotkan kembali pak Saman si penjaga sekolah karena, harus pulang lebih lama menunggu Antonio melenggang ke luar sekolah dengan segala keterbatasannya.
Jikaa, mengingat hal itu kembali rasanya Antinio ingin keluar sekolah. Atau mungkin berpindah ke sekolah yamg lebih layah.
Tapi, kayaknya gak mungkin. Uang dari mana. Hft!
Ting! Ponsel di nakas berderinh. Antonio yang sedang payah mencoba meraihmya dengan oelan, "Besok kita tumggu lagi ya di tempat biasa. Gak usah pake celana dalam yang ketat ya. Biar lebig aduhai."
Shit! Damn it! Sialan!
Rasa panik yang tadi berangsur hilang kembali menguasai dirinya, fikirannya yang kembali melalang buana serta menyelam ke area dalam lautan ketakutan membuat dirinya tersesat.
Antonio panik dan tiba tiba ia kelyar dati lilitan selimut.
Ia meraih ponselnya dengan kasar dan memakai hoodie dengan segera.
Ia membuka jemdela dengab suara cukuo keras, namun, tidak sampai terdengar sampai kamar sebelah.
Entah kemana dia mau pergi, yang jelas Antonio harus menenangkan diri dengan cara apapun. Misalnya jalan kaki lurus terus. Entah sampe mana kakinya akan membawa dirinya. Antonio tak tau arah yang diambil, sampai akhirnya rasa dingin menerpa telapak kaki yang kini hanya beralaskan sandal jepit lawas yang biasa ia pakai ke kemar mandi.
Ia beehenti sejenak dengan kepala yang memgadah, lalu tetesan hujan turun tepat pada dahinya.
Benar benar kaya sinetron do tv nasional. Ia mendesis kesal dan terua berjalan. Tidak meneduh layaknya orang-orang soalnya, dia kan mau nenangin diri. Ya kali neduh. Emang mai pergi sama gebetan. Hadeh.
"Trus pas kaya gitu gimana kelanjutannya? Kok lo cerita setengah doang si?!"
Rasa kesal di d**a tak bisa tertahankan oleh Ramanda. Ia sudah hanyut dalam cerita Antonio. Tapi, orang yang cerita mengehntika itu semua. Sok sok an katanya ada tugas, padahal, malaikat maut bau kencur kaya dia mana ada si kerjaan. Paling juga cuman gabut ngeliatin arwah yang sedang protes do depan. Ramanda masih mencibir di belakang. Tapi, Antonio sudah keluar ruangan meninggalkan tiga arwahbyang super kepo dengan kelanjutan ceritanya.
Mereka padahal sudah tau kelanjutan ceritanya, tak perlu dijabarkan lebih lanjut bagaimana. Secara, semua areah yang dilantik menjadi malaikat maut adalah orang-orang yang dulunya mati secara percuma. Orang yang mati di atas rasa putus asa hingga mengobarkan nyawa yang sangat berharga. Semua orang itu tak terkecuali Antonio. Ia terpaksa menjadi malaikat maut untun ajang penebusan dosa atas arwahnya sendiri yang tidak diterima dan naik ke atas. Dia harus menjadi malaikat maut dalam kurun waktu 1000 tahun agar semua dosanya terampuni dan arwahnya bisa naik ke atas dengab tenang.
Harus kerja keras. Membuat Antonio menyesal sudah melakukan itu semua. Kalo tau begini, dirinya gak akan tuh sengaja nyebrang saat lampu hijau menyala. Tidak akan pernah.
Namun, jika itu tidak terjadi, perundumgan terhadapnya akan terus terjadi. Itu lebih menyakitian ketimbang mati laku menjadi malaikat maut. Antonio mendenguskan nafas berat, ia menghirup udara pemakaman yang sanvgat bersih menurut dirinya.
"Kasian ya si Nio." Kata Stefi sambil bertopang dagu, "Kenapa kasian? Dia malah seneng jadi malaikat maut." Lira menyahuti sambil memakan keripik yang merupakan cemilan di meja kerja Antonio.
Sementara Ramanda, kini sedang duduk membelakangi mereka berdua, Lira menoleh pada Steffi, bertujuan untuk bertanya. Tapi, Steffi sudah mengangkat bahu yang menandakan ketidak tahuan dirinya.
Yasudah lah, kalau begitu ya tunggu aja Ramanda menoleh ke belakang. Dan benar saja, saat itu semua kejadian, Steffi dan Lora malah ketakutan, "Air mata lo kenapa ngumpul di pipu gitu ih! Menjijikan." Cibir Lira seraya mengusap lengannya yang mendadak merinding.. Cyah! Merinding. Kaya liat setan aja. Masa setan merinding liat setan juga. Aneh banget dah.
Steffi yang masih tercengang melihat semua itu hanya bisa diam tak tau mau bereaksi bagaimana. Dia masih bingung dan mendapatkan insught baru. Ternyata arwah bisa nangis ya. Kok bisa. Apa yang dia tangisi? Keluarga? Kan udah beda alam. Nasipnya sendiri? Ya kan udah mati, emang masih punya nasip. Duhhhh, kenapa si lo ah, Ramanda!
Mana panjanv banget lagi namanya. Kan bisa disingkat jadi manda, kalo dia mau. Hedon.
Akhirhya Steffi hanya berkutat dengan pikirannya sendiri tanpa, memberitahukan semua celotehannya yang berada di kepala.
Steffi ini emang anaknya suka mendem sesuatu ya. Atau emang dasarnya aja males ngomong kaya anak ansos.
"Heh! Enak aja lo kalo ngomong! Gua gak ansos ya." Kata Steffi yang membuat Lira terkejut seketika, "Lo bisa denger pikiran gua? OmayG" Jelasnya dengan tangan yang menutupi mulut.
Steffi juga terkejut sama kaya Lira sekarang, dia tak menyadari jika, ternyata suara itu berasa dari pikirannya Lira. Steffi kira itu ongan Lira yang sedang menyindir dirinya. Ternyata engga tho. Omg! Steffi punya kekuatan kaya manusia super yang sering ia tonton dalam film.
Dirihya kegirangan menyambut semua itu, "Lo bisa denger juga suara pikiran orang gak, Lir?" Tanta Steffi dengan sangat antusias.
Tapi, Lira menggeleng. Membuat dirinya, mengurangi kadar antusiasmenya, "Kok gak punya. Emang kekuatannya beda beda ya? Kalo gitu, kekuatan lo apa?" Steffi banyak tanya membuat Lira mendengus kesal.
"Ihhh atuh kasih tau, Lir. Lo mau bikin gua mati penasaran?"
"Kan lo udah mati! Ditabra sama pacar lo sendiri lagi. Trus, mobil yang dipake juga mobil hadiah ulag tahun dari lo."
Deg! Mendadak jantung yang sudah tak berdetak ini merubah posisinya sampai ke lambung.
Bagaimana Lira bisa tau? Sedangkan, dirinya saja tidak tahu siapa yang menabrak dirinya. Kenapa, Lira bisa tau kalau dia pernah memberikan hadiah ulang tahun mobil padanya. Bagaimana dia bisa tau semua itu?
Perasaan Steffi bercampur aduk, membuat Lira menotice raut wajahnta itu, "Itu kekuatan gua, Steff. Lo inget kan pertma kali kita ketemy kita salaman? Nah itu dia." Akhirmya dia menjelaskan kekuatanbya juga.
Sesungguhnya Lira tidak mau kekuatannya ini terungkap. Dirinya takut, akan menyinggung seseorang aras rahasia kematiannya. Kepala Lira mengadah ke atas, "Sorry ya, Steff!"
Brrrrkkkk!
Rahasia Steffi yang terungkap, kenapa Ramanda yang keluar dengab kasar? Seolah ada yang ditutup tutupkan. Steffi menatap Lira, "Lo tau rahasia kematian dia (Ramanda)"
Lira menaikkan bahunya, "Lo belum sempet salaman sama Ramanda?"
"Belom ih! Ternyata lo kepo juga ya orangnya. Mana cerewt pula. Salah gua nilai lo pas awal." Jelas Lira seraya berjalan ke luar ruangan.
Balik lagi ke Antonio yang kini sedang duduk menyandar ke batu nisan. Dia sedang mengingat masa sekolah yang mempunyai hubungan Love Hate relathionship dengan dirinya. Mulai dari bahagianya menginjak kelas 10, bertemu cinta peertama, sampai pedihnya hidup berdampingan dengan para preman sekolah.
Sebenarnya dia bisa saja melaporkan itu semua dan langsung pindah. Tapi, dia masih menahan karena, tak mau kehilangan kesempatan untuk melihat sang pujaan duduk bersamanya. Hanya hal itu yang mampu membuat Antonio semangat bersekolah. Tidak ada yang lain.
Bahkan, saat hembusan nafas terakhirnya, ia masih bisa tersenyum. Karena, melihat bayangan pujaan hatimya itu seolah mendekap erat tubuhnya yang perlahan jatuh dari rooftop sekolah.
Semua cerita itu semakin membuat Antonio rindu. Ingin sekali rasanya dia meligat suasana luar dari Baverly Hills ini dan mencari keberadaan gadia pujaannya itu. Seperti malaikat maut lainnya yang dengan mudah keluar dari sini. Antonio yakin, jika, banyak dari mereka yang masih memantau kehidupan keluarga dan orang terkasihnya dari jauh. Memantau penuh senyum suka cita dam lalu meninggalkan beberapa barang atau makanan untuk sekedar hadiah.
Antonio mau melakukan itu semua... Sungguh! Sangat ingin sekali. Rasanya, d**a ini ingin mengeluarkan segala macam protes yang sudah lama tersimpan rapat. Namun, apa daya tangab tak sampai. Dirinya masih cemen untuk menentang itu semua atau sekedar meminta waktu cuti dari tugas.
Entah kenapa juga, Antonio tidak pernah mengambil jatah cutinya sehingga, pimpinan dia enggan memberika hari cuti. Dia menganggap Antonio sangat mengukao pekeejaannya, sampai lupa hak diberikan hari cuti bersifat kewajiban untuk para atasan yang berada di luar sana.
Antonuo menghela nafas ssbgab sangat berat. Membuat Steffi yang baru keluar dari ruangan merasa tidak enak sudsh mendengar semua pikirannya.
Ia mendekati Antonio lalu berjongkok. Menyamakan posisi dengan dia yang sedang duduk gelesor di bawah, "Mau jajan gak? Laper gak?" Tanya Steffi.
Itu semua membuat Antonio keheranan, maksutnya nih anak apa? Kok tumben banget ngomong begini.Mau traktir gak ya, "Tenang! Gua traktir!"
Antonio memundurkan wajahnya, "Lo bisa denger pikiran gua ya?"
"Heheh" Steffi terkikih, "Makanya lo jangan mikir terus. Udah ayo! Terima aja tawaran gua." Tegasnya dan langsung menarik tangan Antonio.
Steffi yang naif dan Antonio yanh tidak peka sukses menjadi buah bibir para arwah yang melihat mereka yang seda g berjalan menuju food court dengan candaan arau godaaan yang selalu dilemparkan oleh masing-masing. Tentu saja, itu membuat kesalah pahaman beredar dengan sangat luas dan sanvat cepat.
Bahkan, ada salah satu arwah yang sampao mengikuti peerjalanan mereka. Astaga, Dewa.Antonio sama Steffi cuman mau makan burger sama minum soda di emsidi. Gak lebih dan gak kurang. Kenapa di giniin si.
Stfii sadar jika, dia diikuti oleh dua orang dengan pikiran yang sangat berisik hingga ia menghentikan langkahnya, "Lo tau gak si, cara ngilangin nuh kekuatan?" Steffi berbisik di telinga Antonio.
Sontak saja, perbuatannya tadi semakin membuat geger dua orang yang berada tidak jauh di belakang, berbagai macam pikiran negatif terdengar jelas hingga membuat Stefgi muak.
Dan ternyata, Antonio tau juga menhenai hal itu. Tapi, dirinya tetap stay cool. Mempertahankan gaya tersebut. Membuat Steffi jengkel, karena, dia mengharapkan Antonio beetindak agar kedua arwah tersebut menjauh dari mereka.