#Pmkn-Lira

2157 Words
Gadis yang mempunyai paras otentik suku cina membuat dirinya menjadi pujaan satu fakultas kedokteran. Lira. Gadis keturunan China-Indonesia yang memilih kota Bali sebagai tempat persinggahan menjauh dari keluarga. Dia memilih Bali tak asal, ada alasan jelas di belakangnya. Tapi, alasannya itu sudah menghilang kala kakinya sampai di kota ini sejak hari pertama, "Lir! Aku jemput." Teriakan itu yang dia harapkan, tapi, kenyataannya tidak ada yang berteriak begitu. Sehingga, Lira terpaksa memakai taxi bandara untuk mengantarnya ke hotel bintang 5 yang sudah ia sewa selama 1 tahun dari sekarang. Sejak buka pintu hingga perjalanan, nafas berat Lira selalu menemani. Seolah ada bebann berat yang kini dipikulnya. Beberapa kali supir taxi melihat ke spion belakang untuk memastikan bahwa, penumpangnya dalam keadaan baik-baik saja. Syukurlah, fisik dia baik-baik saja. Tapi, tak tau hati dan perasaannya. Supirnya pun tak berani untuk mempeetanyakan itu semua. Takut, dibilang tidak sopan. Jadi, lebih baik fokus menyetir saja selama fisik dari penumpang tidak ada yang bermasalah. Hhhhhft—nafas berat Lira semakin jadi kala, melihat room chat yang bernama ruang kosong. Tadinya, ada nama penggunanya. Tapi, kayanya pengguna tersebut sudah memblokir dirinya sehingga, Lira tak lagi bisa melihat nama teesebut. Mungkin, orang itu memblokir Lira, agar urusan tak menjadi panjang serta runyam. Karena, orang itu tau jika, Lira adalah gadis yang begitu detail akan peemasalahan apapun. Apalagi, permasalahan hati seperti saat ini. Lira hamlnya dikirimkan sebuah foto ya g menunjukkan dua orang yang sedang berciuman penuh rasa cinta. Salah satu orang itu, adalah kekasih Lira. Namanya, Dave. Orang yang sudah berjanji untuk menjemput Lira di bandara dan tinggal bersama dengannya di Bali. Tapi, kenyataannya apaa??? Sekarang Dave mengingkari semua itu. Dia tidak menjemput Lira atau tinggal beraama dengan Lira. Dia malah sedang bermesraan dengan gadis lain yang mempumyai rambut bewarna merah menyala. Membuat mata Lira sakit atas warnanya yang begitu terang, "Nona, kita sudah sampai." Kata si supir. Tidak terasa, perjalanan ke arah hotelnya begitu cepat. Membuat Lira tidak sadar dan memperhatikan sekitar jalannya. Harusnya, ia memperhatikan itu semua agar bisa memudahkannya nanti. Tapi, ah sudahlah. Nasi sudah jadi bubur dan Lira tak suka bubur. Jadi, ya biarkan saja. Lira memberikan uang dua lembar senilai lima puluh ribu untuk ongkos taxi, "Ambil aja kembaliannya, Pak. Makasih udah antar saya dengan aman." Lira keluar dengan menutup pintu taxi dengan perlahan. Kakinya melangkah keluar dengan sangat gontai. Kacamata hitam dengan motif macam tutul setia menutup mata indahnya. Lira berjalan masuk ke lobby hotel untuk meminta kartu akses kamarnya, namun, bukannya diberikan kartu akses, ia malah diberikan raut wajah kebingungan dari si resepsionis. "Bukannya tadi miss Lira sudah check in ya? Di data yang sudah masuk, kartu akses milik miss sudsh diambil oleh orang yanh bernama Dave Sinaga." "Hah? Yang benar?" Tegas Lira. Menurunkan sedikit kacamatanya ke hidung mancungnya. Ia menunggu jawaban dari resepsionis yang sedang mengecek datanya kembali, "Iya benar, Miss Lira. Tadi saudara Dave Sinaga sudah mengambil kartu aksesnya." Jawaban itu semakin membuat dunia Lira runtuh seketika, dirinya benar benar tak tau harus apa dan bagaimana lagi sekarang. Dirinya salah kaprah, dan ia menyesali akan hal itu. Lagian... Bodoh juga dia mempercayakan pesanan hotel atas nama pacarnya yang b******k. Tapi, dia yang bayar. Udah sinting! Lira menghela nafas berat. Matanya mengunci padang pada sofa dekat lobi, duduk dulu deh biar sedikit. Ya, walaupun gak bisa setenang orang lain. Gimana, bisa tenang! Hotel bintang lima yang sudah dipesan dengan uang jerih payahnya sendiri, tapi, Lira sendiri yang tidak bisa menikmati. Malah pacar dan wanita pesanannya itu yang pasti sedang beesenda gurau di bathup dengan penuh asmara. Sialan! Sesalnya lagi hingga ia memutuskan untuk keluar dari hotel dan mencari tempat tinggal barunya. Namun, uang dari dana p2p nya belum cair ke rekening miliknya. Membuat Lira bingung untuk kesekian kalinya. Ia memeriksa saldo tabungan pada aplikasi untuk melihat apa saldonya cukup untuk memesan kembali hotel ini.. Dan, ternyata, jeng jeng jeng. Ambyar! Saldo Lira tiris, tinggal 550 ribu rupiah. Mana cukup nyewa satu malam di hotel ini! Sialan si Dave! b******n! Ia menggunjing mantan kekasihnya itu lagi. Pokok ya harus sampai titik darah penghabisan jikalau, tidak ia akan mati dan menjadi arwah penasaran jika dirinya mati. *** Akhirnya, bermodalkan uang 550 ribu rupiah, Lira sangguo menyewa home stay di Cangu. Ya, lumayanlah... Sama kayak hotel bintang lima yang tadi. Bedanya cuman ini rumah, bukan gedung yang menjulang. Liramenghempaskan diri ke ranjang, "Ya tuhan. Gini amat idup." Lirihnya pelan. Pakaiannya masih rapi, ibarat orang yang mau jalan kencan namun, dibatalkan sepihak. Kencan. Bukankah tadi Lira sudsh mendeklarasikan status barunya sebagai jomblo? Ahh—kan maksutnya, kencan dengan diri sendiri. Boleh kan?! Lira mendengus kesal dan menegakkan posisinya, "Oke gua mau jalan!" Ia bangkit dengan menyilangkan slin bag miliknya. Sangat percaya diri ia melangkah pergi ke salah satu tempat hiburan di Cangu, dengan kepala yanh diangkat sejajar dnegan arah pandangnya. Pakaiannya juga cocok untuk kesini. Ya, walaupun gak punya duit seengaknya penampilan hatus oke. Kali, aja bisa ditraktir minum segelas aama cowok ganteng ye kan... Ia tersenyum simpul dengan langkah kaki yang benar benar masuk ke dalam bar dengan temo musik cepat yang bisa menggetarkan gendang telinganya, "Haiii" Kan apa kata gue. Pasti ada cowok yang nyamperin gua. Pasti, abis ini gua diajak ngobrol trus ditraktir deh. Syukur syukur bisa lanjut dibawa ke kamar. s**t! Apasih, Lir. Dah gila lo ya! Bisa bjsanya mikir begitu—inget! Lo baru disakitin sama cowok! Ya kali mau masuk perangkat cowok lagi. Kocak! Lira menggeleng singkat, sebelum menyimpulkan senyumnya, "Hai" Ia membalas sapa dari cowok yang ia rasa mempunyai bentuk wajah oval dengan alis tebat serra mata yang berbentuk daun tersebut. Ah! Sialan! Kenapa dirinya luoa memakai kontaks lens. Jadi, begini kan. Ngeliat orang raba raba ajee. Ahhh! Stupid! Lagi-lagi Lira mengutuk dirinya dalam hati, tanpa menyadari jika, cowok yang kini dihadapannya sudah menggandeng dirinya, "Gua gak bisa ngelut cewek joged sendirian. Jadi, lo gue temenin, ya. Gappa kan?" Cowok itu menoleh pda Lira. Seketika pikirannya kosong, tidak tahu harus membals bagaimana. Lira bingung harus merespon apa. Dirinya membeku layaknyadaging di freezer, "Sorry." "Huh—kenapa?" Akhirnya Lira ternotoce jika, dia sedang bercengkrama dengan seseorang, "Lo kesini sama pacar ya?" "Hah?!" Biarkan Lira tercengang sebentar dengan bahakan tawa yang terkesan dipaksakan. Kenapa orang ini. Tadi gandengnya santai banget, tapi, sekarang dia bilang kalo Lira dateng ke sini bareng pacar. Lucu banget so minta validitasnya. Dasar, buaya. Lira sedikit mengumpat orang itu, tapi, nyatanya matamya tak bisa bohong. Lira melihat cowok itu tidak seperti bayangannya yang buaya, tidak sama sekali. Malahan, dia melihat tatapan penuh arti disertai kehangatan yang terpancar jelas disana. Membuat Lira tenang sejenak, denga tangan yanh tanpa sadar diletakkan di atas tangan orang tersebut, "Gua sendiri ke sini. Trus, gua juga abis mutusin cowok gua yang selingkuh sama cewek lain, dan ngambil du—ups.Sorry. Jadi, curcol kan gue." Lira menutup mulutnya yang bicara tanpa adanya rem. Membuat dirimya sendiri merinding sendiri. Kenapa dia suka banget curhat colongan sih, ish. Lira beefikir dengan raut wajah aneh. Kalo nih cowok tiba tiba ilfeel aama gue gimana? Duh amsyong, masa gua gak minum barang segelas ai. Malu dong sama tampioan gue yang udah kece badai begini. Ahhhh—, "Kok lo lucu banget siii. Baru kali ini ada orang yang kelepasan nyeritain aibnya. Lagian, cowok begitu mah biarin aja udahhhh!" Lahhhhh, tuh orang malah ketawa ketiwi. Lira mengangkat kepalanya, "Hahah, ya namanya juga kelepasan, shay. Jadi, mana tau." Sahutnya. Cowok tersebut malah semakin menjadi, ia tertawa hingga bahakan tawanya membuat Lira bingung, "Lo single ya berarti?" Tanyanya. Mendadak banget kaya tahu bulat, membuat Lira mau membeku lagi, tapi, gak boleh. Kali ini dirinya harus menjawab cepat pertanyaan tadi. Karena, intuisi di dalam kepalanya mengatakan jika, cowok ini ada maksut tersendiri setelah mendemgar jawabn Lira yang mengiyaka semuanya. Oleh sebab itu, Lira langsung mengangguk, dan wajah cowok tadi mendekati wajahnya perlahan-lahan, "Sama dong. Gua juga single." Bisiknya. Tepat di depan tulang hidung Lira, sehingga dia bisa merasakan hembusan nafas segar dari mulut cowok itu, yang membuat jantungnya berdegup sangat cepat. "Ohhh, gitu. Kita sama ya. Toss dulu." Kata Lira dengan kikuk. Tangannya terangkat untuk berhive-an ria. Namun, cowok itu tidak biaa melihat semuanya. Karena, posisinya yang masih mendekat di depan wajah Lira, "Mau ikut ke rumah gue gak? Ada party, tapi" "Tapi, apa?" Tanya Lira yang sejenak berfikir. Kenapa kalo di rumahnya ada party tapi, dia malah ke bar. Agak gak masuk akal, tapi, mari kita denger alasan dia apa. Soalnya, mulut dia udah kebuka kaya mau ngasih alesan secara lengkap dan jelas. Dan. Ternyata benar adanya. Pikiran Lira dengan penjelasan yang ia dapatkan sama persis. Seolah Lira dan orang itu terkoneksi satu sama lain. Ternyata, orang itu sama kesepiannya dengan dirinya. Bedanya, cuman ya, temen-temennya maksa ngadain party di rumah dia, tanpa mikir dia ngebolehin atau engga. Duh.Kesian. Jadi pengen peluk.. dan! Omg! Lira yanh malah dipeluk, "Kita kayaknya pasangan deh di kehidupan sebelumnya." Katanya. Membuat degup jantung Lira semakin amburadul, "Kenapa begitu?" Tanyanya terbata-bata. Cowok itu melepaskan dekapannya dan menatap mata Lira, "Gua nyaman banget deket sama lo. Padahal, bisa dibilang kita baru kenal. Tapi, masa rasanya kayak udah lama kenal gitu. Jadi, ya gua nyimpuli kaya tadi deh—keberatan gak?" Duhhhhhhh, sopan banget so nih orang. Pake nanya dulu ke gua. Bikin gua salah tingkah aja. Lira kehabisan kata-kata, hanya gerakan tubuh yang kini ia andalkan. Jari telunjuknya merapihka anak rambut dengan cara menaruhnya di belakang telinga, membuat dirinya terlihat seperti orang yang sedang tersipu oleh semua perkataannya tadi, "Lo mau bareng gue malam ini gak?" Tanya cowok itu lagi yang kini membuat mata tegas Lira bertemu dengan mata sendunya. Entah kenapa, orang itu sangat menginginkan Lira untuk mengi dahkan semuanya. Tapi, Lira juga tidak bodoh. Pasti, setelah ia mengiyakan ajakannya, hal yang ada di kepalanya pasti akan kejadian! Secara... Lira baru putus, dan butuh kasih sayang. Lalu cowok ini memperlakukan Lira dengan penuh kehangatan yang bisa memghasilkan rasa sayang. Duh! Lira tak mau itu semua terjadi. Dirinya tidak mau mengindahkan ajakannya. Tapi, kenapa dia begitu enggan mengatakan semuanya. Seolah ada yang mau mengiyakan ajakan dari orang itu. Lira bingung, ia memilih meneguk tequilanya sebentar sebelum akhirnya, "Maaf, gue gak bisa. Gue gak bisa nemenin lo kalo keluar dari lingkungan ini." Bar maksutnya. Soalnya, Lira tau jika,bar ini beroperasi hingga jam 5 pagi. Dan tentunya pengunjungnya sangat ramai. Oleh sebab itulah, Lira tidak takut jika dia tidak akan berani melakukan semua hal yang dipikirkan di kepalanya. Jikalau berani, paling hanya sekedar cium pipi, atau bibir. Pegang-pegang sedikit di kala joget juga masih its ok. Yang penting tidak sampai kelewat hingga dirinya harus merasakan sensasi kenikmatan yang ingin ia buang jauh jauh, "Hummm, kalo begitu." Orang itu tampak berfikir sebentar. Tapi, dia seketika tersenyum di depan Lira. Manis banget! Kalah gula lima kilo. Membuat Lira ikut tersenyim juga, "Gue pulang aja kali deh ya. Soalnya, keknya sakit juga abia ditolak sama lo." Ia tertawa sekilas dengan posisi bangkit dari kursi, "Hah? Serius balik aja? Duh gue jadi gak enak." Kata Lira menggaruk kepala dengan tatapan kikuk. "Iya. Its oke. Gue juga kayanya kecepetan ya." Dia kembali mengajak Lira bercakap, "Minta nomor lo deh, biar bisa deketin lu secara lembut dan sesuai alur." Orang itu memberikan ponsel berlogo aple yang telah digigit sebagian. Lira tersenyum simpul, ia bmerasa sangat bersyukur. Entah kenapa, padahal, perlakuan ini biasa saja untuk seorang Lira. Akan tetapi, kenapa dirinya merasa beda dan sangat merasa beruntunh telah dipertemukan secara tidak sengaja oleh orang ini. Seolah semesya memberikan pelangi setelah hujan rintik kemarin, "Nanti kalo gue call, dijawab ya." Orang itu menyeringgai setelah mendapatkan 12 digit angka nomor Lira, "Anjir! Gua kenapa keinget tuh kejadian si! Sialan!" Pekik Lira yang baru sadar akan kelakukan yang sangat ia benci itu. Lira tidak suka akan hal itu, kenapa ingatan yanh berusaha ia lupakan malah kembali terulang, Lira membenci dirinya sendiri. Ia melanjutkan kembali langkahnyanyang tadi tehenti, maksut hati ia ingin membeli sesuatu untuk dikirimkan ke dalam mimpi para keluarga, untuk membantu keadaan mereka. Lho kok bisa.Emang bisa ya? Kan Lira udah meninggalkan dunia, gimana caranya dia ngebaantu manusia yang sudah beda alam denganya. Tapi, memang semua itu benar adanya. Lira bis membantu mereka. Mau tau caraya. Gini, caraya. Ikutin terus ya... Lira ngambil uaang dulu buat pelicin oada loket malaikat maut di depan sana. "Mau ngasih mimpi bersihin kotoran manusia—nih bayarannya!" Lira memberikan sejumlah uang dengan mata uang yang sama di dunia manusia. Lira menunggu mimpinya tersampaikan, namun, kenapa malaikat maut itu amhanya diam saja, seolah dirinya kurang memberikan bayarannya, "Penerima mimpinya siapa? Anda belum memberika nama." Tegas petugas teraebut. Membuat Lira tersentak san menyengir seketika, "Sory, kan namanya juga buru buru ya, sist. Jangan marah matah gt dong, kan saya lupa." Lira menyahuti sembari mencawil dagu petugas terswbut. Memang terlihat tak sopan, tapi, mamg begitu kelakuannya dia di sini. Dan, aemua petugas serta malaikat maut sudah biasa saja. Kayak, yaudah, namanya juga arwah penasaran. Ada aja kelakuannya. Jadi, ya kayak, yaudahlah, biarin dia seneng. Soalnya di kehidupan dulu mereka dihantam denga tragedi-tragedi hingga akhirmya memutuskan untuk menjadi arwah penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD