Tulang selagka yang begiti bagus kerap ditampilka oleh Ramanda. Si arwah yang sudsh lebih dulu menentukan misinya di masa depan. Membuat Steffi tak abis pilir kala Antonio menceritakan semuamya, "Gua pikir, dia (Ramanda) mau jadi malaikat maut juga." Kata Steffi sambil menguyah kentang goreng kesuakaannya.
Antonio menggeleng cepat, dengan kentang gorenh yang ikut digoyangkan oleh tangannya, "Gua pikirpun begitu. Padahal, tadinya, gua udah asik mau pumya junior. Kan bisa dibully." Tawanya pecah, sembari meneguk cola yang membuat tenggorokannya damai dan tentram.
"Berarti dia jadi arwah penasaran kaya Lira?"
Antinio mengangguk pasti, "Kalo lo jadi apa?" Dia bertanya balik oada Steffi.
Sontak saja pertamyaan itu membuat Steffi tersedak. Pasalnya, dia belum tau mau jadi apa. Dan, dia berfikir juga sebenarnya apa yang terjadi saat kematiannya? Kayaknya, semua memang sudah jadi takdir. Ya, lalu kenapa harus diberikan dua pilihan yang tidak masuk akal.
"Pikiran lo gak banget, Steff! Kita mati di usia muda harisnya pake baju ruma sakit, gak berlumur darah begini."
OmayG! Tuh orang muncul dari mana sik! Bisa bisanya udah duduk di kursi sebelah Steffi, bikin kaget aja si ah—Ramanda!
Kekuatannya memang bisa tak kasat mata, alias menghilang. Namun, kayaknya dia terlampau spesial karena, mempunyai dua kekuatan. Yaitu, bisa menghilang dan bisa membaca pikiran. Layaknya Steffi. Membuat dirinya semakin dipuja puji oleh banyak arwah lain yang sampai sekarang belum mengetahui apa kekuatannya, "Lo beneran jadi arwah penasaran, Ramanda?"
Duh, panjang banget si namanya. Pengen manggil singkat tapi, dia baoer nanti.
Pikiran berisik itu pasti didengar oleh Ramanda, soalnya dia tertawa kecil. Membuat Steffi menyengir kuda dengan posisi bertopang, "Gua mau bales dendam ke pacar gua yang udah nusuk gua. Lo tau gak si, perut gua tub aset gua!"
Mendadak Ramanda berkeluh kesah, Steffi dan Antonio sedikitbteheran. Tumben sekali nih anak mau cerita, biasanya mah menghindar. Layaknya orang ketakutan dan mengidap bipolar disorder. Tapi, kenapa sekarang dia malah terbuka. Seolah membuat Steffi semakin ingin mendenfarkan. Untukjaga jaga saja, biar tau apa penyebab Ramanda yang terlalu agresif pada semua laki-laki.
***
Bersenandubg dikalah perjalanan memang aktivitas terbaik sejauh ini, dirinya tidak akan mengalami rasa bosan kala lampu merah, macet, ataupun hal lainya. Namun, kenapa orang yang berada di sebelahnya tidak melakukan itu semua?
Ramanda sedikit mengalami kultur shock, dirinya merasa ada hal yang aneh hari ini dengan kekasih ya itu. Akhirnya, Ramanda mempertanyakan semuanya ketimbang, hanya penasaran tak tentu arah.
"Kamu kenapa bawel banget sik hari ini—aku lagi serius nyetir."
"Yailaaa, biasa juga b aja kalo lagi nyetir. Kamu kenapa sih?!"
Cyittt!
"Kenapa kamu bilang?!" Pacarnya memelototi Ramanda setelah menepikan mobil denga sangat kasar. Membuat Ramanda jengkel, atas kelakukannya.
Hey! Ini mobik gue ya! Kok lo bawanya kasar banget si! Pikirannya kacau seketika. Dirinya tak. suka jika, barangmiliknya diperlakukan begitu. Siapa yang gak kesal coba?! Pengen Ramanda hajar tapi, dirinya tak mampu.
Akhirnya, dia hanya bis mehan dengan kepala yang ia tundukkan.
Namun, semua itu malah semakin membuat pacarnya semena-mena, dia menjambak hingga Ramanda mendengak, "Lo gak bisa mikir gua kenapa?" Tanyanya sangat ketus. Ramanda hanya bisa diam. Tak mampu membalas. Karena, dia sangat takut. Entah apa yanh harus dibalas, bibirnya kelu serta tenggorokannya tercekit hingga kata kata tak mampu dikeluarkan, "Maaf..." Lirih Ramanda untuk menenangkan pacarnya tersebut. Bodoh! Kenapa gue harus yang minta maaf?! Gue gak salah woy! Ramanda menitihkan air mata.
Sesungguhnya dia tidak mau begini. Seolah menjadi orang yang salah dan terpaksa mengalah! Hey! Lo gak salah ya, Ramanda! Lo bales dong! Lo bisaa! Lo kuat!
Peduli setan! Pikirannya mau sekeras apapun berusaha membuatnya marah, tidak akan bisa. Ramanda sudah dibutakan oleh cinta, hingga yang bisa bicara hanya air mata derita.
Seketika pipinya menjasi basah dan wajagh pacarnya berubah, "Hey! Kamu kenapa? Aku gak sadar." Dia membawa Ramanda ke dalam dekapannya...
Kan, dia sadar pasti. Ramanda kembali terbuai dengan perubahan sikap pacarnya itu. Dia sudah buta. Buta sebuta-butanya. Hatinya sudah mati, akal sshatnya sudsh teracuni. Membiarkan dirinya dirusak oleh seorang biadab seperti ini.
"Maafin aku ya by."
Suaranya begitu lembut, memanjakan gendang telinga Ramanda hingga senyumnya terukir debgan indah, "Kamu mau apa sekarang? Lagi pengen mam apa?" Tanyanya lagi.
Semua itu cukuo membuat Ramanda mengusap indah air matanya. Hus! Peegi kalian! Bisa bisanya aku mengeluarkan kalian untuk orang sebaik ini.
"Oh tuhan. Lo masih bisa bilang dia baik?!"
"Itukan dulu, Stef. Astaga! Lo mah motong cerita gue aja."
"Tau nih, Steffi! Orabg lagi seru juga!" Antonio ikit mendesis. Membuat Steffi terkikih, dan menyilahkan Ramanda melanjutka ceritanya.
Akhirnya sampai lah mereka berdua di apartemen Ramanda yang terletak di Kuningan, Jakarta Selatan. Tepatnya, dekat Epicentrum walk yang banyak gedung pencakar langit. Ramanda keluar dari mobil dengab tangan yang melingkar pada pacarnya. Ia menoleh menatap wajah tampan kesayangannya, "Kamu nginep kan malam ini? Kan kantor kamu juga deket dari sinu. Tinggal jalan 3 menit, sampe deh."
Seusai semuanya telontar, langkah kaki merak terhenti mendadak. Pacarnya menatap Rama dengan wajah aneh yang membuat detak jantungnya mengeluarkan irama sangat cepat, "mampus gue." Hanya kalimat itu yang ada di kepalanya.
Dirinya lupa jika, mempunyai pacar tang tidka bisa diatur pergerakkannya. Ramanda juga tidak bisa asal meminta sesuai dirinya ataupun kebutuhannya. Oh. s**t! Kenapa dia lupa sih.. Padahal, dia sudah melakukan inu semua dua tahun lamanya.
Ia menelan ludah, menatap wajah pacarnya denhan penuh harap, agar kejadian di mobil tadi kembali terulang, "Iya. Aku nginep malam ini, sayang. Kamu mau aku masakin apa?"
Omaygat! Dia malah balea dengan suara lembut selembut kain sutera, omg!!! Mana pake ngelus kepala juga lagi. Ramanda tersa diombang ambing di lautan cinta, hingga ia merapatkan lingkar tangannya, "Asikk!" Ia bersorak gembira.
Pacarnya juga tertawa renyah seolah telah menjadi pacar teebik sepanjang masa, "Kamu tau ini gaj si, yang."
"Tau apa tuh?"
"Ini lho..." Ramanda mendekatkan diri dengan ipad di tangannya, "Bagus kan yang? Kamu mau gak?" Tanyanya.
Seketika hening. Ada apa nih? Ramanda menoleh sejenak, "Kamu tau kan aku gak suka warna biru?! Kok kamu nunjukkin malah warna biru??"
Seketika membuat Ramanda terkejut, dan kembali menyalahkan dirinya sendiri, "Bukan gitu, sayang. Maksut aku ini cuman modelnya aja, warnanya bisa milih."
"Halah! Udahlah! Kamu emang bukan pacar yanh ngertiin aku! Kamu gak pernag tau apa yang aku suka dan yabg gak aku suka. Kita dua taun menjalin hubungan percuma!"
"Sayang!" Ramanda berteriak. Cukup untuk menghentikan laju kalimat yang terlontar, "Kamu gak suka warna biru, kamu gak suka coklat, bunga, celana panjang, kemeja, kamu gak suka roti, sama kamu gak suka aku. Iya kan?!" Panjang lebar Ramanda debgan suara yang tak lirih seperti di mobil tadi.
Entah kenapa, kali ini dirinya seakan punya power untuk mengaakan itu semua dengan posisi tibuh yang tegal menghadap pacarnya, "Jawab aku! Kamu gak suka aku kan?! Sampe kamu bilanh dua taun kita percuma?!" Ramanda menahan emosi. Namun, takb bisa!
"Jawab gua, anjing!" Ia berteriak! Mengganti nama hewan karena, tak sudi memanggil nama pacarnya tersebut,