Letih, lesu, lengkap sudah semuanya. Tapi, semua itu tidak boleh dan tidak akan bisa menggantikan posisi Ramanda untuk beberes rumah karena, perintah dari pacarnya.
Sungguh kejam. Memang. Tapi, sskali lagi, Ramanda tidak mempermasalahkan itu semua. Kepalanya yanh terasa berat semakin berat ia hiraukan, hanya untuk menunduk memeras kain pel. Sementara, suara batuk yang beetempi berat semakin menghiasi harinya, "Amanda darling..."
"Yes, honey." Ramanda menoleh.
Untuk pertama kalinya, ia sangat senang dipanggil dengan nama singkatnya. Padahal, sebelumnya ia sangat membenci jika, ada yahg memanggilnya dengan nama singkat.
Namun, kali ini yang memanggil kesayanhannya. Jadi, biarlah.
Ramanda mendekati pacarnya yang baru bangun tidur. Masih mengulat ddngan tangan ke atas, "Kamu udah masak?" Tanyanya pada Ramanda. Dirinya tidak langsung menjawab, masih mendekap untuk menghiruo aroma tubuh yang sangat membuatnya candu, "Mand..." Pacarmya memanggilnya lagi.
Dan, barulah ia melepas dekapannya seraya menyeringgai, "Kita pesen makanan aja ya, aku lagi gak bisa masak. Lidahku lagi pahit."
"Ha? Masa?" Sentak pacarnya yang tak percaya, "Coba liat lidah mu. Mau aku periksa kebenarannya."
"Astaga." Ramanda tertawa kecil, "Aku beneran sayang. Kamu gak percaya sama aku?" Tanyanya dengan tubuh yang menyandar layaknya orang tak punya tulang.
Maksut hati ingin bermesraan namun, hasil yang didapat malah siksaan, "Aku orangnya rasional, Man! Harus ada bukti! Kamu ngomong doang mah gak akan bikin semuanya valid! Cepet buka mulut kamu!"
Tidak mau memanjangkan masalah, Ramanda memilih mengalah seperti biaaa. Ia membuka mulutnya lebat, dan menjulurkan lidajnya.
"Aw! Kamu kenapa sih?!" Tanyanya dengan muluy yang kembali terkatup.
Plak!
"Lagi?!! Kamua nampar aku lagi?!"
"Iya?! Kamu gak suka? Kenapa gak suka? Itu hukuman kamu karena, udah berani bohong sama aku!"
"Hah? Aku bohong gimana si?" Ramanda bingung dengan semuanya. Tangannya masih memegabg pipi yanh kini mulai memerah, "Kamu sebenernya sadar gak si, kalo lagi kayak gini ke aku?" Suaranya mulai bergetar.
Rasa perih koni menjalar hingga daun telibga membuatnya semakin lemas dan ingin terkulai tak berdaya. Tapi, mana mungkin bisa... Ada tangan besar yang menahan di punggunb belakabgnya, "Sadar! Aku sepenuhnya sadar mau hukup kamu."
"Aw!" Rintihan kesakitan kembali menghiasai ruangan.
Ramanda jatuh juga akhirnya, nerasaka kerasnya lantai karena, dilepas oleh sang pujangga.
"Lidahmu masih merah! Kalo lidahmu merasakan pahit pasti warnanya putih! Tapi, nyatanya merah! Dasar pembual."
"Pembual... Kamu bilang aku pembual?!"
"Iya!" Bentak pacarnya. Membuat Ramanda terkejut di bawah sana, "Udah deh! Aku mau ketemu temen cewek ku aja ketimbang ngeliat kamu yang begini." Katamya lagi sembaru melangkahkan tubuh Ramanda.
Dirinya hahya mampu menoleh, menatap kesayangannya membuka pintu dan hilang dari penglihatannya.
Bukannya dia tidak mau mengejar dan menahan semuanya. Berdiri saja sudah tak sanggup. Apalagi, mengejar.
Ramanda hanya bisa pasrah dab membiarkan pacarnya itu melakukan kegiatan yang sangat dibenci olehnya. Habishya mau gimana lagi, kalo dilarang pun tidak akan dilakukan. Jadi, biarkan saja. Pasti, nanti dia pulang lagi kesini. Dan, pasti dia minta maaf atas semua kejadian hari ini.
Sikap manipulatif Ramanda pada dirinya sendiri semakin menjadi-jadi. Membuat dirinya senantiasi terus dibodohi dan tidak may sadar untuk menata kehidupan yang lebih layak.
Ramanda masih betah berada di lingkunga setan seperti ini. Soalnya, di alam bawah sadarnya dia masih belum bisa terima untuk kehilangan ora mbg yang sudah mengenalnya 'luar dan dalam'
"Huh—emang lo tuh goblo, Ramanda! Udah itu doang si." Desis Steffi yang kini memijat pelipisnya.
Dirinya masih tidak abia pikir, ternyata hubungan tidak sehat seperti di novel dan sinetron beneran ada dan sudah memakan korban. Dirinya masih tak sanggup memikirkannya. Steffi hanya bisa menggelengka kepala, dengan rasa pusing yang menjalar.
"Trus lo matinya sama dia? Sampe bikin lo mau kadi arwah penasaran?"
"Husss!" Steffi menutup mulut Antonio yany semakin brutal.
Dia takut jikalau, Antonio lupa atas perasaan Ramanda yang sangat cepat berubah dan tersinggung. Steffi tak mau itu terjadi kembali. Karena, menakutkan respon Ramanda nantinya.
"Haha!"
Tapi, kok dia malah ketawa. Seolah niasa aja, membuat Steffi mengendurkan tangannya dari mulut Antonio.
"Santai aja, gua emang mau ceritain gimana gue bisa mati ke kalian. Gimua udah siap kok. Tadi, kan bab awalnya." Ujar Rmanda dengab memasang tapang konyol.
Melihat itu semua, membuat Steffi tak ayal dan tak percaya. Seorang Ramanda kenapa bisa seperti ini... Apa jangan-jangan dia udah dewasa. Ahh, masa iya. Tapi, sudahlah.. Cerita dari dia sejak awal sudah seru. Dan, ini adalah intinya. Pasti, sangat seru untuk didengarkan dan hitung hitung mengetahui sifat manusia yang lebih jahat dari para arwah penasaran.
"Kau tau apa yanh lebih menyakitkan?"
"Apa?" Sahut Ramanda pada orang yang sedang melakukan oanggilan dengannya.
Steven, namanya. Teman dari bocah ingusan sampe jadi bocah sukses di Surabaya. Steven menyemat predikat crazy rich Surabaya atas tindakannya yang sidah mempunyai brand kosmetik yang sangat sukses menarik minat gadis gadis belia di belahan negeri tercinta, Indonesia.
Tapi, dibalik kesuksesannya itu, dia juga crazy. Soalnya sering banget transferin orang orang yang masuk dalam kategori temen deket dirinya. Kadang, gak cuman transfer uang. Diajak libyran tiba-tiba dengan seluruh akomodasi dibayarkan juga sangat sering kejadian. Gak usah kaget atau gimana-gimana. Ya emabg begini adanya. Mau gimana.
Klek'
"Mand. Aku pulang!"
"Inget ya, Stev yang gua bilang tadi." Ramanda berbisik dan menaruh ponselnya di sofa.
Dia berdiri umtuk menyambut kesayangannya. Ramanda berkelakuka kaya biasa. Melendotkan diri dengan manja, dan kini, menarik pacarnya itu, ke sofa.
"Kamu masih mau mam gak?" Tanyanya dengan senyum sumringah.
"Aku udah makan tadi sama Gita." Jawabnya singkat.
Ramanda menahan api cemburu, dan memilih untuk melepas kan tangan yang melingkat pada lengan pacarnya, "Kalay gitu, aku mau keluar boleh? Gantian kamu jaga rumah."
Ini waktunya untuk melepaska b******n. Ramanda sudag sadar nampakntya setelah melakukan panggilan dengan Steven. Dirihya harus lepas dari pengaruh buruk yang dapat melukai dirinya sendiri.
Ramanda tidak mau itu sampai kejadian, maka dari itu, ia harus membuat pacarnya marajmh agar Stever di seberang sana mendengar dan merekan seluruh percakapannya.
"Kamu mau kemana?"
Tepat sasaran! Dia udah kesel. Mukahya udah berubah menjadi merah berapi-api! Ramanda semakin percaya diri untuk membuatnya emosi.
"Aku mau ketemu Bagas, Rio, dan yang lain. Temen cowo-ku. Kamu kenal mereka kan?" Tanya nya dengan polos.
Pacarnya berdiri menghadap Raamnda dengan tatapan marah seperti biasa. Ramanda takut, dan mau menunduk. Tapi, harua ditahan. Biar, temannya membutuhkan cukup bukti untuk melaporkan pada pihalñyang berwajib.
"Aw!" Ramanda mengaduh. Suaranya sangat lantang dan keras! Tak seperti bisa. Lagi-lagi, supaya Steven bjsa mendengarnya.
"Aku anggep dengan kamu nampar aku, kamu ngizinin aku keluar ya. Bye!" Ramanda membelakangi pacarnya dan seketika ada yang merembes dari lunggung belakangnya.
Hangat. Sangat hangat, Ramanda menoleh, "Kamu gak akan bisa kemana-mana sayang. Kamu akan terus di sini bareng aku."
Pacarnya menyeringgai. Membuat Ramanda takut akan raut wajahnya yang mengingatkannya pada seoranv psikopat di film box office.
"Sakit." Ramanda merintih. Raut wajahnya sudah tak bisa ia kontrol. Namun, pacarnya ini malah suka melibat raut wajahnya yang seperti ini.
Tangannya mengelus pipi gembung Ramanda dengan senyum yang tetap merekah, "STEVEN! AKU DITUSUK!"
"WHAT?!"
"Kenapa? Kamu takut kan? Sejak tadi ada Steven yang mende mngar pembicaraan kasarmu debgan aku." Jelas Ramanda bersusah payah.
Dirinya masih berjuang untuk keadilan dirinya meskipun benda tajam ini terua memberi rasa sakit yang sudah nenjlar ke seluruh tunuh.
Jegggg! Benda itu semakin dalam menembus tubuh Ramanda. Rasanya, dia terbelah menjadi dua tapi, belum dipisahkan. Sangat sakit hungga dirihya mengeluarkan air mata.
"Steven gak akan bisabapa-apa. Kamu sama aku di sini, sedangkan Steven di sana—Jeg!" Pacarnya itu semakin memasukkan benda tajam jauh lebih dalam, hingga tubuh Ramanda terkulai pada tubuhhya.
Lalu ia malah membelai rambut Ramanda penuh kasih sayang, "Aku akan menjadi cinta mati kamu, sayang..." Bisiknya tepat di telinga Ramanda yang sudah memejamkan kedua matanya.