Sebuah cerita yang sangat membuat dirinya marah hingga mau membunuh seseorang yangbtelah merenggut nyawa perempuan yang tak bersalah.
Siapa lagi jika, bukan Ramanda. Temannya satu pemakamana yang dibunuh olg kekasihnya sendiri. Sangat tragis memang manusia tak beradab seperti dia.
Rasanya Steffi ingin pergi ke tempat orang tersebut dan menggantikan Ramanda untuk mencekik lehernya secara brutal. Ketimbang nunggu Ramanda yang kini sedang mengikuti sejumlah tes untuk menentukan misi ap yang akan ditempuh agar bisa, membalaskan dendamnya.
"Hey! Kau arwah baru."
"Hehhhh? Iya ada apa?" Tanya Steffi yang kini menunjuk dirinya sendiri.
Pikirannya penuh bertanya-tanya ada apa para arwah senior ini memanggil dirinya dan meminta dirinya mensekat ke sana. Biasanya Stefii dibully. Kok sekarang engga. Anehhh.
Steffi melangkahkan kaki dengan oebub ke gusaran dan alam bawah sadar yanh kini memanggil nama Lira untuk melindunginya jika, para arwah senior ini melakukan hal hal yang tak terpuji.
"Kau jadi arwah penasara atau malaikat maut?"
Shit! Kenapa pertanyaan ini lagi sih... Gak ada gitu, pertanyaan lain. Jangankan mereka yang mau tau jawabannya. Steffi sendiri aja mau tau dia jadi apa nantinya.
Tapi, semua itu belum bisa sijawab dan diberikan jawaban. Wong, dirinya aja gak tau penyebab kematiannya apa dan bagaimana. Kan rancu, mau bales dendam ke siapa dan nebus dosa ke siapa... Layaknya prinsip dari menjadi arwah penasaran serta malaikat maut.
Steffi menghela nafas berat yang diikuti dengan senyim kecut untuk balasan peetanyaan kedua arwah senior di depannya, "Aku belum tau mau jadi apa. Orang belum tau penyebab matinya gara-gara apa. Gimana mau milih." Kata Steffi dengab putus asa.
Kedua arwah itu dibuat tak percaya dan tercengang. Mereka kasihan pada Steffi. Rupanya dia adalah salah satu arwah yang tak bisa melihat masa lalu saat hari kematiannya. Kasian... Masih juda harus direpotkan dwngan administrasi.. "Saya bantu kau mencari alasan kau mati, mau?" Tanaya salah satu arwah yang berperawakan tinggi besar. Namun, wajahnya kecil. Unik banget ya kan.
Steffi hampir tertawa. Tapi, tidak boleh bisa-bisa nanti dia gak jadi dibantuin cari alasannya mati. Ia terpaksa menganggum dengan kepala yang menunduk untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, "Tapi, ada bayarannya. Soalnya kita akan menyuap petugas gerbang depan."
"Tenang. Aku punya ini."
"Wuuuui, orang kaya kau rupanya." Tegas arwah tadi saat melihat Steffi mengangkat kartu bewarna hitam yang bisa membeli segala hal yang ada di tempat ini.
Melihat hal itu, Steffi hanya terkikih. Merasa akhirnya dia sedikit dianggap oleh kedua arywah senior ini. Soalnya, tiba-tiba dirinya dirangkul layaknhabteman dekat. Namun, Steffi tidak menganggap kedua orang ini eman dekat. Untuk aoa juga. Pasti mereka matre.
"Nah kita udah sampe." Kata arwah senior berwajah mungil, "Kau masih ingat alamat rumah mu?" Tanyanya pada Steffi.
Tentu saja Steffi masih ingat. Masa 20 tahu menempatkan rumah tidak hafal alamatnya. Keterlaluan jika, begitu.
"Yaudah, lo bilang ke die dah. Biar dia nyari tempatnya dulu. Jamgan lupa kasih bayarannye." Kata arwah dengan auara nyablaknya itu.
Atas arahan mereka berdua, akhirnya Syeffi mendekati petugas gerbang dan menyebutkan alamatn rumahnya, "1 juta rupiah."
"Buset. Mahal amat—gimana dong nih?" Steffi menoleh ke belakang. Mencari saran yang terbaik. Soalnya, nominal yang harus dibauar sangat lumayan untuk ukuran cuman nyari alamat.
Steffi mengeluh sembaru menahan kartu pada sakunya, "Cepet bayar! Nominal segitu buat ngecover keberadaan lo! Biar gak dicurigaiin kalo lagi gak ada di tempat." Jelas arwah nyablak tersebut.
Steffi membulatkam mulutnya, lamgsung saja, ia memberikan kartu pada penjaga gerbang agat bisa keluar dan mencari alasan kematiannya, "Wow!"
Sesampainya di luar, Steffi dibuat teecengang. Benar-benar magic dan genre fantasi banget. Pikirnya.
Ia menoleh ke belakang untuk melihat gerbang pemakamannya. Jaga-jag umtuk kembali nanti saat dia sudah tau alasannya.
Akan tetapi kok hilang. Omg. Gimana caanya nanti dia balik ke pemakaman kalo gerbgany aja menghilang, "Wow!" Untuk kedua kalinya mulutnya melontakan kalimat menakjubkan.
Tiba-tiba di lengannya tertaa waktu tiga jam sebelum Steffi kembali ke pemakaman.
Setelah melihat waktu itu, Steffi langsung bergegas menuju rumahnya di depan.
Ia tak perlu susah membuka pintu karena, sekatang dia bisa tembus.
"Omaygat." Steffi tercengang saat melihat semua anggota keluarganya sedang menaruh beberapa makanan favoritnya di depan figura photonya.
Untuk apa. Wehhhh. Belum juga setagun kematiannya kok udah diperingati kaya begini.
Makanan khas korea selatan memenuhi meja, mulai dari banchan atai lauk pauk, kue beras, pir korea yang terkenal sangat besar, hingga lilin panjang yang membuay matanya terbelalak.
Heyyy! Aku belum setahun lho mati, masa udah begini. Mana masih nangis lagi. Kenapa aih sebenarnya. Ada apa semuanya. Kenapa mereka sangat terpukul dengan musibah ini. Perasaan, Steffi bukanlah anak kesayangan mereka. Lalu, juga mereka lebih mementingkan perusahaa ketimbang perasaan anaknya sendiri.
Lagi-lagi Steffi menhhela nafas beratnya dengan kaki melangkah untuk mendekat, "Bisa dimakan gak si ininya. Penasaran." Gumamnya dengab tangan menyomot kue beras di piring.
Wihhh! Ternyata bisa. Tangannya bisa meraih makanan ini. Namun, kenapa mereka tidak melihat makananya terbang ya? Jangan-jangan, mata mereka sama sekali tidak melihatnya. Pikiran Steffi mendadak penuh layalnya mulut yang kini sedang sibuk menguyah kue beras yang mempunyai cita rasa unik serta manis.
"Maafkan kami, Steffi. Di rumah ini menjadi sepi tanpa dirimu. Eomma yang salah."
"Eommaaa..." Lirih Steffi.
Ia beranjak dari meja persembahan dan duduk di sebelah eommanya (ibu dalam bahasa Korea)
"Appa pun salah, Steff. Kamu pasti kesepian di rumah sebesar ini, hingga diam diam memilih kursus bahasa inggris. Padahal, kamu sudsh menguasai bahasa iti dengan sangat fasih. Steffi, maafkan Appa..." Suara parau dari pria paruh baya kesayangannya itu membuat hari Steffi luruh seketika.
Rasamya ia ingi memeluk kedua orang tuanya tapi, tidak bisa... Tangannya tak bisa menjangkau mereka. Semenjak menjadi arwah, dirinya memiliki tubuh ya g transparan. Membuat tak bisa memegang atau merasakan wujud manusia atau yang lainnya.
"Stefi. Ini untuk mu. Makanan kesukaan mu. Eomma sengaja masak sejak pagi bufa tadi."
"Eommaaaa, Steffi sayang eomma." Suaranya semakin bergetar hingga tubuhnya tak kuasa menahan beban.
Steffi jatuh ke langai dengan butiran air mata yamh membasahi wajah, "Jika di kehidupan nanti kita akan berasama, eoma janji tidak akan memaksa kamu untuk menjadi penerus perusahaan, nak. Tapi, tolonh reinkarnasi jadi anak eomma lagi, ya." Suara parau yanh aemakin parau menusuk gendang telibga Steffi. Membuat dirinya semakin yakin, jika, kematiannya sangat membuat kedua orang tuanya bmmerasa bersalah.
Mendadak, Steffi lupa akan mencari alasan dari kematiannya. Dirinya merasa jikalau, itu memang sudah takdir para dewa untuk mengirimnya ke akhirat.
Steffi bangkit dari posisinya dengan nafas penuh keyakinan, "Aku mau pulang."
Dirinya tersenyum ke arah kedua orang tuanya sambil menekan waktu agar membuat, dirinya kembali ke pemakaman.
Tssset!
Tidak butuh waktu lama. Hanya sekitar satu detik, Steffi sudah kembali berada di area pemakaman, "Lo dari mana?"
"Wehhh! Kok ada lo."
"Lah, gua mah dari tadi disini. Lo yang tiba-tiba muncul." Jelas Lira dengan wajah penasarannya.
Steffi menatao Lira, "Kenapa lo mata lo ampe begitu?"
"Gak kenapa-kenapa. Lo ngaco aja. Mana ada gua tiba-tiba muncul." Dalig Steffi.
"Yailah, Stef. Masih kaku aja deh lo! Gua tau kok, kalo lo pasti abis make jasa penjaga gerbang belakang kan"
"Wtf! Lo tai juga nasa itu?"
"Yailahhhhh!" Lira teebahak sambil menggebuk punggung Steffi, "Itu kan gua duluan yang tauuuu." Jelasnya.
Membuat Steffi semakin teecengang. Ternyata, temennya sendiri yang menemukan trik curang tersebut. Kalo gitu adaya, ngapain dia pake alesan segala. Duh... Jadi, malu.
Steffu mencoba tertawa mengikuti irama Lira, "Lo tadu bayar berapa?"
Steffi berdehem, "Satu jeti."
"Buset!" Lira tersentak hingga berdiri, "Murah banget kan, Lir." Sahut Steffi dengan percaya diri.
Tapi, Lira malah mengeplak kepala Steffi, hingga dirinya menoleh kesal padanya, "Lo diboongin! Lo kesana bareng siapa? Kenapa gak bilang gua dulu si lo ah." Lira menghujani banyak pertanyaan pada Steffi.
Rasa pusing mendadak bersarang, Steffi tak tahu ingin membalas apa lagi. Ternyata, dirinya kena tipu setelah mendengar penjelasan dari Lira.
Mendadak, dirinya menjadi bahan ledekan oleh Lira atas sikapnya tadi, yaaa namanya juga arwah baru ya kan. Mana tau, kalo arwah senior di sini butuh duit juga.
Steffi memberi kalimat penenang untuk dirinya sendiri agar bisa menghibur aetelah mengeluarkan uang 1 juta rupiah, yang padahal, biaya penjaga gerbangnya hanya 200 ribu untuk 3 jam ke luat area pemakaman.
Sialan.
Hanya satu kata yang terbesit di kepala. Rasanya dia sangat ingin mencari kedua arwqh senior yang telah menipunya. Namun, dia sadar untuk mengurus administrasi sebelum kantor tersebut tutup dan buka lusa nanti.. Huh—jamgan sampe deh. Semoga masih buka. Steffi berlari dengan tenaga penuh hingga akhirnya, ia sampai di depam gedung administrasi dan misi para arwah.
"Ini formulir yang untuk diisi. Dimohon untuk diselesaikan hari ini juga." Kata petugas yang memakai baju serba hitam.
"Baik." Jawab Steffi dengab langsung membawa formulir tersebut.
Ia duduk di sofa yang sudah disediakan dan membaca kalimat demi kalimat.
Ia mencentrang pilihannya sebagai malaikat maut sebagai ajang penebusan dosa karena, sudah membuat kedua orang tuanya sedih atas kematiannya.
Steffi tidak mau membalas dendam pada mereka atas alasan audah mengekang dirinya semasa hidup dulu. Steffi tidak mauenjadi seoranv anak durhaka pada orang tua yang sudah membesarkan nya penuh cinta. Toh, juga dia sudah mendengat doa eommanya yang sangat menginginkan dirinya ber-reinkarnasi sebagai putrinya kembali.
Oleh sebab itulah, Steffi memilih menjadi malaikat maut agar bisa mengabulkan doa dari eomma tercintanya.
"Sudah yakin atas pilihannya? Karena, tidak bisa dibatalkan atau mendadak berubah." Tanya petugas tersebut melalui pengeras suara agar Steffi bisa mendengat dengan jelas.
Steffi yanh audah mantap akan pilihamnya langsung memgacungkan i u jari serta kepala yang memgangguk, "Baik, kalau begitu besok anda akan dikirimkam sejumlah dokumen berisi misi agar menjadi malaikat maut." Jelas petugasnya lagi sembari memberikan salinan formulir pada Steffi.
Merasa sudah jelas dan terarah, Steffi langsung berterimakasih dan kembali keluar untuk mencari Antonio. Debgan niat bertanya dan belajar untuk menyelesaikan misi besok.
"Assaah! Akhirnya gua punya junior." Pekik Antonio dengan kegirangan.
Sementata Steffinhanya memutar bola mata denhan malas, karena, sudah terima nasip deh. Nanti dia pasti akan dijahili oleh seniornya ini.
"Tapi, Steff."
"Kenapa?"
"Kok lo mau jadi malaikat maut? Capek banget lho." Kata Antonio seolah memberikan peringatan pada Steffi.
Namun, bukannya takut atau apa... Steffi malah terkikih, "Jadi arwah penasaran juga capek, Nio! Trus, mereka gak dapwt seragam lagi. Mending jadi malaikat maut aja, dapet seragam ketceee." Jawab Steffi.
Dirinya memberika alasan yang sangat mencerminkan sikap santai dirinya pada Antonio. Lagipula, untuk apa juga memberikan alasan yang sebenarnya pada dia. Dia siapa. Hanya partner dan teman satu pemakaman. Fikir Steffi.
Lalu Antonio juga terlihat percaya atas alasan tersebut. Jadi, santai lah. Enak, rasanya kayak gak punya partner yang suka mengulik kehidupan pribadi. Kan tenang banget rasanya. Steffi tanpa sadar tersenyum simpul di hadapan Antonio yang sedang menjelaskan misi apa saja yang saat itu diselesaikan guna menjadi malaikat maut berpangat rendahan. Namanya juga masih junior gim reapper kan ya. Maklum aja.
**
Acara persembahan untuk anak semata wayangnua kini, keluarga Stefgi kembali pada kesibukkannya masing-masing. Menghapus air mata yang sedari tadi memghiasi wajah dan berjalan keluar untuk kembali ke perusahaan.
"David? Ada apa?" Tanya Eomma Steffi yang mendadag bingunh atas kehadiran kekasih anaknya.
David. Teman kecil Steffi yang kini menyandang status sebagai kekasihnya. Membuat Eomma dan Appanya bahagia karena, ternyat mendapatkam calon menantu yang sudah lama dikenal oleh mereka.
Namun, semenjak kepergian Steffi, penampakkan David terlihat jauh dari kata biasa. Dirinya terlhat sangat berantakkan. Entah kenapa.
Padahal, David adalah pria yanh necis nan perfeksionis. Potongan rambutnya selalu pendek serta rapih. Namun, sekarang rambutmya dibiatkan panjang terurai, dan tidak terawat.
David terlihat sanvat kacau, membuat Eomma sangat kasian dan merasa lebih bersalah.
Ia mendekap erat David layaknya anak sendiri. Dia mengelus punggu g belakang David penuh rasa sayang, "Eomma..." Panggil David.
"Iya, nak?" Tanta eomaa menatap wajahnya.
"Maaf, tapi, aku harua mengatakan ini semua." Mendadak raut wajah Davis sangat serius membuat eomma dan appa tertular aura seriusnya, "Aku yang membunuh Steffi. Mobilku tak sengaja menabrak mobil dia di persimpangan jalan dekat perusahaan." Jelas David yang membuat suasa mendadak mencekam.
Raut wajah eomma dan appa Steffi mendadak berubah warna. Raut wajah penuh rasa sayang mendadak hilang seketika. Membuat David sangat merasa beraalah hingga dirinya berlutut di hadapan mereka, "Maafkan aku... Saat itu aku tak sadar dan dalam keadaan mabuk. Tolong jangan salahkan aku, eomma apppa. Biarkan ini hanya menjadi rahasia kita bertiga. Aku takut masuk penjara."
Saat mendengar semua itu, rasa emosinya sudah menguasai pikiran appa. Membuat dirimya ingin langaung menghajar David seketika agar menuntaskan rasa emosinya tersebut. Namun, jika, difikir panjang lagi... Untuk apa?
Steffi sudah tenang di alam yang berbeda dengan kita. Kita yanh kini berada di alam manusia harus mengenangnya penuh cinta. Tak boleh ada rasa emosi serta rasa dendam yang tersemat. Karena, takut membebani dia yang sedang berjalan di jembatan menuju akbirat kelak.
Appa Steffi begitu dewasa dan kini membawa David untuk berdiri kembali. Ia menatap wajahnya yang tampak tak dibasuh beberapa hari. Matanya bertemu dengan mata David, kemudian tersenyum.
"Tak apa... Itu mungkin memang takdir Steffi."