Kembali menjadi kelompok adalah hal yang sangat menakutkan bagi Steffi. Dirinya yang belum siap untuk berjauha dengan kedua temannya hanya busa mengelus d**a sembari menghela nafas, "Lo sih milih jadi malaikat maut." Kata Antonio yang kian menambah rasa ketakutannya.
Steffi hanya mendesis kesal di belakang. Rasanya, ia sangat ingin menjitak kepala Antonio. Namun, sayangnya tidak bisa. Mulai dari aekarang dia adalah junior malaikat maut. Harus menghormati Antonio yang kini berpangkat sebagai senior.
Lagian, kenapa masih ada aja sih junuor-senior. Kaya orang hidup aja. Steffi dibuat kesal oleh sistem pemakaman yang masih sangat seperti dunia manusia.
Katanya kita udah beda alam. Tapi, nyatanya engga. Sama aja tuh semuanya. Beda wujud aja. Kita para arwah transparan mereka para manusia nyata adanya.
Sampis! Decak Steffi dengan tangan menyilang di d**a.
Semua arwah diperailahkan duduk di kursi masing-masing, Steffi juga begitu. Ia dengan santai mendengarkan penjelasan dari senior malaikat maut yang katanya mempunyai pangkat tertinggi. Namun, Steffi tak bisa melihat wajahnya. Jarak ya sangat jauh membuat mata minusnya meronta jika, dipaksa menegaskan pandangannya.
"Kita di sinu gak kaya sebelah—yang masig memikirkan dunia." Katanta dengan lantang.
"Kita di sini adalah arwah yang terhormat. Memilih ajang penebusan dosa ketimbang balas dendam. Saya tegaskan sekali lagi, kita yang memilih menjadi malaikat maut sangatlah terhormat." Suara itu semakin lantang. Terlontar jelas hingga gendang telinga Steffi bergetar.
Pertanyaan juga akhirnya bersarang di kepala. Seolah mempertanyakan semua tingkah untuk menilai orang yang sedang berbicara di depan.
Mengapa sangat terkesan gila hormat sih. Memang jikalau orang sebelah itu. Steffi dan yang lainnya pun tahu kata pengganti orang sebelah ialah para arwah yang memiluh menjadi arwah penasaran.
Tapi, ya tolong lah. Aturan jangan kayak dikotak-kotakin gitu. Seolag memecag belah semya arwah agar main kubu-kubuan. Padahal, kita kan satu. Arwah! Terlepas dari apapun pilihannya. Saling menghormati pilihan sesama aja. Susah banget deh kayaknya.
Helaan nafas semakin terdengar berat di telinga. Habisan, Steffi masih tak abis pikir, masih ada aja masalah ginian di dunia arwah. Kenapa sih.Udah pada mati aja bertiñgkah kaya manusia. Tegasnya dalam pikiran.
Sayang banget.Coba aja junior kayak dia bisa mengutaraka semua ini. Pasti tentran ini pemakaman. Gak ada tuh yang saling gontok-gontokkan demi mencari, siapa yang terbaik atas pilihannya.
Semua pilihan baik. Kan, semuanya disesuaikan oleh keinginan dan kebutuhan kita sendiri. Jadi, tentu saja pilihan yang kita ambil tuh udah paling terbaik!
Gimana, sik! Pikirannya hari ini sangat berisik. Dirinya tak menghiraukan jika, ada yang mempunyai kekuatan sama seperti dirinya. Bodo amat! Peduli banget apa! Lagipula juga, dari tadi Steffi juga banyak mendengar celotehan yang membicarakan senior malaikat maut di depan dalam konotasi yang buruk. Jadi, bukan hanya Steffi yang berlakon layaknya bawang merah di siju.
"Steff!"
"Heh? Lo siapa?" Ia menileh ke belakang karena, ada tangan yang tiba-tiba mencoleh bahunya.
Sontak saja membuatnya sanvag terkejut. Apalagi, jika, orang yang mencolek dan memanggilnya tadi, tidak mempunyai wajah yang dikenali oleh dirinya
Ya... Jadi maklum aja. Steffi melontarkan pertanyaan yang mungkin sedikit agak menggores hatinya.
Tapi, keliatannya nih orang bukannya ngenalin diri malah, makin kepedean. Pake segala tuker tempat duduk sama orang di sebelah Steffi agar dia bisa berdampingan, "Masa lo lupa sih sama gua. Come on! Otak pinter lu kemana."
Hettt deh! Pake nanyain otak segala. Nih orang kenapa dah. Mana sok akrab banget lagi. Tangannya ngapain nih ngerangkuk segala. Dikira kita deket kali ya. Padahal mah, Steffi kenal mukanya aja engga.
Steffi memundurkan wajahnya sedikit. Memberi jarak tak tau berada di dekat orang aneh tersebut.
Namun, nampaknya tidak bisa. Orang ini terus merapatkan diri paa Steffi. Membuatnya muak dan lagsung berdiri.
"Mohon maaf nih ya." Steffi mengambil nafas, "Gua gak tau lo siapa, gua juga gam inget muka lu tuh siapa. Tapi, kenapa tingkah lo sama gue kaya udah bestie banget."
Akhirnya, Steffi sangat lega kala melontakan semua pertanyaan yang sedari tadi ia rangkai di kepala.
Mencari celah agar terdengar sopan san tidak menggores hatinya. Soalnya, Steffi bener-bener gak ingat siapa dirinya. Duhhh, stupid banget kalo masalah ingatan Steffi mah.
Ia kembali duduk di kursinya, Steffi menoleh ke samping dengan raut wajah yang menunjukkan lengkung senyumnya.
"Sorry ya." Ujar Steffi.
Orang itu menatao matanya, "Its ok. Kayaknya emang gua yang kepedean aja lo bakal inget sama mantan di SMP.*
" Hollyyy graill! Mantan di Smp? Lo berarti cinta monyet gueee?" Pekik Steffi dengan mata yang membelalak sempurna.
Jika, ada kata aelain terkejut bukan main kayaknya, Steffi akan menggunakan kata itu. Soalnya, siapa yang gak terkejut jika, bertemu cinta pertamnya yahg selama ini ia cari kemana-kemana. Steffi sejak dulu memang sangat mendambakkan bisa bertemu dengan cinta pertamanya itu. Tapi, nasipnya sial. Dia tidak bisa menemukannya. Jangankan, orangnya. Akun sosial medianya aja Steffi gak nemu.
Ehhhhhh, tau-taunya dia malah ketemu di sini. Di pemakaman yang so pasti, Steffi udah jadi arwah dan dia juga udah jadi arwah.
Duh... Kenapa, sih nasip percintaannya sial banget. Masa ketemu udah pas jadi arwah,kan gak bisa tebar pesona. Ah! Steffi mencibir di kepalanya sembari terus menatap mantannya yang masih menatap matanya juga.
"Pikiran lo berisik ta ternyata."
"Wtf! Lo bisa denger pikiran ya? Sialan." Pekik Steffi yang semakin terkejut atas fakta lainnya.
Namun, sejenak ia berfikir dan terdiam. Dan ternyata, Steffi semakin si uat terkejut hingga mulutnya terkatup, "Gua gak bisa denger pikiran lo. Padahal, kekuatan gua sama kaya lo." Jelas Steffi yang teeheran-heran. Namun, arwah itu hanya cekikikan dan tak menjawab atau menjelaskan kenapa pikirannya tidak bisa ditembus oleh kekuatan Steffi.
Di sebelah timur ada pasukan arwah yang sudah tak sabar ingin membalaskan dendamnya. Salah duanya adalah Lira dan Ramanda yang kini bergabung untuk menyambut arwah arwah baru. Jika, Ramanda terlibat sangat antusias maka, Lira kebalikannya.
Diribta lelah sekali, dia bosan terus mengikuti acara beginuan setiap satu tahun sekali.. sedangkan dia sudah berada di pemakaman inu selama 10 tahun. So... Yang berarti dia udah mengikuti 10 kali oenyambutan arwah. Duh. Males! Rasanya ia ingun langsung balik ke batu nisannya untuk beristirahat.
Namun, semua itu hanya bisa dilakuka dalam pikirannya. Soalnya, Lira mempunyai misi khusus paca acara ini agar mempercepat balas dendamnya bisa terwujud.
"Ramanda!"
"Kenapeee loo manggil i." Sahut Ramanda ketus.
Lira duduk layaknya anak kecil yangs edang dipangku orang tuanya, membuat Ramanda jengkel tapi, dia tak bisa berkutik. Lalu... Dia juga membutuhjan oranh yang ia kenal agar tidak menjadi sapi ompong yang kerjaannya bengang bengong di kursi penonton.
"Lo mau bantuin gue gak?"
"Kalo ada bayarannya gua mau." Sahut cepat Ramanda. Mengalahkan kilat yang menyambar awan di kala hujan.
Lira mengacungkan ibu jarinya, "Sepakat!" Ramanda mengiyakan semuanya dan kini mereja berjalan menuju kursi barisan belakang.
"Tugas lo cuman satu. Cari perawan yang cakep tapi, matinya gara-gara depresi." Lira memberi pengarahan untuk Ramanda demi menuntaskan misinya.
Sebenarnya inu adalah misinyang tidak sulit. Hamya saja, Lira malas. Kan jadinya gak ada obat. Jadi, lebih baik ia mencari orang yang mau membantu dirinya dan mau diiming-imingi hadiah contekan untuk misi pertama.
Untung saja dia punya Ramanda. Kan, jadinya simbiosis mutualisme. Seru deh pokoknya misi kali ini. Lira membayangkan jika, dirinya hanya leha-leha menunggu Ramanda selesai mencari orang yang ia jelaskan tadi.
"Nih! Udah dapet gua! dia mati gara-gara depresi punya utang di pinjol."
"Holly shetttt! Kok cepet banget si! Gua belom ngerokok lu udah dapet aje." Ketus Lira yang kembali memasukkan batang rokok ya itu.
Ia melihat arwah tang dibawa Ramanda untuk memastikan, apakah benar dia arwah yang meninggal karena, depresi?
Dilihat dari wajahnya si iya. Pucat pasi dengan bibir yang sudah berubag jadi ungu. Kayaknya dia mati, gara-gara bunuh diri di kamar mandi. Merendam seluruh tubuhnya di dalam bathup sembari mendengarka musik klasik. Duh. Apa banget si.
Lira menaikkan sebelah alisnya, "Gua butuh Steffi nih."
"Buat apa?" Sambar Ramanda.
"Ya buat liat kenangan terakhir dia lah. Gimana dah lo."
"Lah... Trus gua gimana? Gak dapwt imbalannya gitu?" Ramanda menahan tangan Lira yang may mengambil alih arwah yang ia bawa.
Lira menatap Ramanda, "Tenang aja! Gua mah gak ingkar janji. Nanti malem gua kasih tau! Li ke nisan gua aja, oke?" Jelas Lira yang kali inu benar-benar mengambil alih tanga arwah depresi tersebut.
Namun, Ramanda masih menahan tangan kiri dari arwah tersebut. Ia juga memasang raut wajah aneh yang katamya bisa membuat orang ngeliat dengan raaa kasihan, "Gua ikut ke Steffi. Gak mau mati kutu di tempat ini." Pinta Ramanda yang setengah memohon pada Lira.
Lagi pula juga, ternyata acara sambutan arwah pensaran inubtak seperti bayangannya. Terlalu sumyi untuk orang yang mau menjelaskan detail miai secara sangat rinci.
Tapi, kenyataannya malah mereja hanya memberikan satu bundle kertas yang sudah tertuliskan penjelasan yang bisa dibilang sangat formalitas.
Huh—memvuat Ramanda jengkel. Untung saja dia ketemu Lira dan Lira minta tolong padanya. Jadi, yaaa gak bosen dan gabut deh.
Tapi, sekarang Lira mau ninggalin dirimya. Tidak bisa! Ramanda tidak akan membiarkannya. Oleh sebab igu dia melakukan hal memalukan dengan memasang tampang pupy eyes layaknya wanita wanita sok lucu di luaran sana.
Tapi, Lira kan orangnya bodo amatan ya. Kejam juga lagi. Hm. Ramanda juga sedikit getir. Apakah dia akan mengajaknya atau dia akan peegi sendirian. Meninggalkan Ramanda di sini layaknya anak anti sosial yang pasti, tidak akan membuka percakapan dengan arwah lainnya.
"Steff!"
"Hah? Siapa lagi nih yang manggil gua? Bentar ya." Kata Steffi pada cinta pertamanya sebelum mneoleh ke belakang.
"Kirain siapa! Ngapain lo pada?!" Tanyanya langsung pada Lira dan Ramanda yang tiba-tiba menghampiri dirinya ke kelompok malaikat maut.
Mau mati dua kali ni berdua kali ya... Udah tau kelompok Steffi agak gimana gitu sama arwah yang mau menjadi arwah penasaran... Steffi hanya bisa menelan saliva nya yang sulit tertelan. Dirimya takut, jika, para senior si seoan menemukan dua arwah penasaran yang berada di kelompok mereka.
Duh! Untung aja Steffi sudah pindah ke barisan kursi baling belakang. Jadi, gak bakal ada yang tau deh.
Ia mengelus dadanya pelan dan kemudian memasang senyum simpulnya kayak biasa, "Tolong liatin memori terakhirnya dia sebelum mati dong. Mau make sure buat dicatet di dokumen." Pinta Lira tanpa basa-basi. Dirinya juga langsung mengulurkan tangan si arwah yang ia bawa agar Steffi memegangnya, "Weitss, nanti dulu dong." Kata Steffi yang membuat Lira gemas.
Kenapa gak megang dulu sih... Gak tau apa nih orang gue lagi buru-buru.
"Gua denger pikiran lo, Lir." Steffi memegang daum telinganya, "Oiya lupaaaaaa!" Lira menepok jdat dan kemudian memikirkan penjelasan ya g ia mau sampaikan pada Steffi. Biar terkesan intim dan rahasia.
Padahal...
"Oalah, ternyata lo tuh agen, Lir."
"Ssttt! Kok lo bisa tau jugaaa?!" Lira tersentak kala Ramanda mengetahui isi pikirannya yang seharusnya diketahui hanya oleh Lira.
Namun, hanya dibalas sengan tawa renyah oleh Ramanda yang mengatahui jiak, Lira adaah orang yg tidak peka. Baaimana mungkin dirinya baru mengetahui kekuatannya ini. Padahal, merekasudsh satu minggu bersama. Dan. Ramaa adaah orang yang pertama kali mempamerka kekuatan yang ia dapatkan.
Lira masih saja membelalakan matanya, membuat mereka bertiga tiba-tiba membuat perkumpulan kecil meninggalkan satu arwah di belakanh. Ehhhm—
Arwah itu berdehem untuk mendistack Steffi agar dirinya memperkenalkan dia. Harusnya sih sudah dari awal ya... Tapi, namanya juga arwah.. Bisa pikun juga kayak manusia.
"Ehhhh, cogan siapa di samping lo? Udah dapet gacoaan aja lho." Lira membuka percakapan.
Dirinya baru sadar jika, ada sepasang mata yang terua menatap wajah Steffi.
Steffi menoleh, "Sorry." Katanta tanpa suara.
Arwah itu hahya mengangguk dengan senyum simpulnya, "Ini lho... First love gua. Ketemu di pemakaman masa."
Akhirnya... Steffi mengenalkan arwah itu. Tapi, kok dia menyebutnya arwah first lovenya? Kenapa gak nama aja? Padahal memperkenalkan dengan nama jauh lebug mudah dan tidak akan mengungkit masa lalu.
Namun, kenapa Steffi malah repot-repot mengungkit maaa lalu... Kan.. Jadi, bapar. Ah, Steffi!
"Dia lupa nama lo! Jangan kepedean gitu! First love tuh badannya doang muda, tapi, pikirannya udah tua." Sentak Lira yang kini membuat Steffi membelalakan matanya, "Lo kok ngomong gitu?" Tanyanya pada Lira.
"Lo bisa denger pikiran gua?" Tanya arwah tersebut.
Tanpa basa-basi, Lira langsung mengangguk pasti. Sambil tangan yang kini sedang membuka permen lolijya tersebut.
Steffi semakin dibuat bingung dan terheran. Dirinya tak abis pikir, kenapa Lira bisa mendengar pikiran dari first love nya itu? Sedangkan dirinya tidak bisa. Ada apa semuanya? Masa kekuatan aja pilih kasih sih. Aneh.
"Lo pasti arwah lama ya?"
"La banget! 10 tahun gua di sini."
"Anjir lah! Kok belum jadi manusia?"
"Hah?" Steffi dan Ramanda kompak. Sama-sama terkenut lantaran ucapan dari first lovenya tersebut.
"Emang belum pada tau ya??" Tanyanya yang malah semakin membuat rasa penasaran Steffi dan Lira mencuat ke daratan.