Seperti hari-hari sebelumnya, Jessa berangkat ke restoran tempatnya bekerja pagi ini. Ia menggunakan mobil pribadinya menuju ke tempat kerja itu. Tetapi, saat sampai di restoran … Jessa di kejutkan oleh seorang yang mengaku menjadi pengganti dirinya sebagai manager restoran itu. Tentu saja hal itu membuat Jessa sedikit kesal, hingga ia memutuskan untuk menghubungi Evan.
“Ada apa ini, Evan? Kenapa ada pria yang mengaku menjadi pengganti diriku?” tanya Jessa.
“Bukankah kau akan menjadi sekretaris pribadiku, Sayang?”
“Evan, aku belum memutuskan hal itu. Kenapa kau seperti ini?”
“Ayolah! Aku hanya ingin bisa melihatmu setiap hari,” jelas Evan.
“Kau menyebalkan! Aku menolaknya, suruh pergi orang ini!” tegas Jessa.
“Hmm, kau mengancamku?”
“Tidak … Evan, aku mohon … aku masih ingin bekerja di sini sebagai manager,” ujar Jessa.
“Aku tidak bisa menerima penolakan, sayang. Aku menunggumu di kantor, jangan membuat aku menunggu terlalu lama.”
Tut.
Sambungan telepon itu terputus, dan Jessa harus segera berangkat menuju kantor utama milik Evan. Saat itu, beberapa pekerja di sana menyesalkan pergantian manager di sana. Bahkan Aden mengajukan protes pada Jessa saat itu juga.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Apa masalah beberapa hari lalu sampai ke telinga Tuan Evan?” tanya Aden.
“Ehm … bukan karena itu, Tuan Evan ingin aku menjadi sekretaris pribadinya, hanya itu, Aden.”
“Apa? Apa kalian menjalin hubungan?”
“Jangan berpikir buruk tentang aku, Aden.”
Jessa melangkah menuju mobilnya, tetapi Aden menahannya dengan menarik tangan Jessa. Dengan cepat wanita itu menepis tangan Aden, ia terlihat kesal dengan sikap pria itu saat ini. Jessa menatap tajam pada Aden, dan ia masuk ke dalam mobil tanpa berkata apapun.
Mobil itu segera melaju meninggalkan restoran, dan kini Jessa harus menuju kantor utama untuk menemui Evan.
“Kenapa kaum pria yang kaya selalu seenaknya sendiri?” gumam Jessa.
Sampai di depan kantor utama milik Evan, Jessa segera berjalan masuk menuju ruang kerja pria itu. Ia mengetuk pintu dan Evan membuka pintu itu dengan menampilkan senyumnya.
“Kau terlihat bahagia ,Evan.”
“Tentu saja, karena kekasihku akan selalu ada di ruang kerjaku,” ujar Evan.
Jessa melangkah masuk ke dalam kantor itu, dan mereka kini tengah berbincang mengenai pekerjaan yang akan Jessa lakukan.
Tidak lama setelah itu, ponsel Evan berdering. Seseorang sedang menghubunginya untuk membicarakan mengenai bisnis terbarunya. Mereka akan melakukan pertemuan beberapa menit lagi. Dan Evan ingin Jessa menemaninya saat itu.
“Temani aku bertemu seorang klien besar,” ujar Evan.
“Apa? Aku bahkan belum siap, Evan.”
“Sudahlah, kau cukup diam dan memperhatikan saja, Sayang.”
Jessa berdecak kesal, Evan sungguh menguji kesabarannya kali ini. Tidak bisa menolak, akhirnya Jessa menemani kekasihnya untuk bertemu seorang klien di lantai satu, tepatnya di restoran utama miliknya.
“Sayang, jika klien hari ini puas dengan kinerja restoran kita, kau akan mendapatkan hadiah dariku,” ujar Evan.
“Kenapa? Bukankah hasil dari pertemuan nanti bukan karena usahaku?”
“Memang bukan, tetapi aku ingin memberikan sesuatu untukmu,” ujar Evan.
“Terserah, aku ikut senang jika klien puas dengan kinerjamu. Jangan terlalu memanjakan aku, Evan. Aku lebih suka jika mendapatkan sesuatu karena jerih payahku sendiri,” jelas Jessa.
“Baiklah, kalau begitu anggap sebagai hadiah karena kau adalah kekasihku,” ujar Evan dengan tersenyum.
“Dasar kau ini!”
Tidak lama setelah itu, seseorang mengetuk pintu ruang kerja Evan, dan ia mengatakan jika kliennya sudah menunggu di restoran. Evan dan Jessa bersiap untuk turun ke lantai satu. mereka berjalan berdampingan, dengan banyak pasang mata yang melihat kearah keduanya.
“Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang itu, Evan,” ujar Jessa.
“Abaikan mereka, jika kau terlalu menggubris ,mereka akan semakin memperhatikan dirimu,” jawab Evan.
Ting …
Pintu lift terbuka, dan keduanya masuk ke dalam sana. Jessa menekan tombol lantai satu ,dan lift itu bergerak menuju lantai yang mereka tuju.
Ting …
Pintu lift kembali terbuka, dan mereka sampai di lantai satu. keduanya berjalan menuju ruang VIP. Betapa terkejutnya Jessa saat melihat tamu yang akan mereka temui.
“Mama!” seru Jessa.
“Kau, kenapa ada di sini?” tanya Martha.
“Ah, jadi klien kita adalah ibumu?” sahut Evan.
“Bukankah kau bekerja di sebuah restoran sebagai manager? Apa yang kau lakukan di sini bersama Tuan Evan?” tanya Martha dengan nada kesal.
“Perkenalkan, dia-.” Ucapan Evan tertahan saat Jessa menarik jasnya.
“Aku menerima promosi dan sekarang menjadi sekretaris pribadi Tuan Evan, Ma,” sela Jessa.
“Ehm … begitu rupanya. Sepertinya kau bekerja dengan giat hingga bisa menjadi sekretaris pribadi Tuan Evan.”
“Anda sangat benar sekali Nyonya Martha. Jessa sangat giat dalam melakukan pekerjaannya. Aku sendiri takjub ia bisa mendapatkan promosi yang aku ajukan di setiap restoran milikku,” tambah Evan.
Akhirnya mereka duduk dalam satu meja, dan sebelum menikmati hidangan restoran. Mereka tengah memperbincangkan masalah pekerjaan yang kini tengah dijalani oleh kedua instansi. Martha menjelaskan mengenai beberapa keinginannya dalam mengembangkan bisnisnya dalam bidang kuliner. Ia bekerja sama dengan Evan karena memang bisnisnya yang paling besar saat ini.
“Baiklah, apa anda cukup puas dengan penjelasan dariku?” tanya Evan.
“Tentu saja, dan aku akan senang jika bisnis ini semakin berkembang. Terima kasih karena sudah bekerja sama dengan perusahaan milikku, Tuan Evan.”
“Sama-sama, Nyonya. Aku juga tidak menyangka akan bekerja sama dengan anda, apalagi anak anda juga bekerja di tempatku,” ujar Evan.
“Ya, Jessa adalah anak yang mandiri. Ia tidak ikut campur dalam bisnis milikku, dan memilih untuk bekerja di tempat lain,” ungkap Martha.
Jessa tidak berbicara sedikit pun di sana, ia merasa tidak perlu membuka suara karena sikap arogan ibunya itu. Setelah semua perbincangan mengenai bisnis berakhir, tiba di mana mereka menikmati hidangan yang ada di restoran milik Evan. Pria itu menjamu Martha dengan sangat baik. Bahkan sikapnya juga sangat manis pada kliennya itu. Sikap Evan membuat Jessa sedikit kesal, bagaimana tidak … orang yang ada di hadapannya adalah ibunya sendiri, dan wanita itu seorang janda. Tentu saja Jessa akan merasa cemburu jika ibunya menaruh hati pada kekasihnya.
“Baiklah, senang berbisnis dengan anda. Kita akan bertemu lagi minggu depan, dalam rapat besar dengan beberapa klien lainnya,” jelas Evan.
“Tentu saja, aku juga sangat puas karena bisa bekerja sama dengan pemilik restoran terbesar di kota ini. Bahkan aku lihat sepertinya, anak anda juga memegang cabang restoran di kota lain, benarkan?” tanya Martha.
“Ya, anda benar sekali.”
“Anda sangat beruntung, apalagi istri anda.”
Wajah Evan berubah sedikit murung. Dan ia menjawab pernyataan Martha, jika istrinya sudah lama meninggal. Tentu hal itu membuat Martha semakin leluasa untuk mendapatkan Evan, karena ia tidak mengetahui jika Evan memiliki hubungan khusus dengan anaknya.
“Maaf tentang hal itu, aku sungguh tidak mengetahuinya, Tuan.”
“Sudahlah, itu hanya kenangan masa lalu.”
“Aku harus segera pergi, karena masih banyak pekerjaan yang aku lakukan setelah ini. Dan untukmu Jessa, sampai bertem di rumah, Sayang,” ujar Martha.
Akhirnya wanita itu emlangkah pergi dari restoran, dan meninggalkan Evan juga Jessa di ruangan VIP.
“Kenapa wajahmu murung?”
“Aku tidak murung, aku kesal.”
“Kau kesal? Padaku?”
“ Bukan. Pada Mama!”
“Apa kau cemburu?”
“Entahlah.”
Setelah menjawab pertanyaan Evan, Jessa memalingkan wajahnya. Bukan karena marah, tetapi ia merasa malu untuk mengakui hal itu. Mengetahui hal itu, Evan tersenyum lega, karena Jessa perlahan menerima dirinya.
Tidak lama setelah itu, ponsel Jessa berdering. Sebuah pesan dari Martha membuat Jessa sedikit terkejut.
Pesan dari Mama :
Mama : Aku ingin kau membuatku dekat dengan Tuan Evan. Dia pria yang menarik bukan?
Anda : Aku tidak bisa berjanji, Mama.
Read.
Jessa terlihat kesal, dan ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazer yang dikenakannya.