Sean merenung di ruang tengah yang megah di rumahnya. Punggungnya menyandar ke sofa, kakinya menyilang dan jari telunjuk kanannya menempel di atas bibirnya. Ia berpikir, sungguh sangat kebetulan ia bertemu lagi dengan Ariel, gadis yang ia rindukan selama lebih dari sebulan ini. Niat ingin berkenalan dengan gadis kebanggan keluarga Anata malah membuatnya bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan. Apakah ini suatu kebetulan? Benarkah?
"Bagaimana? Kau sudah melihat gadis itu?" Tiba-tiba terdengar suara Angel dari arah pintu menuju ruang tengah itu.
Sean berbalik dan wanita cantik itu sedang berjalan beriringan dengan suaminya. Kimono berwarna putih berbahan silk yang ia kenakan membuatnya terlihat anggun.
"Tadi Andri meneleponku. Katanya kau datang ke rumah mereka dan makan malam di sana," ujar Tirta, pria paruh baya itu mengenakan piyama hitam berbahan silk.
"Iya, tadi aku makan bersama mereka."
"Bagus!" seru Tirta, ia tampak sangat puas karena kali ini putranya mau melakukan hal yang ia pinta.
Tirta dan Angel mengambil duduk di sofa tepat di hadapan Sean. "Bagaimana kesan-kesanku melihat Vania?" tanya Angel, ia tampak tenang namun sebenarnya ia sangat penasaran bagaimana penilaian Sean terhadap putri sulung Anata itu.
"Dia ... cantik," jawab Sean sambil merenung.
"Bagus! Bagus!" Tirta tertawa bersemangat, "sudah kuduga kau pasti menyukainya!" tebaknya yakin.
"Tentu saja," ujar Angel, "siapa pria yang tak tertarik dengan Vania?"
Sean mengernyit tajam. "Vania?"
"Ya, anak Andri itu bernama Vania. Apa kau lupa?" kata Tirta agak heran.
"Oh ... iya," gumam Sean.
Angel terkikik. "Saking terpesonanya Sean, dia sampai lupa nama gadis itu."
Tirta tergelak, rongga mulutnya sampai terlihat dari luar. "Kalau begitu, aku akan memberimu kesempatan agar kalian bisa saling kenal," ucapnya.
Angel mengerling jenaka ke arah Sean. "Bagaimana? Kau sudah mendapatkan nomor handphone-nya, kan?"
"Belum," jawan Sean singkat.
"Kau mau aku memberimu?" Angel menawarkan.
Sean diam sebentar lalu salah satu sudut bibirnya menyungging ke samping. "Tidak usah," katanya, "aku bisa mendapatkannya sendiri."
"Ahahaha," Tirta tertawa lagi, "anakku ini memang tidak perlu diragukan lagi. Ayah makin bangga padamu."
Senyuman Angel berubah sekilas menjadi tatapan yang dingin ke arah Sean. Jelas ia tak suka jika anak sambungnya itu tertarik pada gadis lain selain dirinya.
.
Ariel duduk di kasurnya, wajahnya menunduk menatap lantai dan tampak wajahnya masih shock. Wajah keterkejutan pria yang pernah bercinta dengannya saat ia melihatnya semalam masih membekas di ingatannya. Dan itu benar-benar Sean.
Ariel menggeleng kencang. "Tidak tidak ... itu bukan dia ...." ucapnya berupaya meyakinkan dirinya sendiri.
Ariel lalu keluar dari kamarnya, ia berjalan menuruni tangga dan mengambil s**u kotak rasa coklat di kulkas yang berada di dapur. Saat Ariel hendak ingin menaiki tangga, terdengar suara bel rumah. Ariel mengacuhkannya dan mulai menaiki tangga namun bel terus berbunyi.
Ariel berbalik dan mencari-cari asisten rumah tangga di rumah itu namun tak ada satu pun orang terlihat di sekitarnya.
Ariel mendesah, dengan malas ia berjalan menuju pintu luar melewati ruang tamu. Ia pun membuka pintu dan tampak punggung pria memakai kemeja putih berlengan panjang berdiri di teras rumahnya, sambil memandang ke arah pemandangan halaman rumah yang tampak sangat indah.
Mata Ariel membulat, ia tahu sosok itu adalah pria yang ia temui semalam dan sebulan yang lalu di kelab malam bahkan telah menghabiskan malam yang indah bersamanya.
"Kau?"
Pria itu berbalik begitu mendengar suara Ariel. Wajah tampannya dengan rahang yang tegas begitu memesona namun tidak bagi Ariel. Sorot matanya malah menampakkan amarah begitu melihat sosok pria tampan itu.
"Sedang apa kau di sini?" sergah Ariel.
Sean diam sebentar. "Aku mau menemui seseorang," ucapnya enteng.
"Kau ini ... bukannya aku sudah bilang kalau kita tidak usah bertemu lagi setelah malam itu?"
Sean melongo sejenak lalu gelak tawanya meledak. "Siapa juga yang mau mencarimu?" balasnya.
"Sean, maaf ... kau sudah lama menunggu?"
Sekilas Ariel mengernyit mendengar suara itu dan ketika ia berbalik, sosok Vania sudah berada di belakangnya. Vania tampil memakai dress selutut berwarna hijau pastel yang membuatnya sangat manis. Ariel bergeming melihat kakaknya tengah tersenyum pada Sean apalagi Vania kini berjalan menghampiri Sean.
"Aku sudah siap," kata Vania ke Sean. Ia lalu menoleh ke arah Ariel, "Ariel, beritahu Mama kalau aku jalan bersama Sean dulu," katanya.
"I-iya ...," jawab Ariel, ia tampak agak shock melihat kedekatan kakaknya dengan Sean.
Sean tersenyum simpel sejenak ke arah Ariel lalu ia mengajak Vania pergi dari sana. Sementara Ariel hanya bergeming menyaksikan kepergian pria yang telah bercinta dengannya sebulan yang lalu, kini pergi bersama kakaknya.
.
TBC