"Hai Sean!"
Sean tersentak, ia berbalik dan tampak seorang pria tampan bertubuh tinggi mengenakan kaos dan celana jeans yang tadi menyapanya. Sean mengingat-ingat, ia kenal wajah pria itu namun ia tak ingat namanya. Sudah sebulan lebih tapi Sean masih ingat wajah pria itu tepat saat mereka bertemu di kelab malam.
"Oh, hai!" balas Sean.
Pria itu tertawa ia lalu duduk di hadapan Sean di suatu restoran ternama. "Apa kabar? Kamu temannya Bram, kan?" tanya pria itu, "Aku Rey, teman Bram juga, kita ketemu di kelab waktu itu, ngomong-ngomong kau sudah lama tidak main ke kelab."
"Iya, aku ingat kamu," kata Sean, "akhir-akhir ini aku lumayan sibuk jadi tak ada waktu untuk ngumpul dan bersenang-senang."
"Ya, kalau tidak salah kau CEO di salah satu perusahaan ternama ya?" ujar Rey, "pasti kau sangat sibuk."
"Ya, lumayan," kata Sean, "kau sendirian di sini?"
"Aku lagi menunggu pacarku, dia ...."
"Rey!" seru seorang wanita cantik bertubuh montok sambil menghampiri Rey.
Mata Sean membulat melihat wanita itu, dia ingat waktu di kelab itu, wanita itu berdansa bersama Ariel. Pastilah dia teman Ariel.
Wanita itu berlari-lari kecil menghampiri kekasihnya, ia memeluk Rey lalu duduk di kursi samping pria itu.
"Kau tidak bilang kalau kau mengajak teman," cibir wanita cantik itu.
"Ini Sean," kata Rey, "temannya Bram," lanjutnya, "kau ingat sebulan yang lalu kita ke kelab dan Sean ada di sana juga."
"Oh ...," gumam wanita itu sambil memandang ke arah Sean.
"Sean, perkenalkan, ini calon istriku, namanya Suzy!" kata Rey memperkenalkan Sean dengan Suzy.
"Hai," sapa Sean sambil mengulurkan tangannya.
"Hai juga," balas Suzy sambil mencoba tersenyum.
Sean terdiam sambil berpikir. Ia ingin sekali menanyakan kepada Suzy tentang kabar Ariel. Melalui Suzy, ia pasti bisa mendapatkan informasi tentang Ariel bahkan nomor telepon gadis itu. Namun, ia teringat lagi kesepakatan ia dan Ariel, gadis itu pasti akan marah jika ia menghubunginya. Tapi Sean ingin sekali mengetahui kabar Ariel.
Sean memandang Suzy yang lagi asik mengobrol dengan Rey. "Suzy ...."
"Ya?"
"Ah, tidak ...," tiba-tiba Sean menjadi ragu.
"Kenapa? Kau ingin dikenalkan dengan salah satu teman Suzy?" tebak Rey, lalu pria itu tertawa, "aku bercanda ...."
Mereka bertiga pun tertawa bersama lalu menikmati makan malam bersama.
.
"Dari mana saja kau?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita begitu Sean hendak melewati ruang tamu yang tanpa penerangan. Sean berbalik dan seorang wanita cantik tampak duduk di sofa walaupun di sana hanya mendapatkan penerangan dari lampu teras depan yang masuk melalui jendela kaca yang menjulang sepanjang dinding depan ruangan itu. Dia adalah Angel, istri dari ayah Sean.
"Aku habis pulang dari kantor," jawab Sean, nada suaranya terdengar dingin.
"Kenapa selarut ini? Ayahmu tadi menunggumu sampai dia ketiduran."
Wanita itu berdiri dan lingery seksi yang ia kenakan tampak dibalik kimononya yang transparan. Ia melangkah secara perlahan mendekati Sean.
"Kau capek?" bisik wanita itu begitu seksi tepat di telinga Sean, seakan memancing gairah Sean.
"Sedikit," jawab Sean singkat.
"Apa kau merindukanku?"
"Tidak sama sekali."
Angel menatap dalam mata Sean. Ia lantas menyunggingkan senyumannya yang amat menggoda. "Aku tidak percaya," ucapnya berbisik.
Sean melirik tajam ke arah mata Angel. "Terserah kau."
Satu tangan Angel bergerak ke wajah Sean dan jari-jarinya mulai mengelus lembut wajah anak dari suaminya itu. "Bagaimana kalau kita bermain malam ini, melepas rindu dan memuaskan satu sama lain," bisiknya, "kita sudah lama tak melakukannya sejak aku menikah dengan ayahmu. Aku ingin sekali merasakan milikmu lagi ...."
Sean lalu memegang lengan atas Angel dan agak mendorong wanita itu agar Angel menjauh darinya. "Sayang sekali aku tidak lagi tertarik denganmu," kata Sean, ia lalu melangkah melewati Angel, namun beberapa langkah ia berhenti. "Satu lagi, aku tidak tertarik dengan istri orang, jadi jangan mencoba merayuku lagi!"
Angel mendengus marah, ia menatap punggung Sean dengan tatapan nanar. "Jangan lupa, minggu depan kau akan bertemu dengan anak dari teman ayahmu itu!" kata Angel dengan nada agak membentak.
"Okay," jawab Sean tanpa menoleh sedikit pun ke arah Angel dan itu membuat Angel semakin kesal padanya.
.
"Katanya anak Pak Tirta akan datang makan malam besok di sini. Kamu jangan lupa dandan yang cantik!"
Vania kini sibuk berkutat di meja riasnya, memulas wajah putih mulusnya dengan bedak tabur. Tak lupa ia mengulas bibirnya dengan lip cream berwarna peach membuat wajahnya semakin cerah.
Setelah selesai dengan wajahnya, Vania melepaskan roll yang terlilit di rambut coklat tua yang berkilauan, rambutnya kini menjadi ikal gantung yang membuatnya makin elegan dan menawan.
Vania lalu berlari-lari kecil ke arah lemarinya, memilih-milih dress yang tergantung di dalam lemarinya. Pilihannya jatuh ke dress berwarna hitam sepanjang lutut. Ia pun langsung mengenakannya dan memakai parfum di kedua sisi lehernya.
Vania tersenyum puas melihat dirinya yang tampak begitu cantik di pantulan cermin. Pria manapun tak akan berkutik jika memandangnya, ia benar-benar cantik dengan riasannya.
"Vania, ada tamu!" Terdengar teriakan seorang wanita dari arah lantai bawah.
Vania langsung bergegas keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan berlari-lari kecil. Ia langsung menuju ruang tamu, di sana kedua orang tuanya sedang bercengkrama bersama seorang tamu. Seorang pria yang amat rupawan, mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan celana panjang berwarna cream.
Tatapan pria itu langsung mengarah ke Vania saat gadis itu berada di ruang tamu.
"Ini loh yang namanya Vania," seru Rosita pada pria itu sambil menarik Vania untuk duduk di sampingnya.
Vania pun duduk di samping Mamanya, sesekali ia melirik ke arah pria yang kini tengah menatapnya sambil tertegun dengan wujud gadis yang akan dikenalkannya. Jantung Vania langsung berdegub kencang tiap ia melihat wajah pria itu, benar-benar tampan dan Vania langsung suka saat pandangan pertama.
"Vania, ini anak teman Papa, namanya Sean Rinaldi," kata Andri, ayah Vania. "Sean, ini anak Om yang lulusan Columbia University," ucapnya penuh kebanggaan.
"Hai," sapa Sean.
Vania tersipu sambil tersenyum manis ke arah Sean.
"Nah, ayo kita makan malam!" seru Rosita, "hari ini Tante masak masakan spesial loh buat Nak Sean."
Sambil tertawa-tawa kecil mereka beranjak dari ruang tamu. Andri berjalan beriringan dengan Sean sambil bercerita bahwa Vania adalah putrinya yang penuh dengan prestasi. Sementara Vania terus memandang punggung Sean, ia benar-benar menyukai sosok pria itu.
Makan malam pun berlansung, Rosita dan Andri mengajak Sean bercerita tentang pekerjaan Sean di perusahaan milik ayahnya. Sementara Vania hanya bisa diam sambil sesekali melirik Sean, kadang ia salah tingkah saat Sean mendapatinya tengah meliriknya.
Akhirnya makan malam selesai. Mereka bercerita hampir selama setengah jam sebelum keluarga Anata mengantar Sean ke ruang tamu.
"Mungkin kapan-kapan Nak Sean bisa mengajak Vania keluar jalan-jalan. Vania anak rumahan, seharian dia hanya kerja dan saat pulang dia di rumah saja," kata Adrian.
"Iya Nak Sean, apalagi Vania belum lama ini pulang dari luar negeri, dia tidak banyak teman di sini, kata Rosita.
"Baiklah, kapan-kapan aku akan mengajak Vania main di luar," ucap Sean, "akan lebih bagus kalau Vania banyak teman biar banyak relasi."
"Oh, terima kasih Nak Sean!" ujar Adrian, "Nak Sean pasti sangat membantu Vania."
"Aku pulang!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis menyeru. Gadis itu berjalan ke teras depan menuju ruang tamu.
Sean berbalik dan tiba-tiba tampak sosok gadis berbaju kaos dengan celana jeans yang sobek. Mata Sean langsung membulat begitu memandang gadis cantik yang kini berdiri tidak jauh darinya. Gadis itu pun sama terkejutnya saat melihat kehadiran Sean di sana.
"Darimana saja kamu!" sergah Andri langsung ke arah anak bungsunya itu.
Gadis yang ternyata adalah Ariel tidak merespon ayahnya, ia masih belum bisa menguasai dirinya dari keterkejutannya.
Rosita buru-buru memberi isyarat ke suaminya agar bisa menahan emosinya di depan tamu.
"Ariel, kamu masuk ke dalam dulu, ya!" Rosita langsung menarik Ariel dan masuk ke dalam.
"Oh, itu ... anak bungsuku," kata Andri sambil tertawa salah tingkah, dia belum dewasa maklumlah sikap dan penampilannya agak tidak sopan."
Sean masih terdiam melihat Ariel yang berjalan masuk bersama Mamanya ke dalam, ia tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan gadis yang telah bercinta dengannya sebulan yang lalu di rumah teman ayahnya, bahkan gadis itu ternyata anak dari teman ayahnya.
"Ah, aku pulang dulu kalau begitu," kata Sean, kapan-kapan aku main lagi ke sini."
"Oh ... kalau bisa sering-sering saja Nak Sean datang ke sini nemanin Vania," balas Andri.
Sean hanya mengangguk kecil ia lalu berbalik dan meninggalkan rumah keluarga Anata.
.
TBC