CHAPTER 3

1531 Words
Ariel berjalan pelan memasuki rumahnya. Hari masih begitu pagi, beruntung yang membukakannya pintu adalah seorang. asisten rumah tangga. Ariel pun berjalan acuh tak acuh melewati ruang tamu, menuju ruang tengah. "Darimana saja kamu jam segini baru pulang?" Ariel tersentak mendengar seruan mamanya yang tiba-tiba. Ia menoleh dan wanita paruh baya namun masih memiliki raut kecantikan di wajahnya itu sedang duduk di sofa ruang tengah, tengah memandangnya dengan pandangan nanar. Ariel berusaha tampak santai. "Aku main bersama teman-temanku." Mamanya melototkan matanya. "Sampai pagi?" "Kami nginap di hotel," jawab Ariel berusaha santai, "karena sudah terlalu malam jadi kami memilih untuk tidur di hotel." Mama Ariel memandang Ariel dengan pandangan menyelidik. Ia lalu menghela napas dan memegang pelipisnya "Kamu ini ... papamu sedang ada di luar kota. Apa kau tidak bisa diam di rumah menemani kakakmu?" "Aku bosan di rumah," balas Ariel, "aku punya teman-teman di luar dan aku senang bersama mereka." "Oh ... teman-temanmu yang membuatmu main hingga tak pulang semalam?" Ariel memutar bola matanya, rasanya ia malas beradu pendapat dengan ibunya. "Kamu ini ... beda sekali dengan kakakmu!" ucap wanita itu. "Sudahlah, Ma ... aku capek!" kata Ariel, "aku mau ke kamar dulu." Ariel pun langsung berlari menaiki tangga dan meninggalkan mamanya. "Ariel, mama belum selesai!" teriak wanita itu. Ia lantas mendengus marah, anak bungsunya itu selalu saja membangkang dan tak mau mendengar ucapannya. Wanita itu memijit-mijit pelipisnya yang mulai sakit akibat ulah anak bungsunya itu, ia bertanya-tanya kenapa anaknya itu tak bisa bertingkah manis dan penurut seperti kakaknya? *** Ariel membuka pintu kamarnya. Ia melempar handphone-nya di ranjang lalu ia menuju kamar mandi. Saat ia buang air kecil, ia merasakan perih di bagian k*********a. Ia lalu melepaskan pakaiannya dan mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringatnya maupun keringat pria yang telah bercinta dengannya semalam. Selesai mandi Ariel mengenakan baju kaos dan celana pendek. Ia lalu meraih handphone-nya dan mengecek notifikasi chat yang masuk di handphone-nya. Ada chat dari Suzy, salah satu sahabatnya. 'Ariel, kau kemana saja? Tiba-tiba kau hilang di kelab dan tidak mengangkat teleponku. Kau baik-baik saja, kan?' Ariel pun segera membalas chat dari sahabatnya itu. 'Iya aku ada di rumah sekarang.' Tidak lama kemudian Suzy membalas chat Ariel. 'Syukurlah, nanti siang kita mau ngumpul-ngumpul di Cafee. Kamu ikut, kan?' Ariel menimbang-nimbang. Jujur, ia masih lelah apalagi area k*********a masih terasa sakit. 'Maaf, ya ... kapan-kapan saja. Mamaku sangat marah waktu aku pulang. Tidak apa-apa, kan?' Suzy langsung membalas chat Ariel. 'Oh ... begitu. Tidak apa-apa, aku ngerti, kok.' Ariel meletakkan handphone-nya di atas nakas lalu ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia memejamkan matanya, masih terbayang-bayang dengan jelas apa yang ia lakukan bersama Sean semalam, begitu menyakitkan namun sekaligus memberinya kenikmatan bercinta. Ia pun tak menyangka bahwa keperawanannya telah ia serahkan kepada pria yang baru ia kenal, rasanya apa yang ia lakukan benar-benar gila. Ariel memejamkan matanya. Bagaimanapun ia harus melupakan kejadian semalam dan ia tak akan pernah lagi bertemu dengan pria bernama Sean itu. . Wajah Sean tampak begitu serius menatap tumpukan berkas-berkas yang lama ia tunda untuk ditandatanganinya. Ia bukannya sengaja tak ingin segera menyelesaikan tugasnya untuk menandatangani semua dokumen di atas meja itu tapi ia tak bisa fokus membaca isi dari berkas-berkas itu. Ia tak mungkin asal menandatanginya karena semua dokumen ia anggap penting tapi ia benar-benar tak bisa konsentrasi tiap membaca isi semua berkas-berkas itu. Tok tok tok. "Masuk!" seru Sean. Pintu terbuka dan seorang wanita cantik masuk dengan membawa beberapa dokumen. Wanita itu pun menghadap ke Sean. "Apa itu?" tanya Sean dengan kening mengerut tajam. "Ini dokumen yang harus Bapak tanda tangani." Dokumen lagi? Sean makin mengernyit melihat dokumen yang dibawa oleh sekretarisnya itu. Belum juga ia menandatangi berkas-berkas beberapa hari yang lalu dan sekarang ada dokumen baru lagi yang harus ia baca dan tanda tangani. "Taruh saja di sana!" perintah Sean. "Baik, Pak," jawab wanita cantik itu. Ia menaruh dokumen-dokumen itu di meja lalu ia membungkuk hormat ke arah Sean sebelum ia melenggang keluar dari ruangan pria itu. Sean menghela napas, ia lalu memutar kursi kerjanya ke belakang hingga ia menghadap ke arah dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga ke langit-langit ruangan itu. Sebulan telah berlalu namun ia belum juga bisa melupakan kejadian malam itu. Gadis bernama Ariel itu benar-benar menguasai pikirannya. Sean sangat ingin bertemu lagi dengan gadis itu. Ia bisa saja menghubungi teman-temannya yang mengundangnya ke kelab di malam itu dan menanyakan hal tentang Ariel, namun ia mengingat kesepakatan ia dan Ariel bahwa mereka tak akan bertemu setelah malam itu berlalu. Sean bimbang, ia ingin sekali tahu keadaan gadis itu dan ingin mengenalnya lebih jauh. "Akankah kita bertemu lagi ...?" gumam Sean begitu lirih. Malam telah tiba, Sean tiba di rumah milik keluarganya yang begitu megah. Ia masuk dan disambut oleh Ayah dan ibu sambung Sean yang masih tampak muda. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya seorang pria paruh baya yang terlihat amat bijaksana. Pria itu duduk di sofa bersama istrinya yang cantik. "Seperti biasa, baik," jawab Sean agak cuek. "Kuperhatikan akhir-akhir ini kau terlihat kacau," tebak pria bernama Tirta Rinaldi itu. "Ayah tahu darimana?" tanya Sean dengan kening mengerut, "aku biasa saja," kelitnya. "Kau sudah makan?" tanya wanita cantik bernama Angel. "Ya, aku makan di luar tadi," jawab Sean. "Tumben kalian menyambutku di sini," ucapnya. "Bisakah kau duduk sebentar bersama kami?" kata Angel. Sean berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan ayahnya. "Sean, apa kau punya pacar?" tanya Tirta. "Tidak. Memangnya kenapa?" Sean malah bertanya balik. "Baguslah, Ayah punya teman lama yang sangat baik. Kebetulan dia punya anak gadis yang amat cantik." "Oh, ya?" "Ayah berniat menjodohkanmu dengannya," kata Tirta. Sean menghela napas. "Ayah tidak perlu melakukan itu, aku bisa mencari gadis untuk aku nikahi." "Apa salahnya kau mengenalnya dulu?" kata Tirta. "Dia gadis yang cantik, berprestasi dan dibanggakan oleh keluarganya," kata Angel, "kau yakin mau menolak gadis seperti itu?" lanjutnya. Sean menghela napas lagi. Memang tidak ada salahnya jika dia mengenal gadis yang katanya cantik, baik, berprestasi dan kebanggaan keluarganya itu. Namun, rasanya ia tak ingin membuka hatinya saat ini. Karena ia masih memikirkan Ariel. "Baiklah," kalian susun rencana saja kapan kalian mau memperkenalkan aku dengan dia," kata Sean, "tapi aku tidak janji akan tertarik dengan gadis idaman kalian." Wanita cantik itu tersenyum puas. "Baiklah, kami akan merencanakan kapan kalian akan bertemu." "Tidak ada lagi, kan, yang harus dibicarakan?" kata Sean. Ia lalu beranjak dari sofa dan berlari menuju tangga. "Dasar anak itu! Selalu saja bersikap seperti itu," gerutu ayah Sean. "Sabar, Sayang ... yang penting dia mau menuruti kita saat ini," ucap wanita cantik itu. "Angel, tolong ambilkan aku obat!" kata pria itu pada istrinya, "kepalaku tiba-tiba sakit." "Baiklah, tunggu sebentar." *** Ariel kini duduk di ranjangnya, kepalanya tampak bergoyang-goyang mengikuti lantunan musik dari headphone yang ia kenakan. Ia tampak santai dan menikmati kesendiriannya. Tiba-tiba ia terganggu dengan notifikasi panggilan telepon di-handphone-nya dari sahabatnya, Suzy. Ariel langsung menerima panggilan telepon itu. "Ya, Suzy?" "Ariel, kami lagi ada di Caffee Sweet. Kau ke sini dong ikut gabung! Kami tunggu, kau langsung ke sini ya!" Ariel melihat jam dinding di kamarnya. "Okay, aku ganti baju dulu baru ke sana," balasnya. "Siap, kami tunggu!" Ariel segera mengganti pakaiannya begitu panggilan telepon itu berakhir. Ia mengambil handphone-nya dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya yang mungil. Ia bercermin sekali untuk memastikan penampilannya lagi. Ariel keluar dari kamarnya, dari lantai atas ia melihat keluarganya sedang kedatangan tamu, sepasang suami istri namun tampak perbedaan usinya cukup jauh. Kedua tamu itu tampak begitu akrab dengan kedua orang tua Ariel tapi yang mengherankan di sana juga ada kakak Ariel. "Ini loh yang namanya Vania," kata mama Ariel bernama Rosita, sedang memperkenalkan anak sulungnya. Vania tersenyum dan menjabat tangan kedua tamu itu dengan sopan. "Wah ... Vania benar-benar cantik, ya," puji tamu wanita cantil itu. "Terima kasih, Kak," ucap Vania. "Vania ini benar-benar kebanggaan keluarga, kelak dia yang akan meneruskan semua bisnisku," kata Ayah Ariel bernama Andri Anata, ia tampak begitu bangga. "Lulusan Columbia University, ya? Benar-benar luar biasa," puji seorang tamu pria paruh baya. Mereka pun mengobrol begitu akrabnya dan Vania merupakan pusat dari bahan obrolan mereka. Ariel pun berjalan dengan santainya dan menuruni tangga. Dengan acuh tak acuh gadis itu melewati mereka. "Hei, kau mau kemana?" seru Andri. Langkah Ariel terhenti, dengan malas dia menoleh ke arah Ayahnya. "Aku mau main dengan teman-temanku." "Siapa yang memberimu i-?" "Jangan pulang malam-malam!" sela Rosita. Ia lantas melemparkan isyarat ke suaminya agar menjaga emosinya di depan tamu mereka. "Okay, aku pergi dulu," kata Ariel lalu gadis itu melenggang pergi. "Siapa gadis itu?" tanya tamu wanita cantik bernama Angel. "Oh ... itu anak kedua kami," jawab Rosita sambil tertawa malu. "Oh, ya? Apa dia sama dengan Vania?" tanya Angel penasaran, "kuliah di Columbia University?" Kedua orang tua Ariel tampak bingung ingin menjawabnya. Menurut mereka, tak ada yang bisa dibanggakan dari anak keduanya itu. Rosita mencoba tersenyum. "Tidak," jawabnya walau enggan, "anak kami yang kedua hanya kuliah di Universitas Negeri." "Oh ...." Rosita dan Andri saling melirik, mereka tak mungkin mengatakan pada tamu istimewahnya itu bahwa anak keduanya bahkan tak menyelesaikan kuliahnya di Universitas Negeri. Hal itulah yang membuat mereka malu memiliki anak seperti Ariel apalagi harus menceritakannya ke orang-orang. Mereka pun kembali mengobrol santai sementara Vania mengambilkan minuman dan kue-kue untuk dihidangkan ke tamu mereka. . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD