Pagi ini Prilly terlihat begitu bersemangat kesekolah, membuat Lala yang sedang memainkan ponselnya beralih menatap objek yang lebih menarik. Belum sempat bertanya, Prilly sudah terlebih dahulu bercerita. Keanehan yang ia lihat dari Ali kemarin, mulai dari ia yang tiba- tiba minta maaf hingga ia yang mengajarkan Prilly lebih lembut Prilly ceritakan semua pada sahabatnya. Lala tersenyum lega, tak sia-sia ternyata ia mendatangi Ali waktu itu.
*** “Alii,” panggil seseorang yang membuat langkah Ali yang tadinya hendak ke kelas kini terhenti. Ali tersenyum menatap orang yang sudah berada dihadapannya kini.
“Mau ke kelaskan? Bareng yuk,” ajak Icha, seseorang yang menghampiri Ali tadi. Kelas
Icha dan Ali memang bersebelahan.
“Ayuk,” balas Ali. Dan akhirnya mereka berjalan bersama.
“Kamu masih ngajarin Prilly?” Tanya Icha disela-sela ceritanya dengan Ali.
“Masih.” “Sampai kapan?”
“Sampai dia lulus. Kenapa? Tumben nanya-nanya gitu,” tanya Ali heran. “Hmmm, gak kenapa-kenapa kok.”
Entahlah, rasanya aneh saja melihat Ali dekat dengan gadis lain, apalagi bisa dibilang secara intens. Dia cemburu? Mungkin saja. Icha tak bisa membohongi dirinya kalau ia tak biasa melihat Ali dekat dengan gadis lain, ia hanya takut kebersamaan Ali dan Prilly selama ini akan membuat ia dan Ali menjadi jauh. Namun Icha cepat-cepat menepis pikiran buruknya, bukankah mereka hanya belajar bersama? Icha suka melihat Ali bisa membantu orang lain
*** “Lala ini seriusan nilai kuis gue?” Tanya Prilly tak percaya, Prilly langsung memeluk Lala kegirangan.
“Seriusan Prill. Kan gue bilang apa, lo pasti bisa, yang penting lo usaha pelan-pelan dulu.
Jangan terlalu dipaksain,” balas Lala.
“Eh Prill ada Ali tuh,” ucap Lala saat melihat Ali yang berada diambang pintu kelasnya. Prilly langsung melepaskan pelukannya pada Lala dan menoleh pada Ali. Benar saja, lelaki itu sudah ada diambang pintu dengan gaya khasnya yang terkesan cuek.
Prilly langsung menyambar kertas kuisnya di meja lalu menghampiri Ali.
“Lihat deh,” Prilly memberikan kertas kuis fisikanya pada Ali. Ali mengerutkan dahinya.
“70?”
“Iyaa. Bagus kan,” ucap Prilly antusias.
“Ini sih biasa aja,” balas Ali. Ya menang benar, bagi Ali angka 70 tak ada spesialnya sama sekali, namun bagi Prilly, ini beda halnya. Ia tak pernah mendapatkan nilai ini sebelumnya hanya dengan mengandalkan kemampuannya saja. Prilly membulatkan matanya mendengar ucapan Ali. Ali yang melihat ekspresi Prilly mulai tersadar atas ucapannya yang sudah menyinggung Prilly. Memang terkadang Ali kerap tak mengontrol ucapannya dan memilah apakah ucapannya akan menyakiti orang lain atau tidak.
“Gue becanda kok. Bagus ada kemajuan,” ucap Ali sambil mengacak-ngacak pucuk rambut Prilly. Prilly langsung menepis tangan Ali dan merapikan rambutnya kembali. Kenapa mendadak lelaki ini menjadi sok akrab seperti ini.
“Kapan lo ulangan fisika?” Tanya Ali. “Besok.”
“Oke. Besok lo harus dapat nilai 90, kalau lo dapat nilai 90 gue bakal ajak lo jalan-jalan.”
“What? 90?” Prilly terkejut mendengar target yang di beri Ali. Ali hanya mengangguk kepalanya pasti.
“Iya 90.”
“Lo gila. Gak ada, 80.” “89.”
“81.”
“88.”
“82.”
“87.”
“83.”
“86.”
“84.”
“85 atau enggak sama sekali," ucap Ali tegas menutup aksi tawar menawar nilai mereka. Prilly menghela nafas kasar. 85? Bisakah? Biasanya paling tinggi ia mendapatkan nilai 60 pada pelajaran kali ini kalau ia mengerjakan sendiri.
“Oke deh 85,” ucap Prilly pasrah
“Good. Belajar yang bener karna hari ini kita gak ada jadwal belajar bareng,” ucap Ali lalu
berlalu dari hadapan Prilly.
***
Ali berjalan melewati koridor kelasnya menuju parkiran. Koridor ini selalu ramai saat pulang sekolah dengan para siswa yang haus akan pulang ke rumahnya atau kemanapun tempat yang ingin mereka tuju. Sangkin ramainya kadang-kadang ada yang berlari hingga mengenai murid yang lain. Seperti saat ini, seorang siswa tiba-tiba saja berlari hingga menabrak seseorang yang tak jauh dari Ali hingga membuat orang itu hampir jatuh. Refleks Ali langsung menangkapnya kedalam dekapannya. Didekapnya erat seseorang itu agar tak jatuh lalu dikuncinya manik-manik mata seseorang itu dengan tatapannya. Mata hazel yang tampak membawa kedamaian.
“Cantik,” batin Ali tak sadar bergumam.
“Ih Ali apaan sih meluk-meluk. Jangan modus ya lo,” omel orang itu yang membuat Ali
tersadar lalu menjauh darinya.
“Dih siapa juga yang mau modusin lo. Gue kalau modus juga milih-milih kali.” “Hai Ali, Prilly,” tiba-tiba sapaan itu menghentikan perdebatan mereka.
“Hai Cha,” balas Prilly. “Kalian belum pulang?”
“Ini baru mau pulang. Pulang bareng gue yuk,” ajak Ali pada Icha yang dibalas Icha dengan
anggukan.
“Duluan ya Prill,” pamit Icha dan langsung berlalu bersama Ali. Ali pergi tanpa bicara apa
pun. Prilly hanya menatap kepergian mereka. Icha beruntung bisa mendapat perlakuan spesial
dari pria yang sangat menyebalkan menurut Prilly. Prilly tahu Ali menyukai Icha. Bisa terlihat dari sorotan matanya.
***
Ali menatap langit malam dari balkon kamarnya. Menatap bintang-bintang yang entah bagaimana cara tuhan menebarkannya begitu tertata sehingga tak ada satu pun yang saling berimpitan, cahayanya juga tak ada yang saling bertentangan, semuanya sama-sama bercahaya. Tiba-tiba rasa rindu menyeruak dalam perasaan Ali. Menatap bintang yang malam ini entah sedang memperlihatkan rasi apa. Ali terbayang sosok pria terhebat dalam hidupnya, sosok pria yang dari awal sudah membuat kertas kosong bernama Ali terisi dengan begitu banyak hal di setiap goresannya. Sejak kecil dari ayahnya lah Ali belajar menjadi orang yang begitu menjunjung tinggi pendidikan. Andai kejadian itu tak pernah terjadi, mungkin pria hebat itu bisa melihat putra hebatnya. Namun sayangnya ayahnya kini tak bisa lagi bersamanya, ayahnya sudah tenang disurga. Tujuan Ali kini hanyalah menjadi Ali yang bisa dibanggakan oleh bundanya, maunya ayahnya yang sudah berada disurga. Ali tersenyum kecil mengingat pembicaraannya dengan bundanya tadi siang. Bundanya bertanya apakah ia dan Prilly ada rasa? Yang benar saja? Bahkan ia dan Prilly disatukan dengan tidak sengaja oleh tuntutan materi yang harus ia jelaskan pada Prilly. Namun lagi-lagi Ali dibuat penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?