Chapter 10

562 Words
“Prill,kekantin yuk,” ajak Lala. “Iya bentar,” Prilly memasukkan bukunya ke dalam tasnya kemudian mengikuti langkah Lala keluar kelas. Saat di perjalanan mereka berpas-pasan dengan Ali. Ali sejak tadi pagi mencari Prilly. Namun karna ia ada ulangan pagi ini dia jadi tak bisa menemui Prilly ke kelasnya. “Prill,” panggil Ali menghentikan langkah Prilly. Prilly melirik malas pada Ali sesaat lalu kembali melanjutkan langkahnya. “Prill,” lagi-lagi Ali memanggil Prilly. “Apaan sih,” ucap Prilly ketus. “La, Gue mau ngomong berdua sama Prilly bentar ya,” ucap Ali pada Lala. Lala mengangguk paham lalu berlalu dari mereka berdua. “Mau ngomong apaan sih?” Nada Prilly masih terdengar ketus. “Sorry soal malam itu. Maaf udah bikin lo nunggu.” Ali benar-benar menyesali dirinya yang sudah ingkar janji. Ali pikir malam itu setelah pergi dengan Icha ia masih bisa menjemput Prilly, namun karna Icha yang terlihat antusias membuat ia tak punya waktu menjemput Prilly. Padahal selama berjalan dengan Icha malam itu Ali tak berhenti memikirkan Prilly, pasti Prilly kini sangat marah padanya. “Nunggu? Siapa juga yang nungguin lo. Mau lo datang kek, enggak kek, gak ngaruh juga. Cuma lain kali kalau gak bisa nepati janji. Gak usah ngomong apa-apa deh, lagian gue usaha buat dapat nilai segitu bukan buat jalan sama lo, tapi buat gue sendiri. So, gak usah sok-sok ngerasa bersalah,” Prilly langsung berlalu dari Ali setelah meluapkan segala kekesalannya pada Ali. Ali semakin yakin kalau malam itu Prilly menunggunya. Seharusnya ia tak menerima ajakan Icha. Ia laki-laki. Laki-laki itu yang dipegang adalah omongannya dan harus bisa konsisten.     *** Jam pulang sekolah Ali langsung menuju kelas Prilly. Prilly yang melihat Ali langsung memutar bola matanya malas. “Udah temuin aja dulu,” saran Lala. “Ih ngapain sih La. Gue lagi kesel sama dia.” “Kalau lo kesel sama dia, berarti benar kalau lo sebenarnya berharap malam itu lo beneran jalan sama dia,” ucap Lala yang membuat Prilly terbelalak. Kenapa sahabatnya bisa menyimpulkan hal seperti itu? “Apaan sih La. Gue itu kesel bukan karna itu. Gue cuma gak suka nunggu aja. Dia pikir dia siapa bisa bikin gue nunggu.” “Iya gue paham. Yaudah temui aja dulu.” Dengan terpaksa Prilly menemui Ali yang sudah menunggunya. “Mau ngapain?” “Jutek amat sih lo, kayak ibu-ibu yg gak dikasih uang bulanan sama lakiknya.” “Bodo. Udah ah kalau gak ada yang penting mending gue pergi aja,” Prilly melangkah berlalu dari Ali, namun Ali buru-buru memegang pergelangan tangan Prilly untuk menghentikan langkahnya, Prilly menepis kasar tangan Ali lalu menatap Ali tajam.     “Please maafin gue. Oke gue tau gue salah, makanya gue mau nebus semuanya. Sore ini gue jemput ya,” ucap Ali dengan wajah memohon. “Enggak!” “Please.” “Enggak!” “Oh yaudah. Jangan harap gue bakal mau ngajarin lo lagi,” ancam Ali yang membuat Prilly terbelalak. Jujur ia masih membutuhkan Ali. “Oke,” balas Prilly pasrah. “Tapi awas kalau lo telat.,” ancam Prilly lalu berlalu dari Ali. Ali hanya terkekeh melihat kepergian Prilly. “Kenapa jadi gue yang ngebet banget ngajak dia jalan ya. Eh ini bukan ngebet, gue gak mau aja di judge sebagai cowok cemen yang gak nepati omongannya sama cewek nyebelin itu,” ucap Ali membela dirinya sendiri kemudian melangkahkan kakinya bergegas pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD