Bab 4 Perpisahan

1357 Words
Papa bilang aku terkena nightmare begitu aku menceritakan kejadian malam tadi sedetail mungkin. Hell, nightmare macam apa yang terasa nyata hingga setiap bunyi benda bergesekan membuat aku menoleh? Separno itulah aku menjelaskan keadaan sekarang. Bahkan malam ini ketika jendela diketuk dari luar, aku terdiam cukup lama. Meyakinkan diri sekarang malam apa dan irama ketukanya bagaimana. Kalau mirip ketukan pramuka berarti si dia. Lega. Senyuman dia aku jumpai setelah gorden tersibak seluruhnya ke ujung. Dia menaiki kusen jendela masuk ke dalam kamarku. Tapi aku belum juga tenang. "Ada masalah?" Dia menyodorkan catatan kecilnya. Tulisannya serapi biasa. Aku memberi jawaban dengan gelengan lalu senyum membalasnya. Cukup lega mengetahui yang datang malam ini adalah dia. "Malam kemarin ada yang datang." Kami duduk menghadap jendela bersandar pada pinggiran kasur. Dia tampak menawan terkena sorotan cahaya bulan. Matanya menyiratkan pertanyaan padaku. Aku menghela napas lesu, padahal kami tidak mengeluarkan suara, sejak kapan aku mengerti bahasanya? Kemampuan ini seolah mengalir begitu saja. "Jadi ada yang mengetuk jendelaku kemarin malam. Aku kira itu kamu. Papa bilang aku mimpi buruk. Tapi apa yang aku lihat sangat nyata dan menyeramkan." Si dia terbelalak, ada yang ingin dia suarakan namun tertahan di ujung lidah. Aku yakin dia tahu sesuatu. Maka dari itu aku kembali bertanya. "Kamu tahu sesuatu?" tebakku. Tiba-tiba dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia membuang muka ke arah lain. Lalu menulis sesuatu di buku kecilnya. "Aku sudah bilang jangan keluar rumah di malam Jumat, Bungah." Aku membaca tulisan sambungnya. Perkataan pemuda ini malah makin membangunkan jiwa penasaranku. Ini kedua kalinya dia melarang aku keluar rumah malam Jumat. Memangnya ada apa? "Aku tidak keluar rumah kok," bantahku, "Memangnya kenapa tidak boleh keluar malam itu?" Dia frustrasi menatap aku. Biasanya Papa yang jengkel menghadapi keingintahuanku, sekarang si dia. Jemarinya kembali bergerak di atas lembaran kosong menulis sesuatu. "Taruhannya nyawa?" bacaku, mendongak untuk mencari penjelasan. Dia mengangguk. Meski agak kaku, dia punya daya tarik sendiri. Aku nyaman-nyaman saja berdekatan dengan dia. Kali ini tulisan tangannya yang menarik seluruh atensiku pada bola matanya. Sorotnya kosong. Aku tidak berhasil menemukan urat bercanda di sana. Dia benar-benar kaku. "Kenapa seseram itu?" Rahangnya mengeras, dia juga meremat kertas barusan. Menggenggamnya sepanjang malam. Sampai dia pulang, tepat di pertengahan malam aku ikut membungkam diri. Rasanya sangat menyebalkan duduk berduaan dengan patung. Sebelum pergi, dia meninggalkan cacatan kecil. "Mungkin malam ini akan jadi terakhir kita bertemu. Terimakasih Bungah sudah membukakan jendela." Begitu isinya. "Hei!" Aku mencekal tangannya mencegah dia pergu. Maksud dia apa. Kenapa tiba-tiba dia menulis ini? "Apa-apaan kamu?" Maraku. Tetapi dia melepas cekalanku perlahan. Memberikan senyuman sekilasnya, seolah semuanya berakhir sampai di sini. Kemudian langkahnya berbalik meninggalkan aku sendiri. Punggung tegap itu menjauh ditelan gelapnya malam. Aku menghembuskan napas pasrah. Dia pergi. Seperti Mama dan Billy mantan pacarku. Derit jendela ditiup angin menyadarkan kewarasanku untuk menutup jendela. Senandung malam kemarin masih terekam jelas. Aku tidak ingin mengulangnya kembali. Sebelum jendela terkunci, aku menangkap sesuatu di samping pohon dekat pagar.. Perempuan berkebaya merah berdiri di kejauhan. Menatap lurus jendela kamarku. Segera gorden itu aku tarik hingga kehadirannya tidak semakin mengganggu akal sehat. Sedangkan tanganku menekan detakan kacau dalam rongga d**a. Kenapa perempuan itu selalu menampakkan diri padaku?! *** Malam-malam berikutnya si dia menepati janji tidak datang. Padahal aku begadang hanya demi menanti ketukan di jendela. Aku kecewa, dia benar-benar pergi. Lari dariku sebelum kami berkenalan secara resmi. Sampai sekarang aku belum tahu namanya siapa. Lingkar hitam di sekitar mataku membuat Papa bertanya-tanya di meja sarapan. Apa yang terjadi denganku. Sekarang Papa mulai bekerja di rumah. Hanya sesekali akan pergi ke kantor untuk menyerahkan sesuatu. Ini dilakukan karena kantornya di luar kota, sedangkan Papa tidak ingin meninggalkan aku sendiri. Padahal sederhananya, kami bisa pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kantor Papa. Anehnya Papa lebih memilih jalan rumit, tidak mau meninggalkan rumah ini. Jelas-jelas tinggal di sini jauh dari kota. Terlalu banyak kenangan masa kecil, katanya. Lagi pula, di sini banyak saudara Papa yang akan menjaga aku bila dirinya sedang disibukan pekerjaan. Justru itu, aku tidak mau. Aku takut dijaga mereka. Terakhir aku dititipkan pada anak kecil keluarga ini saja aku tersesat dan pingsan di hutan. Nanti-nanti akan terjadi apa padaku? "Jangan menyimpan dendam begitu, Bungah." Iya, karena Papa tidak mengerti bagaimana rasanya diseret pergi dari perayaan ulang tahun yang diidam-idamkan hanya lalu dikerjai habis-habisan oleh sepupu sendiri. Papa melipirkan mobil di bahu jalan. Sebuah gerbang tinggi terlihat lusuh dari dalam mobil. Catnya mengelupas. Orang-orang memakai pakaian sepertiku memasuki gerbang. Aku menoleh ke Papa. Sekolah baru. Aku dan Papa masuk ke sana. Bel tanda masuk membuat beberapa orang kalang kabut. Seorang pria menyambut kedatangan kami. Namanya Pak Agus, wakil kepala sekolah. Pak Agus mengatakan aku baru bisa masuk kelas setelah jam berikutnya. Sebab sedang berlangsung upacara pengibaran bendera. Aku lupa, hari ini Senin. Papa pernah mengatakan, di Indonesia semua anak sekolah harus mengikuti upacara. Sebagai misi mempertahankan kemerdekaan negara kami. Ya... hanya usaha kecil bila dibandingkan darah para pahlawan. Termasuk darah Kakekku. Tiba-tiba aku merasa sangat bangga jadi anak bangsa ini. "Mau Papa antar ke kelas?" goda Papa di depan seorang guru wanita muda. Bu Nada namanya. Aku mendengus kesal. "No!" Papa memberiku wejangan lagi, kali ini lebih panjang. Harus jadi anak baik, ramah, belajar yang betul. Aku bosan mendengarnya dari pagi, tapi mengiyakan saja. Saat menengok ke belakang, Papa setia berdiri di depan ruang kepala sekolah melihat aku pergi dengan guru muda ini. Sekali lagi aku melambaikan tangan, Papa membalasnya. Bila diingat-ingat setiap aku masuk sekolah, Papa yang selalu ada. Mama bahkan mana tahu sekolahku dimana. Aku kelas berapa saja sanksi Mama tahu. *** Dalam perjalan menuju kelas, Bu Nada bilang sebaiknya aku mengubah warna rambut jadi alami. Warna alami maksud Bu Nada adalah hitam. Katanya warna rambut hitam sangat sopan sebagai pelajar di Indonesia. Ini kan warna rambut asliku. Memangnya Bu Nada tidak sadar ya mukaku ke bule-bulean? Ini warisan dari Mamaku lho. "Maaf Bu rambut saya memang alaminya begini." Tapi Bu Nada bersikeras menjelaskan peraturan sekolah. "Kali ini saya maklumi, kamu baru masuk. Saya dengar kamu juga sekolah dari kecil di luar negeri. Semoga bisa cepat beradaptasi. Oh iya, ini kelasnya." Kami berhenti di depan sebuah kelas lantai dua. Dari luar terdengar sangat ramai. Mereka langsung terdiam saat Bu Nada memasuki ruangan. Aku menunggu di luar harap-harap cemas. Menautkan jemari-jemariku. Tiba namaku dipanggil, aku menatap Bu Nada ragu. Guru muda itu mengangguk, meyakinkan aku untuk melangkahkan kaki. Hello new world. Aku memang berbeda dan asing. *** Hari pertamaku di sekolah baru tidak sesuai ekspektasi. Aku duduk dengan Dewi, gadis berkacamata yang hanya peduli pada buku. Di saat hampir semua orang berburu bersalaman denganku, Dewi santai mengerjakan integral. Aku sudah pernah belajar itu di sekolahku dulu. Mereka terlalu antusias pada orang baru lama tinggal di luar negeri. Apalagi karena rambutku pirang. Ternyata kabar tentang aku sudah tersebar dari kemarin. Mereka kira aku bule. Aku memang bule, perpaduan Padang dan Sunda. Spesialis bahasaku Inggris dan Indonesia. Aku tidak mengerti saat mereka bicara Bahasa Sunda, hanya sedikit yang aku pahami. Sepertinya aku harus banyak bertanya pada Papa agar tidak dibohongi. Jaga-jaga saja. Setelah mereka bubar, mataku menangkap kehadiran seseorang yang beberapa hari ini tidak berkabar. Dia. Dia di sini. Satu kelas denganku. Mendadak saja sangat senang sekolah di sini. Ini artinya setiap hari aku akan bertemu dia. Aku terus memerhatikan dia. Ada yang aneh. Dia tidak serapih biasanya. Tidak memenuhi standar penampilan seorang siswa baik dari penjelasan Pak Agus tadi pagi di ruang kesiswaan. Jauh dari kesan pertemuan pertama kami di depan jendela kamarku. Dalam benakku dia adalah orang yang tidak mungkin menyalahi aturan. Pasti di sekolah penampilannya rapi, cupu, tapi tampan. Tapi ini, bajunya dikeluarkan, rambutnya pun dibuat agak berantakan. Dia yang ini juga bisa tertawa bersama teman-temannya. Lalu aku meremat tangan sendiri, kesal belum pernah mendengar suaranya. "Kamu kenapa?" Dewi menoleh padaku. Aku sakit hati. "Tidak apa-apa. Oh iya, sudah bel. Mau kasih lihat kantin di sekolah ini?" "Yakin?" tanggap Dewi meremehkan. Dia bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan aku. Kenapa Dewi terkesan membenciku ya? Untungnya teman yang lain mengajak aku ke kantin. Aku pergi bersama mereka. Tidak sengaja bahuku bertubrukan dengan si dia saat keluar. Anehnya si dia tidak berkata apa-apa hanya menarik sudut bibirnya. Dia berlalu menyusul teman-temannya begitu saja. Jadi dia pura-pura tidak mengenali aku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD