Ada setengah lebih jam aku duduk di bawah pohon rindang gerbang sekolah. Papa belum juga datang menjemput. Berkali-kali aku melihat jam di tangan, jarumnya terus bergerak meninggalkan aku. Tenggorokanku sudah mengering akibat lama menunggu.
Aku menoleh ke gerbang sekolah lagi, di tempat baru ini aku harus ekstra sabar beradaptasi. Mereka selalu menatap heran setiap kali aku berjalan. Tidak jarang mereka melebarkan jalan, membiarkan aku sendirian. Perlakuan asing ini sungguh tidak nyaman cenderung menyakitkan. Aku orangnya mangsa bodohan, tapi kalau begini urusannya beda lagi.
Sekali lagi aku mendengus lelah. Papa jadi menjemput atau tidak sih? Kalau jalan kaki sudah pasti jauh, aku pun tidak tahu arah jalan pulang.
Entah sejak kapan seorang laki-laki berdiri di hadapanku menyodorkan sesuatu berwarna hijau dalam plastik. Dia siswa sekolahku juga, almamater kami sama.
"Cendol?"
Aku memerhatikan bulir-bulir hijau di dalam sana. Embun yang menetes di plastiknya membuat tenggorokanku bergerak naik-turun. Tampak menyegarkan. Laki-laki tanpa identitas di d**a kirinya ini tersenyum miring mengayunkan minuman hijau itu agar aku mengambilnya.
"Om Lingga belum jemput juga?"
Setelah aku menerima minuman segar pemberiannya, dia duduk di sampingku.
"Kamu tahu Papaku?"
"Iyalah, Om Lingga kan adik Ayahku. Aku Heman," Tangannya mengambang di udara, aku menatapnya heran, "sepupumu nomor empat."
"Bungah," ucapku tanpa membalas jabatan tangannya. Dia tersenyum pahit. Aku mulai ingat dia siapa. Salah satu komplotan yang mengerjaiku tempo hari. Dia ... orang yang marah-marah waktu aku dibawa dari hutan malam-malam.
"Sudah tahu," selanya cepat. "Mau pulang bareng aku tidak?"
"Huh?"
"Sudah sore. Tidak baik gadis cantik duduk sendirian di pinggir jalan. Ayo!"
Aku tidak punya pilihan lain. Kakiku otomatis mengikuti Heman. Mungkin karena lelah dan ingin cepat-cepat sampai rumah. Aku melupakan penampilan premannya yang kemungkinan berbuat jahat.
Ternyata dia memarkir sepeda motor di pinggiran sekolah, aku kira kita akan terus berjalan sampai rumah. Syukurlah, aku bisa duduk sambil menghabiskan minuman menyegarkan ini. Apa namanya tadi? Cendol ya? Hm, boleh juga.
Sampai di rumah, Papa sedang asik main bersama ikan-ikan hias di kolam lama. Aku menunggunya lama. Kesal, aku menghiraukan sapaan Papa.
Rasanya tubuhku sangat lengket juga bau keringat. Cermin di lemari kayu jati memantulkan wajah kacau dan berminyak. Aku jadi teringat perjalanan menuju rumah tadi, saat aku dibonceng Kak Heman. Iya aku memutuskan memanggilnya begitu, ternyata dia kakak kelasku dan satu tahun lebih tua. Di pertengahan jalan aku bertemu si dia, sakitnya si dia menyapa Kak Heman tidak menyapa aku. Mata kami sempat beradu sejenak, kemudian dia pergi tanpa senyum sedikit pun.
Sial. Apa-apaan sih dia, sombong sekali.
Sebenarnya ada apa dengan dia. Sikapnya berubah-ubah. Aku tidak mengerti. Kenapa dia bersikap seolah tidak mengenalku dan kenapa di depan orang lain dia bisa bicara sedangkan saat bersamaku dia mengatakan segalanya lewat tulisan.
Apa karena kami bertemu pada siang hari jadi dia tidak mau orang lain tahu tentang hubungan kami? Hubungan? Haha, aku geli sendiri memikirkannya saja. Kejelasan sikap dia saja belum aku dapatkan. Apalagi hubungan.
Sialnya dia semakin tampan jika dilihat dalam keadaan terang siang hari. Senyumannya, tawa menampilkan gigi rapi dan suara beratnya itu bikin aku ingin melarang dia membaginya pada orang lain. Cukup di depanku saja. Dan aku bingung harus bersikap bagaimana, ikuti permainan dia atau langsung menanyakan kabarnya.
Aku membanting tas, melampiaskan kekesalan. Nyatanya tidak cukup mengurangi kedongkolan di hati.
Masih mengenakan seragam putih-abu, aku keluar kamar. Sepertinya air dingin mampu menyiram tenggorokan yang panas setelah mengingat ketidakjelasan seseorang. Semua lelaki sama saja!
Kucuran air dari teko ke dalam gelas kaca berganti suara tegukan kasar sampai tiga gelas pun tandas. Aku mengelap sudut bibir, air di pedesaan luar biasa segarnya. Papa pernah bilang ada mata air yang muncul dari dalam tanah. Air hujan itu akan di saring di dalam tanah lalu mengalir ke rumah-rumah warga. Penyaringan alami amazing, bukan?
Sebuah petikan bernada menarik perhatianku pada pintu berwarna hitam. Pintu yang selu digembok. Aku kira Papa atau para Ua. Asal suaranya memang benar dari balik pintu itu. Tik-tok jarum jam perlahan ikut menabuh jantung. Tiba-tiba suasana jadi aneh. Pada menit ke sekian mungkin, kakiku gemetar mendengar kembali petikan beraura mistis.
Suaranya mirip koto, alat musik tradisional asal Jepang yang pernah dipertunjukan Yosuke teman sekolahku di Kanada dulu. Tapi setelah aku dekati sumber suara, sepertinya koto bukan begini. Suaranya berbeda. Entahlah aku tidak mengerti, seingatku koto tidak selembut ini. Atau Yosuke tidak pandai memainkannya? Aku terkekeh karena pemikiran sendiri dan mengingat kekonyolan Yosuke.
"Unga boleh menempati kamar mana pun. Tapi ingat ya, Unga tidak boleh mendekati pintu apalagi masuk ke ruangan dekat foto Kakek."
Nyatanya mereka keliru, justru aku selalu penasaran terhadapan apapun di balik larangan.
Suatu malam, aku pernah melihat Ua Lisna keluar dari ruangan ini. Fokusku waktu itu pada raut ketakutan Ua Lisna. Itu makin menarik jiwa ingin tahuku. Apa lagi yang tidak boleh aku ketahui dan kenapa.
Perlahan aku pun mengikis jarak. Keberanian ini sepertinya turun dari darah reporter Mama. Setidaknya ada yang aku dapatkan dari Mama. Thanks Mom.
Gambar Kakek memegang senjata laras panjang mengintai setiap pergerakanku. Baru kusadari, mata Kakek di foto itu terasa hidup.
Tumben sekali pintunya lepas gembok. Sebelum mendorong pintu, aku menatap mata tajam Kakek lamat-lamat dulu. Meminta izin beliau dan berkompromi lewat batin supaya ini hanya akan menjadi rahasia antara kami saja. Terakhir aku memberinya hormat prajurit, seakan izin masuk telah dalam genggaman.
Sejujurnya aku agak merinding, pintu ini ternyata berat. Decitannya cukup panjang ketika aku membukanya yang menghentikan petikan alat musik itu. Aku penasaran kenapa bisa begitu. Hawa dingin langsung menerpa wajahku dalam temaram. Ruangan ini minim cahaya. Lantas bulu kudukku berdiri sebagai tanda ada yang aneh. Batinku berteriak agar menarik diri.
Aku meremat gagang pintu mengumpulkan 30 persen lagi keberanian, sebelah kakiku tertahan di ambang pintu. Dari sini aku bisa mengirup aroma asing. Bagiku yang pertama kali merasakan baunya, ini ... agak mistis. Aku melirik ruang tamu, sayup-sayup terdengar tawa Papa bersama seseorang di halaman sana. Entah siapa. Yang pasti Papa masih sibuk mengurusi ikan. Tidak ada yang melihat kegiatanku sekarang. Lalu satu petikan berhasil menyulutku untuk memasukan seluruh tubuh ke dalam ruang itu.
Aku merasa terpanggil. Seakan suara itu memang dipersiapkan untukku.
BLAMM.
Aku terkesiap. Pintunya tertutup sendiri begitu aku masuk. Kini aku merasa sedang memakan perangkap. Kedua tanganku tergepal di kedua sisi, menguatkan hati yang mulai goyah melihat ruang ini penuh alat-alat musik, lebih tepatnya seperangkat instrumen musik. Setahuku itu adalah alat musik gamelan. Dulu aku pernah memainkan salah satunya, saron. Bara api yang mulai padam dalam sebuah wadah merah bata mengepulkan asap kecil di sisi alat musik dawai mirip koto.
Aku yakin aroma mistis ini berasal dari asap itu.
Kakiku tidak berhenti melangkah menghampiri sebuah meja. Di sana banyak kelopak bunga warna-warni, beberapa gelas berisi air terkena dua cahaya lilin sebagai sumber cahaya ruangan ini.
Sebuah guci sebening kristal disorot cahaya dari langit-langit adalah tujuanku. Aku mendongak, ada semacam ventilasi udara. Sepertinya aku sudah terhipnotis oleh kecantikan guci itu, dimana sebuah tusuk konde perak berukiran bunga ada di atasnya.
Tangan ini terangkat hendak mengambilnya. Petikan senar menggagalkannya, sontak aku menoleh pada benda di sudut ruangan itu. Tidak ada siapapun, tapi senarnya bergerak sendiri.
Lantas aku melangkah mundur. Sepertinya benda itu dilarang mendapatkan sentuhan. Keringat dingin mulai meluncur di permukaan punggung. Debaran mendobrak-dobrak menyarankan aku agar cepat berlari saja, namun kaki ini terasa dipaku bumi. Diam, mematung, tanpa pergerakan.
Aku berdiri di tengah-tengah ruangan, menyaksiakan setiap alat musik bergerak menyumbangkan suaranya. Ini menakutkan, sangat. Mereka benar-benar membentuk instrumen pertunjukkan. Sialnya jantungku mengikuti irama mereka, tak terkendali. Kedua tanganku menutup telinga rapat-rapat tetapi tidak bisa menghalau suara bising.
Ketika aku membuka mata karena tiba-tiba hening. Aku merasakan perubahan atmosfer begitu kuat. Seorang wanita berambut panjang tengah berdiri tepat di hadapanku. Sorot matanya merah penuh amarah. Untaian bunga melati sepanjang rambut lurusnya begitu dominan.
Seketika tubuhku dihempas ringan menubruk pintu. Sakit dan linu belum aku rasakan. Perasaan terbesar saat ini adalah ketakutan akan mati di tangan wanita ini.
Aku bisa mendengar napasku sendiri. Dia membuat tubuh lunglaiku berdiri kembali dengan cara mencekikku sampai tidak bisa menapak di lantai. Pemberontakan tidak mampu menandingi kekuatan miliknya. Aku hanya berharap siapapun menolongku saat ini.
Paras ayunya, mata kejamnya terekam jelas sebelum dirampas kegelapan. Aku dihantamkan lagi ke lantai dingin.
Papa ... Tolong ....