TUJUH

620 Words
Akhir pekan terlewati begitu saja, dan tak terasa hari Senin kembali menyapa. Dengan langkah gontai, Diani masuk ke perkarangan gedung kantornya sambil bersungut dalam hati menyesali akhir pekannya yang buruk. Diani tak sempat menjalankan rencananya untuk menonton drama Korea, sesuai ekspektasi. Setelah hari Sabtu dia harus pergi menemani Kaza, hari Minggu pun banyak gangguan-gangguan yang tak terduga bagi Diani. Misalnya, kakak sepupunya yang bernama Alpha datang kerumah membawa ketiga anaknya. Lalu, dia pergi dengan Bundanya untuk membeli sesuatu -yang Diani tak mau tahu itu apa- dan memilih untuk meninggalkan anak-anaknya dirumah. "Kan ada tante Diani, aku mau sama tante aja, Umi. Nggak mau ikut Umi ama Nenek, ya."  Alifa saat itu berkata dengan cerah, sambil memeluk boneka bebek yang diambilnya dari kamar Diani. Gadis itu hanya tersenyum pasrah lalu memutuskan untuk bermain bersama keponakan-keponakan lucu yang mengesalkan itu. Diani akhirnya memutuskan untuk nonton kartun di laptop-nya agar para keponakannya itu terdiam. Untungnya, rencana ini berhasil. "Lo beneran jadian sama Alaric?" Darin datang dengan terkejut, masih menjinjing tas merahnya sambil membenarkan kerudung yang berantakan terkena kecupan angin. Itu berarti dia juga baru sampai, sama seperti Diani. Mata besarnya semakin membola menunggu jawaban gadis yang terpaku di depannya. Diani mengerutkan dahinya, "Siapa sih yang gosipin? Perasaan gue sama Alaric biasa aja." Darin memutar bola matanya malas, "Ya emang sih. Tapi, hampir semua orang ngomongin lo. Katanya waktu Jum'at kemaren lo narik-narik Alaric ke parkiran." Setelah mendengar itu semua, Diani seperti disadarkan oleh sesuatu. Memang dia mendengar itu semua saat menarik Alaric, dan benar dia mengabaikan itu semua. Alaric pun begitu. Diani hanya bisa tersenyum kaku sambil memandang Darin. "Enghhh... itu sih cuma narik doang. Gini deh, emang kalo narik orang otomatis orang itu jadian ya?" Diani malah balik bertanya. Darin kemudian menghela napas dan berlalu begitu saja. "Ditunggu curhatannya ya, Di." Darin yang merupakan sahabatnya itu berbelok dan memilih naik tangga darurat, itung-itung olahraga, begitulah yang Diani tahu. Diani malah menghela napas kesal dan cemberut lalu masuk ke ruang kantornya. ~ Alaric masih bisa mendengar beberapa godaan yang diperuntukkan untuknya, ataupun Diani. Beberapa malahan terang-terangan minta traktir atas kebahagiaan mereka. Tapi, Alaric hanya menanggapinya dengan godaan juga atau jika keadaan tubuhnya sedang tidak baik, dia hanya tersenyum dan pura-pura tak mendengarnya. Ketika makan siang, tak sengaja dia melihat Diani. Gayanya sangat dibuat-buat, dengan kaca mata hitam besar dan topi fedora yang hampir menutupi setengah wajah mungilnya. Dia jalan mengendap-endap seakan suara sepatunya akan mengakibatkan kegaduhan yang besar. "Heh, lo ngapain sih dandan begini?" Alaric bertanya, berusaha menahan rasa gelinya agar tak menjadi tawa. Diani terkejut lalu memukul Alaric begitu dia tau siapa yang sedang menangkap basah perilakunya. "Biar mereka gak  sadar kalo ini tuh gue, Diani. Gue lagi males nanggepin bercandaan orang-orang tentang gue sama lo," kata Diani muram, "Sorry ya, Ric. Ini semua karena gue juga. Gue aja terganggu apa lagi lo ya?" Alaric malah terkekeh, "Biasa aja, Di. Mereka lagi bosen aja kali makanya godain orang. Yaudah, copot dandanan aneh lo. Lagia, itu malahan bikin lo diperhatiin." "Iya deh gue copot." Baru saja Diani mau mencopot topi fedora hitamnya, tiba-tiba Alaric menghentikannya. "Lo mau main truth or dare gak sama gue?" tanya Alaric, masih dengan mata yang waspada agar keberadaannya dibalik pilar besar lobby dengan Diani tak diketahui. "Ngaco banget sih! kita kan –" "Mau apa enggak?" potong Alaric tak sabar. Diani hanya menghela napas pelan, "Oke deh. Lo duluan. Truth or dare?" "Dare!" jawab Alaric dengan cepat, "gue mau lo gak bersuara. Pastiin topi, syal dan kaca mata besar lo itu disimpan baik-baik setelah ini. Lebih bagus kalau lo buang atau bakar sekalian." Diani belum sepenuhnya mengerti dengan kata-kata Alaric, tapi sahabatnya itu sudah terlanjur menariknya membelah lobby. Duh, kenapa jadi kayak drama Korea gini sih? batin Diani. ~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD