Kalau saja boleh memilih, Alaric ingin saat itu juga hilang dari hiruk pikuk mall . Dia berharap bisa ber-Apparate layaknya penyihir macam Harry Potter. Tapi, Alaric tidak bisa ber-Apparate atau lari dari situ seperti adegan di film India. Sebagai gentlemant, kepahitan semacam ini harus ditelan juga.
Menatap orang yang dicintai mulai akrab dengan orang lain, misalnya.
Alaric menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan hentakan, berharap kesal dihatinya keluar bersamaan dengan napasnya itu. Dia memutuskan untuk menarik senyumnya lalu menghampiri Kaza dan Diani.
"Udah gak ngambek lagi nih?" Diani beralih menatap Alaric dan meninju pelan lengan kanannya. Dia tersenyum lalu menggeleng.
"Emang gue anak kecil ngambek mulu?" Diani mengelak. "Yuk kita makan abis itu pulang! Kaza, nggak apa-apa kan kalo kita makan dulu?"
Kaza nyengir tak percaya, "Jelas aja fine. Gue yang traktir ya, itung-itung sebagai ucapan terima kasih gue karena udah mau nemenin gue beli raket bulu tangkis. Gimana?"
"Wah, asik nih! Yuk, kita jalan lagi!" Alaric berjalan mendahului mereka. Walaupun pedih, Alaric mencoba memberikan waktu kepada Diani dan Kaza. Mumpung mood gadis itu mulai membaik, pikir Alaric. Dalam lima menit, Kaza dan Diani sudah terkekeh dan terlibat perbincangan seru. Mungkin nostalgia masa-masanya saat di Sekolah Dasar dulu.
Jauh didalam hati Alaric, ada yang retak. Dia berharap retakan itu tak menjadi sebuah patahan yang hebat.
~
"Gimana, asik kan dia orangnya?" Alaric memulai pembicaraan setelah beberapa saat hening. Saat ini Diani dan Alaric sedang dalam perjalanan pulang, setelah mengantarkan Kaza ke penginapan tak jauh dari rumah Diani.
"Ya gitu deh," jawab Diani singkat. "Gue gak nyangka, ternyata dia follow gue di instagram."
"Terus, lo udah mulai inget perawakan dia saat masih sekolah dasar?" Alaric membelokkan setirnya saat melewati pertigaan, tak terasa sedikit lagi dia akan sampai di rumah Diani.
Diani tampak berfikir, "Setau gue nih ya, kayaknya dia selalu duduk di barisan paling belakang karena dia tinggi. Jarang masuk karena sering sakit-sakitan dan nggak pernah keluar kelas pas istirahat."
"Itu lo tau." Alaric memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar. "Bagus deh kalo lo udah inget temen lo sendiri."
Diani hanya nyengir dan memeluk lengan kiri Alaric yang lumayan berotot. Bagi yang baru pertama kali melihat Diani dan Alaric seperti ini-biasanya gebetan- bisa dipastikan akan mundur perlahan karena menyangka mereka adalah sepasang insan berbahagia yang akan segera menginjakkan kakinya di pelaminan.
"Makasih ya, Ric. Lo udah mau bantuin gue. Kalo gak ada lo tadi, mungkin gue bakalan bete banget!" Diani tersenyum tanda terima kasihnya.
"Kayaknya sih, Bunda mau kenalin gue ke Kaza gitu. Bisa kebetulan gitu ya," lanjut Diani.
Entah kenapa ketika menceritakan hal tersebut ke Alaric -tentang Bundanya yang akan ngenalin Kaza- Diani merasa ada sesuatu hal yang aneh mengeliat di dalam hatinya. Perasaan yang sangat aneh sampai-sampai dia menyesal harus menceritakan hal itu kepada Alaric.
Alaric tersenyum senang lalu mengusap pelan kepala Diani, "Yaudah, mending lo sekarang masuk. Liat tuh, bokap lo udah ngintip-ngintip dari pagar."
Diani melihat Ayahnya menunggu Diani turun dari mobil Alaric, begitupun dengan Alaric. Dia sempat mengecup punggung tangan pria paruh baya itu setelah siang tadi tak sempat bertemu.
"Saya gak telat kan Om nganterinnya?" tanya Alaric yang dijawab dengan kekehan pelan Ayah Diani, Abdullah. Tangannya menepuk-nepuk punggung lebar Alaric beberapa kali.
"Enggak kok, Ric. Om nggak meragukan kamu lagi karena kamu selalu anter Diani tepat waktu dari jaman kamu masih pake seragam putih abu-abu."
Alaric tersenyum malu, "Kalo gitu saya pulang duluan ya, Om. Assalammu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati nyetirnya ya, Ric. Kapan-kapan kita main catur lagi."
Ayah Diani kemudian masuk ke dalam rumah, karena tau Diani dan Alaric pasti mau berbincang sebelum berpisah.
"Ric, sekali lagi makasih ya. Gue gatau deh kalo gak ada lo gim "
"Stop!" Jari telunjuk Alaric menempel di bibir Diani, pertanda bahwa lelaki itu tak mau mendengar apapun dari mulut Diani. Kaza lalu mencondongkan wajahnya ke telinga Diani.
"Nggak ada kata terima kasih kepada sesama sahabat. Gue hanya melakukan apa yang harus gue lakukan, sebagai sahabat lo."
Diani menatap kedua mata Alaric yang tengah memperhatikan wajah Diani dengan intens. Tatapan tajam itu menghantarkan sebuah perasaan halus yang mulai membuat jantung Diani berdegup, dan Diani tidak tahu persis apa itu.
~