TIGA

646 Words
"Assalammu'alaikum, Diani?" Suara Pria itu sangat dalam, membuat hati Diani bergetar dan terpaku sampai-sampai lupa untuk menjawab salamnya. Diani menyempatkan diri memandang sekilas Pria di depannya.  Wajahnya lonjong dengan kulit yang putih. Hidung bangir dan kedua mata yang tajam  menyempurnakan ketampanan pria tersebut. Pria itu menatap Diani lagi, seakan menuntutnya untuk menjawab salam yang telah diucapkan sebelumnya. "Wa'alaikumusalam, pak, eh...mas," jawab Diani linglung. Dia teringat kasus-kasus hipnotis dan kriminal lainnya di televisi yang menjatuhkan banyak korban. Awal mulanya sama, dengan seseorang yang bertamu dan berkata ingin bertemu dengan orang rumah. Diani sudah pasang badan, siap-siap kalau saja Pria didepannya ini orang jahat atau berniat buruk kepadanya. Kebetulan sekali, waktu sekolah menengah atas Diani ikut ekskul Taekwondo di sekolahnya, meski dia sendiri pun ragu apakah bisa menghadapi orang yang lebih tinggi dan besar darinya. Pria didepan Diani itu tersenyum geli menatap Diani, jelas sekali tercetak di wajah gadis itu kalau dia saat ini sedang ketakutan. "Kamu gak kenal sama aku?" Pria itu bertanya lagi. Diani menatap wajah pria itu lekat-lekat, tidak seperti sebelumnya. Memang, garis wajahnya tidak asing. Diani seperti pernah melihatnya di suatu tempat, entah dimana itu. Karena Diani tak kunjung menjawab, pria itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan. "Kenalin, aku Kaza Sakti Hutama. Alumni SD Bakti di Sungai Pakning, Riau." Pria yang bernama Kaza itu tersenyum, menunggu uluran tangan Diani. Walaupun tak begitu ingat, Diani yakin Kaza adalah temannya dulu saat di SD Bakti, Sungai Pakning. Gadis itu berupaya untuk mengingat Kaza itu anak yang duduk dimana dan perawakannya saat masih anak-anak seperti apa. Maklum, Diani bersekolah di Riau hanya sampai kelas empat saja. Setelah naik kelas, Ayahnya pensiun dan memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Diani menyambut uluran tangan Kaza dengan takut-takut meski dia tau itu adalah perbuatan ceroboh karena dia tak kunjung mengingat Kaza. Dia tidak ingin teman lamanya itu berpikir bahwa ibukota mengubahnya menjadi sosok yang sombong dan angkuh. "Iya, Kaza. Silahkan duduk tapi diluar aja ya." Diani kemudian masuk ke dalam rumahnya, membuat minuman dan mengeluarkan beberapa cemilan untuk Kaza. Diani sempat menatap nanar tumpukan cemilan yang terlanjur berjejer pasrah di kasurnya. Jadwalnya nonton drama Korea siang itu terpaksa dibatalkan. "Gak usah repot-repot, Di," tegur Kaza saat Diani mengantarkan jamuan untuk dirinya, "aku kesini cuma sebentar kok, aku mau ketemu Bunda kamu." Hati Diani mencelos. Jangan-jangan Kaza ini adalah pria yang ingin dikenalkan oleh Bunda! pikir Diani. "Bunda sama Ayah lagi pergi, saat ini gak ada di rumah. Memangnya, ada urusan apa mau ketemu sama Bunda?" tanya Diani, masih dengan wajah waspadanya. "Aku ada perlu sama Bunda. Denger-denger, Bunda kamu jualan tekwan instan. Aku mau beli sekalian nanya-nanya, kali aja ini jadi peluang bisnis yang besar." Kaza tersenyum, membuat lesung pipinya mencuat indah. Entah kenapa, Diani malas meladeni Kaza. Dia memang terlihat seperti pria baik-baik tapi senyumnya terlalu memuakkan. Ah, Diani! Kalau dia senyum itu tandanya dia ramah! batin Diani bergulat. ~ Alaric masih memikirkan perkataan Diani kemarin. Tentu saja memikirkan ajakan menikah yang sangat mendadak itu. Alaric sebenarnya sangat ingin menikahi Diani, temannya sejak SMA. Sikap Diani yang cuek dan banyak nonton drama Korea sudah dimaklumi oleh Alaric, meskipun dia sebenarnya tak suka hal-hal berbau Negri Gingseng itu. Alaric terkejut sendiri dengan getaran ponsel yang berada di saku celana pendeknya saat itu. Dari Diani. Tanpa menunggu lagi, Alaric segera mengangkat telepon dari Diani. "Lama banget sih lo angkatnya!" suara Diani menggema, walaupun sesudahnya dia seperti mengomel sendiri karena berbicara dengan suara yang terlalu kencang. "Namanya juga weekend, bebas dong! Lagian, ada apa lo nelpon gue siang-siang begini?" tanya Alaric. Semua hal yang berkaitan dengan Diani selalu membuatnya penasaran. "Gue gak bisa jelasin sekarang."  Diani kembali merendahkan suaranya, "Pokoknya lo harus bisa sampe di rumah gue dalam kurun waktu setengah jam lagi. Gue ingatkan lagi, ini urgent!" suara Diani tampak memaksa. "Tapi Di, Gue kan be " Klik. Telepon terputus begitu saja, membuat Alaric menghela napas kesal dan bergegas siap-siap kerumah Diani. ~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD