Diani menghela napas lagi. Jantungnya masih berdebar apalagi Kaza masih berada di luar. Diani menyadari dirinya sangat tidak sopan meninggalkan tamu seorang diri begitu saja. Tapi, mau diapakan lagi. Terlalu banyak nonton drama dan berita membuat otaknya dipenuhi oleh kejadian-kejadian kriminal yang mungkin saja akan terjadi pada dirinya juga.
Baru saja Diani ingin keluar dari kamarnya, tiba-tiba pantulan dirinya di kaca rias kamarnya membuat matanya membola.
Bagaimana tidak? Saat ini Diani mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam, yang dipenuhi oleh remah-remah cemilan yang dimakannya ketika sedang mencuci tadi. Celana panjang selutut yang sudah buluk, dengan sobekan di beberapa tempat. Wajah yang berminyak dan juga rambut sebahu yang acak-acakan. Pantas saja Kaza senyum terus, gue mirip sama gembel! batin Diani menggerutu.
"Eh, Kaza sudah sampai di rumah?"
Terdengar suara Bunda Diani -Enny- yang sangat melengking. Setelah mengganti baju dengan yang lebih layak, Diani akhirnya keluar menemui Kaza.
"Kamu gimana sih, Di?!" Bundanya menyemprot anak gadisnya dengan raut wajah kesal, "Kok gak diajak makan siang gitu? kan ini sudah jam makan siang. Pasti Kaza laper banget, ya kan?"
Kaza tersenyum dan menggeleng bersamaan, "Nggak kok, Tante. Kaza sudah makan tadi di pesawat. Oh iya, gimana tentang dagangan Tante yang tekwan instan itu?"
Bunda Diani menepuk pelan bahu Kaza, seiringan dengan kekehan yang menurut Diani terlalu dibuat-buat.
"Nanti aja ngobrolin masalah itu, Kaza. Masa langsung ngomongin itu sih?"
"Hehe abis apa dong, Tante?" Kaza tampak berfikir, "Oh iya Om kemana kok gak barengan sama Tante?"
"Tadi abis pengajian, Om langsung pergi mancing sama temen-temennya. Mumpung dadakan, kalo direncanain biasanya suka gak jadi."
Diani terus-terusan menatap ponselnya. Dia sudah chat Alaric berkali-kali tapi pria itu tak kunjung membalas. Jangankan membalas, di read pun tidak!
Lama banget sih Alaric! gerutu Diani dalam hati.
"Oh iya, katanya tadi Kaza mau beli raket bulu tangkis ke sport station. Kamu temenin deh, Di. Kan udah lama gak ketemu, siapa tau kan kalian bisa akrab lagi."
Usulan Bundanya Diani itu membuat anak gadisnya semakin cemberut dan kesal. Lantaran Diani tak mau mengakrabkan diri dengan seseorang yang jelas dia tidak ingat, dan tak jadi nonton drama.
Tak berapa lama, mobil Alaric sampai di pelataran Rumah Diani. Gadis itu tersenyum senang, malahan sempat berlari menghampiri Alaric. Persis seperti anak kecil yang dijanjikan oleh-oleh permen lollipop besar oleh Ayahnya saat pulang kantor.
"Siang, Tante." Alaric mengecup punggung tangan Bundanya Diani.
"Siang, Alaric," sapa Enny dengan senyumnya.
"Aku gak bisa nemenin Kaza, Bun. Nih buktinya Alaric udah jemput aku. Kita mau pergi ke toko buku, ya kan Ric?"
Alaric yang tampak bingung hanya mengangguk, sebelum gadis disampingnya melayangkan cubitan atau injakan. Ya, walaupun cantik, Diani sedikit barbar kalau sedang kepepet seperti ini.
"Tante, aku bisa beli raket itu besok sebelum berangkat ke Palembang. "
Bundanya Diani malah mengusap punggung Kaza dengan lembut.
"Nggak apa-apa, Kaza. Kalo ada yang nemenin kan enak tinggal di arahin aja. Lagian, enakan rame-rame kan biar ada temen ngobrol." Tatapan bundanya Diani kini beralih ke Alaric.
"Ric, nggak apa-apa kan Kaza sekalian ikut?"
"Tentu saja, Tante. Biar malem minggunya jadi seru. Hehe Aww!"
Diani yang di samping Alaric baru saja melayangkan cubitan ke pinggang Alaric. Gadis itu hanya bisa menghela napas dan cemberut karena paksaan Bundanya.
Yah, gagal lagi deh ketemu jejeran Pria kece di drama! batin Diani Kesal.
~